DARI HATI

DARI HATI
Rumah Baru


__ADS_3

1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10


Bryan menghitung tiap langkah kakinya sambil mengiringi Clara berjalan dengan mata yang tertutup kain hitam.


"Kamu sudah siap sayang?" bisik Bryan, dibalas anggukan oleh Clara pertanda dia sangat siap untuk melihat hadiah masa depan dari Bryan.


Bryan perlahan membuka kain yang menutupi mata Clara.


"Tada... Inilah rumah kita sayang..." ucap Bryan setelah membuka tutup mata Clara.


Clara terbelalak, sekarang dia berdiri di depan rumah yang tidak terlalu besar namun tetap terlihat elegan meski bukan rumah bertingkat, rumah ini adalah rumah impian Clara dan sekarang Bryan berhasil mewujudkan mimpi sang istri.


"Sayang, ini sungguhan rumah kita?" Clara terharu seakaan tak percaya.


"Iya istriku, ini adalah rumah kita sekarang dan dimasa depan nanti, mulai sekarang kita akan belajar hidup mandiri membangun rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah, dan di rumah ini jugalah kita akan merawat dan membesarkan anak-anak kita bersama."


Clara terharu memeluk erat tubuh sang suami, dibalas hangat oleh sang suami.


"Di, aku tidak bisa berkata-kata lagi, aku sangat senang, terima kasih Di."


"Aku akan melakukan apapun untukmu dan anak-anak kita sayang."


Bryan dan Clara pun mendekati rumah baru mereka, Clara tampak antusias dia tidak sabar untuk melihat ke dalam rumah.


"Sayang, kamu yang buka pintunya."


mengunjukkan kunci rumah.


"Aku Di, aku sangat gerogi."


"Ini rumahmu sayang, aku hadiahkan ini untukmu sertifikat rumah ini juga atas namamu, jadi istriku ini jangan ragu lagi." mencubit pipi Clara, sehingga Clara tidak gerogi lagi.


Srekkk...


pintu rumah pun terbuka.


"Assalamualaikum." ucap Bryan dan Clara serentak saat mulai memasuki rumah baru.


"Wah... Di, benar-benar seperti yang aku lukis." batin Clara melihat sudut demi sudut dari rumah barunya.


Clara benar-benar takjub suaminya itu diam-diam juga mewujudkan rumah impiannya.


"Ahhh... kolam renang." kata Clara begitu antusias langsung berlari menuju kolam renang. Bryan tersenyum, dia senang bisa mewujudkan impian sang istri.


Clara pikir dilihat dari luar rumah barunya tampak kecil dan sederhana tapi begitu masuk ke dalam rumah itu cukup luas lengkap beserta isinya, dan ada kolam renang di dalamnya.


"Mari sayang, aku tunjukkan kamar kita, rumah ini terdiri ada 3 kamar, dan yang ini adalah kamar kita."


Bryan dan Clara pun memasuki kamar utama dari rumah tersebut, dan kamar itu merupakan kamar mereka.


"Benar-benar indah..." katanya dengan mata berbinar.


Clara semakin takjub kamar yang simpel nan elegan, seperti sudah dirancang khusus untuknya.


"Kamu tunggu disini sebentar ya sayang." kata Bryan, Clara masih fokus melihat-lihat kamar mereka.


Segala sesuatunya sudah tertata rapi, dan didalam walk in closet juga sudah tersedia pakaian mereka yang sudah Bryan siapkan jauh-jauh hari dan dibagian tengah juga sudah tertata rapi perlatan make up dengan merk terkenal.

__ADS_1


"Bagaimana dia melakukan semau ini sendiri." Clara tersenyum melihat seisi lemari sudah dipenuhi keperluan mereka.


Tiba-tiba terdengar alunan musik dari luar kamar, Clara merasa terganggung dan mencoba melihat siapa yang menyalakan musik itu.


Ternyata Bryan yang memutar musik dengan keras, Clara tersenyum dan sedikit tertawa melihat suaminya memegang sebuah gitar seolah-olah dia bisa bermain gitar mengimbangi alunan musik, Clara tau betul Bryan sama sekali tidak suka musik apalagi memainkan alat musik tapi sekarang dia malah beradegan layaknya seorang penyanyi yang handal bermain gitar.


Bryan mulai menyanyikan sebuah lagu romantis untuk sang istri,


Satu tambah satu dikurang satu, itulah cintaku...


Dua dikurang satu, cintaku untukmu...


Bila ada cinta datang padaku, janganlah cemburu...


Karna ku takkan selingkuh, ku kan setia padamu...


Satu cinta hanya untuk kamu saja...


Satu cinta takkan terbagi dua...


Karna cintaku bukan cinta biasa...


Karna cinta aku bisa gila...


.


.


Kalau kau tak percaya cintaku, belahlah dadaku...


Sungguh ku cinta padamu...


Satu cinta hanya untuk kamu saja...


Satu cinta takkan terbagi dua...


Karna cintaku bukan cinta biasa...


Karna cinta aku bisa gila...


Clara tidak tau dia harus senang atau merasa lucu, ekspresi Brya sangat menghayati saat memparodikan sebuah lagu membuat Clara ingin tertawa.


Tapi lagu ini juga melambangkan perasaan Clara yang sekarang sedikit meragukan cinta Bryan, dengan Bryan menyanyikan lagu ini Clara merasa sedikit lebih tenang dan tidak ingin mengingat kesalah pahaman itu.


"Kenapa tertawa, apa kamu tidak suka?" seketika Bryan menghentikan musiknya saat melihat Clara tertawa.


"Aku suka sayang, sejak kapan kamu bisa bernyanyi, suaramu cukup merdu ya." ledek Clara karna tau itu bukan suara Bryan melainkan suara asli dari musik tersebut.


"Sayang, kamu taukan itu bukan suaraku? jadi jangan menggodaku sekarang" rengek Bryan.


"Siapa juga yang menggodamu, sungguh aku menyukaimu, sayang."


"Hehe... gimana penampilanku, apa aku lulus?" goda Bryan, Clara tau betul apa yang saat ini Bryan inginkan.


"Cup..." Clara mengecup bibir suaminya, itulah yang saat ini Bryan mau.


"Kamu tidak perlu melakukan ini Di, aku sudah sangat senang sekarang."

__ADS_1


Bryan memeluk istrinya, Clara membenamkan wajahnya di dada Bryan. Bryan selalu memberinya ketenangan, Clara selalu berharap rumah tangganya akan utuh untuk selamanya.


*****


Sekarang Bryan, Clara dan juga Audira sudah resmi menempati rumah baru mereka. Sedangkan sang ibu, dia kembali kerumah orang tua angkat Clara.


Kini Bryan dan Clara harus terbiasa hidup sederhana tanpa pelayan, tapi Clara sudah sangat siap untuk melayani keluarga kecilnya sendirian.


Hari demi hari berbalu dengan penuh kebahagiaan dan keharmonisan. Tidak ada yang mengganggu kehidupan baru mereka, kandungan Clara pun semakin membesar, kini sudah memasuki bulan ke tujuh.


Bryan semakin tidak sabar menantikan kelahiran putra dan putrinya. Mereka tidak dapat mengungkapkan dengan kata-kata kebahagian yang sekarang bisa mereka rasakan. Hanya rasa syukur yang teramat dalam yang bisa Bryan dan Clara ucapkan sebagai tanda mereka sangat bahagia.


Hari itu Clara merasa sangat lelah dengan segala aktivitas yang dia kerjakan sendiri di rumah, mulai dari mengerjakan pekerjaan rumah, mengurus Audira, ditambah perutnya yang semakin membesar membuat Clara sedikit kesulitan berjalan, untungnya Audira anak yang pintar, dia sama sekali tidak rewel seolah dia mengerti kondisi mamanya jadi Clara bisa sedikit lega.


Saat Audira tertidur, Clara merebahkan tubuhnya diranjang.


"Tubuhku pegal-pegal semua, sebaiknya aku istirahat sebentar."


Clara pun memejamkan mata dengan memeluk sang anak.


Di Sisi Lain


Entah kenapa Bryan merasa ingin cepat-cepat pulang ke rumah, semenjak pindah ke rumah baru dia ingin selalu berada di rumah menghabiskan waktu bersama anak dan istri.


"Rik, aku titip kantor ya, kamu handle semua kegiatan hari ini." kata Bryan menepuk pundak Riko.


"Sip boss, beres." Riko mengacungkan jempol pertanda menyetujuinya.


Tak lama kemudian Bryan pun sampai di rumah.


"Sayang, papa pulang." namun Bryan tidak jga mendapat jawaban.


Bryan mencari istri dan anaknya di dapur dan dikamar sebelah, namun tidak menemukan mereka disana.


"Ara..." Bryan menghentikan kalimatnya saat membuka pintu kamar utama ternyata Clara dan sang buah hati sedang tidur.


Bryan pun berjalan mendekati istri dan anaknya.


"Kamu pasti kelahan ya Ara, aku tidak akan membiarkanmu kelelahan mengerjakan semuanya sendirian." Bryan mengusap kepala sang istri dengan melebarkan senyuman memandang wajah sang istri yang terlihat letih.


Bryan merebahkan tubuhnya disamping sang buah hati, lalu menapat wajah manis nan polos Audira, dia juga tak lupa mengecup kening sang anak.


"Jangan rewel ya sayang, kasian mama kelelahan, mama juga sedang hamil adek untukmu, jadilah anak yang pintar, banggain mama dan papa ya sayang." lirih Bryan dengan menatap sang buah hati dan juga Clara.


Tak lama kemudian akhirnya Bryan pun tertidur dengan memeluk sang buah hati, dan menggenggam tangan Clara yang juga memeluk Audira.


Saat Bryan terlelap, sang anak menangis, Clara yang mendengar suara tangis langsung bangun, matanya terbelelak mendapati tertidur pulas disamping sang anak.


Meski kesulitan untuk bangkit karna ada bagian tubuh yang semakin membesar, tapi Clara tetap berusaha bangkit dan menggendong Audira.


"Kamu, haus ya sayang... jangan nangis ya sayang kasian papamu nanti dia bangun." Clara langsung mengambil susu formula yang ada diatas nakas dan memberikannya pada Audira, dengan begitu Audira kembalu tertidur.


"Pinggangku sakit sekali, aku duduk saja kali ya." lirihnya. Clara pun duduk di ranjang sambil menggendong Audira, betapa sulitnya menggendong sang buah hati dalam kondisi hamil besar, tapi tidak ada pilihan lain Clara tidak tega membangunkan Bryan.


Dengan lembut Clara membelai kepala sang suami.


"Aku sangat bersyukur memilikimu, aku harap tidak akan ada luka yang membekas dihatiku lagi, aku tidak ingin kehilangan kamu Di, aku sangat mencintaimu." lirih Clara sambil mengingat begitu besar perjuangan dan pengorbanan Bryan untuknya, sebagai seorang suami sekaligus ayah, sangat mulia hatinya mau menerima anak dari mantan suami istrinya yang bahkan anak itu bukan anak dari Clara.

__ADS_1


Clara dan Bryan memang cocok mereka punya hati dan jiwa yang besar, serta kasih sayang yang tulus tanpa mau memandang status anak yang mereka rawat sekarang.


__ADS_2