DARI HATI

DARI HATI
Satu Kesempatan Lagi


__ADS_3

Kediaman Bryan


Pria itu duduk ditaman belakang rumahnya ditemani seorang teman sekaligus asisten setianya. Dia masih termenung dengan mata yang sembab, luka dihatinya masih terasa perih karna kecewa pada dirinya sendiri yang sudah membuat hati istrinya terluka.


"Sir, sampai kapan kamu akan duduk disini, ayo lah makan dulu Sir..." bujuk Riko yang turut prihatin dengan kondisi si boss, namun Bryan tetap mematung dengan tatapan kosong memandang kedepan sana.


"Makan sedikit Sir, jika kamu tidak makan maka kamu bisa sakit." Riko berusaha menyuapi bossnya untuk makan namun Bryan malah dengan kasar melempar makanan yang Riko bawa untuknya, Riko terkejut namun dia tetap tenang menghadapi orang yang sedang tertekan batinnya seperti bossnya itu.


"Aku tidak mau makan..." lirih Bryan dengan tatapan sendu menundukkan kepala.


"Baiklah Sir aku tidak akan memaksamu..."


"Dari semalam dia tidak menjawab telponku, tidak membalas pesanku, tidak ada kabar satupun darinya." Kata Bryan.


"Mungkin nona masih marah Sir, nanti kalau semuanya sudah membaik pasti nona akan menghubungimu Sir."


"Tapi sampai kapan semua akan membaik, aku tidak bisa melakukan apapun, Angelica sudah merusak citra diriku dihadapan istri dan mertuaku."


"Kita cari jalan keluarnya Sir, semoga kita bisa cepat menemukan buktinya yang menyatakan Sir tidak bersalah."


"Mau sampai kapan Rik, aku tidak bisa diam saja dirumah seperti ini, aku akan menjemput Clara sekarang juga."


"Jangan Sir, jangan gegabah nanti Sir pasti akan menerima penolakan dari pak Kusuma."


"Tapi aku sangat merindukan istri dan juga buah hatiku, sekarang hidupku sangat hampa tanpa mereka disisiku, papa melarangku untuk bertemu Clara, dan aku tidak diizinkan untuk menemani Clara saat dia lahiran nanti bukankah itu sangat menyakitkan? Rik aku harus kesana, aku akan memohon bagaimana pun aku harus berusaha mengembalikan kepercayaan mereka, agar aku bisa bersama istri dan buah hatiku lagi."


"Ok, baiklah Sir tapi sebelum kesana Sir harus makan dulu ya..."


"Baiklah Rik, aku akan makan walau hanya sedikit."


*****


"Hei, kita bertemu lagi." sapa Kathryn pada Riko yang juga terlihat sedang membeli makanan di sebuah restoran yang sama dengannya.


"Ya, kamu yang kemarin bersama nona Clara, bukan?" tanya Riko berusaha mengingatnya.


"Benar sekali, kamu sedang beli makanan juga?" tanya Kathryn.


"Iya, Tuan Bryan tidak mau makan, dia sangat terpuruk berada jauh dari nona, kamu ngapain disini?"


"Aku juga sama beli makanan untuk kak Clara, kakak juga sedih tapi paman memintanya untuk berpisah dengan kak Bryan."


"Apa cerai? pak Kusuma sampai semarah itu pada boss saya."


"Apakah kak Bryan sudah tau, kalau paman sudah mengurus surat perpisahan mereka dipengadilan?"


"Kenapa masalahnya semakin rumit?" sesal Riko yang merasa tidak bisa melakukan apapun untuk bossnya.


"Aku juga tidak mengerti, jika aku bisa maka aku akan membantu, tapi aku tidak tau banyak tentang kak Bryan, aku tidak tau kak Bryan orangnya seperti apa, tapi aku sendiri tidak yakin kalau kak Bryan tega menghamili wanita lain, aku yakin pasti terjadi sesuatu pada wanita itu." ungkap Kathryn.


Saat sedang mengobrol dengan Kathryn tiba-tiba Riko mendapat telpon dari Wulan yang ingin mengajaknya ketemuan diluar.


"Siapa yang menelponmu, apa itu kekasihmu?" tanya Kathryn setelah Riko selesai bicara.


"Calon istri saya, maaf ya saya tinggal dulu saya harus menemuinya sekarang." ucap Riko berpamitan.


"Jadi dia sudah punya calon, kalau dilihat-lihat pak Riko orang yang baik, dia punya rasa peduli yang begitu besar pada orang lain." batin Kathryn yang hanya bisa menatap Riko dari kejauhan.

__ADS_1


Riko pun bergegas untuk menemui Wulan, tanpa pikir panjang Riko menuju rumah Wulan untuk menjemputnya disana meskipun Wulan tidak memintanya.


*****


Setelah menemani Audira bermain diluar rumah, Clara pun mengajak buah hatinya untuk masuk kedalam rumah karna cuaca juga mulai terik. Audira digendong oleh papa memasuki rumah, sedangkan Clara masih berada diluar menyapu teras rumah yang sempat dikotori oleh Audira saat dia bermain tadi.


"ARAAA..."


Terdengar suara yang tak asing bagi Clara memanggil namanya beberapa kali, Clara pun menoleh kedepan pagar, disana terlihat seorang pria berdiri di depan pagar dengan raut wajah terlihat sangat memprihatikan.


Clara menatapnya sejenak, namun kemudian Clara mengabaikannya dan hendak masuk kedalam rumah.


"Ara beri aku kesempatan untuk membuktikannya, jangan menghindariku seperti ini, aku tidak mau hubungan kita berantakan Ara, aku mohon Ara beri aku satu kesempatan lagi." lirih Bryan memohon dengan sangat.


"Kesempatan terakhir sudah kamu dapatkan Di, aku sudah berusaha membelamu melakukan tes DNA itu tapi usahaku juga sia-sia ternyata hasilnya tetap sama, maafkan aku Di sekarang tidak ada gunanya lagi kita bersama." batin Clara sambil menahan tangis, sejujurnya dia tidak tega melihat Bryan yang berdiri didepan pagar tanpa bisa masuk untuk bertemu dengannya.


"Ara, jika kamu tidak ingin bersamaku, lebih baik aku tiada, aku akan mengakhiri hidupku, aku tidak bisa hidup tanpa kamu dan anak-anak kita Ara, seharusnya aku tidak perlu mengulang kalimat ini berulang kali, namun kamu tetap saja tidak mengerti dengan posisiku saat ini, aku lebih terluka Ara, aku akan mengakhiri semuanya..." ancam Bryan bukan hanya omong kosong, dia langsung berjalan kelorong sedangkan banyak mobil berlalu lalang.


Saat Bryan hendak ketengah jalan Clara langsung berteriak memanggil namanya seketika langkah kaki Bryan pun terhenti, dan teriakan Clara membuat orang yang berada di dalam rumah ikut keluar setelah mendengar teriakan histeris dari Clara.


Clara berjalan kearah Bryan dan menariknya ke tepi jalan, sedangkan sang ayah mengikut dibelakangnya untuk mengawasi Bryan dan Clara.


"Laki-laki pengecut..." seru sang ayah tampak benci sekali melihat Bryan.


"Apa dengan bunuh diri semua masalah akan selesai? apa kamu sudah kehilangan akal? kamu akan membuatku semakin menderita." kata Clara dengan mata berkaca-kaca memandang wajah Bryan.


Bryan hanya menunduk tanpa sanggup berkata apa-apa lagi, Bryan seakan kehilangan akal sehatnya karna dia teramat sangat mencintai istrinya sedangkan Clara masih tidak percaya padanya, ya memang sulit untuk mengembalikan kepercayaan seseorang yang hatinya sudah terlanjur kecewa.


"Kamu sangat pucat, sebaiknya kamu pulanglah, nanti kita cari jalan keluarnya." Untuk pertama kalinya Clara tersenyum meski hanya tersenyum tipis namun Bryan senang melihat senyum diwajah istrinya.


"Apakah kamu percaya padaku, kalau aku tidak pernah melakukan hal kotor seperti itu Ara?"


"Ini apa pa?" lirih Bryan meski dia sudah bisa menebak bahwa amplop tersebut berisi surat perpisahan tapi Bryan tidak yakin kalau mertuanya akan bertindak sejauh itu.


"Itu surat perpisahan."kata sang ayah dengan lantang.


"Pa, kenapa papa tega melakukan ini padaku, aku tidak mau berpisah dengan Clara pa, aku sangat mencintainya." lirih Bryan memohon sedangkan Clara hanya tertegun tanpa bisa melakukan apapun.


"Kamu seorang pembual, saya tidak bisa membiarkan putri saya tersakiti olehmu, cepat kamu pergi dari sini." sang ayah menarik tangan Bryan dan mengusirnya namun dengan gerakan yang cepat Clara menahan tangan sang ayah dan Clara menggenggam tangan Bryan.


"Papa, aku sudah pernah gagal, tapi kali ini aku tidak akan membiarkan siapapun memisahkan kami." kata Clara angkat bicara, sontak membuat Bryan seakan tak percaya istrinya mulai membelanya.


"Apa yang kamu lakukan nak, dia bukan pria baik-baik." cetus ayah.


"Clara tidak akan berpisah pa." Clara menyobek surat perpisahan itu, papa hanya bisa terdiam menyaksikannya.


"Baiklah jika maumu seperti itu, tapi jangan pernah minta bantuan papa jika dia kembali menyakitimu." kata papa dengan tegas bicara pada Clara, Clara hanya mengangguk dia yakin dirinya bisa melewati semua masalah ini.


Bryan berkaca-kaca dia terharu mendengar setiap kalimat yang terucap dari bibir sang istri.


"Apa itu berarti kamu percaya padaku, Ara?" tanya Bryan lagi.


"Aku tidak tau harus percaya pada siapa saat ini, mataku melihat dengan jelas bukti-buktinya, tapi hatiku selalu mengatakan aku harus percaya padamu. Jika kamu sungguh-sungguh tidak menodai kesucian wanita itu maka buktikanlah, beri aku satu bukti yang kuat yang bisa meyakinkan aku dan orang tuaku, karna mereka lebih percaya dengan apa yang mereka lihat dari pada apa yang mereka dengar... Aku memberimu kesempatan untuk itu Di..." Clara menepuk pundak Bryan dan tersenyum.


"Aku akan membuktikannya Ara, terima kasih, terima kasih Ara, aku janji tidak akan membuatmu kecewa kali ini..."


"Perjuangkanlah, jika kamu benar-benar mencintaiku..." tutur Clara.

__ADS_1


*****


Riko mendatangi apartemen mewah dimana Wulan tinggal. Dia akan membuat kejutan dengan tidak memberitahu Wulan bahwa dia akan menjemputnya langsung.


Namun saat Riko keluar dari lift dia malah melihat Wulan yang keluar dari kamarnya bersama dengan wanita yang mengaku-ngaku hamil anak bossnya itu.


"Wulan... bagaimana dia bisa bersama Angelica?" gumam Riko memperhatikan mereka dari kejauhan.


Riko melihat calon istrinya itu tampak sangat akrab dengan wanita j*lang itu. Begitu banyak rasa penasaran yang timbul dalam benak Riko karna dia memang tidak pernah tau seluk beluk Wulan meski mereka sudah mengenal cukup lama.


Saat Riko tengah menguntit pembicara Wulan dan Angelica tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya yang membuat Riko kaget.


"Adek ngapain ngintip perempuan?" tanya orang tersebut.


"Dia calon istrinya saya, bu." kata Riko.


"Apa ibu mengenal wanita yang bersama dengannya?" tanya Riko mengalihkan pembicaraan.


"Oh itu namanya Angelica, dek."


"Ada hubungan apa mereka, bu?"


"Katanya adek ini calon suaminya, tapi gimana sih kok bisa gak kenal."


"Jadi mereka itu 2 bersaudara dek, kakaknya itu baru pulang dari luar negeri sekarang mereka tinggal bersama disini." jelas orang tersebut.


Riko menahan rasa kagetnya, tak lama ibu tersebut pun menjauh darinya.


Akhirnya Riko yang awalnya untuk menemui calon istrinya tapi sekarang niatnya berubah untuk menjadi penyelidik setelah mendapat bukti pertama, sedari kuliah Riko mengenal Wulan namun Riko tak pernah tau siapa saja keluarga Wulan yang Riko tau orang tuanya sudah meninggal tapi Wulan tidak pernah bercerita tentang kakaknya. Riko mulai merasa kecewa dengan kebohongan yang telah Wulan lakukan.


Tak lama Wulan terlihat melangkahkan kakinya untuk pergi karna dia harus bertemu dengan Riko di luar, Riko yang melihatnya akan pergi langsung turun kelantai dasar menunggu Wulan keluar dari apartemen.


Saat Wulan keluar dari apartemen Riko langsung mencegat tangannya yang membuat Wulan terkejut.


"Jadi kamu dan kakakmu sekongkol melakukan semua ini untuk menghancurkan rumah tangga Bryan dan Clara... jawab aku!!!" tanpa basa basi Riko langsung bertanya pada intinya.


"Lepaskan tanganku sakit, aku tidak mengerti apa yang kamu katakan, kenapa marah-marah." Wulan mencoba melepaskan tangannya dari cengkraman Riko.


"Aku sudah tau semuanya, Angelica itu kakakmu kan, kalian sekongkolkan." Riko menatap Wulan dengan tatapan mematikan seakan dia melupakan apa status Wulan baginya.


"Hentikan Rik!!!, kenapa sih kamu selalu ikut campur urusan Bryan, aku calon istrimu kamu tega menyakitiku seperti ini." Wulan menangis tapi Riko tidak peduli.


"Bryan itu hidupku, mungkin jika dia tidak ada aku tidak akan hidup sampai sekarang, Wulan awalnya aku percaya padamu tapi setelah hari ini aku benar-benar kecewa."


"Iya Angelica itu kakak kandungku, apa kamu puas sekarang..." bentak Wulan.


"Ohhh... sudah tidak salah lagi kalian berdua sekongkol..."


"Benar sekali, kami melakukan ini untuk balas dendam... apa kamu tau, siapa yang meneror kantor dengan mengirim paket berupa ancaman itu, aku yang melakukannya, agar kami bisa menjatuhkan Bryan." ungkapnya tertawa lepas.


"Aku melakukan itu karna gara-gara Bryan, aku dan kakakku harus hidup terpisah, kakak kabur keluar negeri meninggalkanku sendirian di Swiss, semua itu karna Bryan menolak perjodohan mereka ayahku meninggal karna serangan jantung gara-gara Bryan, dan Clara dia wanita penyebab Bryan menolak perjodohannya dengan kakakku." lanjutnya puas.


Riko tak menyangka wanita yang akan menjadi istrinya itu ternyata berhati busuk.


"Satu lagi yang harus kamu tau, anak yang ada dikandungan kakakku itu bukan anak Bryan, melainkan anak dari mantan suaminya..."


"Jadi kamu tau Angelica tidak hamil anak dari Bryan, keterlaluan kamu Wulan..."

__ADS_1


"Akhirnya kami berhasil memecah belah 2 insan yang kisah cintanya sangat menyedihkan itu, aku senang melihat Clara menderita dan aku akan terus membuatnya menderita." Wulan tertawa lepas dia tidak hanya mempermainkan Clara dan orang terdekatnya tapi juga mempermainkan Riko calon suaminya sendiri.


__ADS_2