DARI HATI

DARI HATI
EPISODE 107


__ADS_3

Rendi datang ke kediaman orang tua Clara.


"Untuk apa kamu kesini lagi?" ujar mama sedikit kaget melihat Rendi.


"Jika kamu hanya ingin mengganggu anak saya sebaiknya kamu pulanglah, anak saya sudah bahagia sekarang." lanjut mama seolah tak memberi Rendi kesempatan untuk bicara.


"Ma, Rendi hanya ingin menemui putri Rendi, bolehkan ma?" ujar Rendi dengan sopan.


"Kamu itu ayah yang tidak berguna, setelah Audira kamu terlantarkan sekarang seenaknya kamu ingin menemuinya, dasar tidak tau malu."


"Tolong ma izinkan Rendi bertemu dengannya, bagaimanapun dia anak Rendi ma, Rendi ayahnya."


"Pergi kamu Rendi, saya tidak ingin melihat batang hidungmu lagi, kamu tidak puas sudah menghancurkan hati anak saya, dan saya tidak akan membiarkan Audira bertemu ayah yang tidak bertanggung jawab sepertimu."


Susan bersama Audira mendengar keributan yang terjadi diluar dan Susan membawa Audira keluar untuk melihat keributan tersebut.


"Audira..." ujar Rendi tersenyum melihat Audira keluar.


"Susan, bawa Dira masuk inilah mantan suami Clara yang tidak bertanggung jawab itu." ujar Adinda.


"Ma, Rendi sadar ma Rendi memang salah, Rendi tidak akan mengganggu Clara tapi tolong izinkan Rendi memeluk anak Rendi."


"Adinda, biarkan saja nak Rendi menggendong putrinya bagaimanapun dia tetaplah ayah kandung Audira." ujar Susan melepaskan gendongannya memberikan Audira pada Rendi.


Sesaat Rendi seperti sedang mencurahkan rasa rindunya pada Audira, namun saat Adinda dan Susan lengah Rendi segera berlari kearah mobilnya untuk membawa Audira kabur.


Adinda dan Susan mengejar Rendi.


"Rendi buka pintu mobilnya, kembalikan Audira." ucap Adinda menggentar-gentar pintu mobil Rendi namun Rendi tidak memperdulikannya.


"Saya tidak akan menyerahkan anak ini, jika kalian ingin anak ini selamat maka batalkan pernikahan Clara dan Bryan." ancam Rendi.


"Rendi, kami akan melaporkanmu ke polisi."


"Jika kalian melapor polisi maka anak ini akan mati."


"Rendi, dia itu anakmu tolong jangan sakiti dia."


Rendi langsung tancap gas melaju kencang dengan mobilnya, Adinda dan Susan tidak bisa mengejarnya karna mereka tidak bisa mengemudi mobil sedangkan Kusuma dia sedang tidak dirumah dia berada dikantornya.

__ADS_1


"Susan, cepat beritahu Clara dan Bryan."


Butik Cantika


"Nona ini sangat cantik, memakai gaun apapun pasti cocok karna ukuran tubuh nona juga sangat ideal imut-imut." ujar pemilik butik.


"Kakak ini bisa saja... saya ingin yang sederhana saja tapi tetap terlihat elegan."


"Mari Nona saya tunjukkan."


"Disini kami juga menyediakan gaun pernikahan ala orang cina atau korea, nona ingin memilih yang mana?"


"Saya ingin gaun yang ini saja kak, gaun yang tertutup karna saya ingin menggunakan hijab di hari pernikahan saya nanti."


Sementar Bryan dia sudah selesai menyiapkan baju untuk hari pernikahannya Bryan pun segera menghampiri Clara.


"Kak Can, apa calon istri saya belum juga menemukan gaun yang cocok untuknya?" ujar Bryan.


"Aku sudah menemukan sayang." jawab Clara.


"Semoga pernikahan kalian berjalan dengan lancar ya Tuan Bryan dan Nona Clara."


Saat asyik mengobrol dengan pemilik butik tiba-tiba Clara mendapat telpon, Clara pun mengambil ponsel dalam tasnya ternyata telpon dari ibu.


"Apa Rendi membawa Audira kabur bu?" Clara kaget dan Bryan juga kaget.


"Bu, kami pulang sekarang juga." Clara pun menutup telponnya.


"Ara bagaimana Rendi bisa membawa Audira kabur?" tanya Bryan.


"Kita harus segera mencarinya aku takut Rendi akan melakukan sesuatu padanya."


"Ayo sayang kita pulang, kita cari Rendi."


Bryan dan Clara pun bergegas mencari keberadaan Rendi untuk menemukan Audira tapi sebelum itu mereka pulang ke rumah sebentar untuk memastikan keadaan rumah apakah baik-baik saja.


Bryan mendapat pesan dari Rendi.


Isi Pesan

__ADS_1


"Jika kamu ingin anak ini selamat, maka serahkan Clara padaku, aku tunggu di gedung tua dekat perbatasan kota." tulisnya.


"Brengsek!!! pengecut." ucap Bryan tiba-tiba membuat kaget mama, ibu, dan Clara.


"Ada apa Sir?" tanya Clara.


"Ara, kamu tetaplah berada dirumah aku sudah tau dimana laki-laki itu sekarang."


Bryan hendak beranjak keluar dari rumah tapi Clara mengejar dan menghentikannya.


"Aku ikut, aku ingin memastikan Dira baik-baik saja."


"Clara, kamu dirumah saja nak, Rendi itu nekat dia sangat berbahaya."


"Dengarkan kata ibu Clara, jangan ikut denganku dia memintaku untuk menyerahkan kamu, aku tidak akan pernah menyerahkan kamu padanya, kamu bukan barang yang seenaknya diserahkan pada siapa saja."


"Ini menyangkut Audira, biarkan aku ikut, kita harus bersama-sama menghadapi Rendi."


"Ma, ibu, bagaimana ini Clara ingin ikut bersamaku?"


"Ya sudah kalian berdua boleh pergi, tapi nak kamu harus meminta bantuan Riko juga kalian jangan pergi berdua, dan kami akan menghubungi polisi."


"Baiklah bu, ayo Clara."


Bryan dan Clara pun segera pergi ke gedung tua mereka berharap bisa mendapatkan Audira kembali.


Akhirnya sampai disebuah gedung tua...


"Sir, kita harus masuk ke dalam aku takut Rendi macam-macam padanya." lirih Clara.


"Tenang sayang, kita tunggu Riko sebentar, ini tidak mudah Ara aku tidak mau Rendi bermain curang kamu dan Audira sekarang adalah tanggung jawabku."


Clara malah nekat berlari masuk ke dalam Bryan berusaha mengejarnya sehingga terpaksa Bryan juga harus masuk ke dalam dan beruntung bisa menangkap Clara.


"Ara, aku sudah bilang kamu jangan nekat kita tidak tau bahaya apa yang sedang Rendi rencanakan, percayalah Dira akan baik-baik saja, Rendi hanya mengelabui kita agar aku menyerahkan kamu padanya."


"Maafkan aku Sir, ibu mana yang tidak khawatir saat anaknya diculik."


"Tenanglah Ara, kita pasti akan menemukan mereka, sekarang kita keluar sebelum Riko dan polisi datang kita jangan bertindak sendirian."

__ADS_1


Saat Bryan dan Clara berjalan menuju pintu keluar tiba-tiba seseorang memukul tengkuk kepala mereka dari belakang, sehingga membuat Bryan dan Clara pingsan.


__ADS_2