
Sepenjang jalan Bryan dan Clara hanya diam satu sama lain, tidak ada yang berani bicara. Bryan malu karna sudah bicara blak-blakan mengenai perasaannya yang ternyata tidak di mengerti oleh Clara dan juga Bryan tidak nyaman sudah mengungkapkan perasaan kepada istri orang, sedangkan Clara dia malu untuk memulai pembicaraan walaupun dia sudah tau perasaan Bryan terhadapnya sebenarnya seperti apa.
"Sudah sampai." Ucap Bryan,
ternyata Clara tidak sadar kalau mereka sekarang sudah didepan rumah mungkin karna Clara terlalu memikirkan kata-kata Bryan sedangkan dia masih belum bisa jujur mengenai perasaannya pada Bryan
"Clara, kita sudah didepan rumah." tambah Bryan lagi dan akhirnya Clara sadar dari lamunannya.
"Eh, iya! Terima kasih Tuan Bryan sudah mengantar kami." Jawab Clara sambil segera turun dari mobil.
"Emh... Clara, maaf soal kejadian tadi." Ucap Bryan.
"Ah..." Clara hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Tolong jangan diingat ya kata-kataku tadi." sambung Bryan lagi.
"Iya tidak masalah, jangan khawatir!" Ucap Clara, Bryan pun lega dan segera pulang.
"Hati-hati Bryan." teriak Clara sambil melambaikan tangan setelah mobil Bryan lumayan jauh.
Tiba-tiba ditengah jalan Bryan meminggirkan mobilnha kemudian berhenti. Bahu Bryan terasa sangat sakit sampai membuatnya tidak kuat untuk menyetir dan memilih menelpon Riko.
"Hallo Rik, tolong jemput saya, saya tidak bisa menyetir." Ucap Bryan dengan nada suara melemah.
"Apa yang terjadi Sir? Sekarang Sir ada dimana?" Riko panik mendengar suara bossnya yang begitu lemah.
"Tidak jauh dari rumah orang tua Clara."
"Baik Sir saya segera kesana, Sir tunggu ya."
Riko pun bergegas tancap gas agar segera sampai menemui Bryan, sedangkan Bryan dia sangat kesakitan sampai membuatnya terbaring lemah di dalam mobil.
Riko datang dan kaget melihat Bryan terkulai di dalam mobil dan Riko langsung membantu Bryan bangkit memindahkannya ke mobilnya.
"Apa yang terjadi Sir?" tanya Riko.
"Rik, sekarang antar aku pulang biar kita bahas di rumah saja.
Riko pun mengantar Bryan pulang ke Mansionnya dan Riko menggandeng Bryan masuk sampai ke kamarnya.
Setelah Bryan duduk di ranjangnya, Bryan meminta Riko untuk melepas jas, dan kemejanya.
Riko pun melakukannya dan Riko sangat terkejut melihat bahu Bryan mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Apa ini Sir? Bukankah ini luka tembak sewaktu di Swiss?" tanya Riko Bryan hanya mengangguk sambil menahan rasa sakit.
"Sir, seharusnya luka ini sudah sembuh dalam waktu 2 minggu tapi ini sudah lebih dari 6 bulan, kenapa Sir tidak memberitahuku?" Riko benar-benar kecewa pada Bryan sekarang luka itu sudah infeksi dan bisa membahayakan nyawa Bryan.
"Kita harus ke rumah sakit, aku takut peluru itu masih ada di dalam Sir, ayo Sir kita kerumah sakit."
"Jangan Rik! Kamu lupa ya kita sudah melakukan operasi di Swiss dan pelurunya juga sudah diangkat hanya ada satu peluru di dalamnya, kamu jangan khawatir Rik ambilkan saja salap dan antiseptik dan bantu oleskan ya Rik." Ucap Bryan sambil menahan tangan Riko yang ingin membawanya ke dokter.
"Sir, aku takut terjadi sesuatu padamu, kenapa kamu tidak mau mengerti lukamu ini harus segera ditangani bukan dibiarkan seperti ini, Sir tolong turuti aku kali ini saja."
"Jangan khawatir Rik, aku sudah terbiasa menahannya tapi setelah dioleskan salap dan diberi antiseptik lukanya akan mengering dan rasa sakitnya juga hilang."
"Sir, luka yang infeksi memang seperti itu tapi dia akan membusuk di dalam, ayo Sir kita ke rumah sakit." Mata Riko sudah berkaca-kaca benar-benar mengkhawatirkan Bryan tapi Bryan tetap ngeyel memaksa Riko untuk memberinya obat luar saja tidak perlu ke dokter sehingga Riko terpaksa juga harus menurutinya.
Esok Hari
Clara kembali bersemangat setelah tau bahwa Bryan belum menikah, sehingga bibirnya tidak berhenti tersenyum mengingat kata-kata Bryan kemarin malam.
"Pa, apa yang terjadi pada Clara?" bisik mama bicara pada papa melihat Clara senyum-senyum sendiri sambil menopang dagu dimeja makan tanpa menyantap makanannya.
"Ayo pa, kita dekati Clara, mama jadi khawatir anak itu kesambet setan apa tidak biasanya dia seperti itu." Mama dan papa pun mendekati Clara tapi Clara benar-benar tidak sadar mama dan papanya sekarang ada disamping.
"Sayang???" Panggil mama sambil melambaikan tangannya kewajah Clara tapi mata Clara sama sekali tidak berkedip justri senyum Clara semakin melebar dan tiba-tiba berteriak sambil menepuk-nepuk meja dan tubuhnya menggelinjang karna saking senangnya.
"Ma, kenapa Clara bicara sendiri?" Tanya papa ngeri.
"Pa, panggil pak ustads pa! Mama takut Clara kemasukkan jin, cepat pa!" Pinta mama saat papa hendak menelpon pak ustads tiba-tiba saja Clara menoleh ke arah mereka.
"Ma, pa, Clara tidak kemasukkan jin, Clara sadar kok sedari tadi mama dan papa memperhatikan Clara, dan Clara mendengar semuanya." Ungkap Clara ternyata dia menyadari kehadiran orang tuanya.
"Kamu sadar sayang, tapi pas mama coba menyadarkan kamu kok mata kamu gak ngirap sama sekali, mama jadi mikir kamu ke masukkan jin."
"Ma, pa, Clara sangat senang." Clara bangkit dari duduknya dan meraih tangan kedua orang tuanya.
"Iya mama bisa lihat dari wajahmu, tapi apa gerangan yang membuatmu sebahagia ini?"
"Sekarang Clara sudah menemukan laki-laki yang Clara cintai, dia sudah mengatakan isi hatinya dan sekarang Clara akan mengatakan isi hati Clara padanya, yang terpenting dia sangat peduli pada Clara dan Dira." Ucap Clara kemudian melepas genggaman tangannya dan meloncat ke girangan.
"Apa kamu akan menerima Rendi, sayang?" Tanya mama.
"Bukan ma, tapi laki-laki lain."
"Siapa Clara?"
__ADS_1
"Bryan." Ungkap Clara wajahnya berseri-seri dan tak hentinya tersenyum.
Akan tetapi justru itu membuat orang tuanya marah dan membuat senyum Clara lenyap seketika berubah menjadi ketegangan.
"Kamu tidak waras Clara? papa tidak menyetujui hubunganmu dengannya."
"Kenapa pa, ma, apa yang salah?"
"Laki-laki itu yang membawa nyawamu dalam bahaya tapi kamu malah jatuh cinta padanya, papa tidak akan pernah menyetujuinya."
"Sadarlah Clara, Rendi yang menyelamatkan kamu saat di Swiss sedangkan laki-laki itu pergi kemana dia saat kamu dalam bahaya, apa dia peduli padamu saat itu, mama juga tidak akan menyetujuinya."
"Ma, pa, Clara yakin Bryan orang yang baik, dan Clara juga yakin dia mencari Clara saat itu, tapi Rendi membuang ponsel Clara sehingga Clara tidak tau apakah Bryan mengkhawatirkan Clara atau tidak."
"Kamu mau menikah tanpa restu orang tua dan gagal untuk ke dua kalinya." Tegas papa.
"Pa, ma jangan bicara seperti itu, sama saja papa dan mama mendoakan keburukan untuk Clara, Clara tidak mau gagal lagi ma, pa."
"Jika tidak mau gagal lagi, maka cari laki-laki lain atau menikahlah dengan Rendi, setidaknya jangan dengan laki-laki itu." Ucap papa kemudian mama dan papa meninggalkan Clara.
Clara terhenyak berusaha menenangkan dirinya, senyum diwajahnya kini menjelma menjadi butiran-butiran mutiara yang jatuh membasahi pipinya.
Clara sangat sedih disaat dia tau perasaan Bryan terhadapnya dan saat Clara ingin mengutarakan isi hatinya pada Bryan justru di saat itu juga Clara tidak mendapat restu dari kedua orang tuanya.
Clara langsung pergi ke kamar memeluk Audira dengan begitu Clara bisa lebih tenang.
Tut... Tut... Tut...
Tiba-tiba ponsel Clara bergetar dan Clara segera meraih ponselnya lalu membaca sebuah pesan.
Pesan tersebut dari Riko, Riko memberitahu Clara bahwa hari ini adalah ulang tahun Bryan yang ke 32 tahun. Clara kembali bersemangat dia tidak ingin terlihat sedih dihari kelahiran Bryan, Clara segera berkemas dan pergi ke restoran dengan tetap membawa Audira untuk menyiapkan kejutan ulang tahun Bryan.
.
.
.
To Be Continue
jangan lupa like, komen dan vote ya guys😊 biar author tambah semangat sekarang makin dikit likenya jadi sedih😌
dan jangan lupa tekan love❤️
__ADS_1