
Inyoko dan Fan Ning akhir nya berdiri dan berjalan mengelilingi pinggir danau itu.
Inyoko berniat menghibur dan mengenal Fan Ning lebih jauh.
sementara Sepuh Suci Sekte Dha Us terlihat cukup senang karena Inyoko begitu peduli pada cucu nya.
Pantulan sinar bulan membuat air danau terlihat indah malam itu.
"Adik Fan aku mengerti dengan rasa sakit yang kau rasakan,tapi itu bukan alasan bagimu untuk terus tenggelam dalam kesedihan".
"aku dan kau memilik nasib yang sama".
"aku juga tumbuh dan hidup tanpa orang tua".
"orang-orang bilang bahwa orang tua ku telah meninggal saat perang besar terjadi".
"sampai sekarang pun aku tidak pernah tau dimana kedua orang tua ku itu di makamkan".
"kau juga sedikit lebih beruntung,masih punya tempat untukmu kembali".
"kau masih punya Kakek mu dan keluarga Sekte Bulan Giok yang sangat menyayangi mu".
"sementara aku dari kecil harus bertahan hidup dari kerasnya ibukota kekaisaran seorang diri".
"semua orang selalu menatap tajam dan benci kepadaku,karena aku hanya lah seorang gembel".
"aku sudah terbiasa melewati dingin nya malam sendirian dengan perut koson dan hanya langit yang menemani dan menjagaku".
"aku bahkan sudah lupa rasanya memiliki keluarga".
Apa yang didengarnya membuat Fan Ning menatap tajam kepada Inyoko.
Fan Ning masih belum bisa percaya jika laki-laki yang berdiri disampingnya itu memiliki derita kehidupan yang lebih menyakitkan dari nya.
air mata mengalir dari sudut matanya.
secara reflek tangan nya merangkul dan memeluk Inyoko.
tangis gadis cantik itu tumpah di pundak Inyoko.
suatu ekspresi yang tidak pernah dilakukan Fan Ning sebelumnya.
Fan Ning merasa Inyoko tempat yang tepat untuk nya menumpahkan semua kesedihan yang dia tahan selama ini.
"Menangis lah".
"Luapkan semua kesedihan yang telah lama mengendap di hatimu".
"berjanjilah ini adalah tangis terakhir dalam hidupmu".
"karena setelah ini hanya kebahagiaan dan senyuman yang mengisi harimu".
Ucapan Inyoko itu seakan menenangkan hati Fan Ning yang selama ini terus bergejolak.
Cukup lama cucu Sepuh Dha Us itu memeluk dan menangis dipundak Inyoko.
"Hei..."
"aku meminta mu hanya menangis,bukan meratap seperti ini"
__ADS_1
"jika terus begini air danau ini busa menenggelamkan kita bersama air matamu itu adik Fan"
Sambung Inyoko sambil melepaskan pelukan Fan Ning padanya.
tangan Inyoko mencubit pipi gadis itu.
"Kau menjadi semakin jelek jika terlalu lama menangis"
"ayo ikut aku"
Ucap Inyoko sambil menarik tangan Fan.
lnyoko mengajak Fan Ning ke bagian lain tepi danau itu.
Inyoko meminta Fan Ning duduk dia atas sebuah batu besar yang ada di pinggir danau.
"Adik Fan mau kah kau berjanji kepadaku"
Ucap Inyoko pada Fan Ning.
Fan Ning hanya mengangguk pelan sambil tersenyum kepada Inyoko.
"Mau kah kau menjadi teman ku?"
"sampai bulan itu tidak muncul lagi saat malam datang"
Lanjut Inyoko.
Fan Ning terkejut mendengarkan apa yang di ucapkan Inyoko.
Dia yang selama ini dianggap gadis aneh kini muncul seseorang yang mau menjadi teman nya.
Fan Ning tetap membisu,dia hanya mengangguk menyatakan mau menjadi teman Inyoko.
di kejauhan api unggun tempat Sepuh Suci Sekte Dha Us dan Rajawali Dewa Perang terlihat mulai meredup.
Inyoko dan Fan Ning berjalan kembali ke tempat api unggun itu.
Sepuh Suci Sekte Dha Us menyambut mereka dengan ekspresi wajah yang sangat gembira.
untuk pertama kali nya Fan Ning mau bergaul dengan orang luar,bisa dikatakan sekarang Inyoko jauh lebih akrab dengan Fan Ning dibanding diri nya.
"apakah kalian berniat bermalam disini malam ini?"
Rajawali Dewa Perang memulai percakapan.
"hahahhaha"
"aku sampai lupa"
"sebaik nya kita segera kembali ke Sekte Bulan Giok"
"aku takut Rajawali ini tidak dapat melihat saat malam semakin larut"
Jawab Sepuh Suci Sekte Dha Us menggoda Rajawali itu.
"Tua bangka sialan"
"bahkan tanpa membuka mata aku bisa saja menghabisi mu"
__ADS_1
Balas Rajawali Dewa Perang itu dengan kesal.
"Hahahahha"
"kau terlalu gampang sekali terbawa emosi"
"baiklah kali ini aku yang duduk paling depan"
Ucap Sepuh Suci Sekte Dha Us.
Sepuh Suci Sekte Dha Us ingin memberikan waktu yang lebih lama bagi Inyoko dan cucunya Fan Ning untuk bersama.
"Kak....."
suara yang membuat tempat itu langsung menjadi hening dan sepi.
semua terasa berhenti setelah mendengar suara itu.
semua mata kini tertuju pada sumber suara itu.
Fan Ning bebicara...
Gadis yang selama ini tidak pernah berbicara pada siapapun bahkan dengan kakek nya sendiri malam itu untuk pertama kali nya mengucapkan satu kalimat dari bibir nya.
Kakeknya Sepuh Dha yang sudah menaiki Rajawali Dewa Perang langsung turun dan memeluk erat cucu kesayangannya itu.
sebuah keajaiban yang selama ini telah dinantinya akhir nya menjadi kenyataan.
"Ka..Kakek"
Kalimat kedua yang diucapkan Fan Ning itu di iringi dengan derai air mata nya.
"maafkan aku kek"
"maafkan aku yang telah banyak menyusahkan kakek"
Ucap Fan Ning dalam tangis nya.
"sudah nak"
"kau tidak punya kesalahan apapun"
Jawab Sepuh Dha Us.
Inyoko dan Rajawali Dewa Perang tersenyum melihat kejadian mengharukan antara Kakek dan cucunya itu.
"Hei,sepertinya gadis itu cocok jadi istri majikanku"
Bisik Rajawali Dewa Perang pada Inyoko.
Inyoko tidak memberikan jawaban apa-apa,hanya menginjak kan kaki nya pada kaki Rajawali itu.
Malam itu adalah malam paling bahagia bagi Fan Ning dan kakek nya.
dan Sepuh Suci Sekte Dha Us merasa sangat berhutang budi pada Inyoko.
setelah momen mengharukan itu usai,mereka bertiga menaiki Rajawali Dewa Perang,dan terbang kembali menuju markas besar Sekte Bulan Giok.
selama diperjalanan Sepuh Suci Sekte Dha Us mata nya terus berkaca-kaca karena sangat bahagia.
__ADS_1
Sementara Fan Ning tidak mengeluarkan kata-kata apapun,dan hanya menyandarkan kepala nya di pundak Inyoko.
perjalanan mereka kembali ke Sekte Bulan Giok malam itu memang terasa sangat hening, tetapi ada kebahagiaan yang sangat besar di hati mereka semua