
"Siap Boss, tapi gaji ditambah ya tiap bulannya, aku kan asisten yang serba bisa jadi photographer, jadi supir, jadi bodyguard semuanya aku bisa." Ucap Riko sambil berjalan dibelakang Bryan dan Clara.
"Iya gajimu ditambah, tapi nanti saat kamu sudah berkeluarga." Ujar Bryan menertawakan Riko. Sekarang Bryan merasa menang sudah mendapatkan cintanya sedangkan Riko masih melajang sampai sekarang.
"Kejam sekali." Gerutu Riko sambil berlari kearah mobil mendahului Bryan dan Clara.
"Ya ampun kalian lama sekali berjalan saja pakai perasaan, kapan mau masuk ke dalam mobil." Gerutu Riko.
"Sabar Rik, sedang latihan buat dipelaminan." Sahut Bryan.
Ruang Kerja Bryan
Bryan sedang duduk di kursi kerjanya setelah menyelesaikan menanda tangani berkas-berkas Bryan mengambil sebuah kotak kecil terbuat dari kaca terlihat jelas dari luar ada sebuah cincin mewah bertabur berlian yang berjejer rapi menghiasi bagian tengah cincin di dalam kotak tersebut.
Bryan tersenyum sambil memandang cincinnya. Rupanya hari ini Bryan benar-benar ingin melamar Clara.
Bryan menempatkan kembali cincinnya kedalam kotak tersebut dan menyimpannya ke dalam saku celananya.
Bryan mengambil jasnya terlihat buru-buru beranjak dari ruang kerjanya.
Hari ini Bryan sengaja tidak mengabari Clara, karna Bryan ingin memberinya kejutan dengan lamaran yang akan diajukannya, tapi sebelum melamar Bryan akan menemui orang tua Clara dulu untuk meminta restu dari mereka. Restu dan doa orang tua memang harus selalu terlibat dalam segala sesuatu yang akan kita lakukan, benar bukan?
Lagi-lagi Wulan heran melihat Bryan buru-buru meninggalkan kantor.
"Ada apa dengan Direktur?" Gumam Wulan dan Riko datang mengagetkan Wulan.
"Hari ini menjadi hari penentu kelanjutan hidup Direktur kita." Ucap Riko.
"Maksudmu?" Tanya Wulan sedikit merasa risih dengan kehadiran Riko.
"Aku tau kamu sebenarnya baik, tapi kamu tidak akan bisa mendapatkan Direktur kita." Sambung Riko.
"Kenapa tidak bisa?"
"Pak Direktur sudah memilih calonnya sendiri, dan nona Clara lah yang dia pilih."
__ADS_1
"Apa? Jadi Clara dan Direktu itu..." Ucap Wulan tiba-tiba menghentikan kalimatnya.
"Sekarang kamu tau kan mereka akan menikah."
"Oh! Aku pikir Direktur tidak berhubungan lagi dengannya."
"Takdir sudah mempertemukan mereka kembali."
"Iya benar kita tidak bisa melawan takdir, sepertinya aku akan berhenti mengharapkan Direktur."
"Kamu itu cantik, smart, pasti banyak laki-laki yang mau dengan kamu, kamu harus belajar membuka hati untuk orang lain, jangan mengharapkan direktur yang tidak akan pernah bisa mencintaimu."
"Jangan sok mengajariku." Jawab Wulan ketus dan segera berjalan untuk menjauh dari Riko namun sial Wulan malah tersungkur kelantai membuat Riko tidak bisa berhenti menertawakannya.
Wulan kesal Riko malah tertawa dan karyawan kantor yang melintas juga memperhatikan mereka, Riko menyadari saat ini sedang ada mata yang memperhatikan Wulan.
"Biar aku bantu." Ucap Riko sembari mengulurkan tangannya. Wulan sesekali memandang Riko.
"Aku baru sadar ternyata masih ada pria yang peduli padaku." Batin Wulan sambil memandang Riko, tapi dengan cepat Wulan bersikap sok jual mahal dengan menepis tangan Riko dan bangkit sendiri.
*****
Bryan sangat bersemangat bagaimana tidak? pastinya harus semangat untuk menemui calon mertua.
"Bismillah." Ucap Bryan sambil mengambil nafas dalam-dalam dna mengeluarkannya secara perlahan sebelum akhirnya mengetuk pintu rumah calon mertua.
"Assalamualikum... Tok... Tok... Tok." Ucap Bryan sambil mengetuk pintu.
Srekkk...
Mama dan papa Clara membuka pintu dan melihat Bryan berdiri didepan pintu. Byan sudah memasang senyuman diwajahnya namun kedua orang tua Clara memasang muka datar.
"Tante, om..." Ucap Bryan sambil mengulur tangan untuk bersalaman, bukan membalas salam Bryan tapi ayah Clara malah mengaiskan tangan Bryan dengan kasar.
"Berani-beraninya kamu datang ke rumah saya." Tegas Kusuma.
__ADS_1
Bryan tetap berusaha tenang walau dia tidak menyangka akan mendapat perlakuan kasar dari orang tua Clara.
"Om, Tante, sa-saya ingin membicarakan mengenai hubungan saya dan Clara." Ujar Bryan.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan. Kami sudah mengingatkan Clara agar tidak dekat-dekat dengan laki-laki yang keluarganya terlibat kasus pembunuhan seperti kamu."
Duarrr...
Bryan terperanjat sepertinya ayah Clara salah paham mengenai kasus yang terjadi dalam keluarganya.
"Om, biar saya jelaskan, tolong om beri saya kesempatan, kejadiannya tidak seperti itu dan Clara juga sudah tau om mengenai kasus itu."
"Pergi kamu dari sini! Karnamu juga kami hampir kehilangan putri kami satu-satunya."
"Pergi Kamu!"
Bryan hanya diam dan pergi sesuai keinginan kedua orang tua Clara.
Meski Bryan kecewa atas penolakan yang diberikan oleh orang tua Clara, tapi tidak mengubah keputusan Bryan untuk melamar Clara, kali ini Bryan pergi karna Bryan tau orang tua Clara sedang salah paham terhadap dirinya, tapi lain waktu Bryan akan kembali lagi untuk menunaikan niatnya melamar wanita yang paling dia cintai di dunia ini.
Bryan menghentikan mobilnya setelah mendengar ponselnya berbunyi.
"Tuan, bi Susan pingsan, tubuhnya sangat panas, hidungnya mengeluarkan darah Tuan, kami tidak tau harus melakukan apa sekarang." Ucap ART Bryan yang terdengar sangar panik.
"Bibi bawa bi Susan ke kamarnya, saya akan segera pulang." Jawab Bryan langsung menutup telponnya kemudian langsung bergegas pulang.
Sampai Di Mansion
Bryan berlari panik langsung menghampiri bi Susan ARTnya yang sedang sakit.
"Bagaimana kronologisnya, kenapa bi Susan bisa seperti ini?" Tanya Bryan berusaha tenang saat melihat bi Susan terbaring lemah dan mukanya sangat pucat.
"Kami tidak tau Tuan, tapi bi Susan beberapa bulan ini sering sekali pingsan dan kali ini dia pingsan dengan darah mengalir dihidungnya membuat kami khawatir." Jelas salah satu ART.
"Kenapa tidak ada yang bilang pada saya dari awal." Bryan merasa kecewa.
__ADS_1
"Maafkan kami Tuan, tapi bi Susan yang memintanya untuk tidak memberi tahu hal ini pada Tuan."
Bryan langsung menggendong bi Susan untuk merujuknya ke rumah sakit, Bryan khawatir bi Susan punya penyakit yang berbahaya.