DARI HATI

DARI HATI
EPISODE 77


__ADS_3

Hari ini Clara memberanikan diri untuk mengutarakan isi hati, ralat! yang benar unek-uneknya kepada Rendi yang sudah lelah Clara memendamnya selama ini.


"Ren, boleh aku bicara sesuatu?"


"Iya katakan! Ada apa Clara?"


"Ren, aku... a-aku..."


"Kenapa gugup Clara?"


"Ren, aku harap kamu tidak marah ya setelah aku mengatakannya."


"Iya tapi kenapa?"


"Aku mau buka usaha Ren." ungkap Clara, Rendi benar-benar kaget dan menatap Clara dengan sinis.


"Haha... Memangnya kamu bisa apa sok-sokan mau buka usaha jangan bercanda Clara." kemudian Rendi juga menertawakan Clara.


"Aku serius Ren, aku ingin mandiri dan aku ingin ke bebasan, aku tidak senang dikurung seperti ini."


"Heh! Kamu seharusnya bersyukur aku mau membiayai hidupmu disini kamu tidak perlu susah payah bekerja, pokoknya kamu tidak boleh pergi dari sini karna tugasmu hanya menjaga Audira."


"Ren, harusnya kamu sadar kita bukan suami istri tidak layak tinggal satu rumah dan aku juga bukan asisten rumah tanggamu yang harus menuruti setiap perintahmu, kita sudah bercerai Ren kamu tidak berhak mengatur hidupku lagi, jangan jadikan Audira sebagai alasan untuk kamu melarangku, sekarang aku tidak akan mendengar alasanmu lagi Ren, aku akan membuat keputusanku sendiri."


"Sekarang kamu bilang kita bukan suami istri, heh aku sudah beberapa kali mengajakmu untuk menikah tapi kamu menolak, sekarang kamu merasa tidak nyaman tinggal disini karna kita bukan suami istri, kalau begitu kita menikah malam ini juga agar kamu tidak pergi kemana-mana."


"Tidak! Aku belum siap untuk menikah tolong jangan memaksaku."


"Ok baiklah, aku terima karna aku harus menunggu kesiapan darimu maka kamu boleh pergi dari sini tapi aku akan menyediakan tempat tinggal yang layak untukmu."


"Tidak usah! rumah orang tuaku lah yang paling layak untukku, aku tidak perlu tempat yang lain aku hanya perlu bertemu orang tuaku dan tinggal bersama mereka."


"Ok baiklah, tapi dengan satu syarat kamu boleh pergi ke rumah orang tuamu dan kamu harus membawa Audira bersamamu agar aku punya alasan untuk bisa setiap hari menemuimu."


Meskipun Clara merasa terganggu jika Rendi akan terus menemuinya tapi Clara senang karna Audira akan ikut bersamanya, dan itu tidak pernah Clara duga-duga.


"Iya aku setuju." Ucap Clara menyanggupi.


"Aku mau lihat seberapa lama kamu bisa bertahan hidup tanpa biaya dariku." ucap Rendi.


Clara hanya diam, justru saat Rendi meremehkannyalah Clara semakin yakin dia bisa bangkit.


"Kamu bersiap-siaplah aku akan mengantarmu ke rumah mereka."


Clara sangat senang meski belum terbebas sepenuhnya dari Rendi tapi setidaknya dia bisa keluar dari rumah Rendi.


"Sayang, mulai hari ini kamu akan ikut mommy ke rumah oma ya, kita akan tinggal bersama oma dan opa, kamu senangkan sayang." Ucap Clara bicara pada Audira.


"Dira doain mommy ya supaya nanti mommy bisa sukses dan bisa buktikan pada daddymu kalau mommy bisa mandiri bukan hanya bisa bergantung hidup dengannya."


*****


"Assalamualikum mama, papa."


"Waalaikumsalam sayang."


Clara langsung dipeluk oleh kedua orang tuanya.


"Ma, Clara benar-benar merindukan kalian."

__ADS_1


"Mama juga sayang."


"Oo, iya nak Rendi ini kenapa ya kok bawa koper?" tanya mamanya Clara.


"Ma, Clara bersama Audira akan tinggal disini, bolehkan ma?" sahut Clara tidak ingin memberi Rendi kesempatan untuk bicara.


"Tentu saja boleh sayang, tapi mama heran nak Rendi bilang kalian ingin menikah lagi."


"Siapa yang ingin menikah ma, Clara tinggal bersama Rendi karna Clara harus mengurus Audira, tapi sekarang Clara akan tinggal disini."


"Begini ma, maksud Clara sebelum kami menikah dia ingin tinggal disini lebih dulu, nanti setelah kami menikah dia akan kembali ke rumah Rendi, ma." Jelas Rendi, padahal Clara sudah susah payah menghalangi Rendi untuk ikut bicara.


Clara tidak ingin memperpanjang pembicaraan dia juga tidak mau memikirkan pernikahan karna sekarang tujuannya hanyalah hidup dengan bebas maksudnya bebas dari peraturan yang Rendi buat, dan bisa sukses mengembangkan usaha yang akan segera dimulainya.


"Rendi, sebaiknya kamu pulanglah ini sudah malam tidak nyaman nanti tetangga lihat." Ucap Clara untuk mengakhiri pembicaraan dengan Rendi.


"Kamu mengusirku???" Rendi kesal.


"Clara ada benarnya nak Rendi, sebelum kalian menikah alangkah lebih baiknya kalian menjaga jarak dulu." jelas mama.


"Iya baiklah ma, pa Rendi pulang dulu." Rendi berpamitan.


"Hati-hati nak Ren." Ucap mamanya Clara.


Setelah Rendi pergi, Clara segera membawa Audira masuk ke dalam rumah dan membaringkan Audira dikamar.


"Akhirnya aku bisa tinggal di sini lagi." Clara duduk diranjangnya merasa sedikit lega.


"Dan sekarang ada anakku bersamaku, Dira kamu lah satu-satunya semangat mommy sekarang, cepat besar ya sayang! terima kasih ya Allah sekarang Engkau memberiku kesempatan untuk lebih dekat bersama anakku." batin Clara kemudian mencium Audira yang terlelap tidur.


Clara beranjak dari kamarnya dan menghampiri kedua orang tuanya.


"Ada apa sayang?"


"Ma, Clara mau buka usaha rumah makan, bolehkan?." Ungkapnya.


"Kamu yakin sayang, apa kamu punya modal? apa perlu mama dan papa kasih modal?"


"Tidak perlu ma! Clara punya uangnya kan Clara punya tabungan dari hasil Clara bekerja dengan Bryan."


"Hah! Mama lega akhirnya kamu tidak lagi berhubungan dengan laki-laki yang hampir saja membuatmu celaka sayang, mama dukung usahamu agar kamu tidak lagi bekerja dengannya."


"Iya ma terima kasih, doain Clara ya supaya Clara bisa sukses."


"Tentu saja sayang, tapi kalau usahamu gagal mama juga tidak akan khawatir kan ada Rendi, dia tetap akan menjadi suamimu."


"Iya Clara, papa juga senang kamu balikan dengan Rendi, dia baik, dan masih setia denganmu."


Clara hanya diam dan berlalu ke kamar, Clara tidak senang orang tuanya selalu memuji Rendi mereka bahkan tidak tau jika dibelakangan Rendi itu seperti apa.


Beberapa Bulan Kemudian


"Aliya, berikan saya laporan keuangan bulan ini!" Pinta Clara pada salah satu pegawai restonya.


"Ini miss laporannya."


Clara melihat hasil laporan pendapatan setiap bulannya semakin meningkat dan Clara benar-benar tidak menduga usaha resto yang baru 6 bulan dibangunnya berkembang sangat pesat.


"Aliya kumpulkan semua pegawai ke ruangan saya."

__ADS_1


"Baik miss!"


Clara mengumpulkan semua pegawainya untuk membahas sesuatu yang sangat penting. Semua pegawainya tegang menunggu Clara buka suara.


"Setelah melihat hasil pendapatan yang kita peroleh setiap bulannya semakin meningkat, dan kemampuan kinerja kalian yang sangat baik, maka dari itu saya akan memutuskan untuk menaikkan gaji karyawan sebanyak 20%, bagaimana apakah kalian setuju?"


Tentu saja para pegawai bersorak gembira karna baru 6 bulan bekerja sudah mendapat kenaikkan gaji.


"Selain itu, kita juga harus selalu meningkatkan kualitas kerja, sportif dan selalu bersemangat, kita juga harus selalu memastikan produk yang kita olah harus berasal dari bahan-bahan terbaik, satu lagi yang terpenting kita selalu mengutamakan kenyamanan pelanggan, jangan membeda-bedakan pelanggan dari kalangan atas atau bawah, kita harus memperlakukan mereka seadil-adilnya agar mereka merasa diperhatikan sehingga bisa menjadi pelanggan setia diresto kita ini." jelas Clara panjang lebar pada semua pegawainya.


"Siap miss, kami akan selalu mengutamakan kenyamanan para pelanggang." jawabnya serentak.


Selain memikul tanggung jawab besar karna usaha yang dijalankannya sekarang, Clara juga tidak lepas dari tanggung jawabnnya sebagai seorang ibu. Meski sibuk tapi bagi Clara anak tetap yang utama apalagi Audira juga bertambah besar dan sangat aktif sudah mulai bisa berlari-larian membuat Clara cukup kualahan mengimbangi pekerjaannya sambil menjaga Audira.


Selain itu penampilan Clara juga berubah kini Clara lebih tampak dewasa dengan berpenampilan seperti seorang boss yang tegas dan bijaksana, anggun serta Clara lebih suka mengikat rambutnya.



Selama beberapa bulan ini Clara memang memfokuskan diri dengan pekerjaan sekaligus menjaga Audira yang selalu dibawanya ke restoran, Clara bahkan tidak sempat memikirkan masalah percintaan meskipun dihatinya selalu meronta rasa rindu pada Bryan yang sudah lama sekali mereka tidak saling bertemu.


"Apa kabar ya sekarang boss menyebalkan itu?" batin Clara seketika senyumnya melebar teringat Bryan.


"Ah! Clara berhentilah memikirkannya, mungkin saja sekarang dia sudah menikah dan bahagia bersama istrinya." kemudian wajah Clara kembali muram.


Begitupun yang terjadi pada Bryan, dia juga merindukan Clara, namun Bryan lebih memilih untuk menahan perasaannya demi kebahagiaan Clara yang dianggapnya Clara sudah bahagia bersama Rendi itulah sebabnya kenapa Bryan tidak pernah lagi mencari atau menemui Clara.


"Sudah lama tidak bertemu dengannya, apa kabar Clara sekarang ya?" Bryan juga merasa demikian.


"Wah! Ingat Bryan, dia itu milik Rendi, berhentilah memikirkan istri orang, ingat dosa Bryan!" batin Bryan mengelus dadanya.


*****


"Dira, jangan lari-lari nak! Dira jangan ke jalanan bahaya sayang." Clara kualahan mengejar Audira karna Audira berlari sangat cepat ke jalanan.


"Ya Allah lindungi putri hamba." Clara masih berusaha mengejar Audira.


"DIRAAA....." Teriak Clara histeris Audira hampir tertabrak mobil beruntung ada seseorang yang menyelamatkannya.


Clara berusaha mengenali orang itu dari kejauhan, sampai akhirnya laki-laki itu mendekat yang ternyata tak lain adalah Bryan.


"Untung saja dia baik-baik saja." Ucap Bryan sembari memberikan Audira kembali kedalam dekapan Clara. Clara langsung mencium Audira, Clara benar-benar takut terjadi sesuatu pada putrinya.


"Sayang, maafkan mommy!" Clara memeluk Audira dengan erat dan Bryan senang melihat mereka.


Clara dan Bryan tampak canggung dan gugup saat mereka kembali saling bertemu.


"Keteledoranmu itu bisa membahayakan nyawa putrimu, lain kali jangan bawa anak saat bekerja." Ucap Bryan memulai pembicaraan tanpa berani memandang Clara.


"Terima kasih sudah menolong anak saya, saya akan lebih memperhatikannya lagi." Jawab Clara juga melakukan hal yang sama tidak berani memandang Bryan.


Mereka saling diam, canggung, dan malu-malu.


Sesekali Bryan dan Clara curi-curi pandang tapi sesekali dengan cepat saling memalingkan wajah agar tidak ketahuan.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2