Cinta Pertapa Naga

Cinta Pertapa Naga
Paviliun dan Fan Ning


__ADS_3

Kekuatan dan kemampuan Inyoko yang hanya menguasai tiga jurus dari Tetua Ho itu tentu tidak dapat mengimbangi kemampuan Sepuh Khu Dung yang hampir mencapai tingkat pertapa.


Tapi tetap saja apa yang diperlihatkan Inyoko malam itu dihadapan semua orang adalah sebuah kemajuan yang luar biasa.


mengingat beberapa saat yang lalu kondisi Inyoko masih dalam keadaan lumpuh.


Malam semakin larut,semua orang yang ada di Sekte Bulan Giok memilih untuk beristirahat,setelah hari yang cukup berat yang mereka jalani.


terlihat hanya beberapa orang anggota sekte yang terlihat berjaga-jaga disekitar markas besar Sekte Bulan Giok itu.


Rombongan Tetua Ho beristirahat di paviliun tamu Sekte Bulan Giok.


saat semua orang tertidur pulas melepas penatnya Inyoko masih terjaga.


Inyoko keluar kamar nya dan pergi ke kamar Kakek Gwen.


Inyoko mengetuk pelan pintu kamar Kakek Gwen,takut mengganggu penghuni paviliun lain yang sedang beristirahat.


"Masuk lah bocah"


Ucap kakek Gwen yang sudah tahu Inyoko yang mengetuk pintu kamar nya.


Inyoko masuk dengan pelan ke kamar Kakek Gwen itu.


"Kakek belum tidur ??"


Tanya Inyoko


"kalau aku sudah tidur tidak mungkin saat ini kau ada disini"


"apa yang ingin kau sampaikan pada ku Inyoko?"


Jawab Kakek Gwen.


"Boleh kah aku membaca kitab Ilmu Cu Cirian kek?"


"mataku seakan tidak mau tidur malam ini"


Inyoko mulai menjelaskan.


Kakek Gwen kemudian mengeluarkan kitab ilmu Cu Cirian dari balik jubahnya yang lusuh itu.


"kau harus ingat"


"cukup kau baca bagian ketiga dari kitab ilmu ini"


"Jurus Pengemis Halilintar "


Ucap Kakek Gwen memperingati Inyoko.


Setelah Inyoko mengambil kitab ilmu itu,


dia kembali ke kamarnya.


Inyoko mulai membaca kitab ilmu itu sambil membaringkan tubuh nya di atas tempat tidur.


Inyoko tampak serius membaca kitab ilmu Cu Cirian itu.


Inyoko ingin mempraktekan jurus pengemis halilintar itu,tapi karena hari telah larut dan tidak ingin mengganggu penghuni Sekte Bulan Giok yang lain, Inyoko mengurungkan niatnya itu.


Tak terasa matahari sudah mulai terbit,pagi itu markas Sekte Bulan Giok terlihat lebih sibuk dari pada biasanya.


terutama di daerah Pagoda Obat yang telah rusak.


Inyoko masih tertidur pulas dikamar nya.


karena asyik membaca kitab ilmu Cu Cirian membuat nya baru tidur setelah hari hampir pagi.

__ADS_1


Tetua Bu dan tiga orang Sepuh Suci Sekte dan seorang gadis cantik berjalan menuju paviliun,tempat rombongan Tetua Ho beristirahat.


di ruang tengah paviliun, Tetua Ho,Kakek Gwen, Dewi Mata Dara dan Mai Chen tengah duduk sambil menikmati teh ginseng hijau,minuman khas Sekte Bulan Giok.


"Selamat pagi para tetua"


"aku harap kalian semua merasa nyaman berada di paviliun sekte kami ini"


ucap Tetua Bu menyapa Tetua Ho dan penghuni paviliun yang lain


"Hahahahah"


"jangan terlalu sungkan Tetua Bu"


"Sekte Bulan Giok memang betul-betul tempat yang nyaman untuk bertamu"


Balas Tetua Ho.


"Aku tidak melihat murid mu itu pagi ini"


"dimana dia"


"oh ya..."


"aku lupa,kenalkan ini cucu ku Fan Ning"


Ucap Sepuh Dha Us sambil memperkenalkan cucu nya yang berparas cantik itu.


Fan Ning membukukan badan nya,sebagai tanda rasa hormat kepada tamu-tamu Sekte Bulan Giok itu.


Mai Chen yang paling muda diantara para tamu terkesima sampai tak dapat mengedipkan mata nya melihat sosok Fan Ning.


"hmmmm"


"aku baru ingat kalau aku punya murid"


"dimana bocah itu"


jawab Tetua Ho bercanda.


"sepertinya dia masih tidur didalam kamarnya"


"tengah malam dia mendatangi ku dan meminta Kitab Ilmu Cu Cirian"


"mungkin dia membaca kitab ilmu itu sampai tertidur"


Ucap Kakek Gwen.


Semua orang merasa kagum dengan kegigihan Inyoko untuk dapat menjadi kuat dan berkembang,terutama Tetua Ho guru nya.


Tanpa banyak bicara Sepuh Dha Us berjalan menuju kamar Inyoko.


tanpa permisi Sepuh Dha Us masuk kedalam kamar Inyoko.


Sepuh Dha Us mendapati Inyoko sedang tertidur pulas sambil memegang kitab ilmu Cu Cirian ditangan nya.


Sepuh Dha Us tersenyum melihat Inyoko yang sedang tertidur.


tiba-tiba...


"Plak...Plak..."


sebuah pukulan seperti biasa mendarat dikepala Inyoko.


"Dasar bocah pemalas"


"kau sungguh berani mempermainkan ku"

__ADS_1


teriak Sepuh Dha Us.


Inyoko terbangun sambil memegang kepalanya yang sakit akibat pukulan dari Sepuh Dha Us.


"masih terlalu pagi,tapi Sepuh Dha sudah mengganggu tidurku"


Jawab Inyoko tanpa merasa bersalah.


"plak...plak"


Suara pukulan dikepala Inyoko kembali mendarat.


"mengapa kau terus memukulku"


"aku masih ngantuk Sepuh Dha"


ucap Inyoko dengan sedikit manja.


"apa kau lupa"


"kau punya janji dengan ku dan cucuku,untuk membawa kami terbang bersama Rajawali Dewa Perang"


Ucap Sepuh Dha Us dengan nada kesal.


Mendengar kalimat terakhir dari Sepuh Dha Us,Inyoko langsung tersadar akan janji nya pada pria Sepuh itu.


"maafkan aku Sepuh Dha"


"baiklah...kita berangkat sekarang"


Jawab Inyoko tergesa-gesa.


"plak...plak..."


seperti biasa kepala Inyoko kembali menjadi sasaran.


"aku tidak ingin membawa cucu ku terbang dengan pria berbau busuk seperti mu"


"segera bersihkan dirimu dan ganti pakaian mu itu"


"pakaian ganti mu nanti akan diantar oleh pelayan paviliun"


Sambung Sepuh Dha Us.


Inyoko bangkit dari tempat tidur nya dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Sepuh Dha Us kembali ke ruang tengah paviliun berkumpul dengan Tetua Ho dan yang lain nya


Tak lama kemudian Inyoko muncul di ruangan paviliun Sekte Bulan Giok tempat semua orang sudah berkumpul menunggu nya.


semua orang terpaku melihat penampilan Inyoko yang jauh berbeda dari sebelumnya.


Inyoko terlihat lebih tampan setelah mengenakan pakaian yang disediakan oleh Sekte Bulan Giok.selama ini Inyoko terlihat lusuh dengan penampilan gembel nya.


tampilan Inyoko kini sudah benar-benar seperti pendekar muda lain nya.


Saat memasuki ruang tengah paviliun itu pandangan Inyoko sempat teralihkan pada sosok Fan Ning yang berdiri disamping Tetua Bu.


Sama seperti Mai Chen,Inyoko merasa takjub dengan paras gadis itu.


"plak...plak"


pukulan itu sepertinya telah menjadi sesuatu yang biasa diterima kepala Inyoko.


"jangan coba-coba tidak sopan pada cucu kami bocah"


Ucap Sepuh A Jhi Er mengetahui Inyoko melirik kearah Fan Ning.


semua orang di dalam ruangan itu tertawa melihat tingkah konyol Inyoko dan Sepuh A Jhi Er.

__ADS_1


Kecuali Fan Ning yang terlihat hanya diam memandang kelakuan dua orang laki-laki itu.


__ADS_2