
"Saya tidak menculiknya, sedari tadi saya hanya berada dikamar, jika tidak ada yang percaya saya siap biar polisi yang menyelidikinya."
"Bisa saja Anda menyuruh anak buah Anda untuk menculiknya."
"Sudah-sudah! Biar polisi yang menangani kasus kalian."
"Tunggu, pak!" Rendi menghentikan security yang hendak membawa mereka ke kantor polisi.
"Katakan apa yang terjadi pada Clara?"
"Clara diculik." Ungkap Bryan terlihat kesedihan di wajahnya.
"Apa, diculik???" Rendi syok.
"Pasti kamu kan pelakunya, semalam kamu membawa Clara pergi, dan sekarang dia hilang siapa lagi jika bukan kamu pelakunya."
"Brengsek!!! Bukkk..." Rendi memukul Bryan karna tidak terima Bryan menuduhnya.
"Heh! Ini salahmu, kamu yang tidak bisa menjaga Clara, makanya dia bisa diculik, sekarang saat dia hilang kamu menuduhku, kamu itu tidak pantas untuk Clara, menjaganya saja tidak becus.'
"Hah! Sudah-sudah jangan beradu mulut! Sebaiknya kalian telpon polisi minta bantuan mereka agar wanita yang hilang itu bisa cepat ditemukan." Tegas pak security.
Bryan dan Rendi keluar dari ruangan tersebut.
Aditya dan Riko masing-masing mendampingi bossnya.
"Jika terjadi sesuatu pada Clara, saya akan bikin peritungan pada Anda!!!" Ancam Rendi.
Riko menenangkan Bryan agar tidak terpancing dengan kata-kata Rendi dan supaya bisa bersikap tenang untuk mencari Clara.
Tring... Tring... Tring... Ponsel Bryan berdering, Bryan mendapat panggilan dari nomor tak dikenal.
"Serahkan uang 1,5 M, dan berikan sertifikat perusahaan, jika Anda ingin nyawa gadis yang Anda cintai bersama bibi Anda selamat."
Ancamnya tanpa memberi Bryan kesempatan untuk bicara, sontak Bryan kaget saat mendengar bibinya juga ikut diculik.
Sekarang Bryan tau siapa dalang dibalik penculikkan Clara, ternyata bukan Rendi yang menculiknya melainkan Rogert.
"Hallo... Hallo... Hallo... Aargh... Sial!!!" Bryan geram ternyata telponnya sudah terputus.
"Dimana Clara???" Tanya Rendi setelah melihat Bryan menerima telpon.
"Riko, bibi Maria juga diculik, kita harus segera menemukan Clara dan bibi."
Tanpa menjawab pertanyaan Rendi, Bryan dan juga Riko masuk kedalam mobil dan pergi untuk mencari Clara.
"Aditya, kita ikuti mereka!!!"
Rendi bersama Aditya mengikuti Bryan pergi.
__ADS_1
*****
Bryan sudah meminta bantuan polisi agar Clara bisa cepat ditemukan, tapi Bryan dan juga Riko tidak berhenti berusaha mencari cara sendiri untuk menemukan Clara.
"Dimana kita harus mencari mereka, Sir???" Tanya Riko.
"Sebentar, aku menaruh alat pelacak dibaju Clara, semoga alat itu bisa membantu."
Bryan berusaha tenang dan mulai memainkan smartphonenya untuk melacak keberadaan Clara.
"Sial!!!" Bryan membanting smartphonenya.
"Ada apa, Sir?" Ucap Riko kaget.
"Alat pelacaknya sudah dirusak, sepertinya mereka tau ada alat pelacak dibaju Clara."
Bryan semakin geram rasanya sudah tidak sabar untuk menghajar Rogert.
"Lalu kita harus bagaimana, Sir?"
"Aku tidak tau, tapi kita tidak punya waktu Clara dan bibi harus segera ditemukan, cari kemana saja, aku tidak ingin Rogert menyakiti mereka lagi."
"Baik, Sir."
Tiba-tiba di dalam perjalan seseorang menghadang mereka ditengah jalan. Riko hampir saja menambraknya, ternyata Wulan yang menghalangi mereka. Bryan kesal melihat Wulan yang hanya akan memperlambat pencarian mereka.
"Sir, saya tau dimana Clara." Ucap Wulan membuat tatapan Bryan tertuju padanya dan mencurigai Wulan.
"Oo... Jadi kamu yang menculik Clara?"
"Sir, saya tidak menculiknya, saya hanya ingin membayar kesalahan yang telah saya perbuat."
"Maksudmu??? Bagaimana kamu bisa berada disini?"
"Clara diculik karna saya, Rogert mengancam saya jika saya tidak memberitahu keberadaan Clara dia akan membunuh saya, jadi saya terpaksa mengatakannya, tapi Sir,, saya disini untuk menebusnya, saya tau dimana Rogert."
"Sir, tidak ada salahnya kita beri Wulan kesempatan."
"Saya tidak percaya padanya, wanita ini pasti bekerjasama dengan Rogert."
"Sir, tolong beri saya kesempatan, saya benar-benar merasa bersalah, tolong Sir, Rogert hanya memanfaatkan balas dendamnya untuk menghancurkan Sir, jika Sir menyerahkan uang dan sertifikat itu dia tetap akan membunuh Clara dan tante Maria, Sir percaya pada saya, saya tidak ada niat jahat sama sekali, saya hanya ingin Clara dan tante selamat karna saya tau dimana Rogert berada."
"Maaf menyela Sir, tapi menurut saya tidak ada salahnya kita mempercayai Wulan, kita tidak tau dimana Rogert sekarang, sedangkan Clara dan tante harus segera kita temukan sebelum Rogert melakukan sesuatu pada mereka."
"Ok baiklah." Bryan menerima saran dari Riko.
"Wulan, masuklah." Riko membukakan Wulan pintu mobil, dan Wulan duduk didepan bersama Riko.
"Terima kasih, Sir, kalian sudah memberi saya kesempatan untuk membantu mencari Clara."
__ADS_1
Di Sisi Lain
Rendi kehilangan jejak saat membuntuti Bryan.
"Sial! Kemana mereka pergi?" Gumam Rendi.
"Cepat Aditya, kita harus menemukan Clara lebih dulu, jangan sampai mereka duluan yang menemukannya."
KEDIAMAN ROGERT
Clara sadar dari pingsannya dan menyadari tangan dan kakinya terikat, Clara berusaha melepaskan ikatannya namun tidak bisa. Lalu matanya tertuju pada wanita yang sudah dikenalnya siapa lagi jika bukan tante Maria, duduk diatas kursi dengan tubuh yang terikat dikursi berada tidak jauh darinya.
"Tante!!! Tante!!!" Panggil Clara.
Tante Maria yang masih setengah sadar mendengar suara Clara.
"Clara....." Balasnya setelah melihat kearah Clara.
"Kamu disini nak?"
"Iya tante ini Clara, tante baik-baik sajakan?"
"Tante baik nak, kamu....." Belum selesai bicara tiba-tiba Rogert bersama anak buahnya yang menyeramkan masuk.
"Wah... Kalian sudah sadar rupanya." Ucap Rogert kemudian mendekati Clara.
"Hei, cantik, apa kamu istrinya Bryan? sungguh malang nasibmu." Ucapnya sambil tertawa.
"Siapa kamu? Don't touch me!" Clara mengelak saat Rogert ingin menyentuh wajahnya.
"Oo...ooo... Perkenalkan saya Rogert temannya Bryan, ralat! Maksud saya musuh bebuyutan Bryan."
"Nasibmu tidak beruntung sekali, hari ini akan menjadi hari terakhir kalian berdua." Ancam Rogert.
"Rogert, kamu boleh ambil semua harta saya, tapi tolong jangan sakiti anak-anak saya, mereka tidak bersalah, saya mohon." Rintih tante Maria saat tante Maria melihat Rogert menyekek leher Clara.
"Harta tidak akan cukup untuk membayar nyawa ayahku yang sudah suamimu renggut, aku tidak akan puas sebelum aku melenyapkan nyawa kalian, nyawa harus dibayar dengan nyawa itu baru namanya keadilan."
Rogert mendorong kepala Clara kebelakang sehingga terbentur ke dinding.
.
.
.
BERSAMBUNG
Jangan lupa like dan komentar ya guys😊 jangan pelit gak susahkn cuma pencet tombol like😁
__ADS_1