
Bryan terlihat keluar dari ruangan setelah selesai mengadakan rapat, Wulan masih setia berada disisinya karna Wulan masih menjabat sebagai sekretaris Bryan.
Riko datang menghampiri Bryan dan Riko mengusir Wulan lalu mereka terlihat membahas sesuatu.
"Sir, investor dari korea akan datang besok."
"Iya Rik, saya sudah menerima infonya dari Wulan."
"Sir, saya punya saran!"
"Saran apa?"
"Sir, Tn. Kim itukan investor besar diperusahaan kita dan ini pertama kali beliau datang ke Indonesia, bagaimana kalau kita memperlakukan Tn. Kim sedikit berbeda dari investor lainnya."
"Maksudmu? saya benar-benar tidak mengerti Rik."
"Begini Sir, saya dengar sekarang ada resto baru bernuansa korea gitu, mulai dari masakkannya, minuman dan tempatnya juga benar-benar strategis mantap deh pokoknya."
"Lalu, maksudmu apa Rik, kamu tau tidak dari tadi bicaramu hanya mutar-mutar saja."
"Maksud saya begini Sir, Tn. Kim berasal dari korea maka tidak ada salahnya kan jika kita mengajaknya berkunjung ke restoran itu untuk makan siang."
"Ya ampun Rik, sekarang saya mengerti, kenapa kamu tidak to the point saja Rik tidak perlu malu-malu, sebenarnya kamu kan yang pengen ke sana." Ucap Bryan sambil tertawa geli.
"Ah Sir! Tapi Sir memang benar saya pengen banget kesana."
"Saya sudah menduganya." ucap Bryan.
"Sir tau, resto itu masih baru tapi pelanggannya selalu penuh setiap hari tidak peduli siang atau malam, makanannya enak-enak banget, selain menjual makanan khas korea resto itu juga menyediakan makanan khas Indonesia, kata orang-orang resto itu memiliki koki terbaik yang juga merupakan pemilik resto itu sendiri, Sir bisa bayangin gak sih betapa hebatnya dia."
"Iya mungkin pemilik resto itu hidupnya memang beruntung."
"Sir, mau tau gak siapa pemilik restoran korean foods itu?"
__ADS_1
"Siapa Rik?" tanya Bryan tiba-tiba penasaran.
"Pemiliknya seorang wanita Sir, kata orang-orang wanitanya cantik banget Sir aduhai deh pokoknya, tapi sayang Sir dia janda anak 1."
"Rik, sepertinya kamu tidak perlu menyampaikan itu kepada saya." Bryan kesal dan mencoba menghindari Riko tapi Riko malah semakin ngeyel bercerita.
"Sir tau tidak?"
"Apa lagi Rik?"
"Kalau aku bisa mendapatkan si pemilik resto itu maka aku akan menjadi laki-laki yang paling beruntung Sir, aku jadi tidak sabar ingin kesana..."
"Huh!" Bryan hanya bisa menghela nafas.
"Sir, doakan saya ya semoga kali ini saya bisa menemukan jodoh saya di resto itu."
"Ya terserah kamu saja, Rik." Sahut Bryan sambil tersenyum karna kekonyolan temannya itu.
Di Sisi Lain
Clara benar-benar senang usahanya tidak sia-sia bahkan sampai mendapat penghargaan dan itu jauh diluar dari dugaannya.
Clara juga diundang untuk hadir sebagai juri dalam acara kompetisi memasak antar asia yang akan diadakan di Seoul, Korea.
Clara benar-benar merasa tersanjung atas undangan yang di dapatnya namun banyak yang harus Clara pertimbangkan untuk pergi kesana sehingga Clara memerlukan waktu untuk membuat keputusan.
"Selamat ya Clara!" Rendi memberikan sebuah buket bunga sebagai tanda menghargai atas ke suksesan Clara.
"Terima kasih." ketus Clara.
"Aku tidak menduga usahamu bisa sesukses ini, kamu benar-benar hebat Clara maaf ya aku sempat meragukan kemampuanmu."
"Biasa saja Ren, karna terkadang orang yang sering diremehkan justru orang itulah yang paling bersemangat untuk bangkit." Jawab Clara sehingga Rendi hanya bisa menelan liurnya dengan susah payah.
__ADS_1
"Ma, pa, Rendi pamit pulang dulu ya masih banyak kerjaan di kantor."
"Iya nak Rendi, sering-sering ya temui Clara." Ucap mama.
******
"Clara setelah ini apa rencanamu?" tanya mama.
"Belum tau ma."
"Ambil saja tawarannya sayang." ucap mamanya.
"Ini kesempatan bagus agar usahamu bisa segera go internasional." sambung ayah.
"Tapi ma, pa, Clara tidak bisa meninggalkan Audira apalagi dia masih sangat kecil sedangkan Rendi dia itu sama sekali tidak peduli dengan Audira."
"Dira kan ada mama dan papa yang menjaganya."
"Lagi pula acaranya masih lama, Clara tidak ingin memikirkan itu dulu, Clara permisi lanjut kerja dulu ma, pa."
"Anak itu kesempatan bagus malah di sia-siakan, selalu Audira yang jadi masalahnya, bahkan Audira itu bukan anaknya." gumam mama yang ternyata didengar oleh Clara.
"Walau Dira bukan anak Clara ma, tapi Clara sudah menganggapnya seperti anak Clara sendiri, Clara yang merawatnya sedari dia bayi."
"Iya sayang mama tau, tapi kalau kamu segera menikah dengan Rendi kamu tidak perlu bekerja keras seperti ini, kamu bisa bersantai dirumah sambil menjaga Dira."
"Ma, cukup! Saat ini Clara tidak ingin membahas pernikahan, Clara masih ingin berkarir agar nanti masa depan Audira bisa terjamin dan Clara tidak mau bergantung hidup dengan Rendi."
"Tapi Rendi itu bisa menjamin masa depan anaknya, dan Rendi juga sudah menyelamatkan kamu sewaktu di Swiss Clara, dia tulus sama kamu."
"Iya dia bisa menjamin masa depan Audira, tapi mengenai ketulusan Clara rasa tidak ma, jika dia tulus dia tidak akan menikahi sahabat Clara sendiri."
"Itukan sudah lama terjadi, sekarang yang terpenting Rendi masih setia menunggu kamu sampai kamu mau menerimanya."
__ADS_1
"Cukup ma! andai pun Clara ingin menikah lagi Clara akan mencari calon suami Clara sendiri, yang jelas bukan Rendi."
Clara berlalu meninggalkan kedua orang tuanya untuk melanjutkan pekerjaan.