
"Maafkan aku Clara, aku tau pasti perasaanmu sakit sekali, sama aku juga merasakannya, tapi aku terpaksa melakukan ini demi kebaikanmu, lebih baik kamu tidak pernah tau siapa aku dari pada kamu bersamaku tapi akan menghadapi marabahaya, aku akan selalu mencintaimu Clara, selalu." Ucap Bryan bicara sendiri, Bryan menangis sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
Bryan hanya terlihat tegar dihadapan Clara namun dibelakang Clara Bryan harus menahan sakitnya berada jauh dari Clara.
Lalu hujan turun dengan derasnya seolah mengerti ada hati yang sedang menangis.
Bryan segera mengambil kunci mobilnya dan keluar dengan tergesa-gesa untuk menyusul Clara.
Semua mata tertuju pada Bryan yang berlari tidak karuan.
"Sir, mau kemana?" Tiba-tiba Wulan menghentikan Bryan namun Bryan hanya mengabaikannya dan segera menyusul Clara.
"Pergi kemana dia? Dalam cuaca seperti ini." Gerutu Bryan mengkhawatirkan Clara.
Tanpa sengaja tiba-tiba mobil Bryan berhenti dengan sendirinya tidak jauh dari halte bis.
Pandangan Bryan langsung tertuju pada seorang wanita yang sedang berteduh di halte.
Ya wanita itu adalah Clara. Hari ini Clara benar-benar kecewa, cintanya pada Bryan ternyata bertepuk sebelah tangan. Bryan tidak bisa melihat Clara menangis, ingin sekali dia menghampiri Clara tapi mengingat masalah yang telah terjadi Bryan pun mengurungkan niatnya.
"Dasar Laki-laki tidak punya hati! Rendi, Bryan semua laki-laki sama saja... Aargh..." Gerutu Clara sambil berteriak.
"Ciuman itu... Dia benar-benar membuatku... Hah! Jika dia tidak menyukaiku kenapa dia harus menciumku apa dia pikir dengan nemberi ciuman bisa mengurangi rasa kecewaku, bodoh! Bodoh! Dasar bodoh kamu Clara." Ucap Clara bicara setengah-setengah tidak sanggup melanjutkan perkataannya.
"Sadarlah Clara! Sadarlah! Jangan mengharapkan apapun darinya dia bahkan tidak pantas untuk dicintai, sekarang kamu fokus saja dengan Audira, ingat Clara! Kamu pernah gagal dalam cinta jangan sampai dia membuatmu gagal untuk ke dua kalinya."
Clara menghapus air matanya berusaha untuk tetap kuat.
Bryan pun memberanikan diri untuk menghampiri Clara, tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan halte. Seorang pria lebih dulu menghampiri Clara, pria itu adalah Rendi membuat Bryan kembali mengurungkan niatnya dan hanya bisa menjadi penonton saat Rendi memeluk Clara.
Bryan melihat Rendi tampak sangat peduli dan mengkhawatirkan Clara sehingga Bryan semakin yakin untuk menjauh dari Clara karna sekarang Bryan rasa Rendi lebih pantas untuk menjaga dan mencintai Clara.
"Bryan mungkin ini saatnya kamu mundur, Rendi lebih memerlukan Clara, mereka sudah punya anak yang harus mereka jaga bersama, sedangkan kamu Bryan, kamu tidak berhak untuk memisahkan Rendi dan Clara, mereka saling mencintai percuma saja kamu melakukan beribu cara pun kamu tidak akan bisa mendapatkan Clara." Gumam Bryan menyadari cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Hari hari berlalu dengan membosankan bagi Bryan dan Clara yang sudah tidak saling bertemu.
*****
"Sayang, nanti malam kita dinner ya!" Ujar Rendi.
"Iya!" jawab Clara singkat tanpa melihat Rendi.
Clara lebih menyibukkan diri mengurus Audira dari pada menanggapi Rendi membuat Rendi kesal.
"Kamu kenapa sih? Selalu bersikap dingin padaku, aku sudah bersusah payah memberikan yang terbaik untukmu tapi kamu tidak menghargainya sama sekali."
"Bukan begitu!"
"Lalu apa? Clara aku tidak suka ya dengan sikapmu sekarang, dulu kamu itu penurut dan lemah lembut, tapi sekarang dingin seperti ini."
"Aku tidak mau berdebat Ren, nanti Audira bangun terus nangis apa kamu mau mendiamkannya?"
__ADS_1
"Kamu selalu seperti ini, selalu Audira yang jadi alasan untuk menghindari perdebatan."
Clara cukup diam tidak ingin melanjutkan perdebatannya dengan Rendi.
Hari Minggu
"Kath, mau gak temanin kakak ke taman? sekalian kakak mau ajak Audira jalan-jalan ditaman."
"Baik kak, Kath siap-siap dulu ya."
"Iya sayang cepatlah, kakak dan Audira sudah siap."
"Kamu mau kemana?" Rendi menghampiri Clara yang sudah terlihat rapi bersama Audira.
"Ke taman, kenapa? kamu mau ikut?"
"Tidak, aku tidak terbiasa jalan-jalan sambil bawa anak, kalau kita berdua yang pergi jelas aku akan ikut."
"Oo ya sudah, aku juga tidak memaksa."
Beberapa menit kemudian.
"Ayo kak kita berangkat! Kath udah siap."
"Eh kak Rendi, mau ikut juga?"
"Kalian pergi saja."
Clara, Kathryn dan Audira pergi ke taman.
"Kakak, kita duduk di sana saja, sepertinya tempatnya sejuk ada pohon-pohonnya gitu."
"Iya, ayo Kath."
Mereka pun duduk dibawah pohon. Disisi lain secara tidak sengaja Bryan juga pergi ketaman untuk bertemu clientnya. Bryan tidak sengaja melihat Clara bersama Audira yang juga ada ditaman.
"Apa aku sedang bermimpi???" Bryan menggosok-gosok matanya untuk memastikan bahwa dia memang melihat Clara.
"Clara, aku sangat merindukanmu... Syukurlah kamu baik-baik saja sekarang." Batin Bryan matanya mulai berkaca-kaca saat melihat Clara bersama Audira, ingin menghampiri tapi tidak punya keberanian.
"Nak, berjanjilah padaku kamu harus selalu membuat mommymu bahagia." ucap Bryan dalam hati sambil tersenyum memandang Audira dan Clara dari kejauhan.
Back
"Kak, Kath beli minuman sebentar ya, kakak gak apa-apa kan Kath tinggal?"
"Iya sayang pergilah, kan ada Audira yang nemenin."
"Iya kak, kakak mau minum apa?"
"Air mineral saja Kath."
__ADS_1
Kathryn pun pergi membeli minuman sedangkan Clara menemani Audira bermain ditaman.
Sedang asyik-asyiknya bermain tiba-tiba Audira melihat Bryan.
"Pappa... Pappa... "
Senyum di wajah Audira seketika melebar begitu saja sambil menunjuk ke arah Bryan, Bryan yang menyadarinya langsung menghindar dari pandangan Audira.
Ternyata ingatan Audira sangat kuat padahal saat itu dia hanya sekilas melihat Bryan melalui ponsel.
"Sayang, ada apa? Daddymu tidak ada di sini dia dirumah sayang." Clara menoleh kearah yang Audira tunjuk tapi Clara tidak melihat siapapun.
"Pappaaa... " tiba-tiba Audira menangis saat bayangan Bryan sudah tidak ada.
"Ya Allah, sayang kenapa menangis? jangan membuat mommy cemas Dira!" Clara langsung menggendong Audira dan mulai cemas karna Audira tiba-tiba menangis.
"Kak, apa yang terjadi?" Kathryn datang dan kaget melihat Audira menangis.
"Kakak juga tidak tau, tiba-tiba saja Dira menangis dia bilang ada papanya di sana, apa tadi Rendi ada di sini Kath?"
"Papa? kak Rendi tidak ada di sini kak, dan papa itu bukan panggilan Dira untuk kak Rendi."
Sontak Clara kaget dia baru ingat waktu itu Audira pernah memanggil Bryan dengan sebutan papa, Clara tidak menduga jika Audira masih mengingat Bryan.
"Kak, kenapa kakak diam?" tanya Kathryn sambil menepuk pundak Clara.
"Ah! Tidak apa-apa Kath, kita duduk lagi yuk! Sini berikan airnya kakak sudah haus." Ucap Clara mengalihkan pembicaraan dan berlalu untuk duduk.
Yang terjadi pada Audira rupanya membawa pengaruh untuk Clara, Clara jadi terus memikirkan Bryan.
"Sir, apa yang Dira lihat barusan itu nyata, apa kamu benar-benar ada di sini, Sir? Tapi kenapa kamu tidak menghampiri Dira." Batin Clara.
"Hah! Sadarlah Clara... Memangnya dia itu siapa kenapa kamu harus memikirkannya, memangnya dia mau peduli sama Dira, ya jelas tidak kan." Clara berkali-kali menggetok kepalanya dengan pelan.
"Kakak ada apa?" tanya Kathryn heran.
"Ah! Tidak apa-apa Kath, kepala kakak tiba-tiba sakit."
"Oo... Kalau begitu kita pulang saja ya kak."
"Jangan Kath! Nanti juga rasa sakitnya berkurang dengan sendirinya."
"Baiklah kak."
.
.
.
TO BE CONTINUE
__ADS_1