
"Rendi???" Ucap Clara kaget ada gerangan apa Rendi datang pagi-pagi.
"Mama bilang Dira sakit, apa itu benar?" tanya Rendi.
"Benar, memangnya kenapa?"
"Boleh aku bertemu Dira?"
"Tentu saja, silakan masuk! Dira ada di ruang makan."
Clara mempersilakan Rendi masuk dan Rendi pun mengikuti Clara keruang makan.
"Eh nak Rendi, pagi-pagi sekali sudah datang." Ujar mama.
"Iya ma, semalam setelah mama beritahu kalau Audira sedang sakit Rendi tidak bisa tidur ma sebelum memastikan kondisinya."
"Silakan duduk nak! Kamu sudah sarapan atau belum?"
"Sudah ma, Rendi hanya sebentar kok cuma mau jenguk Dira."
"Hai putri kecil daddy, syukurlah panasnya sudah reda." Ucap Rendi memegang kening Audira.
Rendi duduk disamping Audira kemudian membuat Audira berada dalam pangkuannya akan tetapi Audira menggeliat dan merengek tidak mau dipangku oleh Rendi sehingga membuat papa dan mama Clara heran tapi Clara tidak heran lagi karna wajar saja Audira tidak senang dengan ayahnya selama ini Rendi memang tidak terlalu menghiraukan Audira.
"Sini Ren berikan Dira padaku!" pinta Clara, Rendi yang terlanjur merasa malu karna anaknya sendiri tidak mau berada dalam pangkuannya langsung memberikan Audira pada Clara.
"Dira, dengarkan mommy ya! Dira tidak boleh seperti itu sama daddy." Ucap Clara, Clara tidak mau kelak sudah dewasa Audira membenci ayahnya sendiri walau bagaimana pun sikap Rendi tapi Rendi tetaplah ayah kandungnya, sedangkan Clara hanya ibu tirinya.
"Ma, Pa, Clara, aku permisi dulu harus ke kantor." Ucap Rendi.
"Buru-buru sekali nak Rendi, Dira kan masih kangen." Ujar mama.
"Rendi banyak kerjaan ma yang harus segera ditangani."
"Ya sudah nak besok-besok datang lagi ya."
Rendi bangkit dari duduknya dan mulai meninggalkan ruang makan.
"Rendi tunggu!" Ujar Clara menghentikannya.
"Ada apa Clara?"
"Ren, nanti temui aku di resto aku ingin membicarakan sesuatu yang penting."
Rendi pikir Clara akan membahas masalah pernikahan mereka sehingga siang itu saat jam makan siang Rendi sangat bersemangat menemui Clara di restoran.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? apa mengenai pernikahan kita?"
"Tidak!" Clara bangkit dari duduknya berjalan mendekati Rendi.
"Apa maksudmu?"
"Soal Audira."
"Ada apa dengan Audira?"
"Kamu masih bisa-bisanya bertanya ada apa."
__ADS_1
"Kenapa Clara?"
"Kamu tidak mengerti? kamu tidak bisa merasakan kenapa tadi pagi Dira bersikap seperti itu padamu?"
"Aku rasa tidak ada yang salah dengannya, anak kecil memang seperti itu."
"Ren, kamu seorang ayah setidaknya kamu coba mengerti kenapa Dira tidak menyukaimu, perbaiki kesalahanmu Ren."
"Apa yang harus ku perbaiki Clara, aku tidak salah, aku memang ayah yang sibuk dengan pekerjaan karna itu aku tidak sempat untuk mengurus Audira tapi aku sangat menyayanginya."
"Ren rasa sayang tidak cukup jika tidak diselingi dengan perhatian, kamu harus tunjukkan pada Dira bahwa kamu ayah yang baik, perhatian dan peduli padanya, Ren Dira semakin bertambah besar dia akan mengerti untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk, aku hanya tidak ingin Dira membencimu karna kesibukkanmu itu."
"Aku tidak bisa menuruti keinginanmu, pekerjaanku lebih penting lagipula aku bekerja keras siang dan malam juga demi Audira supaya kelak saat dewasa dia tidak merasa kekurangan sehingga apapun yang dia mau bisa dia dapatkan."
"Semua orang tua juga ingin anaknya seperti itu Ren, tapi pernahkah kamu memikirkan perasaan seorang anak, tidak semua anak bahagia hidup dalam kemewahan, anak juga punya perasaan untuk apa bergelimang harta namun orang tuanya kurang memperhatikannya."
"Dengar Clara, aku yakin kelak Audira akan mengerti, jadi kamu jangan terlalu mengkhawatirkanku kan ada kamu yang bisa 24 jam mengurusnya."
"Bagaimana jika Audira itu anak kita berdua? apa kamu juga akan memperlakukannya seperti itu Ren?"
Sesaat Rendi terhenyak tapi secepat mungkin Rendi kembali dengan keangkuhannya.
"Tentu saja tidak Clara, karna aku mencintaimu maka aku juga akan mencintai anak kita seperti aku mencintaimu."
"Tapi Dira itu anakmu dan Nanda, Ren, tidak ada bedanya Audira terlahir dari rahim siapa yang jelas didalam darahnya juga mengalir darahmu."
"Aku tidak mencintai Nanda karna itu aku tidak bisa menyayangi Audira sepenuhnya meskipun Audira anakku."
"Kamu tidak bisa mengurangi rasa sayangmu pada Dira hanya karna Nanda yang melahirkannya Ren."
"Berubahlah! tolong luangkan waktu untuk Audira beri dia perhatian agar dia merasakan kasih sayang seorang ayah seperti anak-anak yang lain Ren, sebelum semua terlambat."
Rendi yang angkuh tetap dengan pendiriannya yang terus mengutamakan pekerjaan, sedangkan Clara dia hanya ingin membuat Rendi dan Audira dekat, tapi jika Rendi sudah menolak dan tetap dengan egonya maka Clara tidak akan memaksanya, setidaknya Clara sudah berusaha.
Malam hari Bryan memutuskan untuk pulang dari kantor lebih awal karna dia sudah memutuskan untuk makan malam di resto Clara sebelum restonya keburu tutup seperti malam kemarin sekaligus ingin menengok keadaan Audira.
"Rik, kamu mau ikut?" Ajak Bryan sembari mengemaskan barang-barangnya.
"Pergilah Sir, ini kesempatan untukmu supaya kalian bisa dekat lagi."
"Kamu memang sahabatku yang paling baik, Rik." Bryan menepuk pundak Riko.
"Memangnya Sir punya sahabat lain, kita kan sudah berteman sedari bocah dan tumbuh dewasa bersama." Riko terkekeh.
Srekkk...
Tiba-tiba Wulan datang menghancurkan suasana menyenangkan itu.
"Gadis ini sudah datang, Sir." bisik Riko ketelinga Bryan.
"Sir, sudah mau pulang ya?" tanya Wulan memandang Bryan.
"Iya, ada apa Wulan?"
"Sir, lihatlah kaki saya terluka, bisakah Sir mengantarku pulang?"
Bryan memikirkan sesuatu dia merasa kasian melihat kaki Wulan terluka, Wulan sekretarisnya jadi Bryan merasa berkewajiban untuk membantunya.
__ADS_1
"Hadeuh! Gadis ini akan merusak rencana Tuan Bryan." batin Riko kesal pada Wulan.
"Wulan, saya akan....." belum selesai Bryan bicara Riko langsung memutusnya.
"Nona Wulan, saya bisa mengantarmu." sambung Riko.
"Sir, kamu harus mengerti wanita ini sengaja menghalangimu untuk bertemu nona Clara." bisik Riko lagi pada Bryan dan Bryan rasa Riko memang benar.
Wulan sudah memasang wajah memelas berharap Bryan kasihan padannya dan mau mengantarnya kali ini.
"Maaf Wulan saya tidak bisa mengantarmu, saya ada urusan pribadi yang lebih penting, saya lihat lukamu juga tidak parah jadi biar Riko yang mengantarmu." Ucap Bryan harapan Wulan buyar seketika.
"Iya nona Wulan, saya tidak ada bedanya dengan mr. Bryan, mobil saya juga mewah." Ujar Riko.
"Sia-sia aku melukai kakiku sendiri jika tau akan berakhir seperti ini, malas banget diantar oleh Riko." tubuh Wulan menggelinjang sambil memalingkan wajah.
Bryan pun berlalu meninggalkan Riko dan Wulan.
"Ayo nona Wulan saya akan mengantarmu pulang."
"Tidak perlu! saya bisa pulang sendiri." Sahut Wulan berlalu meninggalkan Riko, dan Riko melihat Wulan berjalan biasa-biasa saja seperti tidak ada yang sakit.
"Selama aku ada kamu tidak akan bisa menghalangi Tuan untuk dekat dengan nona Clara." batin Riko berhasil menggagalkan rencana Wulan.
*****
"Bagaimana jika Clara terbukti sudah menikah? tapi kenapa Clara tinggal dirumah orang tuanya seharusnya kan dia tinggal di rumah Rendi, ah aku jadi bingung." gumam Bryan masih berada dimobil belum pergi ke restoran.
"Oo iya Audira apa kabar? semoga demamnya sudah sembuh, aku harus kesana sekalian menemui Audira, anak lucu itu selalu membuatku rindu sama seperti ibunya." batin Bryan diselingi senyumannya.
Di Sisi Lain
Clara memang ramah sewaktu melayani para pelanggannya, Clara tidak membeda-bedakan mau itu pelanggan dari kalangan atas atau bawah, tua, muda, wanita, pria atau anak-anak semua Clara berikan pelayanan terbaik sehingga orang-orang betah berada di restorannya selain itu masakkan korea ala Clara memang sudah tidak diragukan lagi rasanya.
Akan tetapi selalu ada orang-orang yang memanfaatkan kecantikkan dan tubuh ideal yang Clara miliki untuk melecehkannya.
Clara hampir saja dilecehkan sedangkan para pelanggan satu pun tidak ada yang berani melawan seorang pria yang ingin melecehkan Clara.
Untungnya Bryan sampai tepat waktu dan langsung menghentikan aksi pria itu.
"Jangan sentuh dia." Ucap Bryan mencekal tangan pria itu yang ingin menyentuh tubuh Clara. Pria itu langsung menghempaskan tangan Bryan.
"Siapa Anda? Beraninya Anda menghentikan saya?"
"Saya suaminya." Ucap Bryan sembari memelototkan matanya yang sadis menatap pria itu.
Bryan menarik pinggang Clara dan Clara kaget jantung Clara berdebar sangat kencang hal ini selalu dirasakannya saat berada dalam pelukkan Bryan.
Bryan mengalihkan pandangannya dari wajah Clara sekarang mata Bryan hanya melihat bibir Clara yang gemetar saat tubuh mereka saling berhadapan. Tanpa memperdulikan orang disekitar dan untuk membuat pria yang baru saja ingin melecehkan Clara percaya, Bryan mencium bibir Clara dengan lembut sedangkan Clara tertegun kaget, tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak Clara hanya bisa membiarkan Bryan ******* bibirnya tanpa bisa membalas Bryan namun Bryan hanya melakukannya sebentar dengan cepat Bryan langsung melepaskan ciumannya alih-alih hanya sekedar untuk membuat pria itu percaya bahwa mereka memang suami istri sehingga tidak akan ada yang bisa mengganggu Clara lagi.
.
.
.
BERSAMBUNG
__ADS_1