
Kantor BC-E Grup
Seperti biasa kantor ini suasananya selalu baik. Pegawai kantor masing-masing bekerja pada tempatnya.
"Ayo Wulan, ke meeting room." kata Riko.
"Aku tidak mau..." tolaknya.
"Kenapa, apa kamu masih marah padaku?"
"Tidak, hanya tidak ingin terlibat dengan masalah kalian."
"Kok kamu seperti ini?"
"Untuk apa mengadakan jumpa pers, kalian hanya ingin mempermalukan orang lain."
"Terserah kamu saja, yang jelas Angelica memang orang yang bermasalah tidak ada salahnya memberi dia sedikit pelajaran." ketus Riko berjalan keluar dari ruangannya untuk menghampiri Direkturnya.
"Ahhh..." pasrah Wulan mau tidak mau mengikuti Riko pergi.
"Kamu masih mengejarku?" menyadari Wulan mengikuti jalannya dari belakang.
"Emang ada yang melarang?" ketusnya.
"Tidak, kamu sendiri yang melarang dirimu sendiri."
"Aku sendiri yang bisa mengubah keputusanku." jawabnya.
"Maafkan aku Wulan, entah kenapa aku merasa ada yang aneh denganmu." batin Riko curi-curi pandang menoleh kearah Wulan, Riko merasa ada sesuatu yang sedang Wulan rahasiakan darinya tapi Riko masih belum bisa menebak rahasia itu.
Riko dan Wulan menghampiri Bryan di ruangannya.
"Sir, waktunya jumpa pers." kata Riko.
Bryan bangkit dari kursi kerjanya mengambil jassnya lalu berjalan kearah pintu dimana Riko dan Wulan berdiri.
"Kamu masih ingat apa yang harus kamu lakukan." kata Bryan bicara pada Riko.
"Ingat Sir, semuanya sudah saya siapkan."
"Kerja bagus..." Bryan memberinya pujian.
Mereka memasuki lift turun ke lantai 10 menuju meeting room untuk mengadakan konferensi pers.
MEETING ROOM
Disana sudah berdatangan client-client penting dan para wartawan yang akan menyorot setiap pembicaraan dan tindakan yang dilakukan selama pelaksanaan jumpa pers tersebut.
"Apa dia sudah sampai?" tanya Bryan pada Wulan.
"Sudah Sir, mereka menunggu di dalam." jawab Wulan.
"Sibuk sekali dengan ponselmu?" Riko menyelidiki Wulan yang tampak mencurigakan.
"Ahhh bukan siapa-siapa, ini hanya temanku." katanya.
"Sejak kapan dia punya teman di Indonesia..." gumam Riko penasaran.
Bryan memasuki meeting room. Direktur ini selalu terlihat sempurna dimata orang lain, auranya sangat kuat, berbakat, dan sangat kompeten membuat media tak bisa luput untuk mengambil potret dirinya.
"Selamat pagi semuanya." sapa Bryan dengan ramah, sembari berjalan menuju kursi yang sudah disediakan.
"Pagi pak..." jawab mereka serentak.
Dari sisi kiri tak jauh dari tempat Riko duduk, ada Angelica yang terus memandangi direkturnya, dia bertingkah sok anggun agar bisa menarik perhatian Bryan. Namun sayangnya Bryan sama sekali tidak peduli padanya, Bryan sengaja tidak memandang Angelica sedikitpun agar Angelica tidak menganggap pandangannya sebagai bentuk perhatian.
"Apa bisa kita mulai sekarang?" tanya Bryan dengan mengarahkan pandangannya pada semua tamu.
"Silakan pak." ujar salah satu client mempersilahkannya.
__ADS_1
"Saya akan menunjuk sekretaris saya untuk mewakili saya, silakan Wulan pimpin persnya.
Wulan pun bangkit dari duduknya, dan memimpin acara tersebut.
Awalnya jumpa pers untuk menyelenggarakan acara amal yang akan diadakan oleh perusahaan dengan melakukan kerjasama bersama seleb-seleb ternama ditanah air itu berjalan sesuai harapan para client.
"Sebelum acaranya berakhir, saya ingin menambahkan beberapa poin paling penting dari diadakannya konferensi pers ini yang akan ditampilkan lewat papan whiteboard ini." kata Bryan bangkit dari duduknya menuju papan putih yang biasa digunakan untuk memantulkan gambar atau semacamnya melalui laptop yang dihubungkan menggunakan cahaya yang terpantul dari proyektor.
Client-client sudah tidak sabar untuk menyaksikannya kira-kira apa yang ingin Bryan tunjukkan.
"Riko nyalakan proyektornya, dan putar videonya." pinta Bryan.
Riko bangkit dari duduknya dan melangkah untuk melakukan perintah dari Bryan.
Jreng...
Video pun diputar menampilkan beberapa kasus yang pernah menjerat Angelica, para client seketika menatap Angelica dengan tajam satupun dari mereka tidak ada yang menyangka bahwa Angelica pernah terlibat koruptor dan merupakan bandar pengedar narkoba.
Angelica benar-benar kaget seakan dia tak menyangka Bryan akan mempermalukannya di depan umum seperti ini. Angelica langsung angkat bicara tidak terima dengan apa yang Bryan lakukan.
"Apa maksudnya semua ini, Direktur?" kata Angelica.
"Sebelum perusahaan lain menjadi korban dari apa yang telah kamu lakukan pada perusahaan sebelumnya maka saya Bryan Adipati Mirza menyatakan ini untuk memecat Anda dan membatalkan semua kerjasama yang sudah disepakati." kata Bryan dengan bangganya.
"Tidak kami sangka nona, Anda seorang koruptor berapa banyak uang yang sudah Anda gelapkan yang seharusnya uang itu untuk kepentingan masyarakat, bahkan Anda seorang pengedar narkoba disini Anda berlagak menjadi dewan penasehat, benar-benar memalukan sebaiknya Anda kembali ke dalam penjara, tidak seharusnya Anda berada di sini." satu persatu kalimat hujatan terus terlontar keras ke arah Angelica.
"Direktur, saya tidak terima Anda memecat saya dengan cara seperti ini, kita bisa bicara baik-baik dilingkungan yang lebih tertutup, mau ditaruh dimana muka saya semua media merekam kejadian ini." kata Angelica tidak terima.
"Pak Bryan pecat saja dia, kembalikan dia ketempat asalnya." ujar seorang client.
"Angelica, perusahaan manapun tidak akan ada yang mau menerima orang seperti Anda, bersiap-siaplah polisi akan segera kemari." kata Bryan.
Tidak lama kemudian polisi pun datang.
"Nona Angelica, Anda kami tahan." polisi tersebut lansung memegang kedua tangan Angelica.
"Sama-sama pak." katanya.
"Lepaskan saya..." Angelica mencoba memberontak.
"Bicarakan saat di kantor." tegas pak polisi.
"Lepaskan, saya sedang hamil kalian tidak bisa menahan saya." elaknya. Semua yang mendengarnya kaget saat Angelica mengatakan bahwa dirinya sedang hamil.
"Direktur, saya hamil anak Anda, jadi ini cara Anda menghindar dari tanggung jawab." kata Angelica.
"Pak, beri saya kesempatan untuk bicara padanya." polisi pun merenggangkan tangan Angelica.
"Apa maksudmu Angelica, kamu ingin menjatuhkan saya?" tanya Bryan jelas dia kaget.
"Kamu bisa memecat atau menjebloskan saya ke dalam penjara, tapi tidak dengan anak yang ada di dalam kandungan saya, kamu tidak bisa lari dari tanggung jawab." kata Angelica semakin membuat Bryan bingung dan ingin menamparnya.
"Anak, anak siapa yang kamu maksud, sejak kapan aku menghamilimu? omong kosong apa ini Angelica..."
"Ini bukan omong kosong, silakan kamu jebloskan saya ke dalam penjara tapi kamu harus bertanggung jawab jangan menghindarinya seperti ini."
Bryan bertambah bingung dia sama sekali tidak mengerti apa yang Angelica bicarakan.
"Tutup mulutmu Angelica!!!" bentak Bryan dengan keras.
"Saya tidak bisa diam ini adalah faktanya, jika kalian tidak percaya saya punya buktinya bahwa saya benar-benar hamil dan laki-laki yang ada dihadapan kalian semua inilah yang telah melakukannya." kata Angelica.
Angelica mengambil ponselnya dan satu alat kontrasepsi hasil tes kehamilan, dia membembengkan hasil tersebut didepan client-client Bryan dan media, satu lagi yang paling menggegerkan Angelica memperlihatkan beberapa fotonya bersama Bryan saat sedang di hotel dimana mereka melakukannya.
Bryan tidak habis pikir permainan apa yang sedang Angelica rencanakan, sedangkan Bryan merasa tidak pernah sama sekali melakukan hal murahan seperti itu bersama Angelica bahkan Bryan tidak bisa mengingat apapun tapi bagaimana bukti-bukti itu bisa ada yang menyatakan dirinya memang pernah melakukannya bersama Angelica.
"Ini tidak mungkin, bagaimana aku tidak bisa mengingat satu pun apa yang sudah terjadi..." batin Bryan seakan tak menyangka dirinya bisa melakukan hal menjijikkan seperti itu.
"Pak Bryan, bukankah bapak sudah beristri, bagaimana orang terhormat seperti bapak bisa melakukan hal murahan seperti ini." Kata seorang client merasa kecewa.
__ADS_1
"Jadi ini sebabnya bapak menjatuhkan nona Angelica, semua itu karna bapak ingin menghindar dari tanggung jawab, sangat memalukan." kata salah satu client juga yang mulai kecewa.
"SEMUANYA DIAM..." tegas Bryan dengan suaranya yang nyaring sehingga semuanya pun diam.
"Saya dijebak, dia pasti menjebak saya." Bryan membela diri.
"Bagaimana bisa dijebak, semuanya sudah jelas pak Bryan, Anda memang laki-laki yang tidak bisa bertanggung jawab." kata clientnya.
Bryan mengalihkan pandangannya kearah media-media yang sedang menyorot acara tersebut.
"Matikan kamera kalian semua dan hapus semua file yang kalian dapat, tidak ada yang boleh menyiarkan kejadian hari ini." ancam Bryan menatap tajam semua awak media.
"Riko, usir keluar semua media." tegas Bryan, Riko pun melakukan sesuai perintah atasannya dan mengunci rungan tersebut rapat-rapat agar media tidak bisa menyorotnya.
"Pak, kami tidak bisa melanjutkan hubungan kerjasama dengan perusahaan bapak, kami tidak bisa menerima client tidak bertanggung jawab seperti bapak." ujar salah satu client dan client yang lain membenarkannya.
"Tolong semuanya dengarkan saya, saya dijebak oleh wanita ini..." Bryan mencoba membela diri.
"Sebaiknya masalah pribadi seperti ini diselesaikan diluar jam kerja, jangan dibawa-bawa kemari apalagi dalam acara jumpa pers seperti ini, saya benar-benar kecewa pak." sesal salah satu client.
"Ini rapat terburuk yang pernah saya hadiri, bagaimana mungkin masalah pekerjaan bisa bercampur dengan masalah pribadi, sangat tidak profesional, saya menyesal menghadiri rapat hari ini." lagi-lagi client banyak yang kecewa.
"Kami yang hadir dalam jumpa pers hari ini memohon maaf pak, kami tidak bisa lagi melakukan kerjasama dengan bapak, sekali lagi kami minta maaf, kami semua permisi pak."
Client yang tadinya sangat mendukung rencana Bryan untuk menyelenggarakan acara amal kini keluar dari ruangan tersebut dengan wajah penuh kekecewaan beberapa diantara mereka merupakan client yang sudah sejak lama melakukan kerjasama dengan BC-E Grup namun hari ini mereka memutuskan untuk berhenti melakukan kerjasamanya karna merasa sudah dikecewakan oleh Direktur perusahaan tersebut.
Saat ini Bryan tidak memikirkan client-clientnya yang pergi meninggalkannya, Bryan hanya memikirkan sang istri, dia tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi jika Clara mendengar berita ini.
"Aku yakin bayi didalam perutmu bukan anakku." kata Bryan.
"Ini anakmu Bryan, kenapa kamu tidak mengakuinya, aku sudah menyerahkan semuanya untukmu." kata Angelica.
"Pak polisi, tolong tangkap wanita tidak waras ini." pinta Bryan.
"Maaf pak, kami tidak bisa menahan wanita yang sedang hamil, selama ibu ini hamil kami tidak akan menahannya, tapi kami tetap akan mengawasinya sampai bayinya lahir dan setelah itu kami bisa menahannya." jelas pak inspektur.
"Kami permisi pak." ujar Inspektur mengundurkan diri.
"Aarghhh..." Bryan geram dan mengacak rambutnya, dia merasa tertekan dengan masalahnya.
"Bryan, aku hanya ingin kamu bertanggung jawab dan mengakui janin yang ada dalam perutku ini." pinta Angelica dengan wajah memelas kasihan.
"Aku tidak sudi mengakui kesalahan yang tidak pernah aku lakukan, aku tidak percaya dengan wanita sepertimu." tegas Bryan.
"Jika kamu tidak percaya maka kita bisa melakukan tes DNA untuk membuktikan kebenerannya." kata Angelica.
"Baiklah jika hasilnya keliru maka kamu harus meninggalkan negara ini sejauh mungkin dan jangan pernah menemuiku lagi apalagi mengganggu istriku, dan satu lagi jangan pernah kamu mengadukan kejadian ini pada istriku selama hasil tes DNA belum keluar." tegas Bryan menekan kata-katanya.
"Sir, aku kecewa padamu, ternyata ini alasannya kamu memintaku untuk mencari bukti-bukti tentang Angelica karna kamu ingin menyembunyikan semua hal bejat yang kamu lakukan." kata Riko kecewa, Riko sangat kecewa.
"Aku pikir aku sudah sangat mengenalmu Sir, karna kita tumbuh besar bersama dirumah yang sama, tapi hari ini kamu membuktikan bahwa aku sama sekali tidak mengenal siapa Sir orang yang sangat kupercayai hari ini sudah merusak rasa percayaku." lanjut Riko.
"Rik, dengarkan aku ini belum tentu salahku, aku mohon Rik tetaplah mempercayaiku, tolong Rik jaga apa yang telah terjadi hari ini jangan sampai Clara mengetahuinya." pinta Bryan memohon dengan sangat.
"Nona akan lebih kecewa dariku Sir, tenanglah aku tidak akan mengatakannya, tapi untuk saat ini aku tidak bisa mempercayaimu lagi Sir, maaf, aku pamit Sir."
"Riko, Riko, jangan pergi Rik..." panggil Bryan tapi Riko masih pergi dia sudah terlanjur kecewa.
Saat Bryan hendak mengejar Riko yang pergi bersama Wulan, tiba-tiba Angelica memeluknya.
"Jangan tinggalkan aku Bryan, aku anak yatim piatu bagaimana bisa aku membesarkan bayiku sendirian, aku perlu kamu di sisiku." lirihnya, dengan kasar Bryan melepaskan diri dari dekapan Angelica.
"Jangan pernah menyentuhku, aku tidak akan pernah mengakui anak ini selama tidak ada buktinya." tegas Bryan.
"Tapi ini anakmu Bryan..."
"Aku tidak peduli..."
Bryan melangkah pergi keluar dari meeting room kini tinggal Angelica sendirian. Angelica merasa sangat kesal Bryan masih saja menolaknya.
__ADS_1