
Setelah kematian Lha Bas Ono,tempat disekitar tembok timur kota Dhu Mai terasa sangat mencekam,bau amis darah dan potongan tubuh manusia tersebar disekitar tempat itu.
Inyoko masih berdiri sambil menggenggam erat golok pusaka naga yang berlumuran darah ditangan nya.
Tubuh Inyoko mengeluarkan asap putih dari semua pori-pori kulitnya.
Matanya memerah dan kemudian terpejam.
Inyoko berdiri mematung,menahan sakit yang teramat dalam didalam hatinya.
Apa yang baru saja terjadi diluar kendalinya,Inyoko bereaksi karena melihat tetua Bu dalam situasi yang berbahaya.
Inyoko menyesali pembantaian sadis yang baru saja diciptakan oleh dirinya.
Tak ada penyesalan dalam hatinya saat ia bertarung dan membantai anggota sekte kalajengking merah tanpa belas kasihan,penyesalan itu baru muncul setelah pertarungannya yang menelan banyak korban itu selesai.
"Apa yang telah aku lakukan?"
"Mengapa aku menjadi manusia kejam tak berperasaan seperti ini"
Inyoko bergumam dalam hati.
Pikirannya kembali melayang membayangkan pembantaian yang baru saja dia lakukan.
Kepalanya dipenuhi bayangan anggota sekte kalajengking merah yang mati mengenaskan karena golok pusaka naga dan kekuatannya.
Teriakan dan jeritan mereka saat mendekati ajalnya terngiang-ngiang didalam kepala Inyoko.
"Plaaaak"
"Plaaaak"
"Apa yang kau lamunkan bocah"
Ucap suara yang tiba-tiba muncul setelah memukul kepala Inyoko dan membawa Inyoko berada didalam dimensi alam pikirannya.
"Sudah begitu lama sejak terakhir aku merasakan aroma darah yang begitu pekat"
"Hatimu masih rapuh"
__ADS_1
"Untung saja mustika harimau putih cukup kuat menahan aura iblis yang hampir masuk kedalam jiwa mu"
Lanjut suara yang muncul didalam pikiran Inyoko.
Suara yang sudah lama tidak lagi pernah terdengar olehnya,suara yang berasal dari wujud lain golok pusaka naga Thun Dit,yang kini hadir dihadapannya didalam dimensi alam pikiran Inyoko.
Inyoko mulai memperhatikan keseliling dimensi alam pikirannya yang terlihat sedikit berbeda.
Dimensi alam pikiran milik Inyoko tidak lagi berwarna putih bersih,pada beberapa bagian terlihat ada beberapa retakan yang berwarna kehitaman.
Retakan kehitaman itu muncul akibat dari apa yang baru saja dilakukan oleh Inyoko.
Hampir saja jiwa Inyoko dirasuki oleh kekuatan iblis,ketika dia membantai anggota sekte kalajengking merah tanpa belas kasihan.
Untung saja mustika harimau putih milik Hi Nyiak membentengi jiwa Inyoko, walaupun tidak sepenuhnya berhasil.
"Kau terlalu cepat mencapai tahap puncak kekuatan mu"
"Sehingga bukan hatimu yang mengendalikan jiwa bersih yang ada dalam dirimu,tetapi kekuatan itu yang mengendalikan dirimu"
"Untuk sementara kau jangan menggunakan cahaya energi pertapa meskipun dalam keadaan sulit sekalipun,sampai jiwamu benar-benar telah bersih kembali"
Lanjut Thun Dit.
Inyoko keluar dari dimensi alam pikirannya,menjatuhkan dirinya dan menjadikan golok pusaka naga yang tertancap ditanah sebagai pegangan nya.
Air mata nya menetes jatuh membasahi bumi,penyesalan yang begitu dalam muncul dari dalam hatinya.
Rajawali Dewa Perang kemudian datang mendekatinya,tak lama kemudian disusul oleh tetua Phi Thoek dan dua orang sepuh suci sekte A Jhi Er dan Khu Dung.
Mereka kemudian memegang pundak Inyoko dan mengajaknya berdiri.
Tetua Phi Thoek kemudian memeluk erat tubuh Inyoko,sebagai ungkapan rasa terimakasihnya,selain karena merasa berhutang nyawa kepada Inyoko, tetapi juga telah menyelamatkan kota Dhu Mai dan semua penduduknya.
"Anak ini membunuh musuhnya sambil menangis"
"Dia membunuh bukan karena keinginan dan nafsunya"
"Saat ini mungkin dia lah manusia terkuat yang sanggup mengimbangi kekuatan dari manusia iblis Ghun Thang"
__ADS_1
Ucap sepuh Khu Dung kepada sepuh A Jhi Er sambil berbisik.
"Rasanya baru kemarin kita memberikan dia izin untuk membuka segel Rajawali Dewa Perang di pagoda obat"
"Aku tidak menyangka anak ini berkembang dengan begitu pesatnya"
"Anak ini memikul takdir yang tidak biasa"
"Mungkin dialah satu-satunya orang yang pantas menjadi pemimpin yang menyatukan dunia yang kacau ini"
Balas sepuh A Jhi Er.
Tetua Phi Thoek meminta Inyoko untuk kembali bersama mereka menuju kota Dhu Mai dan memulihkan kondisi fisik serta mental nya.
Tetapi Inyoko menolak permintaan dari tetua Phi Thoek tersebut.
"Maafkan aku tetua Phi"
"Sepertinya kota Dhu Mai bukan tempat yang tepat untuk ku saat ini"
"Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu"
Ucap Inyoko kepada tetua Phi Thoek.
Tetua Phi Thoek sebenarnya sangat ingin menahan dan membawa Inyoko bersamanya,karena merasa kehadiran Inyoko sedikit membuat nya lebih tenang saat berada di kota Dhu Mai.
Akan tetapi tetua Phi Thoek cukup bijak dan dapat mengerti dengan apa yang diinginkan oleh Inyoko.
Inyoko kemudian menyampaikan informasi bahwa tidak lama lagi rombongan klan pertapa ular bersama Dewi Mata Dara akan segera tiba di kota Dhu Mai.
Sebuah kabar yang membuat tetua Phi Thoek dan semua orang yang berada disana merasa cukup lega,karena kekuatan yang mereka miliki akan semakin lebih kuat dari pada sebelumnya.
Kemudian Inyoko meminta Rajawali Dewa Perang untuk membawanya pergi dari tempat itu,mencari sebuah tempat sunyi untuknya memulihkan jiwanya yang hampir saja dirasuki oleh kekuatan iblis.
Langit diatas tempat pertempuran yang telah hening dan dipenuhi mayat-mayat dari anggota sekte kalajengking merah itu mendadak mendung, yang kemudian disusul oleh hujan yang cukup lebat.
Air hujan yang jatuh membasahi bumi seperti membersihkan darah yang berceceran diatas tanah yang berasal dari mayat-mayat yang bergelimpangan.
Sementara itu sekelompok prajurit negara Paja Bing Nguang dan beberapa orang pendekar sekte aliran putih masih berada di tempat tersebut,untuk memperbaiki tembok timur kota Dhu Mai yang telah rusak dan membersihkan sisa-sisa akibat pertempuran itu,termasuk menguburkan semua mayat-mayat ditempat itu pada sebuah lubang besar yang telah dibuat Inyoko sebelum dirinya pergi bersama Rajawali Dewa Perang.
__ADS_1