
Sampai Di Restoran
Clara membalas pesan Riko dan meminta Riko membawa Bryan ke restonya nanti malam. Clara dan Riko pun sepakat bekerja sama hari ini untuk membuat surprise yang tidak akan pernah bisa Bryan lupakan.
"Hari ini para pegawai saya pulangkan lebih awal, kalian boleh pulang setelah magrib." Ucap Clara mengumumkan pada seluruh pegawainya dan tentu saja mereka sangat senang bisa pulang lebih awal.
Setelah memberi pengumuman Clara pergi ke dapur.
"Apa yang nona lakukan?" Tanya seorang juru masak yang bekerja di resto Clara.
"Membuat kue, kak." Jawab Clara.
"Nona, biar kami saja yang membuatnya, nona mau kue apa?"
"Jangan kak! Saya yang akan membuatnya karna kue ini spesial." Jawab Clara terlihat jelas wajah Clara berseri-seri seakan Clara tidak memikirkan perkataan orang tuanya tadi pagi.
"Wah... Pasti Nona membuatnya untuk Tuan yang kemarin kan?" Godanya.
"Benar kak, hari ini ulang tahunnya, setelah sekian lama kami tidak bertemu dan hari ini saya ingin membuat harinya sangat indah sampai dia tidak akan bisa melupakannya." Jawab Clara tanpa malu untuk mengakuinya.
"Kami juga ikut senang, melihat Nona bahagia."
"Nona, kami akan membantu Nona menyiapkan yang lainnya juga."
"Terima kasih bantuannya, kalian sangat baik padaku."
"Nona juga baik pada kami semua, karna itu kami senang bekerja disini dan kami siap melakukan apapun sesuai perintah Nona."
Clara senang dan lega dengan dibantu oleh para karyawannya pekerjaannya bisa lebih ringan dan tidak harus buru-buru menyelesaikannya.
Akhirnya pekerjaan Clara menyiapkan kejutan untuk Bryan sudah siap, karyawannya semuanya sudah pulang dan Clara juga sudah menutup restorannya lebih awal. Kini saatnya menunggu Riko datang bersama Bryan.
Clara juga sudah mengabari Riko bahwa sekarang Riko sudah boleh mengajak Bryan untuk datang ke restorannya.
Di Sisi Lain
Riko sudah membaca pesan dari Clara dan Riko sangat bersemangat bergegas menghampiri Bryan diruangannya.
Namun semangat Riko seketika wajahnya berubah menunjukkan raut kecemasan karna melihat Bryan kesakitan lagi di bahunya.
"Sir, apa sakitnya bertambah parah?" Tanya Riko langsung mendekati Bryan yang duduk di kursi kerjanya sambil menahan rasa sakit.
"Sudah lebih baik Rik, tadi memang terasa sakit." Jawab Bryan berusaha menutupi rasa sakitnya.
"Sir yakin? atau kita ke dokter saja."
"Tidak perlu Rik, aku sudah lebih baik."
"Baiklah Sir, Sir pasti belum makan kan?"
"Iya Rik, apa kamu sudah makan?"
"Belum Sir, bagaimana kalau sekarang juga kita pergi ke resto Nona Clara."
"Kenapa harus ke sana Rik, kantorkan juga punya fasilitas kantin, kita makan di kantin saja."
__ADS_1
"Ayolah Sir, Sir akan menyesal jika menolaknya."
"Ok, Riko kamu memang sahabat yang paling bawel, kadang menyebalkan, tapi sangat mengerti denganku."
"Karna aku tau Sir pasti merindukan Nona Clara, makanya aku ingin mengajak Sir kesana."
"Ayo cepatlah Rik, kita pergi kesana." Bryan langsung merangkul Riko, Bryan benar-benar bersemangat karna akan bertemu Clara.
Tapi tiba-tiba Bryan menghentikan langkahnya membuat Riko kaget dan cemas karna mengira Bryan merasa kesakitan lagi.
"Kenapa Sir? Apa Sir kesakitan lagi?"
"Bukan Rik, tapi aku malu datang kesana."
"Ada apa Sir kenapa malu?"
"Kemarin aku mencoba mengungkapkan perasaanku, aku tau dia sudah menikah seharusnya aku tidak pantas mengatakannya tapi aku tidak tahan Rik harus memendam perasaan ini terlalu lama, tapi sekarang aku jadi malu bertemu dengannya." Sesal Bryan.
Riko hanya tersenyum, karna Riko selalu yakin bahwa Clara belum menikah.
"Ah, lupakan itu Sir, lagipula kita pergi ke sana untuk makan kan, bukan untuk menggoda nona Clara."
"Bisa saja kamu Rik."
"Tapi aku benar kan Sir? ayolah kita kesana aku sudah lapar."
Berkat Riko kini Bryan tidak merasa malu lagi dan tetap ikut bersama Riko pergi ke restoran Clara.
Tiba Di Resto
"Rik, restonya sudah tutup, kenapa kamu masih mau masuk?" Panggil Bryan yang masih berada di dalam mobil.
"Turunlah Sir!" Panggil Riko, Bryan pun terpaksa keluar dari mobil lalu menghampiri Riko yang terlihat sedang memantau-mantau ke dalam lewat kaca yang tertutup tirai.
"Rik, kamu benar-benar tidak waras ya, nanti kalau orang lihat kita bisa dituduh sebagai maling." Ucap Bryan.
"Sir yang tidak waras, mana ada maling pakai setelan kantor sekeren ini." Jawab Riko, Bryan jadi penasaran apa yang sebenarnya dilihat Riko sehingga Bryan juga ikut-ikutan mengintip.
"Rik, didalam sangat gelap." Ucap Bryan setelah melihat keadaan di dalam.
"Kita masuk saja Sir." Riko menarik tangan Bryan dengan cepat Bryan melepaskannya.
"Dasar tidak waras, aku tidak mau masuk, nanti kita digebukin massa gimana, jangan bodoh Rik." Bantah Bryan sedang Riko malah membuka pintu restoran tanpa memperdulikan Bryan.
"Rik, jangan bodoh." Ucap Bryan lagi tanpa melihat Riko yang ternyata sudah masuk ke dalam.
"Ya ampun Riko, dia benar-benar gila." Ucap Bryan setelah sadar Riko tidak ada dibelakangnya lagi sehingga Bryan ikut masuk ke dalam untuk membawa Riko keluar.
"Ayo Rik keluar, sebelum orang-orang melihat kita." Bryan bersusah payah menarik Riko yang kakinya seolah sudah menempel dengan lantai membuat Bryan kesusahan menariknya dan tiba-tiba lampu di dalam restoran menyala.
"Rik, ayo kita keluar kita bisa digebukin orang." Ucap Bryan benar-benar ketakutan sedangkan Riko masih kekeh tidak bergerak.
Happy Birthday Papa Bryan...
Happy Birthday Papa Bryan...
__ADS_1
Happy Birthday...
Happy Birthday...
Bryan mendengar suara Clara yang tiba-tiba berhenti dan berusaha menemukan keberadaannya.
Happy Birthday Papa Bryan...
Clara menlanjutkan nyanyiannya dan keluar dari arah dapur bersama Audira yang berada dalam gendongannya dan Clara juga membawa sebuah kue ulang tahun ditangan kirinya.
Clara sudah bisa melihat senyum sumringah di wajah Bryan walau masih dari kejauhan. Clara pun mendekatinya berjalan secara perlahan.

"Selamat ulang tahun Bryan." Ucap Clara diiringi senyuman termanisnya setelah berada tepat di hadapan Bryan, dan Bryan tidak bisa berkedip saking tak menduganya Clara sudah menyiapkan semua ini.
"Hepi Besdey papa." Ucap Audira juga sambil bertepuk tangan dan tersenyum melihat Bryan. Sesekali Bryan mengalihkan pandangannya melihat Audira kemudian melihat Clara juga.
"Selamat ulang tahun Tuan." Ucap Riko juga.
"Apa aku sedang bermimpi? Clara, ka-kamu sungguh melakukan ini?" Tanya Bryan masih tidak percaya.
"Iya." Jawab Clara sambil mengangguk.
Namun tiba-tiba senyum diwajah Bryan hilang dan wajahnya seketika murung.
"Aku pasti bermimpi, ini tidak mungkin terjadi bagaimana mungkin Clara? Kamu itu istri Rendi kenapa melakukan ini padaku?"
"Sir, biarkan Nona Clara bicara dulu." Ujar Riko menenangkan Bryan.
"Tidak Rik, ayo kita pulang Rik! Dia mencoba mempermainkanku." Bryan menarik tangan Riko mengajaknya pulang tapi lagi-lagi Riko menolak.
"Sebelum Sir mendengarkan Nona Clara kita tidak bisa meninggalkan tempat ini, Sir tidak lihat Nona melakukan semua ini untukmu, Sir."
Bryan hanya bisa diam sambil menunggu Clara buka suara.
"Riko, tolong pegang Audira sebentar." Ucap Clara sembari memberikan Audira ke Riko.
"Hai Dira manis sini nak! apa kamu menyukai pamanmu yang ketampanannya tidak bisa melebihi papamu itu." Ucap Riko bicara nyeleneh pada Audira yang bahkan belum tau apa-apa.
Sedangkan Clara mendekati Bryan yang terlihat memalingkan wajah tidak mau melihat Clara.
"Semua yang terjadi diantara kita hanyalah kesalah pahaman yang kita buat sendiri, aku mengira kamu sudah menikah dengan Wulan, sedangkan kamu juga melakukan hal yang sama dengan menganggapku sudah kembali pada Rendi." Ucap Clara sambil berjalan perlahan mendekati Bryan dan Clara memutar tubuh Bryan membuat mereka saling berhadapan.
"Kita sama-sama memiliki perasaan yang sama namun kesalah pahaman itu membuat kita gengsi untuk mengungkapkannya, tapi kemarin kamu sangat berani mengatakan perasaanmu kepadaku, aku tau kamu kecewa karna saat itu aku bertingkah seolah tidak mengerti tentang perasaanmu, tapi setelah kamu mengatakan kamu belum menikah saat itu juga aku mengerti dan malam ini aku akan mengatakan isi hatiku juga." Ucap Clara panjang lebar sambil memegang kedua tangan Bryan.
"Sir, haruskah kita terus membiarkan kesalah pahaman terjadi? sampai kapan kita akan hidup dalam kepura-puraan setiap harinya dengan menutupi perasaan satu sama lain? Sir, aku ingin nengakhiri kesalah pahaman ini." Ucap Clara, Bryan membelalakkan matanya seakan dia tidak percaya mendengar apa yang baru saja Clara katakan.
.
.
.
To Be Continue
__ADS_1