
"Ara..." panggil Bryan dengan nada lemas, dia berusaha berjalan menuju ruang tamu untuk menghampiri Clara, Kathryn dan Riko yang berada disana.
Seketika mereka pun menoleh kearah Bryan, Bryan tersenyum melihat mereka, matanya mulai redup dan tiba-tiba dia tergeletak pingsan yang membuat Clara kaget dan langsung menghuyung tubuh suaminya.
"Didi bangun, kamu kenapa Di?" Clara mengguncang tubuh suaminya berharap Bryan akan membuka matanya.
"Di kenapa kamu seperti ini?"
Mereka semua kaget dan Bryan pun segera dilarikan ke rumah sakit.
"Nona Clara, kenapa suami anda baru kembali setelah 2 tahun lamanya dia membiarkan kanker ini berkembang di dalam tubuhnya." ujar dokter sontak Clara kaget mendengar suaminya mengidap kanker.
"Kanker dok?"
"Pak Bryan menderita kanker perut itulah sebabnya pak Bryan bisa sampai memuntahkan darah, 2 tahun yang lalu beliau pernah melakukan kemo disini setelah itu dia tidak datang lagi, saya pikir beliau dirawat intensif di Singapura karna saya sempat menyarankannya untuk berobat ke Singapura.".
"Dok, lalu apa suami saya bisa sembuh?"
"Kami bisa mengambil langkah operasi, namun kami tidak bisa memberi banyak harapan operasinya akan berhasil karna sel-sel kankernya menyebar begitu cepat menyerang bagian tubuh yang lain, pak Bryan bisa bertahan semua tergantung seberapa kuat keinginannua untuk hidup, apa lagi sekarang pak Bryan kondisinya sangat lemah, tekanan darahnya juga rendah, kami akan menunggu sampai tekanan darahnya kembali normal setelah itu kami bisa mengoperasinya, namun nona tidak usah khawatir karna operasi kanker perut tidak berisiko kematian jarang sekali ditemukan pasien mati karna melakukan operasi kanker perut."
"Dok, tolong lakukan yang terbaik untuk suami saya dok, saya tidak mau kehilangan suami saya." rintih Clara matanya berkaca-kaca.
*****
Clara tidak bisa tidur, semalaman dia menemani Bryan diruang icu. Kondisi suaminya kini sangat memprihatikan hingga Clara tak kuasa harus menahan tangis. Riko juga berada disana menemani Clara.
"Didi bertahanlah, kamu harus kuat, kamu harus sembuh demi aku dan anak-anak kita, dokter bilang besok kamu akan segera dioperasi, jadi suamiku harus kuat ya aku yakin Didi orang yang kuat, Didi tidak akan meninggalkan kami karna itukan janji Didi padaku..." tutur Clara.
Clara melihat air mata Bryan mengalir dari ujung matanya, Bryan bisa mendengar kata-kata Clara namun dia tidak bisa membuka matanya ataupun menggerakkan bibirnya. Clara menghapus tiap tetes air matanya yang mengalir itu, dia naik keatas ranjang Bryan dan Clara memeluk tubuh suaminya hingga akhirnya dia pun tertidur.
Pagi Hari
Dokter dan suster sudah bersiap-siap untuk melakukan operasi. Namun belum sempat dibawa keruang operasi, Clara melihat alat pendeteksi jantung Bryan semakin melemah, Clara langsung memencet bel darurat memanggil perawat atau dokter.
Hanya dalam hitungan menit alat pendeteksi jantung itu sangat cepat berubah menjadi garis lurus, sontak Clara menjerit histeris.
"Didi aku mohon buka matamu, Di jangan becanda seperti ini aku tidak suka." ujar Clara menghuyung tubuh suaminya.
"Didi, kamu sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkanku, ayo buka matamu Di, kamu bilang kita akan selalu bersama-sama merawat dan membesarkan anak-anak kita, apa kamu selemah ini, apa kamu tidak mau lagi mendampingiku..." ucap Clara sambil memukuli tubuh Bryan yang sudah kaku itu.
__ADS_1
"Di, aku mohon jangan pergi... jangan pernah meninggalkanku Di..." rintih Clara menangis tersedu-sedu dihadapan jasad suaminya, sedangkan Riko dia tidak bisa melakukan apapun selain tertegun tak kuasa menahan tangis.
"Di, buka matamu... apa kamu tidak mendengar permintaanku Di, tolong jangan pergi..." rintih Clara sambil berteriak dan terus memukuli tubuh Bryan, Riko langsung mendekapnya agar Clara berhenti memukuli jasad suaminya.
"Suster, catat waktu kematiannya..." pinta dokter, perawat itu pun mencatatnya.
"Nona, pak Bryan sudah tiada." ujar suster.
"Tidak... tidak dokter, suami saya tidak mungkin mati, dia sudah berjani pada saya kalau dia akan hidup untuk saya dan anak-anak kami..." ujar Clara yang masih tidak percaya bahwa suaminya sudah tiada.
"Kakak ipar, tenangkan dirimu sadarlah Tuan sudah berpulang, ikhlaskan kepergian Tuan agar beliau bisa pergi dengan tenang." ucap Riko menenang Clara.
Clara pun menghentikan tangisannya, dia kembali mendekati jasad suaminya tak bisa dia pungkiri kesedihan masih menyelimuti dirinya, air mata mengalir deras dipipinya. Clara memeluk tubuh Bryan yang sudah kaku dan dingin itu.
"Didi, aku berjanji padamu akan merawat dan membesarkan buah hati kita sebaik mungkin, pergilah dengan tenang dan damai di sisi-Nya." lirih Clara berbisik ditelinga Bryan lalu mencium kening suaminya untuk terakhir kalinya.
Clara yang berada dalam dekapan Riko memandang tubuh Bryan yang dibungkus oleh kain putih. Clara tak kuasa menahan kesedihan dia harus kehilangan orang yang benar-benar di cintai.
"Rik, suamiku sudah tiada, dia pergi meninggalkan kami..." lirih Clara.
"Sabar kakak ipar, kakak ipar harus kuat demi anak-anak, mereka sudah kehilangan ayah jangan biarkan mereka harus kehilangan kakak juga..." ujar Riko sembari menyeka air mata Clara.
"Inilah takdir kakak ipar, hidup dan mati seseorang hanya milik yang maha kuasa, saat dia mengambil nyawa seseorang itu berarti dia sangat menyayangi orang tersebut. Kita semua tau, Tuan orang yang baik hati, hatinya sungguh mulia, aku mohon kak jangan terus larut dalam kesedihan, kakak harus bisa mengikhlaskan Tuan supaya Tuan bisa pergi dengan tenang." jelas Riko, dia berusaha menguatkan hati Clara yang saat ini begitu lemah tak berdaya.
Clara pun terdiam, hatinya mulai merasa tenang, sekarang dia mulai kembali memikirkan anak-anaknya yang akan selalu menjadi alasan dia bisa kuat melewati semua ini.
*****
Hari ini menjadi hari dimana jenazah Bryan akan dimakamkan. Semua orang berbondong-bondong mengiringi pemakaman Bryan untuk memberi penghormatan terakhir pada orang yang baik hati seperti Bryan.
Kepergian Bryan yang mendadak banyak meninggalkan luka dan kesan dihati orang-orang terdekatnya.
Mereka mengenang Bryan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa karna Bryan sudah begitu banyak membantu orang yang membutuhkan terutama untuk anak-anak panti asuhan, diam-diam Bryan berdonasi menyumbangkan sebagian hartanya untuk anak yatim piatu, semuanya mengetahui itu setelah pengurus yayasan panti asuhan mengungkap kebenarannya.
Acara pemakaman pun telah usai. Riko, Kathryn, dan orang tua Clara masih menemani Clara yang enggan untuk berhenti menatap makam suaminya.
"Didi, kamu yang tenang ya disana..." lirih Clara sambil memegang nisan Bryan.
Clara berusaha tegar, dia hanya bisa menahan rasa sedih yang teramat dalam, yang seakan sudah menghancurkan dunianya saat ini. Dia berusaha tersenyum dan kuat demi buah hatinya yang masih kecil-kecil itu.
__ADS_1
Clara pun mencium nisan suaminya sebagai tanda cintanya yang begitu besar dan akan selalu bersemayam dihatinya. Riko dan Kathryn membantunya berdiri, untuk segera membawa Clara pulang agar Clara bisa cepat beristirahat dan hari juga sudah sore.
*****
Clara duduk di tepi kasur masih terbayang kenangan indah saat bersama Bryan, begitu banyak kebahagiaan yang Bryan lukiskan di dalam hatinya, tapi sekarang dia sendirian tiada canda tawa lagi disetiap dia akan memejamkan mata atau saat membuka matanya. Sulit baginya untuk melewati hari-hari tanpa sosok Bryan yang selalu menjadi semangat dan pelindung hidupnya. Kini hanya kata rindulah yang terbesit dalam benak Clara, rindu yang tidak akan pernah terobati lagi.
Clara tidak bisa melawan takdir sang Ilahi, setiap pertemuan pasti ada perpisahan, begitulah kehidupan setiap yang bernyawa pasti akan tiada bila waktunya tiba. Tuhan tidak pernah memberi cobaan yang berat untuk insannya, tinggal seberapa ikhlas cara kita menjalani takdir yang sudah digaris untuk kita maka kita akan menemukan kebahagiaan. Begitulah Clara dia selalu kuat meski hatinya menjerit.
"Didi, walau kamu tidak ada disini tapi kamu selalu ada dihatiku." lirih Clara sambil memeluk foto suaminya.
Air mata yang berusaha Clara bendung akhirnya menetes membasahi foto sang suami. Clara mencium fotonya dan kembali memeluknya, terasa begitu berat baginya harus hidup tanpa Bryan disisinya. Clara masih bisa tersenyum walau berat dia tetap memaksakan untuk tersenyum meski ada beban di hatinya.
Clara hendak meletakkan kembali foto Bryan diatas nakas, namun Riko memecah lamunan Clara.
"Nona, saya menemukan ini di kantor, di dalam laci Tuan." Riko menyerahkan sebuah kotak yang ukurannya cukup besar pada Clara.
Clara menerima hadiah tersebut. Dia kembali duduk diranjang untuk membuka hadiah tersebut.
"Aku masih menerima hadiah darimu, walaupun kamu telah pergi, begitu besarnya cintamu padaku, Di..." lirih Clara dengan berderai air mata membuka kotaknya secara perlahan.
Setelah membuka kotak tersebut Clara menemukan kotak kecil berwarna merah dan ada beberapa hadiah lainnya. Clara hanya tertuju pada kotak merah itu, lalu dia membukanya.
"Hai Araku..." jeritan hati Bryan.
"Didi... Didi... kamu disini..."
Clara merasa Bryan sedang memanggil namanya sehingga dia sontak menatap seisi kamarnya mencari keberadaan suaminya, namun dia sadar semua hanya hayalannya saja karna dia sangat merindukan Bryan.
Isi Surat: Teruntuk Istri dan Anak-anakku
**Mungkin disaat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada di sisimu, maafkan aku Ara, aku harus merahasiakan penyakit ini darimu, aku tidak mau membuatmu sedih dan terbebani jika kamu tau aku sakit. Ara, tujuan di dalam hidupku hanya satu yaitu membahagiakan kamu dan keluarga kita.
Kamu tau Ara, aku selalu berdoa pada Tuhan agar aku diberi kesempatan untuk melihat anak-anak kita, meski aku tidak bisa melihatnya tumbuh besar, tapi aku selalu berharap bisa melihat dan mendampingi istriku melahirkan anak-anakku.
Dan aku sangat bersyukur masih diberi kesempatan untuk melihat mereka terlahir ke dunia ini, merawat dan menjaga mereka bersama denganmu meski untuk sesaat. Jujur Ara, jika aku dihadapkan 2 pilihan, maka aku akan terus meminta untuk hidup lebih lama lagi, namun ternyata Tuhan telah menggariskan takdirku sampai di sini.
Ara, jika kamu menyayangiku maka hapuslah air matamu, agar aku bisa pergi dengan tenang di sisi-Nya. Kamu harus tetap tersenyum meski tanpa hadirnya diriku, yakinlah Ara aku selalu ada di dalam hatimu, menemani disetiap langkah kakimu, aku yakin Ara kamu pasti bisa melewatinya.
I love you istriku, kamu dan anak-anak kita harus selalu bahagiaaa... semangat, semangat, semangat istriku sayang, teruslah berjuang demi buah hati kita...
__ADS_1
Salam sayang suamimu: Bryan Adipati Mirza**.