DARI HATI

DARI HATI
Naluri Hati Istri


__ADS_3

Manusia bukan pemilik kehidupan. Tidak ada manusia yang selalu berhasil meraih keinginannya. Hari ini bersorak merayakan kesuksesan, esok lusa bisa jadi menangis meratapi kegagalan. Saat ini bertemu, tidak lama kemudian berpisah. Detik ini bangga dengan apa yang dimilikinya, detik berikutnya sedih karna kehilangannya. Maka, episode apapun yang kau lalui saat ini, tenangkanlah hatimu. Sesungguhnya ketenangan dan kebahagiaan hanyalah milik Allah SWT, yang diberikan pada orang-orang yang sabar dan beriman.


Baiklah, sekarang kita lanjutkan kisah seorang wanita yang tak pernah putus asa untuk mencari dan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya dalam hidupnya.


.


.


"Sayang, nanti aku pulangnya agak maleman, aku harus mengunjungi beberapa lokasi untuk mengenalkan produk-produk elektronik terbaru di beberapa daerah." kata Bryan sebelum berangkat kerja.


"Apa kamu juga pergi bersama dengannya?" tanya Clara, Clara mulai merasa cemburu namun dia tidak ingin menunjukkan sikap kekanak-kanakannya dihadapan Bryan.


"Iya Ara, tapi Riko juga tetap ikut bersamaku." menatap lembut wajah istrinya.


"Kamu istirahat ya Ara, aku sudah meminta bi Santi untuk bekerja disini, jadi istriku ini tidak akan kelelahan lagi."


"Terima kasih Di, kamu tau betul kondisiku sekarang."


"Aku harus selalu memikirkan kamu, sayang. Dah... aku berangkat ke kantor dulu." tak lupa Bryan mengecup kening sang istri dan memeluknya beberapa saat.


"Hati-hati Di..." Clara melambaikan tangan saat Bryan mulai menyalakan mobilnya. Bryan tersenyum dan melambaikan tangan.


Hari ini Bryan lembur karna harus mendatangi beberapa daerah atau perusahaan untuk mempromosikan produk yang keluaran terbaru dari perusahaannya, dan lewat promosi ini Bryan akan mendapat omset penjualan yang sangat menguntungkan lebih dari biasanya.


Setelah selesai melakukan promosi, Bryan kembali ke kantor karna dia harus menandatangani beberapa file penting yang tidak bisa ditunda penandatangannya.


"Boss, aku sudah selesai, apa perlu aku menunggu boss?." kata Riko saat memasuki ruangan si boss.


"Tidak perlu Rik, kamu pulanglah lebih dulu." ujar Bryan, Riko juga melihat masih banyak yang harus Bryan kerjakan tidak mungkin baginya untuk menunggu bossnya selesai.


"Baiklah boss, saya pulang dulu." pamit Riko.


Bryan berjalan keluar setelah beres mengerjakan tugasnya, tubuhnya serasa sangat penat dan ingin segera pulang ke rumah, pasti istri dan anaknya sudah terlelap menunggunya, pikirnya demikian jadi Bryan mengurungkan niatnya untuk menelpon Clara.


Namun saat Bryan berjalan keluar dari kantor, langkahnya terhenti melihat sosok gadis yang tak asing baginya.


Gadis itu mendekat...


"Angelica...!!!" Bryan pikir Angelica sudah pulang, tapi ternyata dia masih berada digedung yang sama dengan Bryan.


"Bryan... mobilku mogok." ujarnya, Bryan pun menawarkan diri untuk mengecek mesin mobil Angelica.


"Mobilmu harus diderek, aku tidak bisa memperbaikinya ada kerusakan mesin yang cukup parah." kata Bryan santai.


"Duh... malam juga sudah larut..." lirih Angelica dia terlihat seperti orang kebingungan.


"Biar aku pesankan taxi online." kata Bryan hendak memencet nomor taxi langganannya tapi tiba-tiba Angelica menahan tanggannya.


Bryan menatapnya sinis sehingga Angelica melepaskan tangannya.


"Maafkan aku, kamu tidak perlu repot-repot menelpon taxi." ujarnya.


"Ya sudah kalau begitu, biarkan saya pergi." kata Bryan.


"Bryan tunggu... bisakah kamu mengantarku?" Angelica memohon dengan sangat.


Bryan terlihat berpikir...

__ADS_1


"Ok baiklah, karna kamu rekan bisnis saya, saya akan mengantarmu, tapi jangan pernah menganggap kebaikkan saya ini sebagai bentuk perhatian." ujar Bryan.


Setidaknya Angelica merasa senang, perlahan-lahan dia semakin mudah menerobos masuk ke dalam hati Bryan yang tak bisa Bryan sadari.


Ditengah perjalanan...


"Aku lapar, apa kamu sudah makan?" ujar Angelica mencairkan suasana sepanjang jalan mereka hanya diam dan Bryan sangat dingin tidak ada senyum sedikitpun diwajahnya.


"Belum." jawab singkat si Bryan.


"Kita mampir sebentar yuk ke restoran ayahku, kebetulan restorannya tidak jauh dari sini." katanya dengan tingkah sok anggun yang dibuat-buat.


"Emmm..." Bryan berpikir tidak ada salahnya dia mampir sebentar dari pada menahan rasa lapar karna seharian tidak sempat makan dikejar padatnya tugas.


"Mau ya, please, anggap aja sebagai tanda terima kasihku, dan kamu tidak perlu mengantarku sampai dirumah." ujar si Angelica.


"Ok, baiklah, aku tidak perlu repot mengantarmu." Bryan lega mendengarnya, jadi setelah makan Bryan bisa langsung pulang.


.


.


Bryan hatinya mulai goyah saat dia terus bertemu wanita yang pernah ada dimasalalunya, wanita yang pernah mengisi kekosongan hatinya, meskipun Bryan dulu tidak pernah mencintainya dan sudah menolak perjodohan mereka tapi Angelica pernah membuat hari harinya bersemangat sambil menanti hari pertemuannya dengan Clara.


Dan Angelica jugalah orang yang pernah mengajari Bryan tentang berbisnis, hingga Bryan bisa mengendalikan bisnis sangat baik seperti sekarang.


Di bilang cinta sih tidak...


Di bilang benci juga tidak...


Bryan hanya mulai merasa cocok dengan Angelica, karna dia cocok banget diajak ngobrol tentang bisnis.


Begitu banyak yang mereka bicarakan, mereka tertawa bersama, menikmati makanan bersama, sambil sesekali membahas masalalu mereka yang cukup lucu untuk dikenang.


Akhirnya Bryan tersadar saat alram ponselnya berbunyi, menunjukkan pukul 12.30 malam yang biasanya waktu itu Bryan gunakan untuk melaksanakan shalat tahajud.


"Maaf ya Angel, aku harus pulang malam sudah sangat larut, anak dan istriku pasti menungguku." Bryan bangkit dari tempat duduknya.


Angelica mengantar Bryan kedepan. Tiba-tiba Angelica menggandeng tangan Bryan membuat Bryan sedikit terperanjat mendapat perlakuan dari Angelica.


"Angelica, tanganmu..." lirih Bryan mencoba melepaskannya, lagi-lagi Angelica menahannya.


"Tenanglah disini aman, tidak akan ada yang melihat kita seperti ini." katanya, dengan tatapan yang seolah-olah dipenuhi sihir.


Entah kenapa Bryan terpengaruh sehingga dia membiarkan Angelica berjalan sambil menggandeng lengannya dengan senyuman yang terus menerus Angelica berikan pada Bryan, dan tak lama mereka sampai didepan restoran.


"Maaf ya aku hanya bisa mengantarmu sampai resto." kata Bryan, lengannya masih digandeng oleh Angelica.


"Iya makasih loh udah mampir kemari."


"Aku pulang dulu, ini sudah tengah malam."


"Lain kali mampir ke rumah aku juga ya." Angelica berlari menuju pintu restorannya, senyumnya begitu lebar menatap Bryan.


Bryan tersenyum dan mengacungkan jempol, pertanda dia ok.


Dia pun bergegas pulang dalam perjalanan dia terus menerus mengingat pertemuannya dengan Angelica yang membuatnya tidak bisa berkata-kata. Padahal sebelumnya Bryan terus menghindari wujud perempuan itu.

__ADS_1


"Assalamualikum, Ara, aku pulang." Bryan membuka pintu namun tidak mendapat jawaban. Dia tau sekarang istri dan anaknya pasti sudah tidur mengingat waktu sudah jam 1 malam.


Bryan menuju kamar dan mendapati anak istrinya tertidur pulas.


Dia pun membersihkan diri dan melaksanakan tahajud, lalu merebahkan tubuhnya disamping sang buah hati.


Ting ting...


Ponsel Bryan berdering beberapa notif masuk. Dia tersenyum melihat nama yang mengiriminya pesan di whatsapp. Ya, Bryan dan Angelica sempat bertukar nomor wa saat di resto tadi.


Diam-diam Clara membuka mata secara perlahan, dia mendengar ponsel Bryan terus berbunyi, tidak biasanya ponsel suaminya itu sangat sibuk dimalam hari.


Clara melirik suaminya yang asik bermain ponsel sambil senyum-senyum sendiri, sayangnya Bryan tidak menyadari istrinya bangun.


Ada rasa curiga dalam benak Clara karna tak biasanya Bryan pulang larut malam dan asik sendiri dengan ponselnya. Biasanya Bryan selalu mengabari Clara saat dia akan pulang tengah malam, tapi malam ini tidak ada, pulang-pulang malah bertingkah aneh.


Clara bangkit dan merek.


"Auhhh... perutku..." rengek Clara berpura-pura kesakitan, dan Bryan sontak kaget langsung menyimpan ponselnya kebawah bantal begitu mendengar suara Clara.


"Sayang, kamu bangun?" Bryan terlihat berpeluh-peluh karna dia pikir Clara tidak akan bangun.


"Apa ada yang sakit?" tanyanya.


"Tidak, bayinya mendendang perutku."


"Oh syukurlah." ucapnya seolah sama sekali tidak ada rasa khawatirnya.


Kemudian Bryan baring lagi dan mulai sibuk lagi dengan ponselnya, tatapan Clara mulai sendu melihat keanehan yang Bryan tunjukkan.


"Kamu sudah lama pulang Di?" tanya Clara lembut.


"Sudah." jawabnya singkat.


Clara memandang wajah Bryan yang sangat sibuk dengan ponselnya sampai dia tidak memandang wajah Clara.


"Kamu sudah makan, Di?" Clara mencoba berpikir positif.


"Sudah." lagi-lagi singkat dan dingin.


"Oh, syukurlah, ayo tidur Di, besok kamu bisa kesiangan."


"Tidurlah."


Lagi lagi dan lagi suara Bryan yang dingin terasa menyengat hati dan kuping Clara.


Clara yakin Bryan sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


Dia pun merebahkan kembali tubuhnya dengan membelakangi Bryan.


Clara merasa sesak melihat Bryan yang biasanya manis dan sangat perhatian pada dirinya, tiba-tiba berubah menjadi dingin dan acuh terhadap dirinya.


Bryan tertawa beberapa kali membaca pesan diponselnya, membuat hati Clara bertambah sakit, sesak hingga terasa sulit bernafas.


Tanpa Clara sadari air matanya jatuh membasahi bantal yang dia baringi.


Clara tidak hanya merasa Bryan berubah, tapi Bryan malah terlihat seperti abg yang sedang dimabuk asmara.

__ADS_1


Sesekali Clara sesegukkan menahan perih dihatinya, sedangkan Bryan malah cekikikan dengan ponselnya sepertinya sangat asik. Hingga akhirnya Clara memilih memejamkan mata dengan menahan segala rasa sakit dihatinya dan tetap berusaha berpikir positif.


__ADS_2