
Clara sangat bahagis setelah pulang dari melakukan USG di rumah sakit. Ada kabar bahagia yang dia sembunyikan dan hanya akan dia ungkapkan saat sang suami sudah tiba di rumah.
"Ibu, Clara tidak tau bagaimana mengutarakan kebahagiaan ini." memeluk sang ibu dan juga Audira.
"Kamu jaga baik-baik kandunganmu sayang, ini anugrah dari Allah tidak semua orang bisa mendapatkannya."
"Iya bu, sayang sebentar lagi kamu bakal punya dedek 2 sekaligus." tersenyum bahagia.
Audira memegang perut ibundanya.
"Mommy, Dira ingin memnyentuh dedek." ujarnya.
"Sini sayang." Clara mengarahkan tangan Audira di atas perutnya.
"Kamu bisa merasakan sayang, dedekmu udah bisa nendang perut mommy."
"Iya mommy dedek lucu ya, Dira tidak sabar pengen lihat dedek." Audira mencium perut ibunya, dia sangat senang meski usianya baru menginjak 3 tahun tapi Audira sudah sangat pintar bicara dan mengerti.
"Sabar ya sayang, papamu pasti sangat senang." harap Clara.
*****
Malam itu Bryan pulang ke rumah sehabis seharian sibuk di kantor.
"Ara, aku pulang." ucapnya, langsung menghempaskan tubuhnya di sofa ruang tamu sepertinya Bryan sangat kelelahan
"Udah pulang Di?" tanya Clara sambil membawa segelas kopi lalu mencium tangan sang suami.
"Ini di minum dulu kopinya." Clara duduk di samping Bryan.
"Makasih ya sayang." mencium sang istri.
"Capek ya Di?"
"Iya sayang, hari ini aku 4 kali mengadakan pertemuan di tempat yang berbeda itu sangat menguras tenaga dan otakku." jelas Bryan sambil meminum kopinya.
"Ya udah aku pijetin ya Di?" Clara hendak memijat punggung Bryan, namun Bryan malah meraih tangannya dan membuat Clara duduk dipangkuannya.
"Ara, biarkan aku memelukmu seperti ini, dengan begitu lelahku akan hilang."
Clara hanya diam, dia tau betul suaminya ini memang boss besar dan sangat sibuk.
"Dira, udah tidur?" tanya Bryan.
"Sudah, dia kelelahan habis jalan-jalan sama neneknya." sembari merapikan rambut Bryan yang acak-acakan lalu menciumnya.
"Emmm... cium di sini juga!" menunjuk bibirnya.
"Tidak mau, cepat kamu mandi sana, aku akan menyiapkan makan malam." Clara hendak bangkit namun Bryan semakin mengeratkan pelukkannya.
"Ada apa dengan wajahmu?"
__ADS_1
"Kenapa dengan wajahku?"
"Ara, kamu terlihat sangat bahagia kenapa?"
"Oo iya, apa kamu tidak mau tau apa yang terjadi saat usg tadi?"
"Kenapa sayang? bayi kita baik-baik sajakan?"
"Hmmm... lihatlah hasil usgnya." Clara memberikan lembaran hasil usg.
"Ini beneran sayang, kita akan punya bayi kembar?" seakaan tak menduga namun bahagia luar biasa.
"Iya Didi, bayi laki-laki dan perempuan." ungkap Clara.
"Ya Allah, aku tidak tau harus mengatakan apa, terima kasih ya Allah untuk segalanya yang telah engkau berikan untuk hamba dan keluarga hamba."
"Ara, terima kasih untuk segalanya." mencium dan memeluk Clara.
"Iya sayang, rumah ini akan semakin ramai."
"Boleh aku merasakan denyut jantungnya Ara, aku ingin sekali."
"Iya tentu suamiku."
Bryan sangat bahagia sebentar lagi dia akan menjadi ayah dengan begitu dia akan merasa kebahagiaannya benar-benar sempurna, akan ada 3 anak yang harus di nafkahinya ini membuat Bryan semakin bersemangat untuk bekerja keras.
"Ara, lihatlah dia menendang tanganku." Bryan tertawa dan merasa geli saat janin yang ada di dalam perut istrinya terus menendangnya.
"Aku juga geli Di, dari tadi siang mereka sangat bersemangat menendang perutku."
"Iya tentu saja, dan putriku akan cantik sepertiku."
"Sekali lagi terima kasih Ara." memeluk Clara.
"Kita mendapatkan semua ini karna keikhlasanmu Di, kamu ikhlas menerima apapun kondisiku, dan kamu juga menerima Audira, kamu rawat dan memberinya kasih sayang seperti putrimu sendiri."
"Iya Ara, kita harus selalu bersyukur pada Allah, dan bila anak kita lahir nanti kita tidak boleh membeda-bedakan Audira, kita harus memberikan kasih sayang dan perhatian yang sama pada mereka semua."
"Iya suamiku berkat Audira jugalah kita bisa menjadi orang tua yang sesungguhnya."
"I love you Ara."
"I love you too Didi."
Bryan merasa sangat berat untuk melepaskan pelukannya ditubuh istrinya, dia sudah merasa sangat sempurna sekarang.
"Ara boleh aku menyentuhnya sekali lagi, aku ingin merasakan detak jantung mereka."
"Tentu saja, mereka juga harus setiap hari merasakan belaian tangan papanya." Clara meletakkan tangan Bryan di atas perutnya.
"Wah, Ara mereka sangat nakal." Bryan akhirnya bisa merasakan gerakan sang bayi.
__ADS_1
"Ara, apa kamu tidak geli setiap hari di tendang?"
"Tentu saja geli Di, apalagi hari ini mereka sangat aktif sampai membuatku kesulitan berjalan perut ini selalu ditendangnya."
"Ummm kasian mamanya sepertinya papa harus menggendong mamanya agar tidak sulit berjalan lagi." tersenyum.
"Ya sudah mandi sana, kamu bau tau." Clara menutup hidungnya.
"Anak papa jangan nakal ya sama mamanya, papa mau mandi dulu." ucap Bryan sambil mengelus lembut perut sang istri yang sudah mulai buncit itu.
"Kami hanya nakal sama papa, seperti papa nakal sama mama setiap malam." goda Clara membuat Bryan sangat ingin terus mencium dan memeluk Clara.
"Ini hadiah untukmu... cup..." sebelum mandi Bryan masih sempat-sempatnya mencium bibir sang istri.
"Hmmm... mulai deh Didi." gerutu Clara setelah Bryan berlalu ke kamar untuk mandi di ikuti oleh Clara.
"Didi, aku ke kamar Dira dulu ya, mau lihat Dira sebentar." teriak Clara.
"Iya sayang, nanti aku nyusul."
Clara pun menuju kamar Audira, ternyata Audira bangun dan merengek karna ingin minum susu.
Clara langsung mengambil susu yang ada di atas meja dan memberikannya pada Audira.
"Tidur lagi ya sayang." ucap Clara sambil menggendong Audira, walau bagaimanapun Audira masih sangat kecil bagi Clara dia masih perlu digendong.
"Mommy, papa udah pulang?" tanyanya.
"Sudah sayang, papa sedang mandi."
"Dira, mau digendong papa."
"Iya sayang, nanti papa kemari sayang."
Tak lama kemudian Bryan pun datang ke kamar Audira dan melihat Clara sedang menggendong sang buah hati.
Bryan mendekati mereka dengan senyuman di bibirnya dan memeluk Clara dari belakang untuk beberapa menit saja.
"Sini sayang, biar papa yang gendong, sekarang Dira gak boleh manja sama mommy ya kasian mommymu tubuhnya bertambah berat, manjanya sama papa aja." Bryan mengambil alih Audira dari gendongan Clara kemudian mereka duduk di sisi ranjang.
Clara tersenyum, dia sangat bangga memiliki suami seperti Bryan meski sangat sibuk namun selalu punya waktu untuk keluarga, selain itu Bryan juga sangat memahami dan mengerti dirinya, apalagi melihat kasih sayang Bryan terhadap Audira, Clara sudah bisa membayangkan betapa bahagianya Bryan sebagai ayah saat anak mereka terlahir ke dunia nanti.
"Sini Di, biar aku yang menidurkan Dira, kamu makan dulu sana lalu istirahat, bukankah kamu kecapean tadi?"
Bryan mencium sang anak dan merangkul Clara dan menempelkan kepala Clara di pundaknya.
"Ara, melihatmu dan putri kita tersenyum saja itu sudah membuat segala penat di tubuh ku hilang begitu saja."
Clara tersenyum dia berharap kebahagaiaan ini bisa abadi untuk selamanya.
"Nak, jadi anak yang sholehah ya, buat mommy dan papa bangga padamu suatu hari nanti." Bryan dan Clara mencium Audira.
__ADS_1
"Ara, kamu dan anak-anak kita adalah harta paling berharga dalam hidupku, kalian semangatku saat aku bekerja mencari nafkah, kalian kekuatanku, tapi kalian jugalah kelemahanku jika kita berjauhan, tetaplah bersamaku dan jangan pernah meninggalkanku atau aku tidak akan bisa hidup tanpa kalian semua." ucap Bryan.
"Percaya padaku Di, tidak ada alasanku untuk meninggalkanmu, kami semua akan selalu bersamamu." ucap Clara membalas pelukkan sang suami.