
Tetua Phi Thoek bersama rombongannya tampak sangat terkejut melihat kondisi tembok kota Dhu Mai yang kembali rusak.
Jika sebelumnya tembok itu dirusak oleh lontaran bom-bom setan,kali ini Lha Bas Ono seorang lah yang menjadi penyebabnya.
Lha Bas Ono kembali menyerang Inyoko dengan kekuatan penuhnya.
Kali ini tombak bermata tiga miliknya menjadi memanjang,membuat Lha Bas Ono tidak perlu menyerang Inyoko dari jarak dekat.
Lha Bas Ono mengubah strategi bertarungnya setelah beberapa kali serangan-serangannya dapat dimentahkan oleh Inyoko.
Setidaknya apa yang dilakukan oleh Lha Bas Ono saat ini dapat membuatnya terhindar dari serangan balik Inyoko.
Serangan tombak bermata tiga milik Lha Bas Ono dikombinasikan nya dengan putaran tombak cepat dan ilmu jurus seribu tombak yang sebelumnya dia gunakan.
Selain menjaga jarak pertarungan,Lha Bas Ono mempertajam daya serang dari tombaknya itu.
Inyoko sedikit kewalahan menghadapi pertarungan jarak jauh tersebut.
Sementara itu tetua Phi Thoek memerintahkan pasukannya untuk menghadapi para anggota kalajengking merah yang dibawa oleh Lha Bas Ono.
Pertempuran besar di depan tembok sebelah timur kota Dhu Mai sudah tidak dapat terelakkan lagi saat kedua kekuatan pasukan itu bertemu.
Dua orang sepuh suci sekte bulan giok A Jhi Er dan Khu Dung menghadapai kepungan dari lima orang anggota sekte kalajengking merah berkemampuan cukup tinggi.
Kelima orang pendekar aliran hitam itu dikenal sebagai Lima Iblis Pencabut Nyawa.
Pertempuran sengit pun berlangsung antara pasukan negara Paja Bing Nguang menghadapi para anggota sekte aliran hitam kalajengking merah.
Tetua Phi Thoek terlihat sangat gelisah melihat jalannya pertempuran itu.
Kegelisahan itu karena ia menyaksikan bagaimana pasukan dan para pendekar aliran putih terlihat sangat kerepotan menghadapi anggota sekte kalajengking merah.
Dia tidak dapat membayangkan bagaimana nasib para pasukan dan pendekar aliran putih yang dipimpinnya jika menghadapi pasukan besar kekaisaran Ming pimpinan manusia iblis Ghun Thang.
Tetua Phi Thoek sendiri juga turut turun kemedan pertempuran.
__ADS_1
Menghadapi para pendekar biasa aliran hitam tentu saja bukan sebuah kesulitan baginya, setidaknya apa yang dilakukan oleh tetua Phi Thoek itu sedikit meningkatkan semangat tempur para prajuritnya.
Entah berapa banyak anggota sekte kalajengking merah yang menemukan kematiannya saat berhadapan dengan tetua Phi Thoek.
Akan tetapi aksi tetua Phi Thoek itu terhenti saat sebuah pukulan gada raksasa hampir saja mengenai dan melukainya.
Senjata gada raksasa itu berasal dari seorang pria bertubuh besar dengan pakaian tempur yang berlapiskan kulit harimau.
Pria besar itu bernama Sing Gha Lang,panglima tempur dari sekte kalajengking merah.
"Sebuah kehormatan bagiku dapat menghabisi salah seorang dari tiga pendekar terkuat aliran putih si pendekar Arif Mabuk,tetua Phi Thoek"
"Aku sudah cukup lama mengimpikan berhadapan denganmu,salah satu orang pendekar yang diakui oleh tuan Ghun Thang"
Ucap Sing Gha Lang kepada tetua Phi Thoek.
Sing Gha Lang mengangkat kembali gada raksasa miliknya,dan mulai melakukan serangan kepada tetua Phi Thoek.
Ayunan gada raksasa Sing Gha Lang dapat dihindari oleh tetua Phi Thoek dan hanya mengenai sebuah batu besar yang berada disekitar mereka.
Batu besar itu menjadi hancur berkeping-keping setelah terkena hantaman gada raksasa Sing Gha Lang.
Pimpinan negara Paja Bing Nguang itu mulai mengambil kuda-kuda dan mengalirkan tenaga dalam nya.
Tetua Phi Thoek mengeluarkan teknik dan jurus yang aneh, gerakan-gerakan jurus nya seperti tidak beraturan dan tanpa arah,membuat Sing Gha Lang menjadi bingung.
Tetapi serangan dan gerakan tetua Phi Thoek yang terlihat aneh itu cukup membuat Sing Gha Lang menjadi terdesak dan kerepotan,bahkan beberapa pukulan tetua Phi Thoek berhasil tepat mengenai bagian vital dari Sing Gha Lang.
Pria bertubuh besar itu terpental beberapa meter dan memuntahkan darah dari mulutnya, setelah sebuah pukulan tenaga dalam tetua Phi Thoek mengenainya.
"Kemampuan dan kesombongan mu tidak sebanding dengan tubuh besar mu itu"
"Kau lupa dengan siapa kau berhadapan"
"Aku ketua sekte Mata Air Hijau,si pendekar Arif Mabuk atau dewa mabuk suci"
__ADS_1
Ucap tetua Phi Thoek sambil terus bergerak tidak beraturan seperti orang yang sedang mabuk.
Sing Gha Lang terlihat murka dan emosi setelah mendapatkan luka dari musuhnya.
Dia bangkit dan kembali menyerang tetua Phi Thoek dengan gada raksasa ditangannya,kali ini pukulan gada raksasa itu terlihat sangat cepat dan dilakukan secara berulang-ulang oleh Sing Gha Lang.
Tetapi tubuh tetua Phi Thoek dapat bereaksi dengan sangat tepat terhadap setiap pukulan dan serangan gada raksasa milik Sing Gha Lang.
Tubuh tetua Phi Thoek terlihat begitu lentur seperti tanpa sendi setiap kali menghindari serangan dari lawannya itu.
Gerakan-gerakan dan setiap bahasa tubuh dari tetua Phi Thoek seperti seolah-olah mengolok-olok Sing Gha Lang,yang semakin membuat nya terbakar oleh amarah.
Sing Gha Lang terbawa oleh emosinya,setiap serangannya menjadi semakin tidak beraturan.
Tetua Phi Thoek tersenyum puas karena berhasil mempermainkan emosi dari lawannya tersebut.
Setiap serangan Sing Gha Lang semakin mudah dihindari dan dipatahkan oleh tetua Phi Thoek,bahkan beberapa kali serangan balasan tetua Phi Thoek berhasil memberikan luka dalam yang cukup parah kepada Sing Gha Lang.
Sing Gha Lang mundur beberapa langkah, nafasnya mulai tidak beraturan,beberapa kali panglima tempur sekte kalajengking merah itu batuk dan memuntahkan darah dari mulutnya,pertanda tubuh nya dipenuhi oleh luka dalam yang diberikan oleh tetua Phi Thoek.
Sing Gha Lang mencoba menenangkan dirinya dan mengatur kembali aliran tenaga dalam miliknya.
Gada raksasa itu dia tancapkan berdiri diatas tanah.
Dia mengambil sebuah belati kecil dari pinggangnya,dan menggoreskan belati itu ditelapak tangannya,darah bercucuran keluar dari telapak tangan Sing Gha Lang.
Darah yang bercucuran itu dia teteskan pada gada raksasa yang menancap diatas tanah,seketika gada raksasa Sing Gha Lang itu bersinar ke emasan dan berputar-putar dengan sendirinya.
Gada raksasa itu berputar-putar semakin cepat dan perlahan terlihat mengambang diatas tanah.
Gada raksasa Sing Gha Lang melayang tinggi diudara,cahaya yang dikeluarkannya bahkan dapat terlihat sampai ketempat Inyoko yang sedang bertarung dengan Lha Bas Ono.
Gada raksasa Sing Gha Lang yang berputar-putar kencang diudara itu terbelah menjadi beberapa bagian.
Gada raksasa itu berubah menjadi seperti sebuah jubah perang berwarna ke emasan dan kemudian melekat pada tubuh Sing Gha Lang.
__ADS_1
Jubah perang itu mengikat kuat dan menyatu dengan tubuh Sing Gha Lang yang terlihat menjadi lebih besar dari sebelumnya.
Tetua Phi Thoek dapat merasakan peningkatan kekuatan yang luar biasa dari lawannya itu.