
"Ara, ini tidak seperti yang kamu lihat, aku bisa jelasin Ara, aku tidak mengkhianatimu, jangan salah paham sayang, aku mencintaimu Ara, sangat mencintaimu." gumam Bryan dengan mobil yang melaju menuju jalan pulang ke rumah.
Hati dan pikiran Bryan gelisah dan khawatir, takut Clara akan marah dan mengambil jalan pintas untuk hubungan mereka, karna Bryan tau Clara orangnya suka mengambil keputusan tanpa berpikir ulang.
Bryan sampai di rumah, dia langsung berlari kedalam mencari keberadaan Clara. Bryan menemukan buah hatinya tertidur diranjang sendirian, lalu dimana Clara. Bryan menghampiri sejenak sang buah hati yang tertidur.
"Sayang, maafkan papa, papa telah membuat mamamu terluka, papa janji akan berusaha mengembalikan kepercayaan mamamu nak, tidur yang nyenyak Dira anakku sayang." lirih Bryan mengusap wajah sang anak kemudian menciumnya.
Lalu Bryan kembali mencari sang istri disekitar kamar mereka.
Clara meringkuk di bawah dinginnya air shower yang mengalir, dan teringat kembali masa-masa dimana Rendi pernah mengkhianatinya dan sekarang dia kembali tersakiti oleh Bryan, satu-satunya orang yang paling dipercayainya saat ini.
"Tuhan, ini tidak adil untukku, aku tidak pernah mempermainkan hati seseorang, lalu kenapa hidupku ditakdirkan untuk selalu dikhianati, ini tidak adil Tuhan, tidak bisakah Kau memberiku sedikit saja kebahagiaan dalam hidup, aku benci takdirku seperti ini, lebih baik aku akhiri semuanya." lirih Clara dengan suara yang keras terdengar oleh Bryan yang dari tadi tidak terpikir untuk mencari Clara dikamar mandi, begitu mendengar suara sang istri di dalam sana Bryan langsung menujunya.
"Sayang buka pintunya." kata Bryan, Clara mengunci pintu kamar mandi, dia terus berkata hidupnya tidak ada keadilan dan ingin mengakhiri semuanya membuat Bryan semakin panik
"Ara, aku mohon jangan lakukan itu, buka pintunya Ara..."
Namun tidak ada jawaban dari Clara, bahkan suaranya sudah tidak terdengar lagi.
"Ara..." saat mendobrak pintu kamar mandi dia sedikit lega karna sang istri masih bernafas, namun hati Bryan bisa merasakan penderitaan sang istri.
Bryan berlari kearah Clara kemudian mematikan shower dengan air dingin itu, dan meraih tubuh sang istri.
"Jangan dekati aku..." Clara mendorong Bryan, dan menjauh darinya dengan meringkuk sambil menangis dipojok kamar mandi.
"Maafkan aku Ara, aku mohon jangan seperti ini, jangan menghindariku seperti ini Ara..." Bryan berjalan kearah Clara, dan duduk disampingnya. Dia merasa sesak didadanya melihat sang istri benar-benar tersakiti karna kebodohan yang dilakukannya.
"Kamu sudah menyadarkanku siapa aku sebenarnya, aku hanya seorang janda yang tidak tau diri mengharapkan seorang pangeran mau menerima wanita kotor sepertiku, haha aku sangat tidak tau malu." lirih Clara tiba-tiba dia tertawa sesekali.
"Ara, jangan menyebut dirimu janda, aku suamimu Ara sebentar lagi anak kita akan lahir kedunia ini, aku mohon jangan bicara seperti itu lagi." Bryan memeluk sang istri, tanpa sadar Bryan juga ikut meneteskan air mata.
"Ara, terima kasih sudah menyadarkanku, aku akui aku sempat terbuai kata-kata manisnya, untung saja kamu mengingatkanku statusku saat ini, dan mengingatkan perjuangan kita untuk bisa bersama, jika tidak, mungkin aku akan tenggelam lebih jauh lagi melakukan kesalahan ini." sesal Bryan sambil menghapus air mata sang istri.
"Kamu berhak bahagia Di, pergilah kejarlah kebahagiaanmu, jika dia bisa membuatmu nyaman dan bahagia aku akan merelakanmu, aku dan Audira hanyalah beban terberat dalam hidupmu, Audira bukan anakmu tapi aku selalu berharap kamu sudi menerimanya, aku memang tidak tau malu, aku dan anakku akan pergi, kami akan menjauh darimu kehidupanmu." ucap Clara dengan suara lantangnya.
"Nak, kita akan pergi dari sini, papamu akan bahagia tanpa kita." Clara mulai bicara pada bayi di dalam perutnya.
Clara tertegun tak kuasa menahan rasa sakit dihatinya yang sudah berulang kali merasakan penghianatan oleh orang terkasihnya.
Bryan kaget mendengar kata-kata sang istri yang seakan ingin melepaskan dirinya dan tak ingin memperjuangkan cinta dan mempertahankan rumah tangganya.
__ADS_1
"Kamu ingin meninggalkanku sendirian, apa kamu tidak ingin memperjuangkan aku...?"
Bryan meraih tangan sang istri dan ingin menyeka air matanya namun Clara mengaiskan tangan Bryan dari wajahnya.
"Kejarlah kebahagiaanmu, lepaskan wanita tidak tau diri sepetiku, begitu banyak beban yang ku tumpuk dalam hidupmu, dia juga mengkhianatiku, dan sekarang aku pun siap dikhianati, aku siap melepaskanmu asal kamu bahagia." lirih Clara.
Clara pun bangkit dan ingin menjauh dari Bryan, namun sebelum Clara berjalan keluar dari kamar mandi Bryan menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Kebahagianku hanyalah kamu dan anak-anak kita, Ara." ungkap Bryan dengan keras membuat Clara seketika memejamkan mata meresapi kalimat yang keluar dari bibi suaminya.
Clara tertegun dan menunduk, Bryan memeluk erat tubuhnya, namun seakan tak ingin Bryan menyentuhnya Clara meronta mencoba melepaskan diri tapi Bryan tidak ingin melepaskannya.
"Ara, kamu adalah milikku sampai kapanmu hanya kamu yang berhak memiliki aku, kebahagiaanku hanya satu yaitu kamu dan anak-anak kita sampai kapanpun akan selalu seperti itu, tidak akan tergantikan oleh siapapun." Bryan menghapus air mata sang istri kemudian mencium pucuk kepalanya.
"Mari kita berpisah, Di..." hanya itu yang terucap dari mulut Clara saat berada dalam dekapan suaminya.
Tidak ada badai tapi Bryan terkejut saat mendengar kalimat itu petir seakan bergemuruh, hati Bryan runtuh seketika bak tersambar petir.
"Apa yang kamu katakan, sayang?" Pelukkan itu merenggang dengan mudah Clara selangkah menjauh dari Bryan.
"Lebih baik kita berpisah, aku tau kamu nyaman bersama dengannya, aku akan melakukan apapun demi kebahagiaanmu, sekarang aku memberi kamu kebebasan itu."
Clara menuju lemari, mengambil tas dan memasukkan baju miliknya dan sang anak.
"Aku sudah terbiasa memikirkan kebahagiaan orang lain, kamu tidak perlu khawatir, aku bisa mengurus hidupku sendiri."
Clara masih bersikukuh mengemaskan semua pakaiannya ke dalam tas.
"Ara, aku mohon maafkan aku, untuk kali ini saja tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki kekeliruanku, jangan pergi meninggalkanku, sayang." lirih Bryan memeluk Clara dari belakang dan membenamkan wajahnya kedalam bahu Clara.
Clara memejamkan mata sejenak, memang berat baginya menghadapi situasi seperti ini, namun untuk pergi pun sulit rasanya karna dia juga tidak ingin menjauh dari Bryan.
"Semua ini salahku, seharusnya aku tidak hadir dalam hidupmu, mungkin kamu tidak akan terbebani seperti sekarang dan pasti kamu juga sudah bahagia bersamanya, biarkan aku pergi..."
"Bukan kamu yang hadir dalam hidupku, tapi aku yang hadir dalam hidupmu, aku yang mencarimu karna aku ingin hidup bersama denganmu." ucap Bryan dengan lantang, dia ingin Clara sadar dan memberinya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
"Aku tidak bisa seperti ini." Clara berjalan kearah Audira yang tidur begitu nyenyak, dia ingin membangunkan Audira dan pergi bersamanya.
Hati Bryan tersayat sebelum Clara mendekati sang buah hati, dia membalikkan tubuh Clara dan menciumnya dengan penuh cinta namun Clara tidak melakukan penolakan malah mengimbangi ciuman tersebut karna dia sangat merindukan ciuman seperti ini dari suaminya.
Tak lama kemudian Bryan melepaskan ciuamnnya dan tersenyum memandang wajah sang istri, Bryan merasa sedikit lega melihat wajah Clara menampakkan sedikit senyuman.
__ADS_1
"Ara, apa kamu sudah memaafkanku?" pikirnya.
"Anggap saja ciuman itu sebagai tanda salam perpisahan dariku." kata Clara lalu berjalan menuju tempat tidur untuk membangunkan sang buah hati, lagi-lagi Bryan menggenggam erat tangannya.
"Jika kamu tidak ingin mempertahankanku, maka pikirkanlah anak-anak kita, apa kamu ingin menjauhkan aku dari mereka, apa kamu ingin mereka terlahir tanpa seorang ayah, Ara, aku bisa menerima semua amarahmu tapi tidak dengan bayi kita, mereka tidak berdosa jangan sampai anak-anak kita menjadi korban atas kesalahan yang kita lakukan, jika masalah ini masih bisa diperbaiki aku mohon padamu tolong beri aku satu kesempatan terakhir untuk memperbaiki semuanya, jika tidak bisa maka aku tetap tidak akan membiarkan kamu mengatakan selamat tinggal, apapun caranya akan aku lakukan asal aku bisa mengembalikan kepercayaanmu."
"Lihat aku sayang, lihat mataku." Bryan mengangkat wajah Clara dengan lembut.
"Di, aku cemburu, aku sangat cemburu melihat kamu bersama dengannya, kamu menjadi asik sendiri dan kamu melupakan aku juga Audira, kamu tidak pernah membuatkanku susu lagi untukku, bicara padaku pun kamu enggan, dulu kamu selaly mengutamakan aku dan Audira, kamu bilang keluarga adalah prioritasmu, tapi setelah dia datang semuanya berubah, kamu tidak peduli lagi pada kami, aku sedih, sakit sangat sangat Di."
Tangis Clara pecah seketika. Bryan memeluknya dengan penuh rasa bersalah, Clara memukul-mukul dada suaminya yang bidang itu seolah meluapkan semua emosi yang sudah lelah dia pendam.
"Ara, aku sangat mencintaimu lebih dari hidupku, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
Clara hanya diam dan menangis, dia tidak tau harus menjawab apa, karna Clara takut kepercayaannya kembali dikhianati saat dia mulai mempercayai seseorang. Bryan mengerti akan hal itu.
Meski Clara masih merasa sakit dan kecewa terhadap Bryan, namun Clara juga tidak ingin egois, tidak ada salahnya memberi satu kesempatan untuk suaminya karna memang Bryan tidak menjalin hubungan apapun dengan wanita itu.
"Ara, aku akan memutus semua hubungan kerja dengannya, asal rumah tangga kita kembali tentram seperti sediakala."
Akhirnya Clara kembali tersenyum, satu senyuman dari sang istri meski masih terlihat kecut tapi sudah membuat Bryan merasa sedikit lega.
"Aku janji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi, sayang... aku bersumpah atas nama Tuhan yang telah menciptakan alam semesta ini." Bryan mengecup kening sang istri dan kembali memeluknya.
"Janji ya jangan pernah ulangi lagi, hatiku sangat sakit, aku tidak mau kamu menjadi sepeti..." Clara menghentikan kalimatnya karna Bryan menahan bibirnya, Bryan tidak ingin Clara mengingat masalalunya.
"Apa kamu masih memikirkan dia?" Bryan menatap wajah sang istri dengan penasaran.
"Tidak seperti itu, hanya saja sekarang rasa sakit itu kembali aku rasakan, bahkan sekarang lebih menyakitkan." Clara menunduk dan membenamkan kepalanya kedalam dada Bryan yang bidang.
"Aku semakin yakin kamu sangat mencintaku, sayang." Bryan menggendong istrinya, Clara melingkarkan tangannya dileher sang suami.
"Jadi selama ini kamu tidak yakin seberapa dalam cintaku?" ketus Clara.
"Aku selalu yakin, tolong maafkan aku sayang."
Dengan kelembutan yang Bryan berikan saat menghadapi amarah sang istri membuat Clara luluh dan sekarang sudah bisa memaafkan Bryan. Clara juga tidak ingin menghancurkan rumah tangganya hanya karna satu kesalahan, akhirnya mereka pun berbaikan. Bryan kembali memeluk sang istri seolah pelukan itu menjadi tanda dia benar-benar takut ditinggalkan oleh istri dan anak-anaknya.
"Jangan nangis lagi ya, Araku, nanti Dira bangun dengar mamanya nangis." Bryan menggendong tubuh istrinya dan berputar-putar saking senangnya sudah mendapat maaf dari istrinya, membuat Clara pusing saja.
"Sudah, hentikan Didi, nanti kalau aku jatuh gimana?" rengek Clara, Bryan pun membaringkannya diatas tempat tidur.
__ADS_1
Mereka saling memandang satu sama lain.
"Aku mencintaimu Ara, sangat sangat mencintaimu." mencium kening sang istri.