DARI HATI

DARI HATI
Apa Kau Juga Ingin Mengkhianatiku?


__ADS_3

Sebelum berangkat ke kantor sekarang Bryan sudah terbiasa untuk menimang janin yang ada di dalam kandungan istrinya lebih dulu.


"Sayang, papa pergi kerja dulu ya cari nafkah buat mama dan kalian." kata Bryan sambil mengelus perut Clara.


"Apaan sih cari nafkah? kamu kan boss Di." tanya Clara sedikit tertawa.


"Ara, aku berangkat dulu... cup..." Bryan mencium Clara.


"Dira, jaga mommymu ya sayang... cup..." kemudian Bryan mencium Audira.


"Iya papa, jangan lupa susu ya pa." kata Dira.


"Siap boss kecil."


"Di, nanti aku ke kantor ya." kata Clara sebelum Bryan berlalu pergi.


"Kenapa kamu ingin ke kantor, Ara?"


"Aku bosan di rumah, bolehkan sekalian aku bawain bekal makan siang buat kamu."


"Iya sayang, nanti aku minta Riko buat jemput kamu ya, jangan pergi sebelum Riko datang."


"Siap boss, makasih Didi."


"Daaah Ara..." Bryan melambaikan tangan dan perlahan dia pun menghilang dari pandangan Clara.


"Ayo masuk sayang." Clara memapah Audira masuk ke dalam rumah.


"Mommy mau ke kantor papa ya?" tanya Audira.


"Iya, Dira mau ikut gak?"


"Gak mommy, Dira sama nenek di rumah aja."


"Ya sudah sana hampiri nenek di kamarnya sayang, mommy mau nyiapin bekal buat papamu."


"Iya mom."


Audira pun berlari menuju kamar neneknya. Sedangkan Clara dia menuju arah dapur.


"Non Clara, apa yang non lakukan?" tanya seorang pelayan paruh baya melihat Clara mengeluarkan beberapa bahan untuk di masak dari dalam kulkas.


"Masak bi." tersenyum.


"Non biar saya saja, non sedang hamil harus banyak istirahat."


"Tidak apa-apa bi, lagipula wanita hamil juga tidak baik hanya bersantai-santai saja sesekali juga perlu beraktivitas."


"Bibi bantu ya Non."


"Iya boleh bi, bantu saya kupas kulit udangnya, biar saya merebus kepitingnya."


"Baik Non, Non mau masak apa?"


"Seafood."


"Untuk Tuan ya Non?"


"Iya bi, saya mau bawain dia bekal makan siang."


"Bi, blendernya dimana?"


"Dalam lemari yang itu Non."


"Oh iya bi."


"Non, biar bibi saja yang menghaluskan bumbunya."


"Jangan bi, saya bisa kok."


"Bi, tolong lihat kepitingnya."


"Non, kepitingnya sudah masak."


"Iya jangan diangkat bi, biar saya saja yang tiriskan."


"Bibi saja Non, ini berat dan panas."


"Sini bi, Clara saja."


"Auhhh panas..." tiba-tiba Clara tertumpah air panas bekas merebus kepiting.


"Apa bibi bilang Non, bahaya."


"Tidak apa-apa bi, ini juga luka kecil, Clara ambil perban sebentar."


*****


"Riko, aku sudah cantik belum?" tanya Clara penuh peraya diri.


"Nona selalu cantik, tapi agak gendutan." Riko terkekeh.


"Aku sedang hamil, bukannya gendut." kesal Clara.


"Mari Nona silakan masuk." Riko membukakan Clara pintu mengarahkannya untuk masuk ke dalam mobil.


"Rik, Bryan sibuk gak?"


"Tuan, sedang rapat Non, nanti Non tunggu saja diruangan."


"Oh, iya Rik."


Tiba Di kantor


"Selamat siang miss Clara." sapa para karyawan dengan ramah.


"Siang semuanya, semangat kerjanya ya." Clara tersenyum penug semangat.


"Wah... Boss beruntung ya, punya istri cantik, ramah dan tidak sombong." cakap-cakap para karyawan.

__ADS_1


"Eh, tapi dengar-dengar sekarang boss sedang dekat dengan penasehat baru, kalian lihatkan dia selalu datang ke kantor untuk bertemu boss, bagaimana mungkin jika mereka tidak punya hubungan."


Karyawan malah bergosip untung saja Clara sudah jauh sehingga dia tidak mendengarnya.


"Lanjutkan pekerjaan kalian, jangan kebanyakan ngosip, kalau boss dengar kalian bisa dipecat." tegas Riko, sontak mereka langsung melanjutkan pekerjaan.


Ting...


Lift berdenting pintunya terbuka otomatis. Clara keluar dari sana dengan semangat, setelah sampai di depan ruang kerja suaminya. Clara menekan tombol kombinasi sandi ruang kerja yang di hafal lantas pintunya pun terbuka secara otomatis. Clara tidak ambil pusing kenapa sekarang kantor Bryan menjadi ketat penjagaannya sampai ruang kerja harus terpasang kunci seperti itu.


Clara meletakkan rantang makanan di atas meja kerja Bryan, lalu dia duduk di kursi kerja milik Bryan sambil menunggu suaminya selesai rapat.


Clara merogoh ponsel di dalam tasnya, kemudian mengirim sebuah pesan pada salah satu kontak di ponselnya.


"Didi, aku sudah diruanganmu." tulis Clara.


1 menit kemudian


"Tunggu sebentar ya Ara, 5 menit lagi meetingku selesai." balas Bryan.


5 menit kemudian


"Ara..." panggil Bryan sontak Clara langsung berdiri.


"Hah, Ara aku pikir kamu tidak menungguku." Bryan langsung memeluk Clara.


"Bagaimana mungkin aku tidak menunggumu, sayang."


"Maaf ya Ara membuatmu menunggu walau hanya sebentar tapi..."


"Ayo makan dulu Di, aku udah bawain seafood kesukaanmu."


"Oh Ara, tanganmu kenapa?" Bryan meraih tangan Clara setelah menyadari telapak tangan istrinya terikat oleh perban.


"Ada insiden kecil tadi di dapur."


"Ara, aku kan sudah bilang jangan repot-repot masak, ada pelayan yang mengurus semuanya."


"Iya lain kali tidak aku ulangi."


"Sini biar aku suapin." kata Bryan.


"Biar aku suapin kamu." kata Clara.


aaaaa...


Tiba-tiba Wulan datang


"Ahhh... maaf pak, mengganggu." sesal Wulan tidak sengaja melihat Bryan dan Clara sedang bermesraan.


"Ada apa?" tanya Bryan.


"Pak, meeting 30 menit lagi." kata Wulan.


"Ok, saya segera kesana."


"Kamu dengarkan sayang, suamimu ini sangat sibuk." sesal Bryan ditidak sanggup untuk meninggalkan Clara.


"Iya habiskan dulu makananmu." ujar Clara.


"Kamu jangan pulang ya Ara, temani aku disini."


"Kenapa, bukankah kamu akan meeting?"


"Iya, kamu harus menunggu disini Ara."


"Baiklah Didi, aku akan menunggu sampai rapat selesai.


"Awas kalau kabur."


"Tidak Di, udah pergi sana." kata Clara.


"Cup..." Bryan mencium bibir Clara dengan sedikit tekanan dan nafsu. Bryan benar-benar merasa tidak ingin berada jauh dari Clara.


"Udah sana, nanti telat, pak boss udah ditungguin kan." kata Clara melepas ciuman mereka.


"Iya istriku, aku meetinh dulu. cup..." sebelum berlalu pergi, Bryan kembali mencium kening Clara.


1 jam kemudian


Rapat Bryan belum juga berakhir, Clara merasa bosan berada sendirian di ruang kerja.


"Aku ke toilet sebentar kali ya, Bryan juga belum selesai rapat." ucap Clara, dia pun memutuskan pergi ke toilet.


*****


Pintu terbuka otomatis setelah Bryan memasukkan sandinya.


"Sayang, aku sudah selesai ra..." Bryan kaget melihat Clara tidak ada diruangannya.


"Ara... Ara..."Bryan memanggilnya tapi Clara memang tidak ada.


"Riko, apa kamu sudah mengantar nona pulang?" tanya Bryan melalui telpon.


"Apa nona menghilang lagi Tuan?"


"Ahhh... Tidak Rik, aku terlalu berlebihan." Bryan langsung menutup telponnya, setelah dia melihat ponsel Clara tergeletak diatas mejanya.


Dan Bryan sudah membaca pesan yang Clara tulis, kalau dia izin ke toilet sebentar.


"Ara, kamu bisa saja membuatku sangat cemas, aku sangat mengkhawatirkan kamu dan bayi kita." ucap Bryan sambil tersenyum membaca pesan yang ditulis Clara.


Tanpa sadar Bryan lupa mengunci pintunya sehingga Angelica pun bisa masuk mengagetkan Bryan.


"Bagaimana kamu bisa masuk?" tanya Bryan dengan tegas, dia tidak sudi rasanya melihat wanita itu.


"Pintunya tidak dikunci." jawabnya, langsung duduk dikursi tanpa Bryan persilakan.


Bryan tau betul wanita ini punya niat lain, jadi dia harus berhati-hati.

__ADS_1


"Tenanglah pak, saya datang hanya untuk membahas bisnis dengan CEO BC-E Grup."


"Apa yang ingin kamu bahas?" dingin.


"Mr. Bryan saya ingin mengajukan berkas penandatanganan kontrak ini, selain sebagai SC, saya juga sudah melakukankan kerjasama dengan perusahaan bapak."


Bryan diam untuk sesaat


"Berikan berkasnya." ucap Bryan dingin.


Angelica mendekat dan berdiri tepat di hadapan Bryan.


"Ini pak." sambil mengunjukkankan berkas Angelica sempat-sempatnya menyentuh tangan Bryan tapi dengan cepat Bryan langsung mengelak.


"Saya peringatkan pada Anda, bersikaplah dengan sopan." tegas Bryan, hanya perlu waktu 45 detik untuk menanda tangani kontrak.


"Sudah selesai, sekarang silakan Anda pergi." kata Bryan memerintah dengan tegas.


"Beri aku sedikit waktu untuk bicara." Angelica memasang wajah memelas agar Bryan kasihan padanya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan."


"Bryan, aku merindukanmu."


"Apa maksudmu?"


"Setelah sekian lama..."


"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?"


"Aku ingin kita menikah." ucapnya dengan tidak tau malu.


"Aku sudah menikah." tegas Bryan.


"Tapi aku mencintaimu, Bryan."


"Kita tidak punya hubungan apapun, tolong jangan mengusikku."


"Aku yakin, dulu kamu pernah menyukaiku."


"Anda jangan main-main dengan saya."


"Bryan, perjodohan itu seharusnya kita menikah bukan?"


"Itu sudah terjadi beberapa tahun lalu, tidak untuk sekarang."


"Kamu orang kaya, seorang boss, kamu bisa melakukan apapun, Bryan aku siap menjadi orang ketiga dalam hubungan kalian, aku janji tidak akan mengganggu istrimu, asal kamu mau menikah denganku." katanya benar-benar wanita yang tidak punya rasa malu.


PLAKKK...


Tanpa sadar Bryan menampar wajah Angelica dengan sangat keras.


"Apa kamu sudah kehilangan rasa malu?" kata Bryan menatap tajam wanita yang kini berada di depannya.


"Kamu menamparku, aku terima ini, hiks... hiks..." Angelica tidak kuasa menahan tangis karna merasa kesakitan.


"Kamu akan menyesal, menolak cintaku." katanya lagi, bukannya pergi tapi Angelica malah......


Tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya, Clara masuk keruangan Bryan, dan sangat terkejut melihat suaminya dipeluk dari belakang oleh wanita lain.


Clara menahan air matanya, dan tanpa sadar dia sesegukan yang membuat Bryan dan Angelica menoleh.


"Siapa, dia?" tanya Clara dengan tegas.


"Siapa wanita ini, katakan padaku Di?" tanya Clara dengan nada keras.


"Di, aku sedang hamil anakmu, tapi seperti ini kelakuanmu dibelakangku, ternyata ini yang kamu lakukan saat tidak bersamaku, aku baru sadar ternyata aku benar-benar bodoh percaya padamu."


Clara melempar berkas-berkas yang ada di meja Bryan ke wajah Bryan.


Clara pun berlari, dengan tangis yang sudah tak terbendung lagi.


Siapa yang tidak sakit hati melihat orang yang dicinta bermesraan dengan wanita lain, apa lagi sekarang dia sedang hamil, Clara sangat tertekan pastinya, dan kejadian ini juga pernah Clara rasakan sebelumnya.


"Ara, tunggu, ini tidak benar, apa yang kamu lihat tidak seperti yang kamu bayangkan." Bryan berhasil mengejar Clara dan menahannya.


"Apa lagi, semua sudah jelas Di, kamu juga sama seperti dia, kamu sudah menyadarkanku siapa aku sebenarnya di matamu, tolong lepaskan aku, dan jangan mengejarku." Clara mengaiskan tangan Bryan dari lengannya.


"Ara, ini salah paham." Bryan masih mencoba menahan Clara.


"Beri aku waktu untuk sendiri." kata Clara singkat padat dan jelas.


Clara langsung memasuki lift sambil menangis, perasaannya kembali hancur untuk kesekian kalinya.


"Pergi kamu wanita kotor." kata Bryan pada Angelica.


"Saya tidak akan pergi seperti istrimu yang meninggalkan kamu."


"PERGI ANGELICA..." Tegas Bryan dengan nada tinggi dan raut wajah menyeramkan.


Angelica pun pergi, Bryan langsung mengejar istrinya.


"Dimana kamu Ara..." ucap Bryan, khawatir karna ponsel Clara juga tidak aktif.


"Boss, apa yang terjadi?" tanya Riko bingung saat melihat mata Bryan merah mengeluarkan cairan bening.


"Angelica, membuat masalah." jawab Bryan.


"Lalu nona?"


"Sial, GPS Clara tidak berfungsi."


Bryan semakin panik memikirkan istrinya, apalagi sekarang Clara sedang hamil sangat rentan untuk kandungannya.


"Sir, kita ke restorannya saja, siapa tau nona ada di sana."


"Ok, cepat Rik."


Bryan dan Riko segera meluncur ke restoran milik Clara.

__ADS_1


__ADS_2