DARI HATI

DARI HATI
EPISODE 73


__ADS_3

Rasanya Clara ingin memarahi Bryan tapi Clara sadar dia bukan siapa-siapa dimata Bryan.


"Clara..." Panggil Rendi sambil menepuk bahu Clara.


"Ah... Rendi." Dengan cepat Clara menghapus air matanya dan melihat Rendi.


Rendi melihat mata Clara sembab, Rendi tau Clara sedang memikirkan Bryan dan Rendi membenci itu.


"Tidak ada gunanya kamu menangisi dia. Dia itu tidak peduli padamu, lihatlah sampai sekarang dia tidak mengabari sama sekali."


Bagaimana Clara bisa tau jika Bryan mengabarinya atau tidak karna ponselnya masih di sita oleh Rendi.


"Ren, sudah lebih dari seminggu aku tidak datang ke kantor." Ujar Clara.


"Lalu kenapa? Kamu masih mau bekerja dengannya, apa kamu masih dianggap jika datang ke sana?"


"Tugas seorang wanita hanya dirumah, mengurus rumah, anak dan melayani suami, kamu tidak perlu bekerja karna aku sudah lebih dari cukup."


"Rendi, aku ingin ponselku, aku yakin Bryan pasti mencariku, bagaimana mungkin seorang boss menelantarkan sekretarisnya begitu saja, kembalikan ponselku Ren!"


"Aku sudah membuangnya Clara."


"Apa? Kenapa kamu membuangnya? Kamu tidak berhak melakukan itu Ren?"


"Aku berhak Clara, sebentar lagi kita akan menjadi suami istri."


"Apaaa? Rendi, kamu tidak waras ya? Kita akan menikah? Tapi kamu tidak meminta persetujuan dariku lebih dulu."


"Kamu tidak punya pilihan Clara, kamu sudah berjanji pada Nanda untuk menjaga dan membesarkan Audira berarti kita akan bersama-sama membesarkan Audira."


"Iya aku memang berjanji, tapi bukan berarti aku..." Belum selesai bicara.


Rendi mengambil paper bag di dalam laci.


"Ini ponsel baru untukmu." Melempar paper bagnya.


"Mulai sekarang aku yang putuskan untuk memutus semua hubungan dengan Bryan, aku sudah mengurus surat pengunduran dirimu, dan aku juga resign dari perusahaan itu, aku akan mengelola bisnis ayahku, dan kamu akan menikah denganku sehingga kamu tidak perlu bekerja lagi."


"Kamu keterlaluan Ren, kamu juga membuat surat pengunduran untukku tanpa sepengetahuanku."


"Kamu mau tau kenapa aku melakukan semua ini?"


"Kenapa Ren? kamu jahat Ren!"


"Aku tidak jahat! Aku lakukan semua ini karna aku masih sangat mencintaimu Clara."

__ADS_1


Sesaat Clara terhenyak mendengar kata cinta.


"Kamu mencintaiku karna kamu masih mencintaiku, tapi jika kamu tidak mencintaiku lagi, kamu pasti akan meninggalkanku."


"Aku pastikan aku tidak akan meninggalkanmu, aku janji Clara aku tidak akan mengkhianati pernikahan kita lagi."


"Cukup Ren! Terus terang aku belum siap untuk menikah, aku tidak mau gagal untuk kedua kalinya, aku harap kamu mengerti perasaanku."


"Ok... Baiklah aku terima alasanmu, tapi aku akan tetap menunggu sampai kamu mau menikah denganku lagi Clara."


"Dan kamu harus tau Clara, Bryan itu bukan orang baik, dia anak seorang pembunuh, dan karna dia kamu hampir celaka, jika kamu masih berhubungan dengannya kamu akan mendapat banyak masalah, aku tidak akan membiarkan bahaya menghampirimu lagi Clara."


Rendi berlalu pergi sedangkan Clara terhenyak, tanpa sadar air matanya mengalir mencoba mengerti apa yang telah Rendi katakan tapi pikirannya masih tertuju pada Bryan, Clara tidak bisa tenang sebelum dia bertemu Bryan untuk memastikan apakah benar Bryan tidak peduli padanya.


Di Sisi Lain


Bryan tiba dikediamannya dengan gembira bersama Riko dan Wulan yang mengantarnya. Bryan sudah terlihat lebih baik seperti tidak ada kesedihan dimatanya lagi.


Bi Susan tertuju pada satu orang yang biasanya selalu disamping Bryan tapi sekarang tidak terlihat lagi olehnya.


"Tuan, maaf menyela."


"Ada apa bi?"


Bryan tidak mampu menjawab dan kembali meneruskan langkah kakinya menuju ruang tamu.


"Ah... Akhirnya terbebas dari negara Swiss." Bryan duduk dengan kaki menyilang sambil membentangkan tangannya di atas sofa persis seperti seorang boss yang sombong.


"Kenapa Tuan tidak menjawab, apa saya salah bicara mengenai non Clara?" Batin bi Susan.


"Tuan, bibi ambilin minum dulu ya."


"Iya bi."


"Rik, kamu udah pantau kegiatan kantor?"


"Sudah Sir, semua berjalan dengan baik."


"Wulan, saya minta maaf ya dulu sempat memecatmu, tapi setelah tau kebaikanmu saya tidak akan memecatmu, kamu akan tetap bekerja diperusahaan, dan saya akan mengangkat jabatanmu."


"Terima kasih Sir, Clara juga mengatakan hal yang sama dia sudah melarang sayang untuk resign, karna itulah saya bela-belain untuk membantu kalian Sir."


"Jadi, Clara melarangmu resign?"


"Benar Sir, sesaat sebelum kalian pergi ke Swiss."

__ADS_1


"Oo begitu! Mulai besok kamu akan menggantikan posisinya."


"Apa Sir? Sir bercanda ya?"


"Saya tidak pernah main-main dengan ucapan saya."


"Tapi Sir, bagaimana dengan Clara? Saya tidak nyaman harus mengambil posisinya."


"Itu urusan saya, yang jelas kamu mau atau tidak menjadi sekretaris pribadi saya?"


"Mau Sir, mau."


Tentu saja Wulan sangat senang akhirnya impiannya untuk menjadi sekretaris Bryan bisa terwujud, ya walau harus dengan cara menggeser posisi Clara.


"Bagus! Besok saya juga akan kembali bekerja."


"Sir, lukamu masih belum sembuh, tidak perlu buru-buru masuk kerja, saya bisa menghandlenya." Ucap Riko.


"Tidak ada yang bisa melarang saya, saya boss disini. Saya ingin bekerja atau tidak itu keputusan saya, dan saya juga sudah tidak sabar untuk melihat Wulan menjadi seorang sekretaris."


Bryan tersenyum melirik Wulan, dan itu benar-benar membuat Wulan senang sedangkan Riko merasa ada yang aneh pada Bryan, berbeda dengan sebelumnya saat berada di Swiss Bryan terus menangis tapi sekarang dia jadi angkuh dan seolah sudah melupakan Clara.


Bi Susan mendengar apa saja yang barusan Bryan katakan. Bi Susan sedih mendengar Bryan akan mengganti posisi Clara dengan Wulan.


"Ada apa dengan Tuan? Bukankah dia sangat mencintai nona Clara." Batin bi Susan.


"Eh! Bibi kemari bi, kami sudah haus." Panggil Bryan melihat bi Susan berdiri di depan pintu.


Bibi Susan pun mendekat.


"Iya Tuan, ini minumannya."


"Ah! Sepertinya kita perlu minum wine untuk merayakan kedatanganku." Ucap Bryan seolah tidak sadar.


"Tuan, bukankah tuan tidak minum minuman beralkohol?" Tanya Riko.


"Riko, kamu beli wine sana!" Bryan memberikan sejumlah uang kepada Riko.


"Tidak Tuan! Ada apa dengan tuan, sebelumnya tuan tidak seperti ini."


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2