DARI HATI

DARI HATI
SC "Steering Commite"


__ADS_3

"Pak, sejam lagi kita akan mengadakan rapat dengan unit penasehat yang baru." ujar Wulan.


"Ok. Siapkan saja semuanya."


"Baik pak."


Wulan melangkah pergi keluar dari ruangan Bryan.


Kemudian Riko datang menemui Bryan.


"Sir, ada hal penting yang ingin saya katakan." ucap Riko.


"Ya katakanlah." Bryan masih sibuk dengan laptopnya.


"Sebenarnya saya dan Wulan sudah mencoba menghentikannya."


"To the point pada intinya."


"Penasehat baru perusahaan ternyata Angelica Margaretha." ungkap Riko dengan gugup.


Bryan sedikit terkejut mendengarnya dan langsung menutup laptopnya lalu bangkit.


"Sudah pastikan apa itu benar?"


"Iya Sir, saya tidak bisa mencegahnya."


"Aarghhh..." Bryan geram melangkah keluar.


"Sir, mau pergi kemana?" Riko sedikit meneriaki Bryan, lalu mengejarnya Riko tau betul pasti Bryan tidak senang dengan pernyataannya.


"Bagaimana Angelica bisa menjadi SC." batin Bryan sambil berjalan tergesa-gesa menahan amarahnya.


Bryan membuka pintu ruang Wulan dengan sedikit kasar, Wulan yang baru saja mau keluar untuk memberitahu Bryan bahwa mereka harus segera pergi ke tempat pertemuan di kagetkan dengan ke datangan Bryan yang secara tib-tiba.


"Apa benar penasehat baru perusahaan Angelica Margaretha?" tanya Bryan, Wulan bisa melihat dengan jelas amarah di wajah Bryan.


"Be-benar pak." jawabnya gugup.


Bryan menarik nafas panjang agar dia tidak marah pada Wulan, meski kecewa dengan sekretarisnya itu yang menerima sembarang orang untuk menjadi penasehat perusahaan, tapi Bryan juga menyadari ini juga karna ke lalaiannya sebagai seorang boss dia lupa untuk menelitinya.


"Pak, saya akan membatalkan pertemuan dengan mereka." ucap Wulan tertunduk takut.


"Riko siapkan mobil." ujar Bryan.


Riko pun bergegas menyiapkan mobil untuk keberangkatan Bryan dan Wulan menuju tempat di adakannya rapat.


"Sir, mobil sudah siap." Riko kembali.


Bryan pun melangkah keluar diikuti Wulan yang berjalan dibelakangnya, Wulan masih memasang wajah merasa bersalahnya sedangkan Bryan dia selalu bersikap santai karna tidak mau gegabah.


Bryan duduk di bangku belakang, sedangkan Wulan duduk di bangku depan bersama Riko.


"Apa boss memarahimu?" ujar Riko memisiki Wulan.


"Shuttt... Dia sangat marah."


"Kamu sih cari gara-gara."

__ADS_1


"Setidaknya aku sudah berusaha membatalkannya."


"Iya aku mengerti, kita tau siapa Angelica, apa yang sudah menjadi ke inginannya tidak ada satupun yang bisa menghalangi."


"Aku benar-benar merasa bersalah."


"Tentu saja, itu memang salahmu."


"Ishhh... Aku hanya berharap boss bisa memaafkanku."


"Boss sudah pasti memaafkanmu, tapi dia tidak akan memaafkan Angelica."


"Kekacauan pasti akan terjadi karna keteledoranku."


"Bersabarlah, dan tetap bertanggung jawab."


"Iya aku rasa itu yang terbaik saat ini."


Mereka pun sampai di sebuah hotel.


Dengan tenangnya Bryan melangkah masuk ke dalam di ikuti oleh Wulan dan Riko menuju meeting room.


"Apa mereka sudah tiba?" tanya Bryan.


"Sudah pak, mereka menunggu di dalam." jawab Wulan kaku dihantui rasa bersalah.


"Silakan masuk pak Direktur." ujar Wulan setelah sampai di depan meeting room Wulan langsung membukakan pintu untuk Bryan.


Tanpa menyapa sepatah katapun dengan muka datarnya Bryan langsung menuju tempat duduk yang sudah di sediakan.


"Selamat siang semuanya." barulah Bryan menyapa tanpa tersenyum.


"Ok, saya Bryan Adipati Mirza Direktur BC ELECTRONIC GRUP, di samping kanan saya Wulan sekretaris BC-E Grup dan disamping kiri Riko asisten pribadi saya."


Perkenalan yang ramah dan sangat mengagumkan meski tadi sempat terlihat cuek saat pertama-tama masuk.


Seorang wanita yang duduk di samping Riko berdiri dan menyapa Bryan sembari mengulurkan tangannya.


"Hai Angelica, apa kamu masih mengingatku?" ujarnya sembari mengulurkan tangan ke arah Bryan.


"Mohon maaf, bisa segera kita mulai rapatnya? tanya Bryan mengatupkan ke dua tangannya tanpa berjabat tangan apalagi menjawab pertanyaan Angelica.


Angelica malu sendiri perkenalannya tidak ditanggapi oleh Bryan.


"Riko, Wulan." sapanya untuk menghilangkan malunya sembari kembali duduk.


Wulan tersenyum kecut melihatnya.


"Wanita berbahaya, sok kenal, sok akrab, sok dekat." Batin Wulan.


"Baiklah rapatnya kita mulai." Ucap Bryan tegas dan mengambil posisi berdiri untuk menjelaskan materi rapat.


Angelica menatap kagum sosok boss berjas hitam pekat, terlihat dingin namun itu yang membuatnya semakin mempesona juga smart dan bijaksana yang sedang berdiri di depan white board menjelaskan materi rapat.


Hari ini BC-E GRUP resmi melakukan kerja sama dan memutuskan menetapkan Angelica sebagai penasehat perusahaan yang baru.


Bryan sangat kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa mencegah Angelica, mengingat BC-E GRUP yang semakin naik daun karna itulah BC-E GRUP membutuhkan lebih banyak penasehat perusahaan salah satunya adalah menunjuk Angelica.

__ADS_1


"Hari ini cukup sampai disini, terima kasih." ucap Wulan sebagai sekretaris pamit undur diri mewakili Bryan.


Bryan dan kedua asistennya mempersilakan peserta rapat yang lain untuk keluar terlebih dahulu, tapi ada satu peserta yang tidak mau keluar tanpa basa-basi Bryan dan kedua asistennya memilih untuk keluar.


"Bryan Adipati, tunggu." panggil Angelica menghentikan Bryan, Bryan dan kedua asistennya pun menoleh kebelakang.


"Boleh aku minta waktumu sebentar?" ucapnya.


"Katakan saja disini." ujar Bryan cuek.


"Bisa kita bicara dilain?"


"Tidak."


"Bryan....." ucapnya gugup.


Bryan tidak meresponnya dia selalu terlihat dingin tanpa ekspresi dan santai.


"Kamu pasti masih mengingatku kan?" tanyanya penuh harap.


"Saya tidak bisa berlama-lama, jika tidak ada hal penting untuk dibicarakan saya akan pergi."


Benar Bryan yang dingin itu langsung melangkah menuju lift.


"Bryan tunggu." Angelica mengejarnya, dan menahan lengan Bryan.


Bryan menatapnya sinis, karna Angelica tidak sopan berani menyentuh lengannya.


"Aku saja sekretarisnya tidak berani menyentuh pak Direktur, tapi wanita ini benar-benar tidak tau malu." batin Wulan geram melihat tingkah Angelica.


"Turunkan tangan kotormu." tegas Bryan dengan pandangan tetap ke depan, wajah yang datar, suara yang tegas.


"Ma-maaf Bryan." langsung melepaskan tangannya bersikap seolah tidak sadar.


Tanpa menanggapi perkataan maaf dari Angelica, Bryan dan asistennya langsung masuk ke dalam lift.


"Bryan, Bryan, tunggu." panggil Angelica tapi Bryan sama sekali tidak peduli dan liftnya juga sudah tertutup dan mulai naik ke atas.


"Aarghhh menyebalkan." ucap Angelica kesal sambil mengepal tangannya.


*****


drttt... drttt...


ponsel Bryan bergetar dan dia langsung menerima panggil dari sang istri tercinta.


"Sayang, kamu udah makan?" tanya Clara. dari dalam ponsel.


Beberapa detik Bryan termenung tanpa menjawab istrinya meski dia mendengar suara Clara, Clara tau betul Bryan tidak pernah seperti ini jika dia tidak sedang dalam masalah.


"Sayang, kamu baik-baik sajakan?" tanya Clara lagi.


"Iya, aku belum makan Ara ini baru aja selesai rapat, kamu jangan lupa makan ya vitaminnya diminum supaya dedek kita sehat."


"Iya aku udah makan dan minum vitamin, cepat pulang ya."


"Iya Ara, tunggu aku di rumah ya."

__ADS_1


"Emmm... iya Didi."


"Daaah Ara, aku kembali ke kantor dulu." ucap Bryan dan mengakhiri telpon.


__ADS_2