
"Pagi yang cerah secerah wajah indah anak mommy." kata Clara sambil mengepang rambut Audira.
Clara tampak sedang berkemas dengan Audira, mereka berdua sudah rapi sedangkan Bryan masih berbaring diranjang alias masih molor.
"Dira dengarkan suara auman harimau..." kata Clara.
"Bukan hayimau, itu papa ma." jawab Audira.
"Hadeuh... ni anak gak bisa banget diajak becanda." gumam Clara hanya bisa geleng kepala.
"Huahhh..." gumam Bryan bangun dari tidurnya, pandangannya langsung tertuju kearah istri dan buah hatinya yang sudah rapi.
"Ara, mau kemana?" tanya Bryan.
"Kepusat perbelanjaan Di."
"Tetaplah di rumah Ara, nanti kalau kamu lahiran dijalanan gimana?" sedikit meledek istrinya.
"Aishhh... doanya gitu banget, ingat ucapan adalah doa." ketus Clara jengkel.
"Sorry, sorry istriku, aku hanya becanda... jangan pergi sendirian ya..." ujar Bryan.
"Berdua sama Dira."
"Biar aku yang menemani kalian."
"Tidak perlu Di."
"Ara, jangan menolakku."
"Sungguh tidak perlu Di, kami aman kok, kamu ke kantor saja..."
"Baiklah, aku akan meminta Riko yang mengantar kalian."
"Jangan..." lagi-lagi Clara menolak.
"Kenapa Ara?"
"Kami naik taksi aja."
"Tidak Ara, aku akan menelpon pak Harun sopir pribadi kita, dia bisa mengantarmu, aku takut terjadi sesuatu padamu sayang, tolong dengarkan aku."
"Baiklah suamiku..." pasrah Clara mendengarkan suaminya.
Bryan bangkit berjalan kearah Clara lalu dia menggendong sang buah hati.
"Oopbah... anak papa cantik banget, Dira mau beli baju baru ya pergi sama mama..."
"Diya mau beli susu pa, Diya gak mau baju bayu, dedek saja yang beli baju bayu." katanya dengan tingkah menggemaskan anak seusianya.
"Menggemaskan sekali anak papa." Bryan hampir tidak mau berhenti mencium buah hatinya.
"Ara, kamu kan yang mengajarinya..."
"Dira semakin pintar bicara Di, kamu tanya saja dia bisa menjawab semuanya..." sahut Clara.
"Sudah ku duga mommynya pasti kini menjadi guru teladan untuk anaknnya." gerutu Bryan.
"Sudah jam 8, cepat mandi gihhh... kami mau shopping dulu..." kata Clara dengan tingkahnya yang selalu menggemaskan meski sedang hamil.
"Istriku, kamu tidak ada bedanya dengan Dira, sama-sama menggemaskan..." Bryan menarik hidung Clara yang tidak terlalu mancung itu.
"Mandi sana... bau tau..."
"Cium dulu..." goda Bryan mendekatkan wajahnya.
"Gak mau, gak nafsu..."
"Oalah kayak mau makan aja... cup..." Bryan langsung mencium istrinya Clara tidak melakukan penolakan dan mengimbangi ciuman dipagi hari.
"Jaga mama ya Dira..." kata Bryan.
"Harusnya pak Harun yang kamu ajak bicara seperti itu Di..." Clara tertawa.
"Apa aku salah?"
"Mana mungkin anak sekecil Dira bisa menjaga mommynya, dasaaarrr..." Clara mengacak-acak rambut suaminya, seketika Bryan merasa malu.
*****
"Bajunya cantik, pas banget buat Dira." Clara mengambil salah satu baju anak-anak.
Lalu dia berjalan lagi bersama Dira kearah toko yang menjual beragam keperluan pria.
Clara mengambil dalaman khusus pria.
"Hehe... Ini dia yang kucari, lihat saja bagaimana reaksinya..." gumam Clara sambil terkekeh karna ini juga pertama kalinya Clara belanja dalaman khusus pria jadi dia merasa ini sangat lucu.
Setelah dirasa cukup membeli apa yang dia inginkan, Clara pun menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya.
Saat Clara selesai membayar, tanpa disengaja dia bertemu dengan Angelica yang baru memasuki pusat perbelanjaan yang sama dengannya. Angelica juga melihat Clara, dan dia pun berjalan kearah Clara.
"Senang bisa bertemu denganmu disini, oh jadi ini anak pertama kalian." katanya dengan gaya sombongnya.
"Hai anak manis." mencolek wajah Audira, seketika Audira mengaiskan tangan Angelica.
"Tante jelek." kata Audira.
__ADS_1
"Heh, ajarin anakmu bicara, dia kurangajar sekali." seketika Angelica tersulut emosi karna Audira bilang dia jelek.
Clara hanya diam, mencoba mencerna pertemuannya dengan Angelica yang disengaja atau tidak disengaja itu.
"Hmmm... kebetulan kita bertemu disini, tadi aku sudah mampir ke kantor tapi Bryan menolaknya, jadi aku berikan saja padamu, silakan kamu mau membacanya atau tidak itu tidak masalah tapi tolong ya berikan pada suamimu." katanya dengan keangkuhan dia menyerahkan surat hasil tes DNA ketangan Clara.
"Aku harap kamu tidak menangis ya, karna sebentar lagi kita akan berbagi suami..." sambil tertawa.
Saat Angelica mengoceh disitulah Clara menarik rambutnya mengambilnya beberapa helai membuat Angelica murka karna Clara memberantakkan rambutnya.
"Apa yang kamu lakukan, rambutku... arghhh..." geramnya.
"Diam disitu..." tegas Clara sontak Angelica pun diam.
"Kenapa dia tidak menangis mengetahui aku hamil anak suaminya..." batin Angelica, dia berharap Clara akan terluka saat tau masalah tersebut.
"Hari itu aku menangis dihadapanmu, mungkin kamu pikir aku ini wanita yang lemah, tapi hari ini aku tidak akan menangis lagi..." kata Clara benar-benar terlihat kuat.
Dari tempat yang sama terlihat seorang wanita keluar dari mobilnya setelah memarkir mobil di parkiran. Wanita itu melihat pertengkaran antara Clara dan seorang wanita yang tidak dikenalnya.
"Itukan kakak, sepertinya terjadi keributan..." pikirnya lalu berjalan kearah mereka.
"Kakak..." sapanya pada Clara seketika Clara menolehnya.
"Kathryn..." Clara kaget bertemu adik mantan suaminya.
"Siapa kamu berani mengganggu kakak saya?" ketus Kathryn.
"Kamu yang siapa, tamu tidak diundang." dengusnya.
"Sudah Kath ini masalah kami sebaiknya kamu gendong Audira sebentar." kata Clara, Kathryn pun menggendong keponakannya, dia sangat merindukan ponakannya itu yang kini semakin besar dan pintar.
Clara berjalan kearah tong sampah, disana dia membuang hasil lab ke dalam tong sampah.
"Sial... kenapa dia malah membuangnya." gumam Angelica.
"Kenapa kamu membuangnya, apa kamu takut suamimu meninggalkanmu?" katanya meledek.
"Saya tidak takut jika dia memang bersalah, tapi saya takut dia meninggalkan saya karna dia dijebak olehmu."
"Saya tidak menjebaknya, kalau tidak percaya saya punya buktinya." memperlihatkan fotonya saat dihotel bersama Bryan, Clara sedikit kaget tapi dia tetap kekeh dengan apa yang saat ini ada dipikirannya.
"Lakukan tes DNA ulang." pinta Clara.
"Aku sudah melakukannya tapi kamu membuangnya."
"Apa kamu takut hasilnya negatif, jika itu memang anak Bryan maka lakukan tesnya di depanku, dengan begitu aku akan percaya padamu."
Angelica tampak gugup saat Clara memberinya tantangan.
"Kamu pikir kamu sangat pintar, Angelica kamu bisa saja menipu suamiku tapi tidak denganku, kejujuran suamiku membuatku kuat hari ini." batin Clara.
"Ok....." jawab Clara penuh keberanian meskipun dia tidak yakin dengan hasil yang akan keluar nanti.
"Kak, biar aku yang mengantarmu dan Audira kerumah sakit." ujar Kathryn menawarkan bantuan.
"Kakak diantar supir, lagipula RS gak jauh dari sini."
"Please, biarkan Kath mengantar kakak kali ini saja, sekalian Kath ingin melepas rindu dengan Audira." pinta Kathryn memohon dan Clara pun tidak bisa menolaknya.
*****
Sepulang dari rumah sakit di dalam perjalanan yang tidak tau mau kemana arah tujuannya sekarang.
"Mama, tante cantik ini siapa?" tanya Audira.
"Katakan halo untuk tante cantik, sayang." pinta Clara.
"Halo tante cantik, aku Audira." katanya yang sangat menggemaskan seketika Kathryn pun tertawa.
"Halo princess kecil, aku tante Kath..." sapa Kathryn.
"Sayang, tante cantik ini tantemu, adik papamu." Clara mencoba menjelaskan.
"Adik papa Biyan ya ma?" tanyanya.
"Biarkan saja kak, nanti saat dia dewasa dia juga akan mengerti situasi ini." kata Kathryn menghentikan Clara saat Clara hendak menjelaskannya.
"Iya Kath kamu benar..."
"Audira makin pinter ya kak, apa dia tidak rewel?"
"Dia anak yang pintar Kath, kakak senang bisa merawatnya."
"Kakak benar-benar baik." lagi-lagi Kathryn membebel dengan gemas pipi mungil Audira.
"Kak, apa mau Kath antar pulang?"
"Tidak Kath, kakak tidak mau pulang kerumah, kakak ingin refreshing sejenak dan membuat suami kakak khawatir biar dia tau rasanya kehilangan itu seperti apa."
"Dasar kakak..." merasa lucu.
"Sekali-sekali laki-laki perlu dikasih pelajaran." kata Clara sambil tertawa.
"Pasti kakak dan kak Bryan saling mencintai yaa..." tebaknya.
"Begitulah Kath, tapi yaa seperti yang kamu lihat tadi begitu banyak masalah yang terjadi di dalam rumah tangga kami." kata Clara.
__ADS_1
"Kakak wanita yang kuat, Kath yakin kakak pasti bisa melewati semuanya."
"Omong-omong bagaimana kuliahmu? apa kamu mulai bekerja sekarang, kakak lihat bajumu seperti orang kantoran?"
"Ya begitulah kakak semenjak kak Rendi masuk bui, jadi Kath yang meneruskan bisnis papa sambil kuliah."
"Maafin kakak ya Kath, gara-gara kakak Rendi harus dipenjara."
"Itu sudah seharusnya kak, Kath akui kak Rendi memang kehilangan akal saat itu."
"Kamu mau kemana setelah ini Kath?"
"Kath mau ke kantor polisi jengukin kak Rendi, kenapa kak?"
"Biarkan kakak ikut denganmu, kakak ingin mempertemukan Audira dengan ayahnya."
"Siap kak, kak Rendi juga sering nanyain kabar Audira pasti dia senang bisa bertemu anaknya, mama dan papa juga sama mereka merindukan Audira."
"Maafin kakak ya Kath semenjak hak asuhnya pindah ketangan kakak kalian jadi sulit bertemu Audira, kalian bisa datang kerumah kapanpun yang kalian mau ini alamat rumah kakak." kata Clara sembari mengunjukkan kertas putih yang ukurannya kecil.
"Makasih kakak, kami akan sering-sering mengunjungi Audira."
"Oh iya kak, kakak sedang hamil ya udah berapa bulan?" tanya Kathryan.
"Masuk 9 bulan 2 hari Kath, bayinya kembar loh." kata Clara.
"Wah beruntungnya kakak bisa punya anak kembar, Kath jadi pengen deh." katanya.
"Haaa makanya segeralah menikah."
"Belum nemu jodoh yang tepat kak, Kath takut mengalami kegagalan."
"Iya sih, sebaiknya jangan buru-buru."
*****
Kantor Polisi
Seorang pria keluar dari bui didampingi oleh 2 orang polisi yang mengawasinya. Tatapan mata pria itu tertuju pada 2 perempuan yang satu merupakan masalalunya dan yang satunya merupakan anak kandungnya.
Matanya mulai berkaca-kaca dia berpikir wanita dari masalalunya kembali untuknya, namun saat melihat perut wanita itu sudah membesar disitulah dia kembali menyadari wanita dari masalalunya sudah bahagia tanpa dirinya.
Polisi mengarahkan Rendi menuju ruang tempat tamu berkunjung.
Rendi masih menyimpan rasa cinta pada Clara, dia sudah berusaha mengubur dalam-dalam rasa itu namun saat melihat Clara perasaannya seakan kembali, ingin sekali dia memeluk Clara namun dia sadar tiada haknya lagi untuk memeluk wanita yang sudah menjadi istri orang lain.
"Clara... kau kemari?" lirihnya duduk di depan Clara, mereka duduk berhadapan dengan berbataskan meja ditengah-tengahnnya.
"Aku kemari untuk Audira, bagaimanapun kamu orang tuanya makanya aku ingin Audira bisa mengenalimu." kata Clara dengan tegas.
"Ara, kamu hamil..." tanyanya menatap wajah Clara penuh haru, Clara hanya tersenyum simpul.
"Kamu bahagia ya bersama Bryan?" tanya lagi.
"Aku sangat bahagia, sudahlah jangan bertanya tentang perasaan, aku datang hanya untuk mempertemukan Audira dengan ayahnya." ketus Clara, dia tidak ingin membahas soal rasa bersama Rendi lagi, Clara sudah mengubur dalam-dalam setiap kesalahan yang pernah Rendi lakukan.
"Maafkan aku Clara..." rintihnya.
"Yang lalu biarlah berlalu, petik hikmah apa yang kamu dapat dan jadikan pelajaran untuk kedepannya." kata Clara membuat Rendi hanya biasa tertegun menatap kagum sosok wanita kuat di hadapannya itu.
"Dira, katakan hai pada papa." pinta Clara.
Tapi Audira malah takut melihat Rendi, mungkin dari kecil Rendi selalu kasar padanya dan mungkin Audira sudah tidak mengingatnya.
"Mama, dia bukan papa Diya, papa Diya papa Biyan..." ucapnya, seketika mata Rendi berkaca-kaca menahan tangis dan perih dihatinya saat anak kandungnya menolak kehadirannya.
"Diya tidak kenal dia ma." sambungnya membuat Rendi semakin terluka, namun dia tetap berusaha menerima pengakuan sang anak, Rendi menyadari mungkin seperti ini sakitnya Audira saat dia tidak mengakuinya sebagai anak, untung saja Audira saat itu masih bayi jadi dia tidak mengerti.
Rendi tertunduk meratapi kesalahannya yang hanya menjadi butiran-butiran penyesalan yang tak ada gunanya. Clara dan Kathryn hanya bisa diam.
"Aku pantas menerima penolakan ini." sesal Rendi, hanya menyesal dan terus menyesal yang ad di dalam dirinya.
"Ren, Audira masih kecil, kelak dia dewasa aku yakin dia mau menerimamu." kata Clara dengan lembut, Rendi hanya mengangguk menahan perih dihatinya.
"Mama, ayo pulang." kata Audira memaksa terus untuk pulang.
"Iya, sayang sebentar yaaa." bisik Clara.
"Rendi, apa kamu tidak ingin memeluk putrimu?" tanya Clara.
"Apa aku boleh memeluknya?" lirih Rendi yang tidak punya banyak keberanian, Clara mengangguk pertanda mengizinkan Rendi memeluknya.
"Sayang, kamu mau kan dipeluk oleh om ini?" bujuk Clara, sejenak Audira menatap wajah pria yang sekarang tampak asing baginya itu, tak lama dia pun mengangguk.
Rendi berjalan kearahnya dan memeluk putrinya dengan lembut. Cukup lama Rendi memeluknya, dia senang akhirnya bisa memeluk putrinya walau hanya sesaat itu sudah membuatnya merasa tenang.
"Clara, terima kasih kamu sudah begitu baik merawat dan membesarkan putriku dengan baik, sampaikan juga rasa terima kasihku pada Bryan." lirih Rendi melepaskan pelukkannya pada sang anak dan mengembalikan sang anak pada ibunya.
"Dia juga bagaikan putri kami, sudah pasti kami akan merawatnya dengan sangat baik." kata Clara.
"Iya Clara, tolong jangan katakan pada Audira kalau aku ini ayahnya, aku tidak ingin dia malu mempunyai ayah seorang napi."
"Hmmm... tenang saja Rendi..." satu tepukkan yang Clara tepukkan dibahu Rendi, seakan sudah cukup bagi Rendi untuk menjadi penguatnya selama hidup bertahan dipenjara.
"Kath, jaga mama dan papa." ujar Rendi.
"Iya kak aku pasti akan menjaganya." mereka pun berpelukkan.
__ADS_1
"Clara sekali lagi terima kasih banyak..." ujar Rendi, Clara hanya memberikan senyuman yang indah diwajahnya.
Berikan like dan komentarmu gengsππππ