
Clara dan Ibunya dinyatakan sudah sembuh mereka sudah diizinkan untuk pulang. Sedangkan Bryan dia harus berada di rumah sakit untuk beberapa hari selama masa pemulihan.
Bryan sedih karna berpikir Clara akan pulang, tapi tidak! Clara akan menemani Bryan di rumah sakit sampai kesehatannya benar-benar pulih.
"Ibu, mama, papa Clara tinggal disini ya, Clara ingin merawat dan menemani Bryan."
"Iya sayang, kamu harus menemaninya biar Audira kami yang urus."
"Baik ma, tapi nanti Clara akan pulang untuk menjemput Audira."
"Terserah kamu saja sayang, kamu mau disini berdua dengan Bryan boleh, atau bertiga dengan Dira juga boleh, tapi mama saranin lebih baik kalian berdua saja." goda mama.
"Apaan sih mama, Clara kan jadi malu." Clara tertunduk pipinya merona.
"Sudah sana, temui calon suamimu rawat dia sampai sembuh." ujar papa.
"Pa, ma, sekarang ibu tinggal dirumah kita bolehkan?"
"Boleh donk sayang, kalau ada Susan jadi mama tidak sendirian lagi ngurus Audira."
"Terima kasih mamaku yang cantik." Clara memeluk mamanya.
"Ibu, sekarang ibu tinggal bersama Clara, ibu tidak boleh pergi lagi ya, janji."
"Janji sayang ibu tidak akan pergi lagi."
Clara berpelukkan dengan ibunya sekarang Clara sangat bahagia dia punya 2 ibu yang sangat dia cintai.
"Cepat sana hampiri Bryan." Ujar ibu, Clara pun berlari menuju ruang dimana Bryan dirawat.
*****
ceklekkk...
Clara membuka pintu ruang rawat Bryan sontak Bryan kaget melihat Clara menghampirinya.
"Bukankah kamu sudah boleh pulang, kenapa kamu datang kesini lagi? pasti kamu mau mengejekku kan laki-laki tapi baru sakit sedikit saja sudah lemah." ujar Bryan kesal.
"Idih... Kok bisa-bisanya ya mikir kayak gitu."
"Ya itu karna aku masih sakit sedangkan kamu sudah sembuh."
"Oo... Jadi kamu mau melihatku sakit lagi?"
"Tidak seperti itu! Aku malu gara-gara penyakit ini aku jadi terlihat lemah."
"Siapa bilang kamu lemah, kamu itu sangat kuat dan juga angkuh."
"Oo jadi menurutmu aku angkuh."
"Iya dulu saat pertama kali kita bertemu."
__ADS_1
"Ya itu gara-gara kamu juga kan ngapain berjalan sendirian ditengah malam, untung saja aku tidak menabrakmu."
"Sudahlah jangan berdebat, perdebatan macam apa ini? sangat tidak jelas." Clara memeluk Bryan dari belakang.
"Lepaskan pelukkannya!"
"Aku tidak mau! Biarkan aku memelukmu."
"Clara lepaskan, atau aku akan..." belum selesai bicara.
"Akan apa? aku sudah tau kok pasti kamu akan menciumku." lanjut Clara.
"Tidak!" jawab Bryan cuek Clara langsung melepas pelukkannya.
"Kenapa kamu jadi dingin seperti ini?" Clara mulai sedih dan memalingkan tubuhnya membelakangi Bryan.
"Kamu salah paham Clara." Ucap Bryan dengan lembut memeluk Clara dari belakang.
"Aku tidak salah paham, kamu memang berubah."
"Kamu tidak mengerti Clara bagaimana sedihnya aku saat kamu akan pulang, sedangkan aku sendiri disini."
"Lalu sekarang aku disini apa kamu pikir aku tidak mengerti? bukankah kamu yang tidak mengerti."
"Ada apa denganku?"
"Aku masih disini karna aku ingin menemanimu sampai kamu sembuh, aku membiarkan Audira bersama mama demi bisa menemanimu disini, tapi kamu? kamu bilang aku tidak mengerti lebih baik aku pulang saja."
"Maaf." Ucap Bryan berjongkok di depan Clara.
"Tidak perlu minta maaf kamu tidak salah." Clara memalingkan wajah.
"Aku salah karna tidak mengerti posisimu, aku lupa kamu juga seorang ibu seharusnya aku mengerti kamu harus mengutamakan Dira, aku minta maaf Clara."
"Oo iya aku juga rindu pada Audira, bisakah kamu membawanya kesini?" Ucap Bryan lagi tapi Clara tidak peduli.
"Ya sudah kalau masih marah, sekarang apa yang bisa kulakukan saat seorang wanita sedang marah selain meminta maaf padanya."
"Kamu tidak salah Sir! Mama akan membawa Dira kemari." Clara menahan tangan Bryan yang hendak beranjak ke ranjangnya.
"Sungguh, kamu tidak berbohong?"
"Serius nanti Dira akan kemari mungkin sebentar lagi."
Baru saja dibahas sudah terdengar orang mengetuk pintu.
"Nah itu pasti mereka." tebak Clara.
dan benar mama dan ibu membawa Audira kemari.
Bryan langsung menggendong Audira dan Audira tenang berada dalam pelukkannya.
__ADS_1
"Sayang, papa sangat merindukanmu maafkan papa ya karna papa sedang sakit papa tidak menjagamu." Ucapnya sambil mencium Audira.
"Iya papa, Dira sayang papa, cepat sembuh papa." sahut Clara mendekati Bryan.
"Kok jadi mommynya yang biacara." ujar Bryan.
"Dira kan belum bisa bicara banyak, tidak salahkan kalau mommynya yang bicara lagi pula kalau Dira sudah bisa bicara pasti dia akan mengatakan hal yang sama."
"Dasar ya mommynya, awas saja nanti saat malam pertama." ancam Bryan usil.
"Kamu tidak malu bicara seperti itu dihadapan mama dan ibu?" ujar Clara kesal.
"ma, bu, apakah Bryan salah bicara? Bryan bilangkan nanti saat sudah menikah bukan sebelum menikah."
"Tidak salah kok nak Bryan, kalian bukan anak kecil lagi wajar saja, kalian juga sudah mengerti masalah seperti itu."
"Tuh dengarkan apa yang ibu bilang." Bryan menyenggol Clara.
"Iya tapi tidak harus saat Dira bersama kita, untung saja dia masih kecil dia tidak akan mengerti."
Mama dan ibu tersenyum bahagia melihat mereka sangat harmonis, apalagi Bryan dia memang pria yang penyayang dan lembut.
Di Sisi Lain
"Eh Rik, pak Direktur kok gak masuk ya sudah beberapa hari ini?" tanya Wulan.
"Direktur masuk rumah sakit." jawab Riko.
"Sakit Rik, Direktur sakit apa Rik?"
"Kamu ingat kejadian di Swiss, luka direktur infeksi."
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang, apa dia baik-baik saja?"
"Semua sudah membaik Wulan."
"Ayo Rik antar aku bertemu direktur."
"Tidak Wulan, kamu hanya akan mengganggu ketenangan direktur dan nona Clara."
"Oo jadi kamu pikir aku akan mengganggu mereka?"
"Ya iyalah kamu kan tergila-gila sama Tuan."
"Benar, tapi itu dulu, sekarang tidak lagi, kamu mau tau sekarang aku suka sama siapa?"
"Mana mungkin ular sepertimu bisa dipercaya." ketus Riko, Wulan kesal dan mencubit lengan Riko membuat Riko menjerit.
"Gini-gini ular ini juga manusia biasa kadang khilaf tapi sekarang aku sudah sadar, tapi kalau kamu tidak percaya aku tidak memaksa."
"Eits tunggu Wulan!" Riko menarik tangan Wulan dan Wulan jatuh kepelukkannya, namun Wulan yang kesal langsung menolak pelukkan Riko.
__ADS_1