DARI HATI

DARI HATI
EPISODE 81


__ADS_3

Tuan Kim terpesona dengan kebijaksanaan dan kecantikan Clara yang benar-benar pantas menjadi seorang boss sehingga Tuan Kim tidak bisa berhenti memandangi Clara meskipun Tuan Kim sedang menyantap makanan sedangkan Clara hanya bisa menundukkan kepalanya, Bryan merasa terganggung karna Tuan Kim yang sudah tua itu masih saja genit melirik-lirik Clara tapi sayang Bryan cuma bisa menahan emosinya, jika Tuan Kim bukan orang penting bagi perusahaannya pasti Bryan sudah melenyapkannya karna berani menggoda Clara.


"Kimchi ini sungguh lezat, unik, dan rasanya yang khas membuat saya benar-benar ketagihan, saya sangat suka semua menu di resto ini." Ujar Tn. Kim selesai makan.


"Miss Clara, saya akan mengundang teman-teman saya di Korea untuk berkunjung kemari, mereka harus mencicipi nasi goreng dan sup kimchi yang super lezat ini." Tambah Tn. Kim.


"Terima kasih atas pujiannya Tuan, kami sangat senang Tuan mau berkunjung kemari, silakan jika Tuan ingin mengundang mereka kami akan memberikan pelayanan terbaik untuk Tuan." Jawab Clara sambil tersenyum manis.


"Iya semua ini juga berkat Mr. Bryan dan Mr. Riko yang menyarankan saya untuk ikut makan siang di sini, saya pasti akan menyesal jika tadi saya menolak ajakan mereka, saya benar-benar puas Miss Clara."


"Terima kasih Tuan." Jawab Clara lagi.


"Saya juga berterima kasih Miss Clara, kalau begitu saya pamit dulu karna harus menemui client yang lain."


"Iya Tuan, sering-sering berkunjung kemari." Ucap Clara sambil membungkukkan badan seraya memberi hormat dibalas anggukan dan senyuman oleh Tn. Kim.


"Mari Mr. Bryan, Mr. Riko dan Miss Wulan..." Ujar Tn. Kim sebelum berlalu pergi.


Beberapa menit kemudian setelah Tn. Kim pergi suasana kembali hening.


"Ehem..." Bryan mencairkan suasana semua menoleh kearah Bryan termasuk Clara.


"Saya kagum sama Miss Clara, udah cantik, sukses, benar-benar calon istri idaman." ungkap Riko memandang Clara sampai lupa berkedip.


"Kenapa Rik, apa yang kamu kagumkan dari saya?" tanya Clara.


"Saya tidak menduga bahwa nona Clara pemilik restoran ini."


Clara hanya membalasnya dengan senyuman.


"O iya nona, apa sekarang nona sudah menikah?" tanya Riko terlalu buka-bukaan, membuat Bryan kesal mendengarnya dan Clara juga bingung harus menjawab apa.


"Aku harus jawab apa, jika aku bilang tidak aku malu sama Bryan dia kan sudah menikah, tapi jika aku jawab iya sama saja aku berbohong." batin Clara.


"Ah Rik, bisa tidak ya jangan bertanya hal pribadi?" jawab Clara.


"Kalau nona belum nikah, bolehkan saya daftar jadi calon suami."


"Rik, saya tidak punya waktu untuk membahas kehidupan pribadi saya."


"Maaf nona, saya hanya bercanda jangan diambil hati ya nona." sesal Riko tertunduk, sebenarnya maksud Riko bertanya seperti itu untuk memancing Bryan tapi Bryan malah terlihat biasa saja.

__ADS_1


"Boss itu dingin sekali, dan nona Clara juga tidak mau jujur." batin Riko melirik Bryan dan Clara yang terlihat canggung karna sedari tadi duduk saling berhadapan.


"Rik, sepertinya kita harus kembali ke kantor, kamu juga sudah selesai kan makannya." Ujar Bryan.


"Nona Clara, besok saya akan datang kemari setiap jam makan siang." ucap Riko sengaja memanas-manasi Bryan.


"Ayo Rik, kamu terlalu banyak bicara." Bryan menarik Riko tapi kaki Riko seolah menempel di lantai dan matanya kedip-kedip melirik Clara.


Clara tersenyum menahan tawa melihat tingkah Riko sedangkan Bryan yang kesal langsung menendang kaki Riko sehingga Riko berhenti menggoda Clara.


"Riko keterlaluan bisa-bisanya dia menggoda Clara, apa dia tidak takut denganku." batin Bryan kesal dan menggetok kepala Riko.


"Awww!!! sakit Sir." ujar Riko sambil memegang kepalanya.


"Kamu mau saya pecat!" Ucap Bryan, Riko mengerti Bryan pasti cemburu dan Riko senang jika Bryan benar cemburu.


"Daaahhh nona Clara... sampai bertemu besok..." lanjut Riko sebelum berlalu pergi dan Bryan benar-benar kesal.


Kembalinya Di Kantor


"Apa maksudmu menggoda Clara seperti tadi, kamu pikir dia mau sama kamu." Bryan marah menghadang Riko namun Riko malah tertawa.


"Tingkahmu itu sangat memalukan."


"Tidak masalah yang penting nona bisa tertawa."


"Rik, aku serius marah, aku tidak suka kamu sok akrab dengannya."


"Aaa... Cemburu ya?" goda Riko.


"Tidak sama sekali." Bryan langsung memalingkan wajah.


"Ah... Jangan malu-malu Sir, ayo katakan pasti cemburukan?"


"Enak saja, fitnah kamu."


"Sir tau tidak? timbulnya rasa cemburu itu terkadang menandakan Sir masih cinta sama nona."


"Sok tau kamu, Rik."


"Ya sudah jika Sir memang tidak cinta, biar aku yang mendekati nona Clara."

__ADS_1


"Eh... kamu tidak waras ya? istri orang amu diembat juga."


"Sir yang tidak waras, tidak bisa membedakan mana orang yang sudah menikah dengan yang belum menikah."


"Riko jangan gila kamu."


"Yang begini nih, pasti dia tidak memperhatikan nona Clara dengan baik."


"Apa? jadi kamu memperhatikannya, sepertinya aku perlu menghajarmu sekarang."


"Ya ampun Sir, aku serius nona pasti belum menikah."


"Bagaimana kamu bisa yakin? Buktinya dia tinggal bersama Rendi pasti mereka sudah menikah kan."


"Sir, lihat jari."


"Kenapa aku harus melihat jarinya, benar-benar gila kamu Rik."


"Maksudku dijarinya tidak ada cincin kawin Sir."


"Ya bisa saja dia tidak memakainya, cincin kawin kan tidak harus selalu dipakai Rik, jadi itu tidak bisa menjamin seseorang sudah menikah atau belum."


"Iya Sir tapi aku yakin nona belum menikah, coba deh Sir percaya padaku, sebelum Sir menyesal."


"Apa kamu bisa dipercaya?"


"Ya semua tergantung Sir, saya tidak memaksa, jika Sir tidak mau maka saya akan datang menemui nona Clara malam ini."


"Apa maksudmu? kamu mau menghianati bossmu sendiri?"


"Ya itu sih tergantung bossnya juga, jika boss sudah tidak mau dengan nona tidak ada salahnyakan asistenmu ini mendekati dia."


Riko berlari keluar dari ruangan sambil tertawa dan Bryan sangat kesal.


"Awas kamu Rik! Aku bisa saja menghajarmu." batin Bryan diselingi senyum kecil karna merasa lucu dengan sikap Riko.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2