
Sejek kejadian itu Bryan sengaja tidak masuk kantor untuk beberapa hari, dia benar-benar ingin membuat Angelica menjauh darinya. Kehangatan dalam rumah tangga kini pun kembali berjalan normal, Bryan akan kembali ke kantor lagi.
"Ara..." panggil Bryan.
"Iya sebentar." Clara menghampiri suaminya.
"Kenapa kamu senyum-senyum gak jelas?" Clara melihat suaminya bertingkah aneh.
"Mengingat kecemburuanmu malam itu." ucapnya tersenyum simpul.
"Oo jadi kamu senang melihatku menangis, aku hampir pergi meninggalkan kamu, apa kamu mau itu terjadi lagi..."
Clara jadi mulai emosi lagi padahal beberapa ini hatinya mulai tenang.
Bryan berdiri dan memeluk istrinya dari belakang.
"Maaf Araku, aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Iya sayang, sudahlah kita lupakan yang telah terjadi."
"Sekali lagi terima kasih Ara, karna kebaikan dan ketulusan hatimu membuatku menyadari betapa bodohnya aku hampir saja masuk kedalam lembah penuh dosa dan tipu daya." membelai rambut sang istri yang berada dalam pelukkannya dengan rasa penyesalan.
"Kita ini suami istri sudah seharusnya saling mengingatkan, Didi aku ini istrimu, aku berkewajiban untuk menuntunmu kembali ke jalan yang benar disaat kamu kehilangan arah, begitupun sebaliknya."
"Kamu memang yang terbaik, Araku." tenang dan damai itulah yang Bryan rasakan saat mendengar jawaban dari sang istri.
"Aku berangkat ke kantor ya, sayang... cup...!!!" rutinitas mencium kening istri yang selalu Bryan lakukan sebelum berangkat kerja yang kemarin sempat hilang kini kembali lagi.
"Hati-hati suamiku." kata Clara.
Bryan seketika tersipu malu dan pipinya merona.
"Katakan sekali lagi..." katanya sambil tersenyum.
"Apa?" pura-pura tidak mengerti.
"Panggil aku seperti tadi." pintanya dengan tingkah yang lucu bagi Clara.
"Hati-hati suamiku..." kata Clara menekan kata-katanya lalu memberi kecupan pada bibir Bryan.
"Tetaplah seperti ini." Bryan membelai wajah istrinya dengan gemas.
"Hentikan Di, ayo berangkat sanaaa..." kata Clara lalu mendorong Bryan masuk ke dalam mobil.
"Sayang papa berangkat kerja dulu yaaa..." ucapnya mengelus perut sang istri yang hanya tinggalkan menghitung hari akan melahirkan itu.
"Kerja yang benar yaaa papa..." sahut Clara.
"Jangan bekerja keras." kata Bryan.
"Iya suamiku."
__ADS_1
"Jika ada apa-apa segera hubungi aku, istriku." masih enggan menyalakan mobil.
"Iya, iyaaa suamiku... cepat pergilah." Clara mulai gregetan karna suaminya terus saja mengkhawatirkannya.
Kantor BC-E Grup
"Good morning Mr. Bryan." selalu ada ucapan selamat pagi untuk boss yang terkenla dingin tapi ramah itu. Para pegawai jelas sangat merindukan sosok pemimpinnya itu yang tidak terlihat beberapa hari lalu.
"Direktur." panggil Riko, Bryan menghentikan langkahnya menunggu Riko menghampiri dirinya.
Kemudian mereka langsung memasuki lift menuju ruangan Bryan.
"Aku lega akhirnya boss kembali ke kantor." kata Riko.
"Kamu sudah tau apa yang terjadi padaku, tidak perlu merasa kasihan seperti itu." ujar Bryan.
"Iya boss." Riko hanya bisa menunduk.
"Lalu nona Clara gimana kabarnya boss?" tak lama Riko pun melanjutkan kalimatnya.
"Semua sudah membaik." jawab Bryan singkat.
"Apa Angelica datang kemari selama aku tidak ada?" tanya Bryan.
"Dia selalu datang kemari mencari Direktur." ungkap Riko.
"Arrrghhh..." Bryan benar-benar kesal mendengarnya, raut wajahnya sangat menyeramkan bahkan Riko jadi kaku melihatnya.
"Kenapa boss?" kata Riko terbata-bata.
"Sebentar boss, saya cek." Riko mengambil ponselnya.
"Cepat..." tegas Bryan.
"Aah iya sebentar boss, nah ketemu baru 25% boss, jadi apa yang harus saya lakukan?"
"Baguslah, buat surat gugatan pemecatan dan pembatalan kerjasama dengan Angelica." tegas Bryan.
"Kapan saya harus membuatnya?"
"Tahun depan, yaa sekarang juga, kamu bodoh atau sengaja mempermainkan saya?" Bryan mulai tersulut emosi karna pertanyaan konyol dari Riko.
"I-iya boss maaf, sa-saya akan mengerjakannya." Riko dengan tubuh gemetarnya karna baru pertama kali mendengar Bryan membentak dirinya keluar dari ruangan sang boss.
"Boss tidak waras, memecat orang tanpa alasan yang kuat itu sangat sulit, tapi jika aku tidak menurutinya dia bisa mengamuk, ayo Riko pikirkan sesuatu cari bukti tentang Angelica..." gerutunya berjalan menuju ruangannya.
*****
Bryan mendapat banyak pesan singkat dengan berbagai kalimat romantis dari Angelica.
"Wanita seperti apa dia, dia terus menggangguku, aku sangat membencinya, ini tidak bisa dibiarkan lama-lama bisa ngelunjak." gerutu Bryan tanpa membalas satupun pesan tersebut.
__ADS_1
Karna tidak mendapat balasan, Anglica malah mengganggu Bryan dengan panggilan ponsel.
Brakkkk...
Saking bencinya melihat nama Angelica Bryan membanting ponselnya ke dinding, Riko yang hendak masuk ke ruangan bossnya itu juga kaget melihat pekakas ponsel berserekan dilantai.
"Boss, merusak smartphone seharga puluhan juta ini... apa kejiwaannya mulai terganggu?" batin Riko sesekali melihat ponsel yang pecah dan melihat wajah bossnya yang hari ini penuh dengan amarah.
"Kenapa kamu berdiri disitu, apa kamu sudah selesai melakukan perintah dari saya?" tanya Bryan dengan nada suara yang bisa membuat Riko ketakutan.
"Belum boss, tidak mudah melakukannya." sesal Riko.
"Pokoknya saya tidak mau tau besok harus selesai." kata Bryan.
"Iya boss, saya akan bekerja keras untuk itu."
"Bagus, saya akan pulang sekarang."
"Loh, bosskan baru sampai..."
"Disini siapa yang boss, jangan mengatur saya."
Riko hanya bisa menggeleng menatap bossnya yang berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Riko tau betul perasaan Bryan, dia sangat takut kehilangan Clara dan dia hampir saja kehilangan istrinya karna ulah Angelica, jadi Riko akan bekerja keras untuk membantunya.
Ke Esokkannya
"Apa tugasmu sudah selesai?" tanya Bryan.
"Iya Sir, ini dokumennya dengan ini bisa menjadi alasan kuat untuk memutus kerjasama dengan Angelica." Riko menyerahkan sebuah dokumen rahasia pada Bryan.
Bryan tidak mau tau dari mana asistennya itu mendapatkannya, yang terpenting hanyalah bukti kuat untuk menjatuhkan Angelica.
Bryan membuka dokumen dan membaca isinya.
"Sir, ternyata Angelica pernah melakukan penggelapan uang sebanyak 15,5 M sewaktu dia menjadi manager keuangan di Swiss." ungkap Riko, seketika Bryan menatapnya dengan wajah serius dia ingin Riko menjelaskan bukti-bukti temuannya yang lain menyangkut Angelica.
"Apa ada lagi yang kamu tau?" tanya Bryan.
"Iya ada satu lagi." ucap Riko
"Katakan."
"Dan ternyata Angelica juga salah satu bandar pengedar narkoba yang kabur dari tahanan di Swiss." ungkap Riko, Bryan sudah menduga Angelica pasti terlibat kasus narkoba.
"Bagus." kata Bryan.
"Apa saya perlu mencari bukti yang lain, Sir?" tanya Riko.
"Ini sudah lebih dari cukup, kita akan lebih mudah menjatuhkannya dengan 2 bukti yang menguatkannya ini." kata Bryan, dia tampak senang dan tidak sabar menanti hari dimana dia bisa menjatuhkan wanita yang telah mengganggu rumah tangganya.
__ADS_1
"Apa tugas saya selanjutnya?" tanya Riko lagi.
"Siapkan pertemuan dengan Angelica, kita akan membembengkan bukti-bukti ini di depan para client yang lain." pinta Bryan.