
Dengan menaiki Rajawali Dewa Perang tidak membutuhkan waktu lama bagi rombongan Inyoko untuk sampai di wilayah ibukota Mang Kuak.
Inyoko meminta Rajawali Dewa Perang menurunkan mereka didalam hutan,dan memilih melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.
Inyoko tidak ingin penampakan burung rajawali raksasa itu membuat gaduh penduduk ibukota yang melihat nya.
sementara itu Nionyo terlihat sangat lemas dengan wajah yang sangat pucat,karena mengalami muntah disepanjang perjalanan mereka.
Kondisi Nionyo itu malah menjadi bahan tertawaan rombongan Inyoko.
"Hahahahhaa"
"salah satu kepala suku terbesar dinegara Ham Pai"
"Manusia yang bergelar orang terkuat di tanah Bha So"
"ternyata menjadi ciut nyali ketika berada diketinggian"
ucap Jendral Phe Phi bercanda.
"aku bukan takut ketinggian"
"hanya takut jatuh saja"
"tidak kah kalian rasakan burung rajawali itu terbang sesuka hatinya,membuat isi perutku seperti berputar-putar"
Jawab Nionyo sambil memegang perutnya,dan diikuti suara gelak tawa anggota rombongan yang lain.
Kurang lebih setelah melakukan perjalanan dengan berjalan kaki selama dua jam rombongan Inyoko akhirnya tiba di gerbang ibukota Mang Kuak.
terlihat beberapa prajurit negara Ham Pai menjaga pintu gerbang ibukota itu.
mereka memilih menuju ibukota setelah mendapatkan informasi jika kepala suku Ca Biak sedang berada di ibukota dan bertemu dengan lima orang sepuh suku yang mengambil alih jalannya pemerintahan.
tentu bukan sesuatu yang sulit bagi Nionyo untuk dapat melewati gerbang ibukota itu dengan statusnya sebagai salah satu kepala suku terkuat yang ada di negri timur jauh Ham Pai,bahkan para penjaga gerbang ibukota terlihat sangat hormat kepadanya.
Rombongan Inyoko diantarkan oleh beberapa orang pasukan hingga memasuki pintu istana negara Ham Pai.
"Tua bangka sialan"
"ternyata seperti dugaan ku,kau juga pasti akan datang ke tempat ini"
"tapi mengapa kau sepertinya terburu-buru"
"bukankah seharusnya baru dua hari lagi kalian baru akan tiba ditempat ini"
Ucap seorang pria sepuh bertubuh kekar di depan pintu ruangan istana.
Sosok itu tidak lain adalah kepala suku Ca Biak,Tung Gak.
Pria tinggi besar paruh baya dengan rambut dikepang dan bertubuh tegap.
bisa dikatakan saat ini dirinya adalah manusia paling kuat di negara timur jauh Ham Pai.
dan dia adalah sosok yang dianggap pantas untuk menjadi kepala suku besar selanjut nya.
"Hahahahaha"
"Kebetulan kami mendapatkan tumpangan yang cukup cepat,hingga bisa sampai disini lebih awal dari perkiraan mu"
__ADS_1
Jawab Nionyo,sambil memperkenalkan rombongan yang ikut bersamanya.
"Jadi bocah ini yang telah menghajar dan membunuh Thu Ngau beserta kelompok jahatnya?"
Tanya Tung Gak sambil menunjuk kearah Inyoko.
Berita tentang penyerangan suku Awai oleh suku Khe Tek yang bersekutu dengan pasukan kekaisaran Ming telah tersebar dengan cepat di seluruh wilayah negara Ham Pai.
begitu juga dengan sosok Inyoko yang berperan besar dalam pertempuran tersebut.
Tung Gak berjalan kearah Inyoko karena ingin melihat Inyoko dari jarak yang lebih dekat.
"Hmmmm"
"Boleh juga"
"kau benar-benar mirip dengan orang itu"
Ucap Tung Gak.
Tentu saja yang dimaksud oleh Tung Gak adalah kemiripan Inyoko dengan ayahnya Pajako Karasaki.
Tung Gak cukup mengenal sosok Pajako.
karena Tung Gak adalah guru Pajako Karasaki ayahnya Inyoko.
meskipun berasal dari suku yang berbeda,Tung Gak mau menerima Pajako sebagai muridnya.
dan Tung Gak lah yang membuat Pajako menjadi pendekar terkuat di negara Ham Pai saat itu.
"Kau akan menjadi suami untuk cucuku"
"Dulu ayahmu adalah muridku"
"saat menjadi kepala suku besar,ayahmu melanggar aturan suku karena ingin menikahi wanita diluar keturunan suku negara Ham Pai"
"semua orang menentang keputusan ayahmu,bahkan si tua Nionyo kakekmu"
"kau tahu siapa yang menikahkan ayah dan ibumu?"
"akulah orangnya"
"sesaat setelah merrka menikah,aku yang menyembunyikan mereka,hingga akhirnya Ibumu Pinto Kamiko hamil"
"Ayahmu kemudian memutuskan untuk meninggalkan negara ini bersama ibumu yang sedang hamil itu"
"Ayahmu berjanji satu hal kepadaku"
"Kelak anak yang dilahirkan oleh Pinto akan dia berikan kepadaku"
"Dan anak itu adalah kau"
Jelas Tung Gak dihadapan semua orang sambil merangkul pundak Inyoko.
"Tunggu dulu kakek"
"aku bukan benda yang bisa di berikan kepada orang begitu saja"
"lagi pula aku tidak bisa percaya ucapan kakek begitu saja"
__ADS_1
Jawab Inyoko
"Plaaaaak..."
Pukulan yang sudah cukup lama tidak diterima kepala Inyoko kali ini berasal dari Nionyo.
"Jangan sembarangan bicara nak"
"apa yang dikatakan Tung Gak itu benar"
"ayahmu adalah murid kesayangannya"
"dan tidak akan mungkin kepala suku Ca Biak ini mengotori harga dirinya dengan berbohong kepadamu"
Ucap Nionyo
Meskipun ikut terkejut mendengar keinginan Tung Gak untuk menikahkan Inyoko dengan cucunya,akan tetapi Nionyo merasa sangat senang dengan perjodohan itu.
Secara tidak langsung perjodohan itu akan membuat Inyoko semakin dekat untuk dapat menduduki posisi kepala suku besar negara Ham Pai.
"bagaimanapun aku tidak akan menerima perjodohan ini"
"aku tidak ingin menikah dengan gadis yang tidak aku kenal dan tidak aku cintai"
"bukankah dulu ayahku juga melakukan hal yang sama"
"demi cinta pada ibu ayah meninggalkan semua yang dia miliki di negara ini"
"Maafkan aku kakek"
"aku tidak bisa menerima perjodohan ini"
ucap Inyoko.
"hahahahaha"
"kau membuat ku semakin yakin,kau laki-laki yang pantas untuk cucuku Ti Yang."
Balas Tung Gak sambil memperkenalkan cucunya dihadapan Inyoko,seorang gadis cantik berkulit bersih.
"maafkan aku kakek"
"aku tetap tidak bisa"
Jawab Inyoko kembali.
"Baiklah aku hanya akan membatalkan perjodohan mu jika kau bisa mengalahkanku"
"Tiga hari lagi kita akan bertarung di altar suci pendekar"
"aku akan meminta para sepuh suku dan semua kepala suku negara Ham Pai untuk menjadi saksi pertarungan itu"
Ucap Tung Gak penuh emosi.
Pertarungan di altar suci pendekar hanya dilakukan untuk pertarungan-pertarungan penting yang berhubungan dengan kehidupan suku-suku negara Ham Pai.
tentu saja Nionyo dan Ka Bao yang mengerti dengan pertarungan di altar suci pendekar itu sedikit bingung dengan niat dari Tung Gak menantang Inyoko bertarung ditempat itu.
Hanya pendekar-pendekar dengan kemampuan tinggi dan dianggap pantas yang pernah bertarung ditempat itu.
__ADS_1