
Tetua Bu, Tetua Ho dan yang lain nya tentu saja tahu, kalau apa yang akan terjadi didepan mereka bukanlah sesuatu yang baik.
sebelum kedua tetua itu bergerak,Kakek Gwen sudah lebih dulu maju dan melakukan pukulan tenaga dalam pada Mai Chen.
Mai Chen terjatuh dan pingsan, sementara Inyoko kini ditemani oleh Dewi Mata Dara.
"Hahahahah"
"Jiwa muda ku bergejolak melihat semangat mereka"
Sepuh Suci Sekte A Jhi Er membuka percakapan.
"Tapi cucu si gagak Hitam itu sepertinya terlalu bersemangat hingga lupa diri"
"Anak itu sepertinya masih perlu banyak bimbingan"
"aku rasa sepuh A Jhi Er cocok sebagai pembimbingnya"
"lagi pula sepuh A Jhi Er Sampai saat ini kau belum pernah mengangkat seorang murid"
Ucap Tetua Bu membalas sepuh A Jhi Er.
Kakek Gwen kemudian mengalirkan hawa energi milik nya kepada Mai Chen yang tidak sadarkan diri itu.
akhirnya Mai Chen sadar.
"maafkan aku kakek pertapa"
"emosi menguasai jiwaku"
"dendamku akan kematian Kakel ku telah membuatku gelap mata".
"bagaimana dengan Inyoko?
Ucap Mai Chen mulai berbicara.
"Tenanglah bocah"
"aku sangat mengerti dengan apa yang sedang kau hadapi"
"Murid si tua Ho ada disana,dan dia baik-baik saja"
Balas Kakek Gwen.
Inyoko juga bangkit dan berjalan menuju arah Mai Chen sambil memegang bagian dadanya yang terasa sakit.
"sangat menyenangkan dan suatu kebanggan bagi ku dapat berlatih tanding dengan saudara Chen"
"kemampuan saudara Chen memang luar biasa"
sapa Inyoko pada Mai Chen.
"maafkan aku Inyoko"
"aku benar-benar malu kepadamu"
"aku gelap mata sampai aku lupa jika kita hanya berlatih tanding"
__ADS_1
"aku hanya ingin jadi lebih kuat,agar Kakek ku Lao Chen tenang dan bangga di alam sana"
Balas Mai Chen sambil tertunduk malu.
"Aku mengerti dengan perasaan mu saudara Chen"
"aku ingin kita sama-sama bisa bertambah kuat"
"aku ingin kau menjadi suadaraku"
"bolehkah aku memanggilmu kakak"
lanjut Inyoko.
Ucapan Inyoko itu membuat Mai Chen terharu.
Inyoko adalah pemuda gembel yang pernah diperlakukan oleh nya dengan tidak baik.
bukan saja melupakan dendam dan masalah mereka di masa lalu, bahkan Inyoko menganggap dirinya sebagai saudara.
Mulai saat itu Mai chen dan Inyoko adalah saudara angkat.
Mai Chen kemudian ikut bersama Sepuh Suci Sekte A Jhi Er ke tempat tinggalnya.
Sepuh Suci Sekte A Jhi Er mengikuti saran Tetua Bu untuk mengangkat Mai Chen sebagi murid nya.
Tetua Ho mendekati Inyoko,
Tetua Ho adalah orang yang paling bahagia dengan perkembangan Inyoko.
belum genap satu bulan menjadi muridnya Inyoko sudah mengalami kemajuan yang sangat pesat.
Hari semakin larut,semua orang memutuskan untuk beristirahat setelah menyaksikan duel latih tanding dua pendekar muda aliran putih itu.
Esok pagi nya Tetua Bu bersama dengan kelompok Tetua Ho sedang duduk menikmati sarapan di ruangan tengah markas Sekte Bulan Giok.
mereka berencana setelah menyelesaikan sarapan akan mengumpulkan semua anggota sekte dan penduduk kota Ma Er.
karena Tetua Bu mendapat informasi dari anggota nya ada pasukan besar yang sedang menuju kota Ma Er.
Pasukan besar itu adalah pasukan kaisar Ming.
dalam pasukan besar itu terlihat beberapa pimpinan sekte aliran hitam.
melihat jumlah pasukan yang bergerak itu,tentu saja Tetua Bu dan yang lain nya mengetahui maksud dari kaisar Ming An Zung,tidak lain adalah menyerang kota Ma Er dan Sekte Bulan Giok.
"kekuatan yang kita miliki seperti nya tidak cukup untuk menahan pasukan kaisar itu"
"belum lagi banyaknya tokoh-tokoh aliran hitam berada dalam pasukan itu"
"apa rencana mu ketua Bu"
Ucap Sepuh Suci Sekte Khu Dung
"kita harus segera bergerak"
"tapi yang menjadi beban pikiranku adalah warga kota ini"
__ADS_1
pasukan kaisar dan aliran hitam tentu tidak akan membiarkan mereka hidup"
"warga kota Ma Er ini juga adalah bagian keluarga besar Sekte Bulan Giok"
"dan aku tidak akan mengabaikan mereka"
Jelas Tetua Bu
Ketua Sekte Bulan Giok itu kini berada dalam dilema besar.
bertahan bersama warga kota tentu bukanlah keputusan tepat,akan tetapi meninggalkan kota Ma Er dan penduduk nya juga akan menjadi masalah.
"apakah kalian mempunyai peta wilayah sekitar sini"
pinta Dewi Mata Dara.
Tetua Bu meminta anggota sekte untuk mengambil apa yang diminta oleh dewi mata dara itu.
Mata Wanita pertapa itu melihat dengan jeli tiap bagian dari peta yang kini ada dihadapan nya.
dia tersenyum,membuat semua orang ditempat itu menjadi bingung.
"berdasarkan peta yang kalian berikan ini, terdapat ada 4 desa disekitar kota ini.
kita akan berpisah menuju 4 desa itu"
"setiap kelompok dipimpin oleh dua orang"
"Tetua Bu kita tidak punya banyak waktu"
"aku harap anggota sekte mu dapat mengumpulkan semua warga kota dengan cepat dan membagi mereka menjadi 4 kelompok"
"warga kota yang memiliki ilmu bela diri juga harus dibagi di tiap kelompok nya"
"jika kita bergerak dengan kelompok-kelompok kecil tentu kita dapat bergerak lebih cepat"
"setelah itu kita akan memberikan kejutan pada pasukan besar yang akan datang ketempat ini"
Dewi Mata Dara menjelaskan strategi dan ide yang dimilikinya.
Tetua Bu dan yang lain nya tidak ada yang menolak rencana wanita pertapa itu.
Sepuh A Jhi Er dan Mai Chen memimpin kelompok satu,mereka akan membawa warga kota menuju desa Rho Kan.
Sepuh Khu Dung dan Jendral Phe Phi memimpin kelompok dua menuju desa Rha Ngau.
Kakek Gwen ditemani beberapa petinggi Sekte Bulan Giok akan memimpin kelompok tiga menuju desa Rhan Tao.
dan kelompok Empat dipimpin oleh Dewi Mata Dara bersama Inyoko menuju desa Bhais.
Sementara itu Tetua Bu,Tetua Ho bersama Sepuh Suci Sekte Dha Us dan cucu nya,dan semua anggota Sekte Bulan Giok akan menuju markas besar Sekte Pengemis Suci.
sebelum meninggalkan kota Ma Er semua anggota sekte telah meletakkan rumput-rumput kering di sekeliling kota,dan melumuri nya dengan minyak.
setelah semua berkumpul akhir nya semua orang meninggalkan Kota Ma Er,dan melakukan pelarian.
Dewi Mata Dara meminta Inyoko berjalan lebih dahulu memimpin rombongan nya.
__ADS_1
Dewi Mata Dara harus tinggal sendirian di kota Ma Er itu untuk menjalankan rencana terakhirnya.