
dengan kedua tangan nya inyoko berhasil menangkap 2 ekor ikan ukuran sedang dan melemparnya ke pinggir sungai.
setelah itu inyoko membuka mata nya dan berteriak dengan kencang...
"pak tuaaaaaaa....aku berhasiiiil..."
terlihat wajah yang penuh dengan rasa puas.
inyoko segera keluar dari sungai memungut ikan tangkapan nya yang dia lempar ke pinggir sungai.tanpa terasa mentari pun mulai terbenam.
"hmmmm tua bangka itu kenapa belum kembali ?"
"plak..plak"
sebuah pukulan ke kepala inyoko memecah kesunyian di pinggir sungai senja itu.
"hei bocah jangan sekali-kali berpikiran yang tidak-tidak tentang ku"ucap tetua Ho.
inyoko hanya bisa tersenyum bodoh,melihat tetua ho sudah berada tepat di belakangnya.
"aku lapar,mana makan malam buat ku"
celoteh tetua ho
"dasar tua bangka...bahkan dia tidak memuji hasil tangkapan ku sedikit pun"
inyoko kesal dalam hati.
"baik tetua..aku sudah siapkan 2 ekor ikan untuk kita malam ini"
jawab inyoko
saat malam tiba dua pria berbeda usia itu terlihat duduk di dekat perapian sambil menyantap ikan hasil tangkapan inyoko hari itu.
"hei bocah terimakasih untuk ikan yang lezat ini"
"kau telah berhasil mengendalikan insting dan panca indramu dengan baik"
tetua ho memulai percakapan.
"terimakasih tetua,tapi tolong berhenti memanggilku bocah namaku inyoko "
inyoko terlihat sedikit kesal.
"plak...plak "
seperti biasa sebuah ranting melayang ke kepalanya.
"aku hanya akan berhenti memanggilmu bocah jika kau telah berhasil menghadapi mai chen"
tetua ho menjawab sambil tertawa.
dalam hati nya inyoko sebenarnya sangatlah berterimakasih kepada tetua ho,seumur hidup nya tidak ada satu orang pun yang peduli kepada nya.
"dari awal sebenar nya aku dapat dengan gampang menghancurkan mai chen,tapi tetua ho datang dan menyelamatkan nya dari amukan ku..hahaha"
celetuk inyoko sambil tertawa sombong.
__ADS_1
"plaaaak....plaaak.."
seperti biasa kembali ranting itu menjadikan kepala inyoko sasarannya.
"apa katamu...dasar bocah sialan, jangankan menghadapi mai chen,untuk menangkap ikan saja kau harus menghabiskan waktu seharian"
Tetua Ho pun ikut tertawa...
malam itu dua pria itu terus saja bercerita dan berkelakar,mereka sekarang sudah mulai menjadi akrab,selalu ada tawa di tengah-tengah percakapan mereka di dekat api unggun itu.dalam hatinya inyoko merasa entah kapan terakhir kalinya dia dapat merasakan kesenangan seperti saat ini.
tak lama perapian itu pun mulai padam,kedua pria itu mulai merebahkan badan dan tidur lelap.
"esok paginya..."
"tetua ho....tetua ho...bangun lah...
"tetua ho...bangun lah...apa yang terjadi padamu"
inyoko terlihat panik membangunkan tetua ho,sejak inyoko bangun dari tidur nya tetua ho tidak juga dapat dibangun kan seperti orang yang tidak sadarkan diri.inyo terlihat panik dan terus berusaha membangun kan tetua ho.
"uhuuuk....uhuuuk" suara batuk itu membuat inyoko lega.
tetua ho mulai membuka mata nya.
"booocah.. maaf kan aku tak dapat lagi melatihmu"
"sebaik nya kau pergi sejauh mungkin,dan batalkan perjanjian yang kubuat dengan mai chen untuk mu".
dengan wajah pucat dan suara lemah tetua ho berkata pada inyoko.
"tetua...apa yang kau katakan...jangan bercanda"
"waktuku sudah tidak lama lagi,aku tak akan sempat mengajarkanmu"
"uhuuk...uhuuuk..."
balas tetua ho
"sebenarnya ada apa ini tetua ho ??
jangan berkata seperti itu,aku akan selalu bersama mu tetua"
jawab inyoko dengan sedih,tanpa disadari nya matanya mulai berkaca-kaca melihat orang yang paling baik kepadanya,terbaring dalam keadaan yang sangat lemah.
"sekarang aku akan jujur kepadamu,dalam tubuhku terdapat luka dalam dan racun,hasil pertarunganku 13 tahun yang lalu dengan pendekar hebat dari negri timur jauh"
"saat ini luka dan racun itu sudah merusak semua organ ku dengan fatal"
"terimakasih bocah,sudah menemani tua bangka ini sampai waktu ku akan habis"
terlihat kondisi tetua ho semakin melemah.
"tetua !!! apa tidak ada tabib atau obat untuk mengobatimu?? "
inyoko semakin terlihat sedih dan panik.
"sejak 13 tahun yang lalu aku berkelana didunia persilatan mencari orang dan tanaman obat untuk menyembuhkan luka dan racun ini,tapi hasil nya sia-sia."
__ADS_1
" tak ada satupun tabib yang dapat menyembuhkan luka dan racun di tubuhku"
"hanya tanaman bunga mawar biru yang dapat menyembuhkan luka dan racun ini"
jawab tetua ho.
"dimana....katakan padaku dimana aku dapat menemukan nya ?"
inyoko mendesak tetua ho.
"urungkan saja niatmu itu bocah,tidak ada yang tau kapan tanaman mawar biru akan berbunga,tanaman itu hanya akan berbunga sekali dalam 40 tahun"
"tua bangka ini sudah pasrah dengan takdir yang akan dihadapinya"
tetua ho berkata sambil tersenyum.
"aku tak akan menyerah begitu saja tetua,aku akan tetap mencarikan nya untuk mu bahkan ke ujung dunia sekalipun"
"aku mohon bertahanlah tetua"
"sekarang katakan kepadaku kemana aku dapat menemukan tanaman itu ?"
pinta inyoko
"aku tidak yakin bocah,perjalanan nya tidak akan mudah"
tanaman itu berada dipuncak gunung salju abadi"
"bahkan seumur hidup ku aku belum pernah bisa sampai ketempat itu"
"jangan kau paksakan dirimu untuk tua bangka ini bocah"
"uhuuuk...uhuuuk"
tetua ho berkata kepada inyoko.
"aku tidak peduli tetua ,aku berjanji akan membawakan bunga mawar biru itu untukmu,tunjukan padaku ke mana arah nya".
inyoko merasa yakin akan keputusan nya.
"baik lah...tapi ingat jangan paksakan dirimu,jika ada sesuatu yang dapat membahayakan mu maka aku ingin kau batalkan perjalanan mu".
"terus lah berjalan kearah matahari terbenam temukan gunung paling tinggi diantara 7 gunung, dipuncak gunung itu terdapat salju abadi,selanjutnya takdir yang akan menuntunmu menemukan tanaman mawar biru itu".
tetua ho menjelaskan kepada inyoko.
"baiklah aku akan segera berangkat"
"mohon doakan aku,dan bertahanlah sedikit tetua ho"
pinta inyoko.
tetua ho kemudian mengeluarkan sebuah pedang dari balik jubah nya.
"bawalah ini bersama perjalanan mu bocah".
"terimakasih kau sudah peduli pada tua bangka ini"
__ADS_1
tetua ho berkata sambil tersenyum lemah.