DARI HATI

DARI HATI
EPISODE 99


__ADS_3

Di Ruang Rawat


Clara terlihat duduk sendirian memandang keluar jendela, wajahnya masih murung dan matanya sembab karna masih dalam keadaan berduka ditambah shock mendengar jenazah Bryan yang dinyatakan hilang.


"Semoga kamu cepat ditemukan Sir, agar kamu bisa dimakamkan dengan layak." batin Clara tak terasa air mata mengalir di wajahnya.


Riko dan Bryan sudah berada tepat di depan kamar Clara.


"Kamu tidak mau ikut masuk kedalam Rik?" tanya Bryan.


"Sir sendiri yang harus masuk, sekarang nona pasti sedang bersedih, masuklah Sir temui dia."


Bryan pun pelan-pelan membuka pintu dan masuk ke dalam dengan hati-hati. Clara tidak menyadari kedatangan Bryan.


"Melihatmu menangisi kepergianku membuatku semakin yakin kalau aku berarti untukmu." Ucap Bryan berada dibelakang Clara.


"Kamu sangat berarti bagiku, sampai membuatku tidak bisa menjelaskan rasa cinta padamu hanya dengan kata-kata." sahut Clara tanpa menoleh kebelakang membuatnya sadar bahwa dia mendengar suara Bryan.


"Mungkin hanya perasaanku." ucap Clara dalam hati.


"Sekarang aku ada dibelakangmu." suara Bryan terdengar lagi ditelinga Clara, Clara tidak mau menoleh karna dia yakin dia sedang berhalusinasi.


Bryan menyentuh bahu Clara dan Clara kaget langsung meoleh kebelakang.


"Hah! Siapa kamu? jangan sentuh saya!" Ucap Clara bangkit dari duduknya, tubuhnya bergetar takut melihat seorang laki-laki memakai masker yang berada di depannya.


"Mata itu? aku seperti mengenalnya?" batin Clara sesekali memejamkan matanya dan teringat pria memakai masker yang sudah menyelamatkan nyawanya beberapa tahun lalu tapi mata itu juga mirip dengan mata Bryan.


"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Clara dengan berani.


"Kamu tidak mengenaliku?" Bryan berjalan mendekati Clara dan menarik tubuhnya, tangan Clara sudah bersiap-siap untuk membuka maskernya sedangkan Bryan hanya membiarkannya agar Clara membukanya.


"Apa kamu benar-benar tidak mengenaliku? tanya Bryan lagi.


"Lepaskan saya! Jangan macam-macam atau saya akan berterika."


"Buka dulu maskerku, maka aku akan melepaskanmu."


Clara pun langsung membuka maskernya dan sangat terkejut ternyata Bryan lah orang yang berada dibalik masker tersebut.


"Ka-kamu... tidak! kamu sudah mati... aku pasti bermimpi." Clara memalingkan tubuhnya membelakangi Bryan.


Bryan memeluk Clara dari belakang menopangkan dagunya dibahu Clara, Clara menjatuhkan air mata.

__ADS_1


"Apa kamu bisa merasakan pelukkanku?" lirih Bryan tapi Clara hanya diam dia takut dia sedang berhalusinasi karna bagaimana mungkin orang yang sudah tiada bisa hidup kembali.


Bryan memutar tubuh Clara membuatnya saling berhadapan dan Clara menatap mata Bryan.


"Ini aku Clara, aku masih hidup." Ujar Bryan dengan lembut. Clara mengangkat tangannya pelan-pelan menyentuh wajah Bryan dan Clara bisa menyentuhnya, Clara langsung tersenyum ternyata dia tidak berhalusinasi dihadapannya benar-benar Bryan.


"Ka-kamu tidak meninggalkanku?"


"Tidak Clara, Tuhan memberiku kesempatan agar aku bisa bersamamu."


"A-aku kira jenazah itu benar-benar hilang, tapi ternyata ka-kamu....." Clara tidak sanggup melanjutkan kalimatnya karna saking bahaginya mengetahui Bryan masih hidup dan Bryan langsung memeluknya dengan erat agar semua kesedihan Clara hilang.


cekglekkk.....


suara pintu dibuka membuat Clara dan Bryan kaget langsung melepaskan pelukkan mereka, ternyata dokter dan semuanya datang menghampiri mereka.


"Ma, pa, ibu, lihatlah Bryan masih hidup." Clara langsung berlari mendekati mereka


Susan, Adinda, dan Kusuma satu persatu memeluk Bryan mereka senang melihat Bryan masih hidup.


"Om minta maaf ya nak, sempat berlaku kasar terhadap kamu." sesal papa.


"Tante juga minta maaf nak, kami benar-benar menyesal." lanjut mama.


"Pak Bryan, bapak mendapat mukjizat dari Tuhan untuk hidup kembali, jangan sia-siakan kesempatan ini." Ucap dokter.


"Iya dok, pasti saya akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin, saya sangat bersyukur."


"Iya pak, tapi izinkan kami untuk mengecek kembali kondisi bapak agar kami bisa memastikan semuanya baik-baik saja."


Walau pun Bryan terlihat sudah sehat tapi Bryan tetap harus melakukan pemeriksaan, darahnya juga diambil sebagai sampel untuk di cek ke labolaterium untuk memastikan apakah bakteri yang menginfeksi lukanya benar-benar sudah sembuh.


"Hmmm... sambil menunggu hasil lab keluar bagaimana kalau Tuan Bryan melamar nona Clara saat ini juga." Ucap Riko semuanya pun menatap Riko.


"Ups... apa aku salah bicara?" lanjut Riko.


"Itu benar sekali nak Riko, Bryan harus melamar Clara sekarang juga dihadapan kita semua." sahut mama.


"Mama apaan sih, kan Bryan nya belum sembuh total masa harus melamar Clara." ujar Clara malu-malu.


"Ayo nak Bryan lamar anak kami sekarang juga."


"Bryan tidak bisa."

__ADS_1


Clara sedikit kecewa mendengarnya.


"Kenapa tidak bisa?" tanya mama.


"Bryan harus membeli cincinnya dulu baru bisa melamar Clara, kan saat kejadian itu mungkin cincinnya sudah hilang." jelas Bryan.


"Jangan pikirin masalah lamaran dulu, sekarang yang terpenting adalah kesembuhanmu, Sir." Ucap Clara sambil memegang wajah Bryan.


"Eits! Tenang semuanya, cincin itu ada pada saya." Ucap Riko mengeluarkan dua buah cincin dari sakunya.


"Saya tidak tau cincin ini kenapa bisa ada 2 tapi inilah yang dokter berikan pada saya mereka menemukannya didalam saku baju Tuan Bryan." Jelas Riko memberikan cincinnya pada Bryan.


"Jadi sebenarnya cincin ini memang saya yang membelinya dan yang satunya lagi ini pemberian bi Susan." jelas Bryan.


"Ibu, jadi ibu yang memberikan cincin ini?" tanya Clara.


"Iya sayang, karna ibu ingin kamu dan nak Bryan menikah." Clara senang mendengarnnya.


"Om, tante, bi Susan saya Bryan Adipati Mirza memohon restu pada kalian untuk meminang putri kalian menjadi istri saya." Ucap Bryan, niat baik Bryan langsung direstui Clara mulai berkaca-kaca dia terharu mendengarnnya.


"Clara, will you merry me?" tanya Bryan penuh harap.


Terima...


Terima...


Terima...


Sorak Riko, mama, papa dan ibu yang menyaksikan lamaran itu, dengan rasa penuh haru namun bahagia Clara pun menerima lamaran Bryan.


"Tunggu!" Clara menghentikan Bryan yang hendak memasukkan cincin kejarinya.


"Ada apa Clara?"


"Sir, kamu yakin memilihku menjadi pendamping hidupmu? Sir kamu tau kan aku ini....." Bryan mengunci bibir Clara dengan satu jarinya agar Clara tidak mengatakan kekurangannya.


"Aku yakin Clara memilihmu dengan Allah, ibu, mama, papa, dan Riko sebagai saksinya tolong jangan katakan apapun." Ujar Bryan, Clara merasa lega meskipun masih ada rasa takut dalam hatinya akan kegagalan pernikahan yang pernah dialaminya.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2