
Clara selesai memasak sarapan di dapur, lalu dia membantu para pelayan menghidangkan makanan di atas meja untuk sarapan.
Bryan turun dari atas, langsung menghampiri istrinya yang cantik jelita itu meski punya kesibukan masing-masing tapi Bryan dan Clara selalu menyisakan waktu untuk bisa bersama-sama, pekerjaan itu penting tapi keluarga tetap prioritas bagi mereka.
"Selamat pagi istriku." Bryan memeluk istrinya dan mencium keningnya.
"Pagi kembali Didi." membalas pelukkan Bryan dan mencium pipinya.
"Namanya saja seorang boss tapi memakai dasi saja masih berantakan."
"Oo istriku ini sangat perhatian, bisa tolong benarkan?"
Clara pun mengalungkan tangannya ke leher Bryan, sembari merapikan dasinya.
"Ara, kenapa kamu sangat cantik."
"Aishhh... Pertanyaan macam apa ini?"
"Sungguh, rasanya aku tidak ingin pergi ke kantor."
"Tapi kamu tetap harus ke kantor, bagaimana kantor bisa maju tanpa adanya boss."
Cup
Bryan masih mencari kesempatan untuk mencium Clara, bahkan di depan para pelayan mereka.
"Kamu tidak tau malu." Clara mencubit pinggang Bryan.
"Ara, masak apa pagi ini?"
"Seperti biasa seafood favoritmu, hanya ini makanan yang membuatmu berselera untuk sarapan."
"Iya itu benar, tapi aku merasa sekarang aku semakin tua, jika aku banyak makan seafood tubuhku bisa menjadi gendut, kamu mau suamimu ini jadi gendut."
"Aku selalu membayangkan betapa imutnya suamiku saat bertambah gendut."
"Ara, kamu tidak akan kuat jika tubuhku gendut, benarkan bi? lihatlah nyonya kalian dia begitu langsing bagaimana mungkin dia kuat menampung tubuh suaminya yang gendut."
Pelayan hanya tersenyum menggelengkan kepala, mereka tau apa yang Bryan maksud.
"Didi, pagi-pagi jangan menggoda pelayan."
"Aku berusaha menggodamu, Ara."
"Sayangnya aku tidak tergoda." Clara tertawa.
Ibu dan Audira datang untuk ikut sarapan.
"Hai anak papa." Bryan mencium Dira lalu menggendongnya.
"Ada apa ini pagi-pagi udah ribut?" tanya ibu heran melihat tingkah Bryan dan Clara ribut di depan meja makan.
"Tanyakan saja pada menantu ibu, dia itu takut gendut, ibu tau dia malah bilang Clara tidak akan kuat menampungnya jika dia gendut nanti."
"Ara berbohong bu, tega sekali memfitnah suami seperti itu, bukankah kamu yang takut gendut."
"Ibu lihatkan bagaimana dia membalikkan faktanya."
__ADS_1
"Sampai kapan kalian akan bertengkar lihat Dira semakin besar tapi kalian masih senang bertengkar tidak jelas, ayo makan dulu, kalian kan harus ke tempat kerja."
"Awas aja kamu nanti." Batin Bryan menyeringai melotot melirik Clara.
"Malam ini tidak ada jatah untuk suami gendut." batin Clara menjulurkan lidah sambil memicingkan matanya melirik Bryan.
"Ihhh... gemes..." balas Bryan.
B-ELECTRONIC KINI BERUBAH NAMA MENJADI BC ELECTRONIC GRUB
Ruang Kerja
"Wah sepertinya boss serius dan bersemangat sekali bekerjanya, semenjak menikah saya perhatikan boss sangat bersemangat." goda Riko yanh sedari tadi pagi kerjanya hanya duduk memperhatikan Bryan.
"Apa kamu tidak ada pekerjaan lain selain menggangguku?"
"Ada tapi aku lebih suka seperti ini."
"Aku bisa saja menurunkan jabatanmu atau memecatmu."
”Boss, boss, wajahnya saja terlihat bersemangat tapi tetap saja hatinya dingin."
"Jangan menggangguku, aku harus cepat menyelesaikannya."
"Sudah tidak sabar ya mau pulang ke rumah?"
"Apa kamu tidak ingin sepertiku, setiap pulang kerja sudah ada yang menyambut, mau makan ada yang masakin, melihat anak dan istri saja rasanya semua penat dan lelah sehabis bekerja hilang begitu saja, dan yang terpenting tidak kesepian lagi saat mau makan dan ingin tidur."
"Ya, ya, para pria akan banyak mendapat ke untungan setelah menikah, sedangkan para wanita hanya menurutinya."
"Kenapa Nona Clara bisa bertahan dengan boss dingin sepertimu."
"Aku ini suami yang manis makanya istriku begitu menyukaiku, kamu banyak-banyaklah belajar dariku."
"Aku ini sangat pemalu boss."
"Aku dingin pada wanita manapun tapi tidak pada istriku, harusnya kamu mencontoh diriku."
"Awalnya juga boss dingin pada Nona, bagaimana aku bisa mencontohnya."
"Ahhh... akhirnya selesai juga meski sedikit terganggu dengan ulahmu." Bryan meregangkan otot-otot tangannya yang keletihan setelah mengetik.
"Rik, aku titip kantor ya, aku mau pulang lebih awal."
"Ini masih awal boss baru masuk jam makan siang, nona Clara pasti masih sibuk di restonya."
Wulan datang menghampiri mereka.
"Nah ini Wulan, Wulan sebaiknya kamu cepatlah minta Riko untuk menikahimu."
"Kenapa emangnya pak Direktur?"
"Kerjanya hanya mengganggu saya, mungkin setelah dia punya istri dia akan tau bagaimana rasanya berkeluarga."
"Oh itu, saya serahkan semuanya sama Riko pak."
"Hah, boss kamu mengacaukan rencanaku." keluh Riko sebenarnya Riko ingin melamar Wulan setelah pulang kantor.
__ADS_1
"Pak dirut, besok ada pertemuan dengan rekan kerja yang baru."
"Ok. Persiapankan semuanya."
"Baik pak."
"Kalian teruskan saja perbincangan kalian, Riko akan memberi kamu sesuatu." goda Bryan sebelum berlalu pergi, Wulan jadi malu-malu untuk memandang Riko.
"Emmm... pak apa bapak tidak ingin bertanya siapa rekan kerja baru kita?" teriak Wulan mencoba mengejar Bryan, tapi langkahnya terhenti di muka pintu melihat Bryan sudah masuk ke dalam lift.
"Siapa rekan kerja baru kita?" Riko mendekat.
"Riko, aku minta maaf harus menyampaikan ini, aku tidak bisa menolaknya."
"Ada apa Wulan? kenapa kamu terlihat takut?"
"Aku takut melakukan kesalahan, aku takut pak Direktur akan memarahiku."
"Ada apa Wulan, kamu melakukan apa?"
"Aku menerima tawaran kerjasama dengan Angelica, aku tidak bisa menolaknya Rik maafkan aku."
"Hah... Kenapa kamu sangat ceroboh, Tuan bahkan sudah memutus semua yang berkaitan tentang dia, apa yang kamu lakukan Wulan." Riko pun merasa kesal pada Wulan.
"Aku harus bagaimana Rik, bantu aku?"
"Tidak ada jalan lain, kita harus membatalkan kerja sama dengannnya dengan cara apapun." ujar Riko.
Resto Clara
"Aliya, saya titip resto ya, saya akan pergi keluar bersama suami saya, ini kuncinya." ujar Clara.
"Baik miss."
Tiba-tiba saat Clara mulai berjalan dia merasakan otot-otot tubuhnya melemah, dan ingin muntah.
"Apa nona sakit?" tanya Aliya sambil mengantar Clara menuju toilet.
Setelah dirasa puas muntah Clara merasakan nyeri dibagian perutnya.
"Akhir-akhir ini saya merasa sering pusing dan mual, perut saya juga sakit."
"Nona apa perlu kita kedokter?"
"Tidak perlu, saya rasa asam lambung saya sedang naik, nanti saya akan meminum obatnya di rumah."
"Saya akan menghubungi pak Bryan."
"Tidak perlu Aliya, dia juga sedang menuju kemari."
"Baiklah nona, nona duduk dulu di ruangan nona sambil menunggu pak Bryan kemari."
"Iya terima kasih Aliya, saya jadi merepotkan kamu."
"Nona istirahatlah, jika perlu sesuatu segera hubungi saya."
"Ah... iya Aliya."
__ADS_1