
"Mari ikutlah denganku, aku tau tempatnya." Menarik tangan Clara tapi Clara langsung melepaskannya.
"Aku akan pergi bersama Riko, kamu pergilah dulu nanti tinggal share loc saja, kami akan menyusul."
Rendi langsung menarik tangan Clara membuat Clara kaget dan takut.
"Rendi lepaskan, saya! Saya harus bertemu Riko, dia akan khawatir jika saya tidak kembali tepat waktu."
"Tenanglah Clara! Riko tidak akan khawatir, aku akan mengantarmu nanti."
"Rendi! Rendi! Kamu mau bawa saya kemana?"
Rendi mendorong tubuh Clara secara paksa masuk ke dalam mobil, Clara mulai panik dan ketakutan, mau melawan tidak berdaya terpaksa Clara ikut bersama Rendi.
Di Sisi Lain
Riko berulang kali mencari-cari Clara di super market tapi tetap tidak menemukannya.
"Kemana nona Clara? Tidak mungkin, jangan-jangan dia diculik." Ucap Riko panik.
"Gawat! Bryan harus tau!"
Riko mencoba menghubungi Bryan tapi ponsel Bryan selalu berada diluar jangkauan karna sekarang Bryan sedang mengadakan penyuluhan dikota terpencil jaringan pasti sulit makanya ponselnya tidak bisa dihubungi.
"Angkat Bryan! Angkat! Kenapa disaat darurat seperti ini tidak bisa dihubungi?"
"Aku harus bagaimana? Kemana aku harus mencari nona?"
Riko juga mencoba menghubungi ponsel Clara ternyata sama saja Clara tidak bisa dihubungi.
Sekarang Riko semakin panik dan yakin bahwa Clara telah diculik, tapi dia bingung harus melakukan apa, akhirnya Riko mencari Clara sambil menunggu Bryan.
Tiba Di Club Malam
"Kenapa kita kemari?" Tanya Clara.
"Tenanglah aku tidak akan macam-macam."
Bryan membawa Clara masuk ke dalam club.
__ADS_1
"Wine 2." Ucap Rendi memesan minuman.
"Tapi aku tidak minum wine, aku tidak suka minuman beralkohol."
"Saya jus saja." Ucap Clara ingin mengganti minumannya.
"Tapi wine tidak mengandung banyak alkohol, kamu juga tidak akan mabuk jika meminumnya sedikit saja."
"Baiklah wine 1, tapi berikan juga segelas jus." Ucap Clara setuju.
Clara menatap heran wanita-wanita yang berada di club hampir semuanya menggunakan pakaian terbuka.
"Apa benar Rendi menyukai tempat seperti ini?" Batin Clara.
"Jangan pandang mereka, lihat saja aku." Ucap Rendi.
"Katakan! Apa yang mau kamu bicarakan, aku tidak bisa berlama-lama disini, aku harus segera kembali ke hotel."
Seorang pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.
"Thank you." Ucap Rendi dan Clara serentak.
"Tenanglah! Minum dulu baru kita bicara." Bujuk Rendi, karna tidak mau basa-basi Clara pun minum tapi tidak meminum winenya hanya meminum jus.
"Tidak!" Jawab Rendi.
"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Clara mulai curiga dan berdiri seolah bersiap-siap untuk lari apabila Rendi macam-macam padanya.
"Duduklah Clara!" Menarik tangan Clara menyuruhnya duduk dengan cepat Clara mengaiskan tangan Rendi.
"Aku tidak punya waktu untuk basa-basi, jika memang ada sesuatu yang penting cepat katakan, ini sudah malam." Tegas Clara.
"Baiklah akan aku katakan." Ucap Rendi menyerah.
Tiba-tiba tubuh Clara lemas, matanya mengantuk, dan pusing.
"Ada apa denganku?" Gumam Clara merasa seperti akan jatuh.
"Kenapa Clara?" Tanya Rendi melihatnya.
__ADS_1
"Ah... Aku tidak tau tiba-tiba saja tubuhku terasa lemas semua." Ucap Clara, pandangannya mulai buram dan hampir jatuh tapi Rendi dengan sigap menopang tubuh Clara.
"Mari aku antar!" Ucap Rendi terlihat senyum picik di wajahnya.
"Sekarang kamu tidak bisa menolakku lagi." Gumam Rendi.
Saat berjalan baru selangkah tiba-tiba Clara pingsan dan Rendi langsung menggendongnya masuk ke dalam mobil lalu membawa Clara ke hotel yang berbeda dengan Bryan.
Di Sisi Lain
"Riko menelpon sebanyak ini? Dan mengirim pesan, apa yang terjadi?" Ucap Bryan baru melihat ponsel setelah pekerjaannya tuntas.
Firasat buruk yang Bryan rasakan pagi tadi kini benar terjadi setelah mendapat pesan singkat dari Riko yang mengatakan bahwa Clara hilang.
"Brengsek!!! Siapa yang berani main-main denganku." Ucap Bryan menghempaskan tangan ke atas meja dan bergegas pulang untuk mencari Clara.
Bryan bertemu Riko dijalan.
"Bagaimana Clara bisa hilang? Kamu sangat tidak becus menjaganya." Gerutu Bryan marah dengan Riko.
"Maaf Tuan, nona Clara meminta saya menunggunya ditempat parkir."
"Kenapa kamu biarkan dia sendirian, seharusnya kamu ikuti dia, aku sudah bilang awasi Clara jangan lalai."
"Saya sudah mengikutinya Tuan, saat itu nona sedang berbelanja saya mengawasinya dari jauh, tapi tiba-tiba saja dia menghilang dari pandangan saya, saya mencarinya di super market, tapi satu orang pun tidak ada yang tau kemana nona pergi."
"Saya sudah menghubungi Tuan berkali-kali saya juga mencoba menelpon nona tapi ponselnya tidak terhubung."
"Aargh... Ya sudah, sekarang kita cari dia, tidak ada gunanya berdebat." Ucap Bryan.
Mereka pun bersama-sama mencari Clara, Bryan terus mencoba menghubungi ponsel Clara tapi tetap saja ponselnya tidak bisa terhubung membuat Bryan semakin khawatir dan merasa bersalah karna lalai menjaga Clara.
"Kemana kita mencarinya lagi Tuan?" Tanya Riko setelah mengelilingi kota Zurich tapi tidak berhasil menemukan keberadaan Clara.
"Tuan apa sebaiknya kita minta bantuan polisi saja?"
DI HOTEL XX
Clara terbaring diranjang dalam keadaan sedang tidak sadarkan diri. Rendi sedari tadi memandangnya masih menahan nafsunya, tepatnya memandangan bagian tubuh Clara yang menonjol dan bibir sexy yang dimilikinya membuat pria manapun akan terbius ditambah dengan paras cantiknya yang luar biasa meski hanya berpoleskan bb cream dan lip balm yang selalu digunakannya tanpa campuran make up lain.
__ADS_1
Rendi membelai rambut Clara, lalu memegang pipinya yang lembut kemudian tangannya berpindah meraba bibir sexy Clara.
"Aku merindukanmu Clara,,, bibir ini, tubuh ini, setiap malam selalu terbayang, malam ini tidak akan ku sia-siakan untuk merasakannya lagi." Ucap Rendi sambil membuka kemejanya kemudian mencoba melepaskan tali baju yang Clara gunakan, jika tali itu berhasil Rendi lepaskan maka gunung kembar Clara yang masih terbungkus bra akan terlihat.