DARI HATI

DARI HATI
Ternyata Hamil


__ADS_3

"Ada apa sayang, Aliya bilang kamu muntah?" tanya Bryan.


"Iya Di, kayaknya maagku kambuh lagi."


Sebulan lalu Clara sempat ke dokter, dokter mengatakan gejala mual dan muntah serta nyeri perut itu terjadi karna Clara mengalami gangguan pencernaan atau dengan nama lain maag.


"Kita ke dokter lagi ya sayang, aku takut maagmu kronis."


"Tapi kita kan udah janjian mau makan siang bareng."


"Yang terpenting sekarang kesehatan kamu, kita makan di sini saja, setelah itu kita ke dokter."


"Baiklah Didi, aku juga tidak kuat perutku sakit banget dan area kewanitaanku juga sakit."


"Iya sabar ya sayang, pokoknya makan dulu gak boleh telat makan."


Aliya datang mengantar makanan untuk Clara.


"Tuan, ini makanannya."


"Terima kasih ya Aliya." ujar Bryan.


"Iya tuan, saya kembali ke belakang."


"Emmm." balas Bryan dengan anggukan.


"Aku suapin ya sayang." ujar Bryan.


"Aku gak selera makan, melihat makanan itu saja gak selera."


Clara hanya dibawakan bubur oleh Aliya.


"Kamu mau makan apa sayang, kamu gak boleh loh makan asal-asalan itu akan mempengaruhi lambungmu."


"Aku mau rujak, ada pedas dan asemnya."


"Sayang, kamu gak bisa makan itu."


"Aku maunya itu Di, aku hanya selera makan kalau ada rujak."


"Nanti setelah maag kamu sembuh baru kita bikin rujak, tapi sekarang dengarkan aku ya sayang makan bubur dulu."


"Iya deh." ketus Clara.


"Nah gitu dong, setelah ini kita ke rumah sakit."


"Iya sayang tapi kamu makan ini juga ya."


"Iya ini sambil nyuapin kamu, aku juga makan sayang."


"Emmm... Makasih ya sayang kamu selalu perhatian meski aku sedang sakit."


"Ini sudah kewajibanku sayang, merawat istri yang sedang sakit, begitupun sebaliknya nanti jika aku sakit kamu juga akan merawatku."


"Kamu benar sayang." tersenyum


Bryan menatap wajah Clara dengan tulus, dia benar-benar ikhlas menerima Clara apa adanya sekalipun Clara sakit parah Bryan akan selalu menjaganya begitu juga sebaliknya Clara akan melakukan hal yang sama.


*****


Clara dan Bryan pun tiba di rumah sakit yang berbeda dengan sebulan yang lalu saat Clara memeriksakan penyakit maagnya.


Saat mereka sedang menunggu antrian tiba-tiba saja dokter Meta melihat Clara, Clara juga melihatnya secara sekilas namun Clara tidak mengingat dengan jelas wajahnya.


"Bu Clara kan?" ucap Dokter Meta setelah mendekat.

__ADS_1


"Ah benar, ini dokter Meta kan?" Clara berusaha mengingatnnya.


"Iya senang bisa bertemu bu Clara di sini."


"Iya dok lama sekali tidak bertemu, perkenalkan dok ini suami saya."


"Dokter Meta." mengulurkan tangan.


"Bryan, suami Clara." tersenyum sambil mengatupkan kedua tangannya memberi salam.


"Sayang, ini dokter keluarga besar Rendi makanya aku bisa mengenalnya." jelas Clara menghilangkan rasa penasaran dalam benak Bryan.


"Kalian kemari siapa yang sakit?" tanya dokter Meta.


"Saya dok, maag saya kambuh."


"Maaf kalau boleh tau sudah berapa lama bu Clara dan pak Bryan menikah?"


"Sekitar 3 bulanan lebih dok." sahut Bryan.


"Selamat ya, semoga kalian bahagia sampai selamanya." ucap Dokter Meta.


"Terima kasih dok."


"Apa kalian tidak ingin merencanakan program kehamilan?" tanya Doker Meta, dokter Meta tidak bermaksud mengecilkan perasaan Clara tapi dia pikir Rendi sudah memberi tahu Clara kenyataannya bahwa dia bisa hamil.


"Kenapa dokter bicara seperti itu, dokter sendiri yang menangani kasus kecelakaan saya." ujar Clara raut wajahnya langsung berubah, Bryan langsung merangkulnya dan mengusap bahu Clara untuk menenangkannya.


"Maaf dokter, kami harus masuk ke dalam." ujar Bryan, Bryan paham betul perasaan Clara sekarang jadi dia tidak ingin membuat Clara bersedih.


Bryan dan Clara pun masuk ke dalam untuk memeriksakan kondisi Clara sedangkan dokter Meta merasa bingung.


"Kenapa nona Clara sedih, seharusnya dia bahagia bukankah dia bisa untuk memiliki keturunan, atau jangan-jangan pak Rendi tidak memberitahunya, hah semoga saja nona Clara sudah tau."


Bryan dan Clara membatalkan untuk mengecek kondisi Clara karna ternyata dokter yang ingin mereka temui sedang cuti. Mereka pun memutuskan untuk memilih rumah sakit lainnya, tapi saat mereka ingin keluar mereka malah bertemu dokter Meta lagi.


"Iya kami akan pulang, dokter yang ingin kami temui ternyata sedang cuti." ucap Clara.


"Bagaimana jika saya saja yang memeriksa kondisi bu Clara." menawarkan diri.


"Kamu mau kan sayang?" tanya Bryan.


"Iya boleh dok."


Tidak ada pilihan lain selain menerima tawaran dokter Meta, Clara juga tidak tahan menahan rasa mual dan nyeri perut.


*****


Clara sudah berbaring di ranjang tempat melakukan pemeriksaan, sedangkan Bryan menunggu di depan meja dokter Meta.


"Apa yang bu Clara rasakan selama beberapa bulan ini?" tanya dokter Meta sebelum melakukan pemeriksaan.


"Mual, pusing, lemas, nyeri perut, dan **** ********** saya juga sakit dok."


"Kemarin bu Clara sempat mengecek keluhan yang ibu rasakan?"


"Ya dok, dokter bilang saya ada penyakit maag makanya sering merasa mual."


"Oh begitu."


"Apa bertambah parah dok?"


"Tidak tenang saja bu, apa ibu sudah datang bulan?"


"Belum dok ini memasuki bulan kedua saya masih belum haid, apa itu sebabnya **** ********** saya nyeri ya dok?"

__ADS_1


"Maaf jika boleh saya bertanya mungkin pertanyaan saya sedikit tidak sopan tapi ini sangat penting, apa ibu masih melakukan hubungan suami istri selama 2 bulan ini?" tanyanya sambil memeriksa perut Clara.


"Ya dok." jawabnya singkat, dokter Meta tersenyum.


"Mari saya bantu bu Clara bangkit." setelah selesai mengeceknya dokter Meta membatu Clara bangkit.


"Bagaimana dok keadaan istri saya? apa dia perlu di rawat?" tanya Bryan khawatir.


"Ah... duduk dulu pak, bu, tenanglah sedikit."


"Bagaimana saya bisa tenang dok istri saya sedang sakit."


"Iya saya tau tapi bapak tidak perlu khawatir, bu Clara sudah menjelaskan semuanya, dan saran saya untuk beberapa bulan kedepan bapak harus lebih bisa mengendalikan diri."


"What?" Bryan kaget.


"Dokter, istri saya baik-baik sajakan, dokter jangan membuat saya dan istri saya cemas."


"Selamat ya pak, bu." ucap Dokter Meta tersenyum membuat Bryan dan Clara sedikit kesal, mereka merasa seperti sedang di permainkan.


"Selamat untuk apa dok? harusnya dokter mengatakan dengan jelas apakah istri saya perlu di rawat atau mendapat penanganan khusus." Bryan kesal.


"Bu Clara sama sekali tidak mengalami gangguan pencernaan, melainkan dia sedang hamil pak." jelas Dokter Meta.


"Apa hamil dok, bagaimana mungkin saya bisa hamil, saya tidak punya rahim dok bahkan dokter sendiri yang mengatakannya saat itu." Clara dan Bryan seakaan tak percaya dengan apa yang dokter Meta sampaikan.


"Dok, sebulan yang lalu kami sempat mengeceknya ke rumah sakit lain dan dokter di sana mengatakan istri saya kena maag, dokter jangan main-main dengan kami, ini sangat tidak lucu." ucap Bryan.


"Mungkin saat itu kandungan bu Clara baru memasuki usia satu minggu jadi mereka tidak bisa memastikannya ini hamil atau gejala maag, biasa kesalahan seperti itu sering terjadi." jelas dokter Meta.


"Lalu bagaimana mungkin wanita yang tidak punya rahim bisa hamil dok?" tanya Clara.


"Sebelumnya saya sudah memberitahu hal ini pada mantan suami bu Clara karna saya pikir ibu masih bersama dengannya, tapi sepertinya dia tidak menyampaikan hal ini."


Dokter Meta pun menceritakan kejadian yang sebenarnya pada Bryan dan Clara sama seperti apa yang di katakannya pada Rendi waktu itu.


Tentu saja Clara dan Bryan sangat senang, ini merupakan anugrah terindah untuk mereka berdua, terutama Bryan dia begitu ikhlas menerima apapun kondisi Clara dan semua keikhlasannya di balas oleh Yang Maha Kuasa.


"Sayang, kita akan punya baby?" ucap Bryan matanya berbinar-binar tampak sangat terharu dan bahagiam


"Iya aku hamil Di, aku hamil." Clara sangat senang sampai dia berani memeluk suaminya di hadapan seorang dokter, dokter Meta juga bahagia melihat mereka.


"Ehemmm." dokter Meta berdehem.


"Ah... Maaf dok, kami terlalu bahagia mendengarnya." ujar Bryan dan Clara serentak mereka jadi merasa malu.


"Iya tidak apa-apa saya sangat mengerti perasaan kalian." dokter Meta mengangguk dan memicingkan matanya kearah Bryan dan Clara sehingga mereka hanya bisa tersenyum.


"Dokter, gimana kandungan istri saya?"


"Aman pak, kandungan bu Clara sangat kuat, tapi bapak harus tetap menjaganya, dan ingat cobalah untuk mengendalikan diri karna nyeri yang bu Clara rasakan itu bukan karna kandungannya lemah tapi ya itulah hanya kalian berdua yang tau."


"Iya dok, saya dan istri benar-benar tidak tau kalau dia sedang hamil." sesal Bryan.


"Aku minta maaf ya Ara, kamu dan baby kita jadi ke sakitan." ucap Bryan menyesali perbuatannya.


"Emmm... Sudahlah sayang, yang penting baby kita baik-baik saja dia tidak terpengaruh karna ulahmu."


Bryan dan Clara jadi malu dokter Meta terlanjur mengetahui apa yang sering mereka lakukan, tapi ya itu mereka tidak pernah menyangka kalau Clara sedang hamil makanya Bryan terus melakukannya hampir setiap malam.


"Bu Clara tidak ingin melakikan usg sekalian?"


"Nanti saja dok, saat kandungan saya sudah memasuki 4 bulan, disaat itu saya ingin merasakan denyutan jantungnya." ucap Clara.


"Ok baiklah, ini resep vitamin pak Bryan bisa menebusnya di apotek."

__ADS_1


"Terima kasih dokter Meta."


"Sama-sama, sekali lagi selamat ya pak, bu."


__ADS_2