
"Saya kemari karna seorang ibu yang sedang terbaring lemah di rumah sakit sana, kalian pasti masih meningatnyakan?"
"Kami tidak kenal." Kusuma mengelak.
"Susan asisten rumah tangga di rumah ini 31 tahun lalu." Lanjut Bryan.
"Kami tidak kenal, pergi kamu!"
"Susan yang salah satu putrinya kalian adopsi, apa kalian masih tidak mengingatnya?"
Kusuma dan istrinya hanya bisa diam.
"Pa, sepertinya ini saatnya kita beritahu Clara kebenaran ini." Ucap Adinda.
"Tidak ma, anak ini ngaur bicaranya."
"Om, tolong pertemukan Clara dengan ibunya, sekarang ibunya sedang terbaring lemah di rumah sakit, beliau mengidap leukimia dan kemungkinan hidupnya tidak akan lama, apakah om dan tante tidak kasihan padanya puluhan tahun kalian memisahkannya dari putrinya dan sekarang disaat-saat terakhir dalam hidupnya apa kalian juga tidak akan memberinya kesempatan untuk memeluk putri, setidaknya dia bisa melihat putrinya, kalian tidak perlu mengatakan pada Clara tentang kebenaran itu tapi tolong izinkan saya membawa Clara untuk bertemu dengannya, saya jamin saya tidak akan mengatakan kebenarannya pada Clara." Ucap Bryan panjang lebar berharap Kusuma dan Adinda bisa luluh.
Clara yang berada di dalam rumah mendengar keributan yang terjadi di luar sehingga memutuskan untuk keluar melihat keributan yang terjadi.
"Jangan ngarang kamu, siapa kamu berani ikut campur urusan keluarga saya." Tegas Kusuma masih tidak terima dengan ucapan Bryan.
"Saya tidak ada maksud apapun om, saya hanya ingin mempertemukan seorang ibu yang sedang sekarat dengan putrinya."
"Pa, mama mohon turuti saja Bryan kasihan Susan pa, kita juga tidak mungkin menyembunyikan rahasia ini selamanya pada Clara." Ujar Adinda menenangkan suaminya.
Tiba-tiba Clara datang dia tidak sengaja mendengar perbincangan tersebut secara sekilas.
"Rahasia apa pa, ma?" Ucap Clara sambil berjalan mendekat.
"Bryan, kamu disini?" Tanya Clara, dibalas anggukan oleh Bryan
Mereka semua menoleh kearah Clara dan Clara melihat kedua orang tuanya tegang sepertinya ada sesuatu yang telah terjadi sebelum dia datang.
"Pa, ma apa yang kalian rahasiakan dari Clara?" Tanya Clara lagi.
"Ayo kita semua masuk ke dalam." Ucap mama. Mereka semua pun masuk dan duduk diruang tamu.
__ADS_1
Saat suasana dirasa sudah mulai tenang, mama pun mulai buka bicara.
"Sayang, mama dan papa minta maaf selama 31 tahun kami merahasiakan ini padamu."
"Rahasia apa ma?" Tanya Clara mulai tegang dan Bryan langsung menenangkannya.
Adinda pun mulai menceritakan cerita yang sama seperti yang Susan ceritakan pada Bryan.
Kini Clara tau ternyata selama ini dia dibesarkan oleh seorang penipu dan Clara benar-benar kecewa pada ayah dan ibunya.
"Maafkan mama, dan papa sayang, kami terpaksa merahasiakannya selama ini karna kami sangat menyayangimu kami takut kehilangan kamu, nak."
Clara hanya bisa menangis dan terus menangis dipelukkan Bryan tanpa bisa berkata apa-apa. Clara tau kedua orang tuanya itu sangat menyayanginya tapi Clara kecewa kenapa baru sekarang mereka mau jujur setelah ibu kandungnya sedang kritis di rumah sakit.
"Bryan, aku ingin bertemu ibuku, bawa aku bertemu dengannya!" Ucap Clara nada suara tersedu-sedu.
"Om, tante, bolehkah saya membawa Clara bertemu ibunya?" Bryan tetap meminta izin meskipun tadi Kusuma sudah melakukan penolakan, tapi kali ini Kusuma memberi Bryan izin untuk membawa Clara.
Sekarang Bryan dan Clara pun pergi kerumah sakit.
Panggil Clara saat memasuki ruang UGD berlari langsung memeluk Susan yang terlihat sedang duduk di ranjang rumah sakit.
Susan membalas pelukkan Clara, Clara menangis histeris begitu pun Susan dia sangat bahagia akhirnya bisa bertemu anaknya disisa-sisa usianya.
"Ibu, maafkan Clara bu, saat itu Clara tidak tau jika bi Susan ini adalah ibu kandung Clara." Sesal Clara masih memeluk ibunya.
"Ibu yang salah nak, ibu minta maaf tidak bisa jujur padamu saat itu."
"Sudah bu jangan bahas itu lagi, sekarang Clara senang akhirnya Clara tau siapa orang tua Clara sesungguhnya, dan ibu harus sembuh ya jangan tinggalkan Clara lagi."
Susan tertunduk sedih kecil harapannya untuk bisa bertahan hidup, tapi dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan putrinya.
"Nak, itu siapa? Itu anakmu?" Tanyanya menunjuk anak kecil yang sedang berada dalam gendongan Bryan.
"Iya bu, itu Audira anak mantan suami Clara."
"Sini sayang dengan nenek."
__ADS_1
Bryan pun memberikan Audira pada bi Susan.
"Sekarang ibu bahagia sayang bisa melihatmu dan cucu ibu ini."
"Nak Bryan, terima kasih sudah memenuhi keinginan terakhri saya dengan mempertemukan saya dan putri saya."
"Ibu, jangan bicara seperti itu bu, ibu tidak boleh pergi." Clara langsung memeluk ibunya, Clara benar-benar takut kehilangan ibunya sedangkan mereka baru saja bertemu.
"Sayang, bisa tinggalkan ibu dan Tuan Bryan sebentar, ibu ingin bicara dengannya."
"Iya bu." Clara pun menuruti ibunya.
"Bryan, aku dan Dira menunggu diluar." Ucap Clara dibalas anggukan oleh Bryan, Bryan pun duduk dihadapan bi Susan sementara Clara dan Audira menunggu diluar.
Percakapan Bryan dan bi Susan
"Nak Bryan, jika bibi tiada nanti bibi titip Clara, tolong kamu jaga dia, hanya kamu satu-satunya orang yang bisa bibi percaya untuk menjaganya."
"Bibi jangan bicara seperti itu, bibi harus bertahan demi Clara, Bryan akan melakukan apapun untuk kesembuhan bibi, tolong bibi jangan bicara seperti itu lagi."
Bi Susan melepas cincin dijarinya dan memberikannya pada Bryan.
"Kenapa bibi memberikannya kepada saya?"
"Gunakanlah cincin ini untuk melamar Clara nak."
Bryan tidak menyangka kalau bi Susan ternyata tau bahwa dia akan melamar Clara.
"Tidak bi!" Bryan menolak tapi bi Susan masih bersi keras memberikannya untuk Bryan.
"Bibi ingin kalian menikah nak."
"Tapi bi, kenapa bibi menyerahkan ini padaku?"
"Bibi yakin kamu tulus mencintainya, sehingga bibi tidak perlu khawatir karna sudah menemukan pria yang pantas untuk Clara."
Bryan hanya bisa mengangguk dengan mata berkaca-kaca dan menerima cincin yang bi Susan berikan padanya, selain itu Bryan merasa sedih karna sepertinya bi Susan memang akan pergi untuk selamanya.
__ADS_1