
"Sayang, aku pulang." ucap Bryan saat memasuki mansion megahnya.
"Hmmm... Apa dia sudah tidur?" ucapnya tersenyum sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamar mereka.
Srekkk...
Bryan membuka pintu kamar.
"Kamu sudah sampai." ucap Clara, Bryan kaget ternyata Clara sedang menonton tv di kamar mereka.
"Hah, kamu mengagetkanku sayang." Bryan langsung duduk dan merangkul istrinya.
"Kenapa kaget?"
"Aku pikir kamu sudah tidur."
"Belum, sinetronnya lagi seru bagaimana aku bisa tidur sebelum menyelesaikannya."
"Dasar ya otak sinetron." mengacak-acak rambut sang istri.
"Aku mau kamu romantis seperti itu." tunjuk Clara pas ada adegan romantis di dalam sinetron yang sedang dia saksikan.
"Kurang romantis apa lagi suamimu ini sudah sangat romantis."
"Hehe iya ya."
"Susu ibu hamil udah di minum belum?"
"Emmm belum."
"Kebiasaankan, aku bikinin dulu ya sayang."
"Eh jangan sayang, kamu mandi aja dulu bau tau." Clara menutup hidungnya.
"Hmmm wangi begini dibilang bau." kesal Bryan sambil mencium-cium ketiaknya sendiri.
Clara pun membantu Bryan melepas jas dan kemeja yang di pakainya.
"Aku mandi dulu ya Ara... cup..." masih sempat-sempatnya mencium pipi Clara.
"Hah... dasar..." menggeleng dan tersenyum menatap Bryan yang berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
*****
"Minum susunya dulu Ara."
"Aku tidak mau, susunya amis Didi."
"Yang penting dedek kita sehat." sambil memegang perut Clara yang masih rata ya karna usia kandungannya baru 2 bulan.
"Ganti ya sayang."
"Apa yang di ganti?
"Susunya, aku mau susu rasa coklat atau strowberry."
"Iya besok aku beliin, tapi sekarang minum yang ini dulu ya."
"Emmm... glugukkk... " Clara pun meneguk susunya.
"Pinter..." ucap Bryan sambil tersenyum menatap istrinya.
"Aku terpaksa meminumnya karna kamu yang membuatnya."
"Iya enakkan sayang?"
"Gimana kerjamu hari ini?" tanya Clara.
Bryan termenung menatap lembut Clara, bibirnya terasa berat untuk mengatakan yang terjadi saat dia rapat dengan Angelica.
"Apa ada masalah di kantor?" tanya Clara lagi melihat raut kebingungan di wajah suaminya.
"Ara, kamu percaya padaku kan?" tanya Bryan tiba-tiba.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Clara menatapnya bingung, Bryan meraih tangan Clara dan menggenggamnya.
"Aku hanya takut kamu tidak percaya padaku."
"Tidak ada yang bisa membuatku ragu denganmu Di, jika aku curiga maka aku akan bertanya langsung padamu."
"Benar ya Ara?"
"Iya, sungguh."
__ADS_1
"Terima kasih Ara, kamu selalu yakin denganku." ucap Bryan sambil memeluk Clara dan mengusap rambutnya.
"Kita tidur ya sayang, kasian dedek kita, ibu hamil gak baik tidur larut malam." ucap Bryan dia tidak bisa berhenti menyentuh dengan lembut perut istrinya.
"Iya sekarang aku mau tidur karna suamiku sudah bersamaku."
"Oo jadi kamu menungguku, bukan karna sinteron itu?"
"Iya tentu saja."
"Dasar Ara." menggelengkan kepala sambil tersenyum Clara selalu bisa membuat Bryan tersenyum.
Bryan pun menggendong Clara ke tempat tidur, sebelum tidur mereka kembali bermesraan lebih dulu karna tidak bisa melakukan itu maka Bryan dan Clara hanya melakukan yang tidak akan membuat bayi mereka kesakitan.
Bryan tidak bisa tidur, setelah memastikan Clara sudah tidur, Bryan bangkit dan duduk termenung di depan laptopnya, bukan memikirkan masalah kantor tapi memikirkan pertemuannya dengan Angelica, Bryan tidak tau apa yang akan dihadapinya dikemudian hari setelah dia bertemu kembali dengan Angelica, rasa takut mulai menghantui Bryan terutama Bryan sangat memikirkan Clara dan calon buah hatinya.
"Kamu belum tidur?" tanya Clara mengagetkan Bryan, Bryan pikir istrinya sudah tertidur.
"Aku tidak bisa tidur Ara, kenapa bangun Ara?"
Clara mendekat dan duduk di samping suaminya.
"Aku juga tidak bisa tidur."
"Kenapa Ara?"
"Karna kamu terus mengganggu pikiranku."
"Hah dasar..." mencubit gemes pipi sang istri.
"Katakan padaku apa yang kamu pikirkan sekarang?"
"Tidak ada Ara, tenanglah aku baik-baik saja." ucap Bryan tersenyum sambil membelai wajah manis sang istri yang selalu membuatnya jatuh cinta lagi dan lagi.
"Ok aku tidak memaksa, tapi jika kamu ingin mengatakan sesuatu maka katakan saja, aku siap menjadi pendengar yang baik untuk suamiku."
"Hmm... iya sayang pada siapa lagi aku akan mengatakannya jika bukan pada istriku." membelai rambut Clara dan membuat Clara masuk dalam dekapannya.
"I love you Ara."
"Love you too Didi."
__ADS_1
"Bobok ya." membujuk.
"Emmm..." Clara membalas dengan anggukan.