DARI HATI

DARI HATI
EPISODE 101


__ADS_3

"Wulan, bukannya aku tidak percaya padamu, aku hanya tidak mau hubungan Tuan dan Nona diganggu oleh siapapun termasuk kamu, aku sudah menceritakan semuanya padamu bagaimana perjuangan Tuan menemukan Nona sampai akhirnya sekarang mereka bisa bersama, meski pun aku menyukaimu tapi aku tidak akan membiarkan kamu mengganggu mereka." Ucap Riko panjang lebar dan Wulan kaget mendengar Riko menyukainya.


Wulan tidak jadi beranjak meninggalkan Riko, dia kembali berjalan kearah Riko.


"Katakan sekali lagi?" ujar Wulan.


"Apa?" tanya Riko bingung.


"Katakan kalau kamu mencintaiku."


"Memangnya aku bicara apa tadi?" tanya Riko ternyata Riko tidak menyadari sebagian perkataannya.


"Kamu bilang kamu mencintaiku, apa itu benar?"


Riko diam, dia terlanjur kepergok mengutarakan perasaannya pada Wulan.


"Iya aku sangat mencintaimu Wulan tapi itu dulu sejak pertama kali kamu bergabung di perusahaan tapi kamu sama sekali tidak memandangku."


"Jika sekarang aku mencintaimu, apa kamu mau menerimaku?"


"Apa yang kamu katakan Wulan, kamu bicara seperti itu pasti karna kasihan padaku kan?"


"Aku benar-benar sudah menyadari perasaanku Rik, aku sudah merenungkannya beberapa hari ini, ternyata benar aku memang menyukaimu."


"Kamu masih mau kan membuka hatimu untukku?"


"Tentu Wulan, aku mau. Aku mencintaimu Wulan sampai detik ini dan untuk selamanya."


Wulan langsung memeluk Riko dan Riko membalasnya dengan hangat, semua pegawai kantor menyaksikannya dan memberi tepuk tangan pada mereka.


"Selamat ya Sir dan Miss, kami tidak menyangka pekerja bisa menyatukan cinta kalian." Ujar salah satu pegawai, Riko dan Wulan membalasnya dengan senyuman.


"Kalian lanjutkan pekerjaan, saya dan Wulan ingin menjenguk Direktur dirumah sakit."


"Baik Tuan!" Ucap beberapa pegawai menundukkan badannya seraya memberi hormat dan pergi melanjutkan pekerjaan mereka.


"Aku tidak akan melepaskan kamu lagi Wulan." Ucap Riko menggenggam tangan Wulan berjalan bersama menuju mobil.


"Borgol saja tanganku dan tanganmu agar kita bisa selalu dekat."


Riko dan Wulan sampai dirumah sakit. Mereka tidak melepaskan tangan mereka sampai masuk ke ruang rawat pun tangannya masih menempel dan wajah mereka sangat bahagia.

__ADS_1


"Sir, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Wulan."


"Alhamdulillah jauh lebih baik karna Clara selalu setia disisiku." jawab Bryan.


"Hmmm... Sepertinya ada yang berbeda hari ini?" Ujar Clara sambil berjalan kearah Riko dan Wulan.


"Ya ampun aku baru sadar, sepertinya kalian sangat bahagia? itu tangan kenapa gandengan terus, sepertinya selama aku sakit banyak sesuatu yang telah terjadi." Ucap Bryan dengan cepat Riko melepaskan tangan Wulan.


"Katakan Wulan, apa yang terjadi dengan kalian berdua? jangan malu-malu!" goda Clara menyenggol Wulan.


"Sepertinya dipelaminan nanti tidak akan hanya ada sepasang pengantin tapi 2 pasang pengantin." Ujar Riko.


"Oo... Saya mengerti sekarang, jadi kamu dan Wulan..." belum selesai Bryan bicara Riko melanjutkkannya.


"Jangan dilanjutkan Sir, tapi kami akan menikah setelah Sir dan nona menikah."


"Iya itu harus, kamu tidak boleh menikah mendahului kakakmu ini." bantah Bryan.


"Wulan, kamu harus sedikit bersabar ya menunggu saya dan Clara menikah." lanjut Bryan.


"Bryan, bisa-bisanya kamu ya mengatur mereka, biarkan saja Riko menikah lebih dulu tidak baik menunda-nunda pernikahan jika mereka sudah siap." Clara mencubit Bryan membuat Bryan meringis kesakitan.


"Tuan Bryan benar Nona, kami memang ingin menikah setelah kami memastikan pernikahan kalian berjalan dengan lancar."


Malam Hari


Clara sudah selesai menyuapi Bryan makan dan memberinya obat.


"Kamu tidur ya Bryan, biar cepat sembuh."


"Clara aku boleh minta tolong gak?"


"Ada apa sayang?"


"Aku bosan memakai baju rumah sakit, bisa tolong ambilkan baju salinan dirumah."


"Ya ampun kenapa gak bilang dari tadi, aku akan mengambilnya."


"Terima kasih sayang, tapi kamu jangan pulang sendirian, Riko akan mengantarmu."


"Iya Bryan."

__ADS_1


"Rik, tolong antar Clara ke rumah dia akan mengambilkan baju ganti untukku."


"Siap Sir, ayo nona saya antar."


"Hati-hati Rik, jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya kamu membawa calon bini saya, dan pastikan jangan sampai dia diculik lagi."


"Iya Sir bawel banget sih." ketus Riko.


Sampai Di Mansion


Riko menunggu Clara di dalam mobil, sedangkan Clara masuk ke dalam mansion untuk mengambil beberapa pakaian.


Clara masuk ke kamar Bryan setelah mengambil beberapa pakaian di dalam almari, Clara malah menemukan kotak yang lumayan besar yang waktu itu pernah Bryan buka.


"Ini kotak apa ya?" ucap Clara penasaran. Clara pun membawanya ke ranjang dan membuka kotak itu.


"Ini fotoku waktu kuliah, kenapa Bryan bisa mendapatkannya?" gumam Clara semakin penasaran.


"Masker ini, ini masker yang di pakai si Dungu saat itu, bagaimana Bryan bisa memilikinya atau mungkin dia..." Clara semakin penasaran dan membongkar semua isi yang ada di dalam kotak tersebut sampai akhirnya Clara menemukan foto Bryan di masalalu.


"Tidak mungkin, tidak mungkin Bryan!" Clara melempar fotonya.


"Tidak, itu tidak mungkin, Bryan pasti bukan si Dungu yang aku cari."


Clara membereskan kembali barang-barang Bryan tapi dia mengambil foto Bryan yang mirip dengan si Dungu lalu Clara segera pergi dan masuk ke dalam mobil.


"Nona kenapa? sepertinya tergesa-gesa?" tanya Riko.


"Cepat nyalakan mobilnya Rik, kita harus segera kerumah sakit."


Sepanjang jalan Clara hanya melamun, bayangan Dungu yang mirip dengan Bryan terus terngiang dipikirannya sedangkan Riko dia heran melihat nonanya setelah keluar dari mansion raut wajahnya langsung berubah seperti mencemaskan sesuatu.


"Ini tidak mungkin, tidak mungkin Bryan itu Dungu, jika dia Dungu dia pasti sudah mengatakannya dari dulu, kenapa dia harus berbohong padaku diakan tau aku sedang mencari Dungu tidak mungkin Bryan bohong padaku, pasti bukan dia rileks Clara kamu jangan berburuk sangka." ucap Clara dalam hati.


.


.


.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2