DARI HATI

DARI HATI
EPISODE 96


__ADS_3

Papa, mama, Riko, dan bi Susan yang sudah sadar dari koma berkumpul menunggu Clara siuman.


"Susan, maafkan kami ya sudah memisahkan kamu dan Clara selama puluhan tahun, kami benar-benar menyesal Susan ternyata kebohongan tidak selamanya bisa kami rahasiakan." Ucap Adinda.


"Nyonya saya sudah memaafkan kalian, nyonya dan tuan tidak perlu minta maaf, mungkin ini cara Allah dengan memberi saya penyakit agar saya bisa bertemu dengan putri saya dan menyatukan kita semua disini, kita ambil saja hikmahnya dari ke jadian ini."


"Iya Susan, tapi bagaimana dengan Clara jika dibangun dan tidak melihat Bryan disisinya pasti dia sangat shock."


"Kita berdoa saja semoga nak Bryan cepat siuman, dia itu sangat baik saya yakin Allah pasti memudahkan segala masalah yang sedang dihadapi." Ujar Susan.


"Nak Riko, bagaimana ke adaan Tuan Bryan apakah ada kemajuan?" Tanya Susan, Riko terlihat sedih.


"Sekarang dokter sedang menanganinya, kondisinya semakin melemah bi, Riko tidak sanggup harus mengatakan apa pada nona Clara nanti." Riko tertunduk sedih.


Tak lama kemudian Clara mulai menggerakkan jarinya dan secara perlahan juga membuka matanya.


"Ibu... Bryan..."


Suara Clara terdengar samar-samar.


"Iya sayang, ibu disini, kami semua disini, akhirnya kamu sadar juga sayang." Susan langsung memeluk Clara.


Pandangan Clara masih buram tapi dia bisa merasakan tidak ada kehadiran Bryan.


"Ibu, mama, papa, Riko." Ucap Clara menyapa semuanya Clara berusaha bangkit dari baringnya dan ibunya membantu duduk.


"Dimana Bryan? Clara ingat semalam sebelum Clara operasi dia berjanji menunggu Clara, dimana dia sekarang?"


"Kenapa kalian diam saja? dimana Bryan, katakan!"


Karna tidak ada yang berani menjawab Clara nekat untuk melapas infusnya agar dia bisa menemukan Bryan.


"Sayang kamu tenang nak, tenang! kamu masih dalam tahap pemulihan sayang, tenanglah Bryan ada dia sedang rapat di kantor." Susan berusaha mengembalikan kepercayaan Clara.


"Rik, katakan apa Bryan sedang rapat?"


"I-iya Nona." jawab Riko gugup.


"Ma, ambilkan ponsel Clara, biar Clara coba hubungi Bryan, entah kenapa Clara merasa kalian sedang merahasiakan sesuatu."

__ADS_1


Adinda segera mengambil ponsel Clara di dalam tasnya. Clara pun menghubungi Bryan tapi suara ponsel Bryan malah terdengar di ruangannya dan suara itu tepat berasal dari Riko, Riko dengan hati-hati mengambil ponsel Bryan yang ada di saku bajunya dan langsung menutup telpon dari Clara.


"Rik, aku mengenal suaranya itu suara ponsel Bryan, kamu bilang Bryan rapat di kantor lalu bagaimana ponselnya ada padamu?" tanya Clara mencium bau-bau mencurigakan.


"I-ini ketinggalan di mobil, tadi saya mengantar Tuan ke kantor tapi Tuan buru-buru sehingga ponselnya tertinggal."


"Tapi kenapa kamu disini Rik, seharusnya kamu mendampinginya menjalankan rapat."


"Tuan yang menyuruh saya menemani nona Clara, karna dia tidak bisa menemani nona sampai nanti malam."


"Kamu tidak bohongkan Rik?"


"Benar nona, nona harus segera pulih agar bisa bertemu Tuan."


Clara pun merasa lega saat tau tidak terjadi sesuatu pada Bryan.


Waktu terus berjalan Clara menantikan kepulangan Bryan dari kantor. Mama dan papanya menemui Clara dan membahas tentang Rendi.


"Itulah salah satu alasan Clara tidak mau balikan dengan Rendi ma."


"Bagaimana nasib Audira nak?"


"Itu tidak mudah Clara, kamu ibu tirinya sedangkan Rendi ayah kandungnya."


"Mama doakan saja semoga Clara bisa memenangkan kasusnya nanti."


"Clara, mama dan papa melakukan satu kesalahan lagi."


"Kenapa ma? apa soal rahasia kalau Clara bukan anak kandung kalian? jika masalah itu Clara sudah memaafkan mama dan papa."


"Bukan nak, ini tentang Bryan."


"Ada apa ma?'


"Kemarin Bryan datang ke rumah dia sengaja tidak memberitahumu karna dia ingin meminta restu pada mama dan papa agar bisa melamarmu."


"Bryan ingin melamar Clara ma? itu sungguhan? Bryan benar-benar akan melamar Clara?"


"Benar nak, tapi mama dan papa menolak mentah-mentah niat baiknya, kami mengusirnya karna kami pikir dia bukan pria yang baik, ternyata selama ini Rendi telah memfitnahnya, sekarang kami sudah tau kalau Bryan yang sudah menyelamatkanmu sewaktu di Swiss nak sedangkan Rendi tadi ma dan papa melihatnya bersama wanita lain."

__ADS_1


"Jadi mama dan papa menolak lamarannya? ma, jika Bryan menjauh dari Clara gimana? jika dia membenci Clara gimana? Clara sangat mencintainya."


"Sekarang kenapa Bryan belum juga datang ini sudah jam 10 malam, jangan-jangan dia kecewa dengan Clara." pikir Clara demikian.


"Tidak nak, Bryan sama sekali tidak kecewa padamu, dia laki-laki yang tidak mudah menyerah dan tak mudah kecewa, mama yakin dia tidak akan menjauhimu."


"Mama lihat sekarang dia belum juga datang, Riko bilang dia akan datangkan, tapi sampai sekarang dimana dia ma?"


Di Sisi Lain


Riko sedang bicara dengan dokter yang menangani Bryan. Dokter bilang infeksi lukanya juga sudah menyebar kesaluran pernafasan sehingga Bryan harus dibantu dengan oksigen agar pernafasannya stabil. Dokter tidak bisa memastikan sampai kapan Bryan akan bertahan menggunakan nafas buatan itu, jika Bryan tidak bisa melewati masa kritisnya maka kecil harapan dia bisa hidup. Riko sangat menyesal karna tidak bisa menjaga Bryan dengan baik bahkan Riko tidak tau kalau luka yang didapat Bryan bisa sampai infeksi, sekarang Riko bingung harus mengatakan apa pada Clara jika saat ini Bryan semakin kritis.


Riko sudah tidak bersemangat tapi masih berusaha menemui Clara. Riko harus jujur pada Clara karna sekarang pasti Clara sedang menunggu Bryan yang dia pikir akan menemuinya setelah pulang dari kantor.


"Riko." Ucap Clara melihat Riko masuk. Riko berjalan perlahan mendekati Clara dan juga orangtuanya.


"Rik, dimana Bryan? kamu bilang dia akan datangkan?"


"Nona..."


"Ada apa Rik? kenapa tanganmu dingin sekali? apa yang terjadi?"


"Nona maafkan saya..." Riko tertunduk tangisnya pecah membuat Clara panik.


"Apa yang terjadi nak Riko?" tanya Adinda.


"Rik, katakan! apa terjadi sesuatu dengan Bryan?" Clara mengguncang tubuh Riko.


"Tu-tuan Bryan, di-dia semakin kritis." ungkap Riko terbata-bata.


"Tidak mungkin Rik, semalam dia baik-baik saja Rik, dia masih menggenggam tanganku malam itu, kamu jangan bercanda Rik!" Clara shock seakan tak percaya.


"Nona saya minta maaf, tapi ini kenyataanya."


Tangis Clara pecah dia langsung turun dari ranjangnya berlari keluar, Riko dan orangtuanya berusaha mengejar Clara dan Riko berhasil menghentikan Clara yang berlari tidak karuan.


"Nona, saya akan mengantar nona keruangan Tuan Bryan."


"Kenapa kalian tidak jujur padaku Rik? pa, ma kalian juga tidak jujur padaku."

__ADS_1


Mereka hanya bisa meminta maaf sudah merahasiakan keberadaan dan kondisi Bryan karna mengingat Clara juga baru saja menjalani operasi.


__ADS_2