
Kantor Bryan
"Selamat pagi pak." sapa para karyawan sembari menunduk saat Bryan melewat di hadapan mereka.
"Pagi." balas Bryan sambil tersenyum bahagia, para karyawan senang melihat boss mereka akhirnya membalas sapaan mereka biasanya Bryan hanya tersenyum.
"Wah semangat sekali pak boss." goda Riko.
"Tentu, hari ini istriku akan cek kandungan aku sudah tidak sabar ingin melihat perkembangan bayi kami."
"Selamat ya pak boss sebentar lagi kita akan ke datangan pewaris BC-E GRUP."
"20 tahun lagi anakku itu akan menggantikan posisiku, dan paman Riko akan di pimpin oleh ponakannya." ujar Bryan sambil tertawa.
"Haha, aku juga sudah tua boss, nanti anak kita yang menjalankan perusahaan ini."
"Tentu saja, kamu kapan nyusul, cepat-cepatlah nikahin Wulan."
"Bentar lagi boss kami juga nikah, setelah anak boss lahir."
"Ya terserah kalian saja."
Bryan dan Riko pun menaiki lift lantai 12 menuju ruangan mereka. Sesampai di lantai 12 mereka berpisah menuju ruangan masing-masing.
Bryan memencet tombol kunci untuk masuk keruangannya yang sudah dia ganti agar tak seorang pun yang bisa masuk sembarangan ke dalam rungannya kecuali istri, asisten dan sekretarisnya.
Betapa Bryan terkejut ternyata sudah ada seorang wanita yang tak pernah Bryan harapkan sedang menduduki kursi tamu di dalam ruangan tersebut menunggu ke datangannya.
"Hai, Bryaaan." sapanya tersenyum, wanita itu langsung berdiri saat mendengar Bryan masuk.
Bryan terkejut tetap berdiri di depan pintu memasang wajah tanpa ekspresi, namun itu yang membuat wanita tersebut semakin terpesona.
"Bagaimana Anda bisa masuk?" tanya Bryan tegas.
"Kita sudah melakukan kerja sama, sekarang aku menjadi orang penting bagi perusahaan ini aku bisa masuk dari mana saja." ujarnya menyombongkan diri berjalan mendekati Bryan.
"Berhenti disitu." ucap Bryan tegas saat wanita itu selangkah maju.
"Apa tujuan Anda kemari?" tanya Bryan tanpa melihat wanita itu.
"Aku hanya berkunjung memantau kegiatan disini, apa kamu keberatan?"
"Jika tidak ada hal penting, silakan keluar." kata Bryan.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanyanya.
"Tidak."
"Apa masalah pekerjaan juga tidak boleh?" mencoba merayu dengan alasan.
"Anda bisa membahasnya dengan asisten atau sekretaris saya, silakan temui dia." Bryan berjalan ke arah meja kerjanya melintasi wanita tersebut.
"Tapi ini masalah kerjasama kita."
"Tidak ada alasan, silakan Anda keluar dan bicarakan dengan sekretaris saya."
"Bryan, beri aku sedikit waktu untuk bicara."
"Keluar atau saya panggilkan security."
"Baiklah aku akan keluar, aku harap kamu masih mengingatku, aku sangat merindukanmu, benar-benar rindu kamu." ujarnya tapi masih bertahan di satu titik belum melangkah keluar.
__ADS_1
Bryan menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Jangan membuat saya mengulang kata-kata." tegas Bryan menatapnya tajam.
"I-iyaaa, saya keluar." tertunduk takut tapi masih saja berdiri di titik yang sama.
"Cepat keluar Angelica." tegas Bryan dengan nada tinggi, tatapan yang tajam, raut wajah tanpa ekspresi, dan tangan menghempas ke atas meja membuat tubuh Angelica gemetar takut dan tidak bisa berkata-kata.
"Saya minta maaf." ujarnya sambil tertunduk, memalingkan badan secara perlahan lalu melangkah keluar dari ruang Bryan.
"Sial." Bryan meninju meja dengan keras karna kesal bagaimana Angelica bisa masuk padahal dia sudah mengganti sandi kunci ruangannya.
"Aarghh... iya aku harus menelpon Riko dan Wulan, hanya mereka berdua yang tau sandi ruanganku."
"Keruangan saya, segara." Ucap Bryan suaranya terdengar jelas sangat kesal lalu dia menutup telpon.
Riko berbarengan dengan Wulan memasuki ruangan boss mereka yang kini kembali arogan.
"Pak." sapa Riko tersenyum.
sedangkan Wulan hanya menunduk seperti baru saja melakukan kesalahan, Bryan sudah bisa mencium bau-bau ke anehan melihat tingkah Wulan.
"Bagaimana dia bisa masuk?" tanya Bryan pandangan sinisnya terfokus pada Wulan.
"Dia siapa boss?" Riko bingung karna dia tidak tau apapun.
"Kamu diamlah, saya bertanya padanya."
"Baik pak." Riko dia menundukkan kepala.
"Kenapa kamu diam?" tanya Bryan pada Wulan.
"Angkat kepalamu dan lihat saya saat bicara." tegasnya.
"Maafkan saya pak, saya tidak tau kalau dia bisa masuk, tapi pak dia berjanji menunggu diluar." Wulan mengakui.
Wulan Flashback
"Selamat pagi, saya Angelica SC baru perusahaan, bisa bertemu Direktur?"
"Maaf bu, pak Direktur belum datang." ujar resepsionis sopan.
"Bisa saya menunggu diruangannya?"
"Maaf bu, pak Direktur tidak memberi izin pada sembarang orang untuk bertemu."
"Saya ini SC yang memantau kegiatan di sini, beraninya kamu menganggap saya seperti orang asing."
Wulan kebetulan lewat dia melihat Angelica berdebat dengan resepsionis. Wulan berusaha menghindar keburu Angelica melihat dan memanggilnya.
"Kamu Wulan kan, aku masih mengingat mukamu." kata Angelica menahan Wulan yang hendak berpaling.
"Iya." jawab Wulan singkat.
"Sekretaris Bryan kan?"
"Benar, ada apa?" ketus Wulan.
"Apa Bryan..."
"Pak Bryan belum datang, apa Anda tidak mendengar apa yang resepsionis katakan."
__ADS_1
"Ahhh iya, saya tau."
"Lalu kenapa masih di sini?"
"Ada hal penting yang harus saya bicarakan, ini masalah pekerjaan."
"Anda bisa bicara langsung kepada saya."
"Ah, ini masalah tertutup jadi hanya saya dan pak Bryan yang bisa mengetahuinya."
"Apakah saya boleh menunggunya?" tanyanya lagi.
"Ok baiklah, tapi saya hanya bisa mengizinkan Anda menunggu di ruang tunggu."
"Iya tidak apa-apa."
"Mari saya antar."
"Anda tunggulah di sini, 30 menit lagi pak Bryan akan tiba."
"Ok, terima kasih Wulan."
Saat Wulan mengantar Angelica ke ruang tunggu Wulan tidak sadar kalau kertas yang berisi nomor sandi ruangan Bryan jatuh dari saku roknya, ya Wulan menulisnya di selembar kertas karna Wulan tidak mudah mengingat sandinya.
Wulan baru sadar saat dia kembali keruangannya, tapi Wulan sempat kembali keruang tunggu dan masuk ke ruangan Bryan untuk memastikan keberadaan Angelica, Wulan sudah memastikan Angelica pasti sudah pergi karna dia tidak menemukan Angelica di ruangan Bryan, namun ternyata malah sebaliknya.
Back
"Aarghhh... Wulan, Wulan, keteledoranmu itu..." Bryan kesal tanpa meneruskan kalimatnya.
"Maafkan saya pak, saya tidak sengaja."
"Makanya jangan menyepelekan hal kecil, ini yang tidak saya suka darimu."
"Maaf pak." sesalnya.
"Lebih baik kamu mencatatnya di dalam ponsel karna itu lebih aman."
"Iya pak, sekali lagi saya minta maaf."
"Kamu saya maafkan, tapi lain kali jangan ulangi." ucap Bryan
"Siap pak." tegas Wulan merasa lega.
"Saya permisi." ucap Wulan berlalu pergi.
"Boss, ada apa sih?" Riko penasaran.
"Rik, tolong ganti kunci ruangan saya, ganti sandinya dan pasang sidik jari." tegas Bryan.
"Ya tapi kenapa boss, kemarin baru saja diganti."
"Angelica berhasil menghack sandinya."
"Hah..." kaget Riko ternyata itu yang membuat Bryan memarahi Wulan.
"Saya tidak mau tau intinya kamu urus semuanya, turuti saja perintah saya."
"Baik boss, segera saya laksanakan." siap Riko.
Bryan sangat kesal, seharusnya hari ini dia pergi ke kantor dengan semangat dan bahagia tapi setelah melihat Angelica menerobos masuk rasanya Bryan down seketika.
__ADS_1
"Hah!!! Seharusnya Wulan itu memberitahuku lebih dulu saat akan menerima tamu." gumam Bryan masih kesal.