
Matahari menampakkan diri dari ufuk timur pertanda hari menjelang pagi. Bryan membuka tirai jendela kaca untuk memancarkan sinar mentari pagi ke arah Clara yang masih tidur pulas.
Bryan tersenyum memandang wanitanya, dengan menaruh beribu-ribu harapan agar bisa selalu melihat wanitanya bahagia.
"Huah...aaa." Clara menggeliat dan membuka mata secara perlahan karna sinar mentari pagi berhasil menyilaukan matanya.
"Good morning!" Sapa Bryan diiringi senyuman manisnya.
"Sir! Maaf aku kesiangan." Sesal Clara, Bryan duduk didepannya.
"Ayo bangkit!" pinta Bryan sembari mengulurkan tangan, dan Clara meraih tangan Bryan.
Bryan mengiringi Clara menuju balkon mereka untuk menikmati cahaya matahari pagi.
"Segarnya." Clara membentangkan tangannya menghirup udara dipagi hari.
"Tunggu sebentar!" Ucap Bryan mengambil minuman di meja, sedangkan Clara fokus menatap pemandangan.
"Teh!" Ujar Bryan.
"Terima kasih, Sir!"
Clara kembali memfokuskan pandangannya melihat pemandangan sedangkan Bryan hanya melihat Clara.
"Sir, tiba-tiba aku ingat Audira." Ucap Clara melihat kearah Bryan, dan Bryan dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Kamu merindukannya? kenapa tidak video call saja." Ucap Bryan.
"Serius, Sir? Saya boleh video call sama Audira?"
"Kenapa tidak? Mana mungkin aku melarang seorang ibu untuk melihat anaknya."
"Benar-benar selama ini kamu tidak pernah melarangku, tapi aku saja yang merasa tidak enak."
"Ya sudah, berapa nomornya?" tanya Bryan mulai mengetik nomor yang Clara sebutkan.
Bryan langsung menghubungkan panggilan dengan bi Rika (ART Rendi), bi Rika dengan cepat merespon panggilannya dan terhubung dengan Clara yang sekarang sedang memegang ponsel Bryan.
"Selamat pagi bi!" Sapa Clara.
__ADS_1
"Pagi, Non!" bi Rika sedikit kaget karna Clara menelponnya dengan nomor yang berbeda.
"Non dimana sekarang?"
"Di Swiss, apa kabar bi Rika?"
"Baik non, non sekarang apa kabar?"
"Baik juga bi, maaf ya bi selama saya bekerja saya jadi banyak merepotkan bibi untuk mengurus Dira."
"Tidak apa-apa non, itu sudah tugas bibi, non fokus saja kerjanya, selalu jaga kesehatan."
"Iya bi, semua saya lakukan juga demi masa depan Dira."
"Iya non, bibi senang sekarang non punya pekerjaan yang sesuai dengan non."
Tiba-tiba Bryan menampakkan dirinya ke layar ponsel sengaja mengganggu Clara.
"Itu siapa non?" tanya bi Rika melihat sosok laki-laki tampan yang sedang bersama Clara.
"Boss saya bi."
"Bibi pikir dia calon suami non, non terlihat sangat serasi dengannya."
Audira terlihat sedang bermain dengan bonekanya.
"Kasian anak mommy." gumam Clara merasa sedih seharusnya dia sekarang bersama Audira, bermain bersama dan menjaganya, tapi mau bagaimana lagi pekerjaan menuntut Clara.
Bryan duduk disamping Clara, bersama-sama melihat Audira.
"Hai sweety." Bryan tersenyum manis sambil menyapa Audira sontak Audira tersenyum melihat Bryan.
"Kenapa dia tersenyum padamu?" tanya Clara heran.
"Aku juga tidak tau, padahal ini pertama kali dia melihatku." Jawab Bryan juga merasa heran.
"pappa... pappa..." Begitulah kalimat yang keluar dari mulut Audira yang mulai bisa bicara.
Clara dan Bryan saling berpandangan kaget mendengar Audira memanggil Bryan papa.
__ADS_1
"Dia memanggilmu papa? tidak mungkin." Ucap Clara seakan tak percaya.
"Aa, aku juga bingung." Ucap Bryan.
"Pappa! pappa!" panggilnya lagi jarinya menunjuk Bryan.
"Iya sweety, ini papa, sweety lagi apa, lagi main boneka ya?"
Clara hanya bisa diam dan heran, Audira hanya mau bicara dengan Bryan bahkan berulang kali memanggil Bryan dengan sebutan papa.
"Sweety, lihatlah mommymu dia semakin kurus karna merindukanmu." Ucap Bryan sembari menggoda Clara yang hanya diam.
"Mommy! mommy! pappa!" panggilnya lagi dan lagi.
"Iya sayang, ini mommy, mommy sangat merindukanmu sayang, saat mommy pulang nanti mommy pasti segera menemuimu sayang."
"Sweety, mau minta beliin apa? boneka, rumah-rumahan, mobil-mobilan, susu, coklat?" Ucap Bryan ditengah-tengah Clara sedang bicara dengan Audira membuat Clara jengkel karna Bryam bertingkah seperti ayah Audira saja.
"Dia tidak akan mengerti apa yang kamu bicarakan." Ucap Clara jengkel.
Tiba-tiba
"Cu-cu, cu-cu, pappa..." artinya susu, ucap Audira seolah mengerti kata-kata Bryan.
"Haha, kamu salah itu dia mengerti." Bryan terkekeh dan senang saat Audira menanggapi nya, sedangkan Clara semakin jengkel tapi juga merasa senang saat Audira bisa tertawa dan mudah akrab.
Selesai Video Call
Clara terlihat cemberut dan membelakangi Bryan. Bryan memutar badan Clara membuatnya saling berhadapan.
"Kenapa cemberut?" sambil mengangkat dagu Clara.
"Aku heran, kamu dan Audira bisa seakrab itu."
"Oo, jadi mommynya sweety kesal karna sekarang sweety lebih akrab sama ayahnya." Goda Bryan.
"Kamu bukan ayahnya, jangan sok akrab, aku tidak mau nanti dia jadi manja denganmu, kamu akan menjadi suami sekaligus ayah dari orang lain nanti, tolong jangan memberi Audira harapan dengan bertingkah seolah-olah menjadi ayahnya, dia punya ayah jadi tolong jangan sok akrab!" Ucap Clara kesal.
"Tapi Audira sendiri yang memanggilku papa, kenapa kamu marah padaku?"
__ADS_1
"Ya, iya karna kamu menanggapi kata-katanya."
"Kamu tidak akan mengerti, ini menyangkut perasaanku." ucap Clara dalam hati sambil menatap Bryan.