DARI HATI

DARI HATI
EPISODE 26


__ADS_3

Investor asing itu tepat berdiri dihadapanku. Mataku tidak mampu berkedip, kedua kalinya aku bertemu si pria dingin yang menabrakku kemarin malam. Saat semua lengah dia meraih tanganku dan meletakkan kartu namanya ditelapak tanganku. Aku tidak habis pikir apa-apaan pria ini bertindak semaunya saja. Dia memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki dan menetapkan pandangannya tepat dipergelangan kakiku mungkin dia mencari luka akibat kecelakaan itu tapi karna aku menggunakan kaos kaki lukanya tidak terlihat.



"Dia investornya??? Aku tidak yakin!!!" Gumamku.



"Aku sudah menduga kamu akan datang." Bisik pria itu ditelingaku. Aku diam dengan mata terbelalak menatapnya tapi dia malah memberikan senyum centilnya.



"Bu Clara, rapatnya bisa dimulai sekarang?" Aditya menyadarkanku.



"Aah... Iya silakan!"



"Ibu pimpin rapatnya!!!" bisik Aditya tapi aku malah gugup.



"Adit, kamu pimpin rapatnya saya tiba-tiba hilang konsentrasi." Ucapku pelan ke Aditya. Aditya pun memimpin rapat. Sepanjang rapat aku hanya diam, pria dingin itu juga banyak diam hanya orang kepercayaannya yang banyak bicara, rasanya otakku mendadak kosong apa lagi si pria dingin itu tidak berhenti mencuri pandangan hingga akhirnya aku tidak sadar rapat sudah selesai.



"Bu Clara!!!" Lagi-lagi Aditya membuatku kaget.



"Aah...!!!"



"Ibu setuju???"



"Oo... iya setuju-setuju!!!" Padahal sepanjang rapat aku tidak mendengar apa yang mereka bicarakan aku hanya setuju-setuju saja.



"Baiklah Pak Alexander terima kasih telah bergabung." Aditya berjabat tangan dengan orang kepercayaan pria dingin itu.

__ADS_1



"Bu Clara!!! Ucapkan terima kasih!" Aditya menyenggolku lagi-lagi aku melamun.



"Aah... Terima kasih tuan." Aku membungkukkan setengah badanku membuat mereka semua tertawa dengan tingkahku. Mungkin mereka pikir aku boss yang aneh, tapi ini gara-gara pria dingin itu membuat konsentrasiku buyar. Lagi-lagi pria itu menebar senyum centilnya sampai membuatku takut memandangnya.



"Kamu yakin Aditya, dia investor asingnya jangan-jangan dia penipu lagi." Aku berbisik dengan Aditya.



"Memang dia orangnya, ibu jangan bicara sembarangan nanti kalau dia dengar dia cabut perjanjiannya bisa-bisa kantor kita gulung tikar." Jelas Aditya.



Pria dingin itu terus menatapku dengan senyum centilnya.


"Saya suka dengan boss Anda." Ucap pria itu mungkin dia memuji cara kerjaku tapi aku malah gugup sampai-sampai untuk minum saking groginya minuman dimulutku menyembur semua dihadapan pria itu hingga mengenai pakaiannya. Dengan susah payah aku menelan liur aku harap pria dingin itu tidak marah dan tidak membatalkan perjanjian kerjanya.



"O... ow!!!" Mulutku ternganga pria itu menatapku dengan matanya yang tajam.




"Pasti dia marah???" Batinku mulai ketakutan.



"Saya bersihkan tuan." Aku langsung membersihkan noda minuman dikemeja pria itu dengan sobekkan kertas. Pria itu segera menangkis tanganku dengan kasar membuat jantungku berdebar.



"Sobekkan kertas??? Apa-apaan ini." Ucap pria itu masih menatapku dengan matanya yang tajam tanganku gemetar bahkan tubuhku ikut gemetar mau tidak mau aku harus berhadapan dengan pria dingin itu.



"Nah!!! Dia pasti marahkan..." batinku.


__ADS_1


"Tidak perlu dibersihkan, saya bisa membeli kemeja yang baru bahkan lebih mahal dari kemeja ini." Sambungnya seketika nada suaranya melembut tapi gaya bicaranya tetap tinggi.



"Iih... sombong banget..." batinku.



"Tapi syukurlah yang penting dia tidak marah dan tidak membatalkan perjanjiannya." Sambungku merasa lega.



"Bu Clara, Pak Aditya kami permisi dulu." Ucap pak Alexander. Mereka pun pergi akhirnya aku merasa lega setelah pria itu pergi.



"Terima kasih pak." Ucap Aditya.



"Minta maaf pak!" Ucapku sontak membuat mereka kebingungan, terkecuali pria itu setelah kejadian ini dia selalu sinis menatapku tanpa bicara sepatah kata.




*******



Hari ini aku melihat suasana yang berbeda dalam keluargaku. Jujur ini menyakitkan kemarin mereka sangat marah bahkan hampir mengusir Nanda, tapi hari ini mereka berkumpul bercanda ria bersama Nanda dan bayinya. Aku tidak akan mengganggu kebahagiaan mereka apalagi saat melihat mama menggendong bayi Nanda mama terlihat sangat bahagia makanya aku tidak hadir ditengah-tengah mereka. Apa yang mereka harapkan dariku kini terpenuh oleh Nanda, mereka ingin memiliki menantu yang sempurna, mereka ingin memiliki cucu semua telah Nanda berikan, sedangkan aku apa yang bisa mereka harapkan dariku? Tidak ada...!!!




Nanti author next lagi 👍😉



jangan lupa like dan komen ya guys😊



__ADS_1




__ADS_2