
Setiap orang mempunyai masalah yang berbeda-beda, ada yang ringan, berat, bahkan sangat berat seperti halnya apa yang terjadi di dalam rumah tangga Bryan dan Clara. Saat masalah itu datang, disitu kekuatan dan kesetian cinta diuji, bukan hanya cinta yang diuji tapi rasa emosional, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam menyikapi suatu masalah juga diuji. Saya harap readersku bisa memetik hikmah dari cerita seorang wanita tangguh dan penyabar seperti sosok Clara yang saya tuangkan ke dalam novel ini.
*****
Cermin itu berderai retak seribu akibat menerima pukulan keras dari seorang pria yang tidak memperdulikan lagi rasa sakit dan perih ditangannya setelah terkena pecahan beling itu.
Bryan masih mengurung diri di dalam toilet pria yang ada di kantor, meringkuk di pojokkan toilet meratapi kesalahan yang dilakukannya bahkan dia sendiri tidak menyadarinya.
"Luka ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang akan istriku rasakan." lirihnya memandang telapak tangannya yang dipenuh darah.
"Apa aku benar-benar melakukannya, apa didalam rahim wanita itu sungguhan anakku, aku tidak tau, aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun, Tuhan, kenapa kau memberiku masalah seberat ini." kata Bryan mencoba mengingat perbuatan yang dia lakukan bersama Angelica namun ingatan itu sama sekali tidak terlintas di dalam pikirannya.
"Tuhan, aku tidak tau apakah aku bersalah atau tidak, jika aku tidak bersalah maka tunjukkan jalan untukku agar aku bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus melibatkan Clara."
"Namun jika aku bersalah, Tuhan silakan kau hukum aku seberat-beratnya, aku siap menerima hukuman apapun darimu asal aku tidak melihat istriku terluka karnaku..." pintanya sungguh-sungguh.
"Semua ini salahku, jika saja aku tidak membiarkan wanita itu menjadi bagian dari kantorku mungkin hal ini tidak akan terjadi, aku sangat bodoh, benar-benar bodoh." Bryan menghentukan kepalanya beberapa kali ke dinding. Sepertinya ini masalah terberat yang sedang dia alami.
"Tuhan, hanya kau yang tau aku seberapa dalam aku mencintai istriku, aku yakin aku tidak bersalah namun jika aku bersalah maka hukum aku sekarang juga agar aku tidak melihatnya menderita karnaku, Tuhan hukum aku aku memohon padamu, aku tidak tau harus berbuat apa sekarang..." lirihnya berlinang air mata.
Bryan meraih ponsel yang ada disaku celananya, membuka album foto yang terdapat foto istri dan buah hatinya dengan berlinang air mata Bryan memandanginya.
"Sayang, papa sangat menyayangimu, maafkan papa selalu menyakiti ibumu, bila kamu besar nanti jagalah ibu dan adik-adikmu, papa sudah lelah nak, papa tidak sanggup rasanya papa tidak ingin hidup lagi." lirihnya dan mencium foto sang buah hati.
"Ara, aku ini suami yang paling tidak berguna didunia ini, kau pasti akan membenciku jika tau masalah ini, kenapa harus aku, kenapa Ara, kenapa aku selalu menyakitimu, tidak ada gunanya aku hidup hanya untuk menyakiti orang yang paling kucintai, tolong rawat dan besarkan anak-anak kita sebaik mungkin meskipun aku tidak ada lagi disisimu, maafkan aku Araku, aku harus mengakhiri semua ini agar kau tidak terluka lagi karnaku..." Bryan mencium dan memeluk ponsel yang berisi foto istrinya itu.
Lalu Bryan meraih pecahan beling yang ada di sekitarnya dan mengarahkan pada pergelangan tangannya.
"Selamat tinggal istriku, selamat tinggal buah hatiku kalian harta paling berharga dalam hidupku tapi hari ini aku membuat kalian kecewa..."
"AKU MENCINTAIMU ARA, SANGAT SANGAT MENCINTAIMU..." ucapnya dengan berteriak.
Bryan meneteskan air mata lalu memejamkan matanya, alih-alih ingin mengakhiri hidupnya.
"Sir, hentikan." seru Riko yang tiba-tiba datang sekita Bryan membuka matanya dan pecahan beling terlepas dari tangannya karna kaget.
Bryan mendongakkan kepalanya melihat Riko, namun Bryan enggan bicara dan memalingkan pandangan seketika. Riko mendekatinya dan meraih tangan bossnya yang berlumur darah itu.
"Kenapa kamu sangat bodoh Sir, tanganmu berdarah." kata Riko.
"Kamu masih disini, untuk apa kamu menemui orang yang sudah membuatmu kecewa." kata Bryan.
Riko membantu Bryan berdiri.
"Apa Sir tau, nona tidak menyukai tindakan seperti ini, nona akan memarahi Sir jika tadi Sir mengakhiri hidup seperti ini." ujar Riko.
"Hari ini kamu tidak percaya padaku dan akan pergi meninggalkanku, besok Clara juga akan meninggalkanku, lebih baik aku akhiri hidupku satu persatu akan meninggalkanku, jika aku pergi lebih dulu kalian tidak akan merasakan penderitaan ini dan tidak perlu pergi dariku karna aku yang akan pergi."
Riko tau betul bossnya pasti sangat terpukul dan Riko juga tau bossnya itu sangat mencintai istrinya.
"Seberat apapun masalah yang Sir hadapi, tapi bunuh diri bukanlah jalan keluarnya itukan yang dulu selalu Sir katakan pada nona saat dia diambang kehancuran, Sir juga bilang setiap masalah pasti ada jalan keluarnya." kata Riko mencoba mengingatkan Bryan, Bryan yang dulu selalu kuat dan tidak pernah putus asa.
"Untuk apa lagi aku bertahan, kalian tidak lagi mempercayaiku." lirihnya pasrah.
"Kita ini seperti saudara, aku minta maaf sempat meragukan Sir, tapi sebagai saudara aku akan membantu Sir menghadapi masalah ini, aku tidak akan membiarkan Sir terpuruk seperti sekarang." kata Riko.
"Sudahlah Rik, jika tes DNA positif anakku maka sama saja kalian tetap akan pergi dariku, aku tetap akan kehilangan istriku." ucap Bryan.
"Lebih baik sekarang Sir pulang, jelaskan semuanya pada nona." kata Riko.
"Aku tidak mau, sudah cukup Rik begitu banyak penderitaan yang kuberikan padanya." pasrah Bryan, dia benar-benar sudah kehilangan keberaniannya.
"Lebih baik Sir katakan padanya, sebelum nona mendengarnya dari mulut orang lain karna akan lebih menyakitkan." bujuk Riko.
"Aku tidak bisa, aku tidak berani mengatakannya, Clara akan menangis dan aku tidak bisa melihatnya menangis lagi, ini sangat menyakitkan Rik..." lirih Bryan tiba-tiba memeluk Riko.
"Aku tidak kuat Rik..." lirihnya lagi.
"Bicaralah pada nona Clara, Sir harus kuat, beranikan diri jangan pesimis." menguatkan sang boss
"Tidak Rik... aku tidak bisa melakukannya..."
__ADS_1
"Ayolah coba saja Sir, kita tidak pernah tau sebelum kita mencobanya."
"Tapi Rik, Angelica..."
"Aku sudah berjanji padamu Sir, aku akan mengurusnya, sekarang Sir pulanglah dan katakan pada nona dengan jujur."
"Baiklah Rik, tidak ada salahnya aku menurutimu, terkadang saranmu suka benar." kata Bryan sedikit tertawa.
Riko merasa lega akhirnya Bryan kembali bersemangat lagi.
"Jadi selama ini aku suka salah..." ketus Riko.
"Hehe kadang-kadang sih..." kata Bryan.
Mereka pun berpelukkan secara jantan.
"Terima kasih Rik, terima kasih banyak kamu masih percaya padaku, kamu memang adik yang terbaik."
"Sudah Sir jangan banyak drama, cepatlah temui nona..." kata Riko.
"Iya Rik, aku pasti akan berkata jujur padanya.."
"Semangat bossku, semoga sukses..." Riko memberinya semangat.
*****
Tiba Di rumah...
"Assalamualaikum, Ara aku pulang..." ucap Bryan.
"Waalaikumsallam sayang." Clara menghampiri suaminya.
"Akhir-akhir ini kamu sering pulang awal Di?" kata Clara.
Bryan tidak menjawabnya. Saat Clara hendak menyalami tangan sang suami, Clara melihat tangan Bryan terikat oleh perban.
"Kamu terluka Di, kenapa bisa seperti ini?" tanya Clara meraih tangan sang suami dan memandang luka ditangannya.
"Apa yang terjadi Di?" tanya Clara bingung.
"Ara aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." lirih Bryan memeluk erat tubuh sang istri.
"Kenapa tiba-tiba dia seperti ini..." batin Clara merasakan keanehan.
"Ara jangan pernah meninggalkanku..." katanya lagi.
"Iya kamu kenapa sayang, katakan padaku apa aku membuatmu takut?"
"Biarkan aku memelukmu seperti ini, Ara..."
Clara bisa mendengar suara Bryan persis seperti orang sedang menangis, suara Bryan sesegukan tepat terdengar dikuping Clara.
"Di, kamu menangis?" lirih Clara melepaskan pelukkan suaminyaa agar bisa melihat wajah Bryan.
"Benarkan kamu menangis, kamu kenapa Di?" Clara terus bertanya pada suaminya yang hanya bisa diam itu.
"Ara, katakan padaku kamu tidak akan meninggalkanku bukan?"
"Iya aku janji tidak akan meninggalkanmu, tapi kenapa Di?"
"Ayo Di, kita duduk dulu..."
Mereka pun duduk di ruang tamu.
"Sepertinya masalahmu sangat berat, apa terjadi sesuatu di kantor?" tanya Clara penuh selidik.
"Iya Ara, telah terjadi sesuatu." jawab Bryan.
"Wah pasti sangat mengerikan sampai membuatmu terluka." ledek Clara. Bryan tersenyum masih bisa melihat senyum diwajah sang istri.
"Ara, jika ada orang yang mengaku-ngaku dia sedang hamil anakku dan dia mengatakan itu padamu, apa yang akan kamu lakukan?"
__ADS_1
"Memangnya kamu menghamili orang Di?" Clara mulai merasa kecewa.
"Entahlah Ara, aku sendiri tidak yakin, tapi semua bukti mengarah padaku." kata Bryan mengakuinya.
"Siapa yang kamu hamili Di?" tanya Clara, hatinya mulai perih namun coba ditahannya.
"Angelica..." kata Bryan.
Clara berusaha tetap kuat, dia ingin kejelasan lebih banyak lagi.
"Ara, aku tau ini menyakitkan, tapi aku yakin itu bukan anakku, jangan tinggalkan aku Ara, aku mohon jangan pernah meninggalkanku." Bryan bersimpuh berlutut memohon dihadapan Clara.
"Di, bangkitlah duduk kembali." membantu Bryan berdiri dan duduk.
"Ara, aku melakukan tes DNA setelah hasilnya keluar aku pastikan hasilnya negatif." kata Bryan.
"Siapa yang melakukan tes DNA kerumah sakit?"
"Angelica yang mengurus semuanya, aku tidak peduli hal itu Ara, karna aku yakin aku tidak pernah menghamilinya."
"Kenapa kamu membiarkan Angelica sendirian melakukan tes DNA, Di..." batin Clara.
"Ara, kenapa kamu diam, maafkan aku Ara aku tau aku salah tidak mudah untuk mengembalikan kepercayaanmu, silakan pukul aku sepuas yang kamu mau Ara." Bryan meraih tangan istrinya dan meminta Clara untuk menghukumnya.
"Didi, terima kasih kamu sudah berkata jujur padaku, aku tidak tau apa yang akan terjadi padaku jika aku mendengarnya dari orang lain." kata Clara.
"Ara, aku mohon jangan tinggalkan aku..."
"Aku tidak akan pergi Di." kata Clara, benar-benar wanita yang tegar.
"Ara....." lirih Bryan, memandang wajah istrinya begitu tegar seperti sama sekali tidak terbebani tapi Bryan tau istrinya sangat terluka mendengar perkataannya.
"Yang aku butuhkan hanya kejujuran, disaat ada masalah kamu mau berbagi cerita denganku, hanya itu yang aku butuhkan Di." ucap Clara.
"Bagaimana kamu bisa setegar ini, Ara...?"
"Tidak banyak orang yang mau berkata jujur pada pasangannya saat dia mempunyai masalah, tapi hari ini kamu membuktikan bahwa tidak semua pasangan suka merahasiakan sesuatu, kamu ini sangat berani Di, aku yakin kamu sudah memikirkan resiko yang akan kamu terima saat akan menyampaikan masalah ini padaku, lalu bagaimana mungkin aku tidak mempercayaimu." jelas Clara, Bryan menghela nafas merasa sedikit lega.
"Tapi Ara, jika aku terbukti..."
"Kejujuranmu adalah rasa percayaku, dimana kamu masih mau berkata jujur maka aku akan selalu percaya." kata Clara memotong pembicaraan.
"Masya Allah, Ara terbuat dari apa hatimu, kenapa kamu begitu kuat."
"Mari kita hadapi bersama-sama." Clara tersenyum mengangkat tangan kanannya mengunjukkan kehadapan Bryan.
"Ara, kenapa kamu mau masih mempercayaiku...?"
"Suamiku, mungkin sebagian orang akan menganggapku istri yang bodoh karna masih saja mempercayai suami yang sudah berulang kali menyakitinya, tapi tidak bagiku, aku ini sangat pintar, aku punya alasan sendiri kenapa aku bisa percayai padamu yang bahkan kamu sendiri tidak tau."
"Kamu maukan, kita hadapi semua ini bersama-sama?" pinta Clara.
"Aku mau Ara, aku mau..." dengan senang hati Bryan pun meraih tangan istrinya dan menggenggamnya.
"Ya Allah, hamba akan selalu menjaga bidadari tak bersayap ini yang telah engkau titipan untuk hamba, sungguh indah ciptaanmu Tuhan, nikmat mana lagi yang harus ku dustakan, Clara sangat sempurna untukku." Batin Bryan menatap semu wajah sang istri yang masih bisa tegar meski hatinya terluka.
Mereka pun berpelukkan, tapi Bryan tetap saja merasa bersalah pada istrinya selama bukti belum keluar Bryan tidak bisa merasa tenang.
"Jangan sedih lagi, aku akan selalu mendukungmu Di." ujar Clara.
"Ara, kenapa aku tetap tidak bisa tenang meskipun sudah memelukmu." kata Bryan seketika Clara melepaskan pelukkan mereka.
"Aku tau apa yang bisa membuat hatimu tenang Di."
"Apa sayang?"
"Dengan mengingat Tuhan maka hati kita akan jauh lebih tenang, mari kita shalat berjamaah." ujar Clara.
"Masya Allah istriku, ayooo." Bryan pun menggenggam tangan istrinya, mereka beriringan menuju kamar untuk melaksanakan ibadah shalat magrib.
Bryan semakin jatuh cinta pada istrinya dan semakin takut kehilangannya, dia merasa satu-satunya laki-laki yang paling beruntung karna memiliki istri yang berhati mulia seperti Clara.
__ADS_1
silakan berikan komentar Anda😊