
Telah tiga hari berlalu sejak kejadian pemakaman mayat-mayat didepan gedung pemerintahan itu.
Setelah pemakaman itu Inyoko memanggil Rajawali Dewa Perang datang dan menjemputnya.
kedatangan sosok burung raksasa saat itu membuat semua orang yang belum pernah melihatnya menjadi sangat terkejut,dan semakin kagum dengan sosok Inyoko.
bahkan putra mahkota kerajaan Pha Cah dan jendral nya Mha Lhum Pek hanya bisa terpana melihat apa yang dipunyai oleh Inyoko itu.
Tanpa berkata apapun Inyoko berlalu pergi terbang bersama Rajawali Dewa Perang meninggalkan kota Dhu Mai.
tidak ada satupun orang yang mencoba untuk mencegah Inyoko pergi meninggalkan kita itu,karena mereka semua cukup memahami situasi perasaan Inyoko saat itu.
Berita dan cerita tentang sosok Inyoko menjadi buah bibir di seluruh penjuru kota Dhu Mai.
para penduduk kota,pendekar aliran putih dan para prajurit dari dinasti Juryan merasa semakin percaya diri dan bersemangat,karena menurut mereka Inyoko adalah titisan dewa yang akan membantu mereka melewati masa-masa kelam ini.
Hal serupa juga terjadi didalam kelompok tokoh-tokoh besar yang berada di gedung pemerintahan kota Dhu Mai.
"Wabah dan penyakit akibat kemarau panjang ini akan segera mencapai puncaknya"
"aku membutuhkan banyak bantuan tenaga untuk menangani para pasien di tenda-tenda pengobatan"
"aku tidak ingin lagi melihat ada pemakaman massal ditempat ini"
"aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama"
"murid tetua Ho itu telah membuka dan menggores hatiku terlalu dalam"
"dan aku yakin kalian semua juga merasakan hal yang sama seperti ku"
Ucap tetua Bu ketua sekte bulan giok yang dijuluki sebagai dewa obat itu.
Sebelum Inyoko menemukan dan memakamkan mayat-mayat itu, beberapa waktu sebelumnya tetua Bu telah meminta tambahan tenaga untuk membantunya mengurus para korban perang dan korban wabah penyakit akibat kemarau panjang yang masih melanda wilayah itu.
namun tetua Phi Thoek tidak bisa memenuhi permintaan dari tetua Bu itu karena sumberdaya yang terbatas dan kondisi negara Paja Bing Nguang masih dalam keadaan goyah akibat wabah kemarau panjang dan perang besar dengan kekaisaran Ming beberapa waktu yang lalu.
Tapi kali ini tetua Phi Thoek menyanggupi permintaan tetua Bu itu dengan meminta Fan Ning bersama dengan putri Wa Dehn dan Bing Nga untuk turut membantu, selain itu tiga orang sepuh suci sekte bulan giok juga turut membantu ketua sekte nya itu.
Ditempat lain diatas sebuah puncak bukit yang tidak jauh dari kota Dhu Mai,Inyoko menyandarkan tubuhnya pada sebuah pohon besar disampingnya terlihat Rajawali Dewa Perang tengah berbaring dan menutup matanya.
__ADS_1
Tatapan pemuda itu terlihat kosong tanpa semangat,tangis gadis kecil Bha Nun membuat dirinya kembali teringat akan masa lalunya yang kelam dan penuh penderitaan.
hatinya terasa sangat sakit membayangkan penderitaan yang akan dijalani oleh Bha Nun kelak.
Hingga akhirnya Inyoko tertidur karena kondisi tubuh dan mentalnya yang sudah lelah.
Dalam tidurnya itu Inyoko mengalami mimpi yang sangat buruk dan menyeramkan.
Manusia iblis Ghun Thang terlihat berdiri diatas tumpukan mayat,dan mayat-mayat itu tidak lain adalah orang-orang terdekat Inyoko.
tapi Inyoko tidak dapat melihat ada jasad Fan Ning ditumpukkan mayat-mayat yang ada dibawah pijakan kaki manusia iblis Ghun Thang itu.
"Apa yang kau cari bocah lemah?"
"Apa kau mencari ini?"
Ucap manusia iblis Ghun Thang sambil memperlihatkan potongan kepala manusia dalam genggaman tangannya.
dan potongan kepala itu ternyata adalah Fan Ning.
Dalam sesaat tubuh Inyoko terasa sangat lemas, nafasnya sesak melihat orang yang dia cintai itu dipenggal oleh manusia iblis Ghun Thang.
dari tangan Ghun Thang mengalir tenaga dalam besar yang berwarna hitam pekat,tangan itu telah siap menebas kepala Inyoko.
suasana tiba-tiba menjadi sangat gelap setelah tangan Ghun Thang menebas leher Inyoko.
"Aku mati"
"aku tidak bisa menjaga kalian"
"aku gagal melindungi mu adik Fan"
Ucap Inyoko dalam keheningan yang gelap itu.
"Plaaaaak"
"Plaaaaak"
Suara yang tidak asing bagi Inyoko itu terdengar kembali.
__ADS_1
Suara itu berasal dari burung rajawali yang memukul-mukul kepala Inyoko dengan paruhnya, mencoba membangunkan Inyoko dari tidurnya.
Inyoko tersadar dan bangun dari tidurnya,tubuhnya berkeringat dan nafasnya sesak mengingat mimpi yang baru saja dialaminya itu.
Inyoko mulai menceritakan tentang mimpi yang baru saja dialaminya itu kepada Rajawali Dewa Perang,baginya mimpi itu terlihat seperti begitu sangat nyata.
Inyoko sangat takut jika apa yang ada didalam mimpinya itu menjadi kenyataan.
Rajawali Dewa Perang mencoba untuk menenangkan tuanya itu.
"Satu-satunya jalan agar mimpimu itu tidak menjadi kenyataan adalah dengan membuat dirimu jadi lebih kuat dari manusia iblis itu"
Ucap Rajawali Dewa Perang pada Inyoko.
Inyoko tidak menjawab apa yang dikatakan oleh burung rajawali raksasa itu,dia hanya mengangguk pelan dan mulai berpikir bagaimana caranya agar dia dapat menjadi lebih kuat dari sebelumnya.
"plaaak"
"plaaak"
sebuah pukulan dari paruh burung rajawali raksasa itu kembali mendarat pada kepala Inyoko.
"Mengapa aku memilih tuan yang begitu bodoh seperti dirimu"
"apakah kau lupa jika kau adalah penguasa energi tiga dewa penguasa bumi"
"dan sampai saat ini kau belum mampu mengeluarkan seluruh kekuatannya"
"bahkan separuh dari kekuatan tiga dewa penguasa bumi pun belum kau kuasai"
Jelas burung rajawali raksasa itu.
Inyoko akhirnya tersadar setelah mendengarkan apa yang baru saja dijelaskan oleh rajawali raksasa itu.
Inyoko baru menyadari bahwa masih ada kekuatan besar dari energi tiga dewa pelindung bumi yang belum bisa dikeluarkannya.
dan yang paling tepat menurutnya untuk melatih dan meningkatkan kemampuannya hanya lah ketiga hewan pertapa yang ada bersamanya, kecuali harimau putih yang kini menjadi mustika harimau dan menyatu dengan tubuh Inyoko.
Inyoko mulai duduk bersila,dan memusatkan pikirannya.
__ADS_1
Inyoko mulai membuka dimensi alam pikirannya untuk bertemu dengan Thun Dit,wujud lain dari golok pusaka naga miliknya.