
Tak lama kemudian Bryan sampai di rumah sakit. Bibi Susan langsung di bawa ke UGD untuk segera mendapat penanganan medis karna kondisi bi Susan sangat kritis.
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya dokter keluar dari ruang tersebut.
"Dok, bagaimana keadaan ibu itu? Apa semuanya baik?" Tanya Bryan.
"Beliau sudah melewati masa kritisnya dan sebentar lagi akan sadar, tapi kami belum bisa memastikan mengenai penyakitnya karna kami harus menunggu hasil lab lebih dulu, setelah itu kita akan tau." Jelas dokter.
"Baiklah Dok."
Dokter pun berlalu meninggalkan Bryan, Bryan masih duduk dikursi tunggu.
"Pak Bryan." Panggil suster yang datang menghampiri Bryan.
"Saya Sus, ada apa?"
"Dokter meminta bapak datang ke ruangannya."
"Terima kasih sus, saya akan kesana."
Bryan pun bergegas menemui dokter yang tadi menangani bi Susan.
"Pak, ini hasil labnya." Dokter memberikan hasil lab pada Bryan dan Bryan langsung membacanya.
Betapa terkejutnya Bryan saat tau bahwa bi Susan mengidap kanker darah stadium akhir.
"Dok, apa penyakit seperti ini bisa sembuh?"
"Kemungkinan sembuh sangat kecil."
"Tolong Dok lakukan yang terbaik untuk ibu itu, saya akan menanggung semua biayanya, Dokter tidak perlu khawatir."
__ADS_1
"Jalan satu-satunya adalah melakukan operasi transpalasi sumsum tulang belakang."
"Iya dok lakukan saja yang terbaik."
"Tapi itu tidak mudah pak, sebelum melakukan operasi kita harus menemukan orang yang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakang untuk pasien, dan kita harus secepatnya menemukannya jika kita terlambat sedikit saja maka nyawa pasien tidak akan bisa diselamatkan." Jelas dokter panjang lebar membuat Bryan terhenyak memikirkan bagaimana dia harus mencari pendonor dalam waktu singkat.
"Kalau begitu saya siap jadi pendonornya dok."
"Apa bapak keluarganya?"
"Bukan dok, saya bukan siapa-siapa tapi saya siap membantu ibu itu."
"Begini pak kita tidak bisa melakukan transpalasi sumsum dengan sembarang orang, sebelum melakukan transpalasi kita harus melakukan pemeriksaan untuk menyocokkan sumsum si pasien dengan pendonornya, dan sebagian besar yang paling cocok menjadi pendonor adalah pihak keluarga."
"Tapi dok saya tidak tau siapa keluarganya, yang saya tau dia hanya punya seorang putri tapi putrinya sudah meninggal dunia, tolong dok saya mohon selamatkan ibu itu."
"Baiklah pak, kami akan melakukan pemeriksaan pada bapak, semoga hasilnya cocok."
Bryan merasa kecewa karna tidak bisa membantu bi Susan, sekarang Bryan hanya bisa pasrah menyerahkan semuanya pada Allah.
"Dokter, pasien atas nama Susan Adelia sudah siuman." Ucap seorang suster yang baru saja datang dari mengecek kondisi bi Susan.
"Kita segera kesana."
Dokter, suster dan Bryan pun segera ke ruang UGD.
Bryan sedikit lega setelah melihat bi Susan sudah membuka matanya. Bi Susan meminta dokter dan suster untuk keluar dan ingin Bryan bersamanya.
Sekarang Bryan sudah bersama bi Susan. Bi Susan tersenyum melihat Bryan sambil meraih tangan Bryan sedangkan Bryan matanya berkaca-kaca melihat bi Susan masih bisa tersenyum meski kondisinya sangat lemah.
"Nak Bryan, saya ingin melihat putri saya." Ucap bi Susan membuat Bryan sedikit kaget.
__ADS_1
"Putri? Maksud bibi?"
"Saya ingin melihat nona Clara, bisakah Tuan membawanya kemari."
"Apa maksud bibi? Clara? Jadi di-dia putri bibi?" Tanya Bryan kaget, bi Susan hanya mengangguk.
"Bagaimana ini mungkin? Apa dia sungguh-sungguh putri bibi?" Ucap Bryan seakan tak percaya.
"Benar Tuan... Kejadiannya 31 tahun yang lalu."
Flashback
Bi Susan adalah seorang asisten rumah tangga yang sedang hamil tua karna suaminya telah tiada jadi dia bekerja di rumah keluarga Kusuma, iya rumah orang tua Clara sekarang. Suatu hari bi Susan melahirkan 2 putri kembar yang dibiayai proses bersalinnya oleh Kusama dan istrinya. Putri pertamananya ia namai Claudya Adelia, sedangkan putri keduanya ia namai Clarissa Aurelia.
Kusama dan istri yang tidak bisa punya anak pun memohon pada Susan untuk mengadopsi salah satu bayinya. Awalnya Susan bersi keras menolaknya karna Susan sangat menyayangi putrinya, Susan tidak mau putri kembarnya hidup terpisah. Namun rasa kasihan timbul dalam hati Susan karna Kusuma dan istrinya sangat baik dan mau membiayai persalinannya, Susan yang beruntung bisa memiliki 2 putri sekaligus sedangkan istri Kusama yang sudah 10 tahun menikah belum juga mendapat keturunan, sehingga Susan pun mengikhlaskan satu putrinya untuk diadopsi oleh Kusuma dan istrinya.
Susan menyuruh mereka untuk memilih salah satu dari bayinya dan Kusuma bersama istri memilih bayi yang saat ini sudah tumbuh besar dengan nama Clara.
Setelah kesepakatan adopsi dibuat, Kusuma dan istrinya meminta Susan untuk pergi sejauh mungkin agar kelak saat Claudya dan Clara dewasa tidak tau bahwa mereka memiliki saudara kembara dan untuk menutupi rahasia bahwa Kusuma dan istri hanyalah orang tua angkat.
Berat bagi Susan dia juga ingin melihat kedua putrinya tumbuh dewasa bersama namun karna kesepakatan telah dibuat Susan dan satu putrinya pun pindah keluar kota sejauh mungkin.
Back
Bi Susan menangis histeris saat menceritakan masalalunya mengenai putri-putrinya.
Bryan langsung menggenggam tangan bi Susan kemudian mengusap air mata bi Susan.
"Aku akan membawanya bi, aku akan mempertemukan bibi dengannya, aku janji bi." Ucap Bryan lalu mencium tangan bi Susan.
Malam-malam Bryan memberanikan diri untuk datang bertemu orang tua angkat Clara. Kali ini bukan untuk mengajukan lamaran, tapi untuk meminta kebenaran dari mereka yang sudah menyembunyikan rahasia besar selama 31 tahun lamanya.
__ADS_1
"Ngapain kamu datang keseni lagi? Jangan harap kami akan merestui kalian." Tegas Kusuma.