
Di Cafe
Clara ikut bersama Rendi untuk makan siang di cafe. Tanpa mereka sadari Bryan, Wulan juga Riko sedang makan siang di cafe yang sama.
"Silakan duduk." Ucap Rendi setelah menarik kursi untuk Clara duduki.
"Terima kasih."
Awalnya suasana terasa biasa saja tapi beberapa menit kemudian sambil menunggu pesanan datang Clara tidak sengaja melihat Bryan dan Bryan juga melihatnya.
Terjadilah saling pandang antara Bryan dan Clara. Clara kesal melihat Bryan yang ternyata juga bersama Wulan begitupun sebaliknya.
BRYAN
"Wulan, kamu bagaimana sih makan saja belepotan."
"Sungguh? Maaf Sir, saya tidak sadar." Ucap Wulan.
Bryan sengaja memanas-manasi Clara dengan cara seolah-olah mengambil makanan yang menempel dibibir Wulan padahal sebenarnya Wulan makan tidak belepotan.
"Dia pikir aku cemburu melihatnya." Batin Clara kesal.
Clara juga tidak mau kalah dia juga membalas perbuatan Bryan.
"Hmmm..." Clara memegang tangan Rendi secara tiba-tiba membuat Rendi terkejut.
"Ada apa, Clara?"
"Rendi, sepertinya cafe ini tidak punya fasilitas pendingin ruangan di sini panas sekali, kita cari cafe yang lain saja ya."
Kenyataannya cafe itu memiliki AC dengan suhu paling dingin.
"Kamu serius? cafe ini bahkan sangat dingin Clara."
"Aku serius Ren, di sini panas sekali lihat lah aku gerahkan." Clara mengipas-ngipaskan tangannya seolah memang sedang ke panasan.
"Ya sudah! Kita pindah saja."
"Ayo cepat Ren!"
"Sebentar Clara aku bayar pesanan makanannya dulu."
Clara langsung menggandeng tangan Rendi membuat Bryan tidak berani melihatnya.
Riko yang sedari tadi menyadari kelakuan Bryan dengan Clara hanya bisa cengar-cengir keheranan.
"Oo rupanya dia benar-benar sudah kembali pada mantan suaminya." Gumam Bryan kesal.
Di Mobil
"Laki-laki tidak punya hati." Gumam Clara tanpa sengaja terdengar oleh Rendi.
"Aku tidak punya hati?" Ujar Rendi.
"Ah! Bukan, kamu salah dengar kali Ren."
"Oo... Mungkin kali ya."
__ADS_1
"Aargh... Kamu bahkan tidak ada bedanya, semua laki-laki itu sama suka mempermainkan hati perempuan semaunya." Batin Clara kesal.
Sebelum Rendi dan Clara pergi dari cafe tersebut, Bryan, Wulan dan Riko juga keluar dari cafe.
"Pantas saja ada laki-laki itu, dia tidak ada habisnya mengikuti Clara." Batin Rendi geram.
Rendi baru sadar ternyata sedari tadi ada Bryan di dalam cafe.
"Apa perlu aku hajar laki-laki itu?" Ucap Rendi.
"Hah! Kamu tidak waras Ren? Apa masalah kita dengannya sampai kamu ingin menghajarnya?"
"Karna dia selalu mengikutimu, dan aku tidak suka itu."
Rendi segera turun dari mobil di susul oleh Clara dan Clara langsung mencegat tangan Rendi.
"Ren, dia tidak mengikutiku, aku melihatnya sedari tadi dia datang lebih dulu jauh sebelum kita datang ke cafe ini."
Bryan juga melihat Clara menggenggam tangan Rendi sehingga Bryan juga membalasnya dengan merangkul Wulan dan itu membuat Wulan sangat senang.
Kenyataannya Clara memegang tangan Rendi karna berusaha menghentikan Rendi untuk tidak menghajar Bryan, sedangkan Bryan dia sengaja membuat Clara cemburu karna Bryan juga cemburu.
"Ayo Ren, kita pergi dari sini." Ujar Clara sedangkan tatapan matanya tertuju pada Bryan.
"Ayo Wulan, kita kembali ke kantor." Ujar Bryan sambil menggandengi Wulan sedangkan tatapannya hanya tertuju pada Clara tapi Rendi dan Wulan tidak menyadari itu.
B-ELECTRONIC INTERNATIONAL
"Sir, permisi!" Ucap Wulan masuk ke dalam ruangan Bryan.
"Iya Clara ada apa?" Jawab Bryan salah fokus.
"Ah... Maaf Wulan, saya pikir tadi..." Tidak meneruskan kata-katanya.
"Ini Tuan berkas yang harus di tanda tangani."
"Ternyata dia masih memikirkan wanita itu." batin Wulan kesal.
Malam Hari
Selesai shalat isya Bryan mengambil foto bibinya lalu memandanginya. Bryan tidak punya siapa-siapa lagi dia sangat merindukan bibinya yang kini telah tiada.
"Aunt, Bryan sangat merindukan aunt, sekarang Bryan sendirian, Bryan tidak kuat aunt." batinnya sambil memeluk foto bibinya.
"Permisi Tuan."
Bi Susan mengetuk pintu kamar Bryan.
"Masuk bi." sahut Bryan segera menghapus air matanya.
"Tuan, waktunya makan malam."
"Saya masih kenyang bi, bibi makan saja dulu dan ajak yang lainnya juga."
"Tapi Tuan, jika Tuan tidak makan Tuan bisa sakit."
"Nanti saya makan bi."
__ADS_1
"Ya sudah tuan, bibi bawakan makanannya ke kamar ya."
"Terima kasih bi, terserah bibi saja."
"Baik tuan, bibi ambilin dulu."
Bi Susan pun mengambilkan makanan untuk Bryan.
Bryan kembali bersedih teringat dengan bibinya, dan tiba-tiba juga teringat dengan Clara.
"Aku harus tanya pada bi Susan kenapa bi Susan bisa mempunyai foto Clara sewaktu bayi, dan apakah bayi itu benar-benar kembar." gumam Bryan penasaran.
Ketika bi Susan sampai mengantar makanan untuk Bryan, Bryan langsung mengurungkan niatnya untuk bertanya pada bi Susan.
Bi Susan melihat tuannya itu sedang bersedih dan bi Susan duduk di sampingnya.
"Tuan, kenapa tuan bersedih?"
"Teringat dengan tante saya bi, beliau satu-satunya orang tua yang saya miliki tapi dia juga pergi meninggalkan saya."
"Tuan jangan bersedih, tuan harus kuat dan ikhlas supaya nyonya tenang di sana."
"Iya bi saya selalu berusaha ikhlas menerima kenyataan ini, tapi bi saya juga memikirkan hal yang lain."
"Ada apa Tuan?"
"Bi katakan padaku! Apakah aku salah mencintai wanita yang pernah menjadi istri dari orang lain?"
"Tidak ada yang salah Tuan selama non Clara statusnya tidak menjadi istri orang lain siapapun berhak mencintainya termasuk tuan."
"Jadi bibi tau siapa wanita yang ku maksud?"
"Bibi tau Tuan, bibi bisa melihatnya dari sorot mata Tuan saat menatapnya dan perhatian yang tuan berikan pada non Clara, maaf Tuan sebenarnya kenapa sekarang Tuan menghindari nona Clara?"
"Bibi harus janji jangan bilang pada siapapun ya."
"Iya Tuan kenapa?"
"Sebenarnya saya mengenal sekaligus jatuh cinta pada Clara sejak masuk universitas kira-kira sudah 10 tahun yang lalu, saat itu saya malu untuk mendekatinya karna saya berbeda dari orang-orang yang lain sampai terjadi suatu kejadian yang membuat saya berani mendekatinya ketika nyawanya dalam bahaya, bibi jangan pernah katakan padanya bahwa saya lah si Dungu bodoh yang saat ini dia cari, saya tidak ingin dia tau bi, saya tidak mau Clara terlibat dalam kehidupan saya yang selalu dilanda berbagai masalah, saya tidak ingin dia dalam bahaya lagi bi, saya rasa sekarang dia aman bersama Rendi yang kehidupannya lebih baik dibanding saya bi." Jelas Bryan panjang lebar.
"Tuan, bukan maksud bibi menggurui, tapi alangkah baiknya jika tuan benar-benar mencintai nona Clara dan tuan tidak ingin dia dalam bahaya, seharusnya tuan perjuangkan cinta tuan, tuan harus yakin dan buktikan padanya jika tuan benar-benar bisa menjaga nona Clara dengan baik, bukan dengan cara menaruh kepercayaan pada orang lain untuk menjaganya."
"Apa aku harus melakukan itu bi? tapi bagaimana jika dia tidak menyukaiku bi, aku tidak bisa melakukannya."
"Ini hanya saran dari saya tuan, tuan berhak memilih, tapi tuan bibi juga merasa non Clara menaruh perasaan yang sama seperti yang saat ini tuan rasakan."
"Aku tidak yakin bi dia juga memiliki perasaan yang sama, buktinya kemarin aku melihatnya bersama mantan suaminya dan dia sangat bahagia bi."
"Hmmm... Iya tuan, tapi terkadang apa yang kita lihat dari luar tidak selalu melambangkan yang ada didalamnya, Tuan seseorang bisa saja terlihat bahagia tapi kita tidak pernah tau isi hatinya seperti apa."
Bryan pun mulai memikirkan perkataan bi Susan yang dia rasa ada benarnya juga.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG