
Riko tengah mengerjakan tugas-tugas yang Bryan bebankan padanya, Riko sudah biasa melakukan hal tersebut dengan senang hati karna dia merupakan tangan kanan Bryan, satu-satunya orang yang Bryan percayai untuk menghandle tugasnya di kantor.
Wulan menerjang pintu ruangan Riko dengan sedikit kasar membuat Riko terperanjat dari duduknya langsung berdiri saat melihat Wulan datang dengan wajah kesal.
"Aku sudah tau, kamu ingin mengajakku makan siangkan, baby?" tanya Riko berpikir positif menggoda Wulan.
"Kenapa kamu ikut campur urusan Direktur dengan penasehat baru perusahaan, untuk apa kamu lakukan itu?" kata Wulan suaranya cukup keras sepertinya dia tidak menyukai tindakan Riko.
"Kenapa jadi kamu yang marah, aku kan hanya menjalankan perintah dari Direktur, bukannya aku ikut campur."
"Aku tidak suka ya kamu seperti itu, memangnya Angelica pernah melakukan kesalahan padamu sampai kamu mencari-cari sisi terburuknya."
"Ya aku hanya menjalankan tugas, aku kan sudah bilang."
"Yang bermasalah dengan Angelica itu Direktur bukannya kamu, biarkan saja Direktur yang menyelesaikannya sendiri, kamu tidak perlu terlibat dengan mereka."
"Kenapa kamu jadi seperti ini sih Wulan, kita bertiga tau Angelica orangnya seperti apa harusnya kita saling mendukung, lagipula ini baik untuk perusahaan, Angelica seorang koruptor dan bandar narkoba kita akan malu memiliki rekan bisnis seperti dia, apalagi dia itu penasehat tidak seharusnya kita mempertahankan orang sepertinya."
"Aku hanya ingin kamu tidak terlibat masalah Direktur dengan dewan penasehat, jika kamu masih ingin membantu Direktur maka silahkan pilih aku atau Direktur?" ujar Wulan menekan kata-katanya pada 2 pilihan.
"Pelankan sedikit bicaramu, aku tidak bisa memilih salah satu, Direktur itu hidupku sedari aku kecil aku bergantung hidup padanya, keluarganya yang telah memberiku kehidupan sampai aku bisa menjadi seperti sekarang, aku tidak bisa seperti itu pada Direktur."
"Lalu bagimu aku ini siapa? bukankah aku calon istrimu, kita akan memulai hidup yang baru, apa kamu masih ingin bergantung hidup padanya?"
"Cukup Wulan, ini tidak ada sangkut pautnya dengan rencana pernikahan kita, aku mohon jangan memberiku 2 pilihan sulit seperti ini."
"Terserah kamu saja, pikirkan baik-baik..." ucapnya berlalu pergi tanpa memberi Riko kesempatan untuk bicara.
"Kenapa kamu jadi berubah, Wulan, apa yang terjadi denganmu..." batin Riko mulai gelisah.
"Aahh sudahlah biarkan saja." pasrah Riko.
*****
"Ara... aku pulang..." Bryan berjalan masuk kedalam rumahnya dan disambut hangat oleh sang istri.
Cipika cipiki dulu aahhh... hal itu kembali mereka lakukan.
"Tumben awal pulangnya Di masih jam makan siang loh, sepertinya kamu seneng betul?" kata Clara.
"Audira dimana, sayang?" kata Bryan.
"Ada main sama bibi." jawab Clara.
"Oh sini istriku, duduklah." Bryan menuju ruang tamu menyuruh istrinya duduk disofa, Clara pun menurutinya dan Bryan duduk disampingnya.
"Kamu belum menjawabku, apa yang membuatmu senang hari ini?" tanya Clara lagi.
"Rahasia sayang, kamu akan aku beritahu setelah semuanya berjalan lancar." kata Bryan tersenyum simpul.
"Ok baiklah aku tidak memaksa, boleh aku bertanya sesuatu?" ucap Clara.
"Apa sayang, katakanlah!" pinta Bryan.
"Siapa Angelica?" tanya Clara.
__ADS_1
"Aku kan sudah memberitahumu tentangnya."
"Aku hanya ingin tau lebih banyak tentang dia."
"Ok baiklah aku akan menjawabnya, dia itu pernah satu perguruan tinggi denganku dan Riko sewaktu di Swiss dulu." jelas Bryan.
Clara menatap Bryan dengan tajam, dia ingin kejelasan yang lebih mendetail lagi.
"Tenang Ara, aku akan menceritakan semuanya padamu." lirih Bryan dia takut melihat tatapan sang istri.
"Seperti yang aku jelaskan kemarin mengenai dia, dia dari dulu memang sangat menyukaiku, orang tuanya teman pamanku ya jadinya kami dijodohkan."
"Hanya itukah?"
"Iya aku sempat dekat dengannya tapi itu dulu, dulu banget, aku bahkan tidak ingin mengingatnya."
"Kenapa?"
"Bukan aku yang mendekatinya, dia yang selalu mendekatiku, paman dan bibi memintaku untuk dekat dengannya, iyaaa aku terpaksa dekat dengan dia sesuai kemauan paman dan bibi."
"Lalu apa lagi?"
"Dia orang yang mengajariku tentang bisnis, kami sering bicara tentang bisnis saat masih kuliah."
"Pantesan kalian sangat akrab sekarang ternyata kalian pernah dekat."
"Tidak Ara bukan seperti itu."
"Lalu apa namanya?"
"Lalu?"
"Lalu aku menolak perjodohan itu, dan dia pergi ke New York dengan penuh rasa benci terhadapku."
"Terus..."
"Gitu ajaaa, dan baru ketemu sekarang..."
"Ohhh jadi ini namanya clbk?"
"Sungguh Ara, sedikitpun aku tidak pernah menyukainya." ucap Bryan sungguh-sungguh.
"Hari itu..."
"Ada apa dengan hari itu?"
"Kenapa kamu diam-diam bertemu dengannya?" Kata Clara meninggikan suaranya.
"Aku akui aku salah Ara, tapi sungguh aku tidak menjalin hubungan apapun dengannya."
"Kamu membiarkannya menggandeng tanganmu."
"Maafkan aku Ara, aku hanya menghargainya sebagai rekan bisnis."
Lagi lagi Clara menatap Bryan dengan tajam.
__ADS_1
"Ara jika kamu tidak percaya silakan tanya Riko, dia tau segalanya tentangku dan Angelica di masalalu." kata Bryan.
"Aku tidak perlu mendengar penjelasan dari orang lain, aku hanya perlu kejujuran darimu." kata Clara.
"Besok aku akan memecatnya, aku sudah kumpulkan semua bukti-buktinya, jadi istriku jangan khawatir lagi yaaa." kata Bryan tersenyum manis.
"Untuk apa dipecat, aku tau kamu senangkan bertemu dengannya?"
"Tanyakan pada Riko, aku tidak pernah suka bertemu dengannya, aku sering mengusirnya." jelas Bryan.
"Oo sekarang aku tau dia sering kekantor untuk menemuimu."
Bryan bingung harus menjelaskan apa lagi pada istrinya.
"Bukan seperti itu sayang, tapi maksudku..."
"Di, aku selalu percaya padamu, jangan sia-siakan kepercayaan terakhir yang kuberikan padamu." kata Clara memotong pembicaraan.
Bryan pun seketika langsung memeluk Clara. Hanya rasa percaya dari sang istri yang Bryan perlukan sekarang.
"Anak papa..." tiba-tiba Bryan meletakkan tangannya diatas perut Clara dan mengelusnya.
"Iihhh Didi, geliii akunya..." kata Clara.
"Aku tidak sabar menantikan mereka Ara..."
"Aku juga seperti itu Di, mereka pasti imut-imut sepertiku."
"Enak aja, mereka pasti mirip sepertiku, aku ini sangat tampan..." menyombongkan diri.
"Tapi aku ini juga sangat cantik..." tidak mau kalah.
"Iya deh Ara, yang satu mirip denganku, yang satunya mirip kamu, mereka sempurna karna kita orang tuanya." Bryan tertawa.
"Dasarrr... sok kecakepan." Clara menjitak jidat Bryan.
"Auhhhh..." rengeknya.
"Ara, kamu mau kasih nama siapa untuk putra dan putri kita?" tanya Bryan memikirkan nama untuk bayi mereka.
"Aku ingin kamu yang menamai anak kita, Di."
"Kira-kira kamu mau kasih nama mereka apa?" tanya Clara.
"Hmmm... Khanza dan Keysara, gimana bagus tidak?" Bryan meminta pendapat.
"Khanza Adipati Mirza dan Keysara Adipati Mirza, bagaimana kamu bisa memikirkan nama sebagus itu Di?" Clara mengeja satu persatu nama bayinya seakaan tak percaya.
"Aku sudah memikirkannya saat pertama kali aku tau kamu sedang hamil anak kembar laki-laki dan perempuan sayang." Bryan mengakuinya dan tersenyum.
"Ahhh Didi, aku bahkan tidak pernah terpikir akan menamai mereka apa, tidak salah aku meminta suamiku."
"Iya donk sayang, aku ini ayah yang penuh persiapan..." katanya
"Sehat-sehat di dalam sana sayang, papa dan mama sangat merindukan kalian." Bryan tampak gemas mengusap-usap perut sang istri, Clara hanya bisa menahan geli dan mereka pun tertawa bersama.
__ADS_1