DARI HATI

DARI HATI
Episode 11


__ADS_3

Rendi masuk bersama dokter yang akan memeriksa kondisiku. Aku menatap mata Rendi sepertinya dia sedih dan terlihat lesu tapi dia berusaha untuk tegar dihadapanku. Aku tidak tau apa yang terjadi padanya.



"Alhamdulillah, keadaan Clara sudah stabil Ren." Ucap dokter Meta setelah selesai memeriksaku.



"Dokter kenapa perutku sangat sakit bahkan untuk duduk pun aku kesulitan." Tanyaku



"Dok, bayi dikandunganku baik-baik sajakan?"


Rendi membantuku untuk duduk dia menopang tubuhku dengan pelukkannya, tapi dokter Meta hanya diam, aku semakin khawatir pada bayiku.



"Rendi, anak kita baik-baik sajakan." Tanyaku lagi pada Rendi entah kenapa aku merasa ada sesuatu diantara dokter Meta dengan suamiku.



"Tenang sayang, semuanya baik. Kamu jangan berpikir keras dulu istirahatlah aku disini mendampingimu." Jawab Rendi. Aku merasa lega tapi aku tetap merasa ada keanehan yang mereka sembunyikan.



Rendi dengan setianya menjagaku, dia mencurahkan perhatian penuh padaku dan melayaniku. Aku melihat cinta Rendi begitu besar padaku.



Malam itu saat aku terbangun dari tidurku, aku melihat Rendi tidak ada disampingku, entah dimana dia pergi tanpa pamit. Aku pun menguatkan diriku berusaha berdiri dan berjalan semampuku mencari Rendi. Meski jalanku sempoyongan karna luka diperutku tapi aku harus kuat untuk mencari suamiku.



"Dimana Rendi..." gumamku, aku berhenti tepat didepan ruangan dokter Meta.


__ADS_1


"Suster melihat suami saya." Tanyaku pada suster yang lewat didepanku.



"Maaf nona, saya tidak melihatnya."



"Kamu dimana, Ren" batinku.




"Dokter apa istri saya bisa hamil lagi." Tiba-tiba aku mendengar suara yang tak asing bagiku dari dalam ruang dokter Meta. Aku pun berusaha menggapai kaca kecil yang ada ditengah-tengah pintu untuk melihat kedalam dan benar disana ada Rendi sedang bicara dengan dokter Meta.



"Maaf Ren, kemungkinan untuk hamil sudah tidak ada karna peluru yang mengenainya tidak hanya mengenai perutnya tapi juga melukai janin dan rahimnya, sehingga kami terpaksa melakukan operasi pengangkatan rahim untuk menyelamatkan nyawanya." Jelas dokter Meta. Aku mendengar dengan jelas semua yang mereka bicarakan, diriku bagai tersambar petir saat tau bahwa aku telah kehilangan bayiku dan tidak ada lagi harapan untuk memiliki anak.




"Aaaahhh... kalian penipu, kenapa kalian membohongiku." Rendi langsung memelukku sangat erat berusaha menenangkanku.



"Rendi... bayikuuu..." Tubuhku terkulai lemas dalam dekapan suamiku.


Lalu mereka membawaku kembali keruang inap.



Rasanya aku telah kehilangan harapan hidup. Air mata ku biarkan terus mengalir sedangkan Rendi hanya bisa menatapku dengan wajah kesedihan tak sedikitpun dia berkutik. Entah sampai kapan aku meratapi kenyataan yang seharusnya ku ikhlaskan tapi untuk ikhlas itu tidak mudah karna bertahun-tahun aku menantikan seorang anak yang sebelum dia terlahir kedunia tapi Yang Kuasa telah mengambilnya kembali.


__ADS_1


"Sayang, maafkan aku semua terjadi karna kecerobohanku jika saja aku tidak membuat keributan mungkin hal ini tidak akan terjadi."



"Maafkan aku, aku yang bersalah." Ucap Rendi sembari tangan kami bercengkeraman Rendi tampak sangat sedih menyesali yang telah terjadi.



"Jangan sesali yang telah terjadi, sayang. Semua terjadi atas kuasaNya, kita hanya perlu ikhlas dan bersabar." Ujarku membuat Rendi tenang. Padahal aku sendiri belum yakin bisa ikhlas menghadapi kenyataan ini.



"Sekarang aku hanya berpikir bagaimana kita menjelaskan pada mama dan papa, Ren."



"Apa mereka bisa menerima kenyataan ini." Ucapku sembari bertanya.



Rendi hanya termenung sepertinya dia juga bingung untuk menjawab pertanyaanku dan tiba-tiba ponselnya bergetar ada telpon masuk dari mamanya. Rendi terlihat ragu untuk mengangkatnya, kami berduapun kebingungan harus mengatakan apa jika orang tua kami menanyakan keadaan dan keberadaan kami.




Bersambung


kira-kira gimanaya kelanjutannya🤔 tunggu next episode ya😊





__ADS_1


__ADS_2