
"Clara sudah membuat kakakku menderita selama bertahun-tahun, aku akan membalas penderitaan kakakku padanya, apapun caranya akan aku lakukan Clara harus menderita."
Plakkk... plakkk...
Riko akhirnya tidak bisa menahan emosinya sehingga dia menampar wajah calon istrinya yang sudah bicara sangat keterlaluan itu.
"Aku tidak akan membiarkan kamu dan kakakmu menghancurkan Bryan dan istrinya, jika kamu masih seperti ini maka lihat saja nanti, aku tidak akan segan-segan menghukum kalian." ancam Riko.
"Aku tidak takut dengan ancamanmu aku tau kamu tidak akan menyakitiku." kata Wulan.
Riko pun meninggalkan Wulan tanpa menjawab perkataan dari Wulan.
"Aku calon istrimu, sebentar lagi kita akan menikah, berhentilah ikut campur urusan mereka." teriak Wulan membuat Riko menghentikan langkahnya dan kembali berjalan kearah Wulan.
"Aku tau kamu pasti akan kembali padaku." katanya percaya diri.
Riko mengambil kotak cincin dari saku celananya.
"Aku tidak sudi menikah dengan wanita ular sepertimu, kita batalkan semunya." Riko menghempaskan cincin ketelapak tangan Wulan yang tadinya akan dia berikan untuknya.
"Satu lagi dengar ini...!!!" ternyata Riko sudah menyadap semua pembicaraannya dengan Wulan.
Wulan tak bisa mengatakan apapun, Riko melangkah pergi meninggalkan Wulan yang masih mematung disana.
"Riko, kamu tidak bisa meninggalkanku dan membatalkan pernikahan kita begitu saja, awas kamu Riko...!!!" teriak Wulan histeris, namun Riko tidak menghiraukannya dan memilih pergi dari sana.
*****
Clara harus melewati hari harinya dengan kesunyian, meski ada buah hatinya disisinya namun keberadaan seorang suami memanglah dibutuhkan, apalagi didetik-detik menunggu kelahiran anaknya yang hanya tinggal 2 hari lagi menurut perhitungan dokter Clara akan melahirkan.
Namun, hingga hari ini Bryan belum juga muncul untuk membawa bukti bahwa dia tidak bersalah, entah sampai kapan Clara harus menunggu dan berada jauh dari suaminya, Clara semakin gelisah haruskah dia melahirkan anak tanpa seorang suami di sisinya jika Bryan terbukti mengkhianatinya.
"Di, apakah kamu mengalami masalah saat ini, kenapa kamu belum kunjung datang menjemputku dan Audira." tutur Clara, hari-harinya hanya menemani Audira bermain diteras rumah.
Papa dan mama, dan juga ibu menghampiri Clara.
"Susan, bawa Audira kekamarnya, saya mau bicara pada Clara sebentar." pinta pak Kusuma.
Ibu pun membawa cucunya ke kamar.
"Apa kamu yakin tidak ingin bercerai dengannya?" tanya papa yang justru membuat Clara merasa sakit lagi.
"Tidak pa, sampai kapanpun kami tidak akan berpisah, setidaknya sampai Bryan menemukan buktinya." jawab Clara.
"Sayang, kamu lihat apa dia sekarang menemuimu, apa dia memberimu kabar, sayang jangan menunggu janji yang belum pasti." ujar mama.
"Pa, ma, Clara yakin kok, Bryan tidak bersalah kita hanya perlu menunggu, kalian harus percaya pada Clara." tutur Clara.
Papa dan mama hanya diam putrinya itu benar-benar kuat.
Kathryn datang ke kediaman Clara dia membawakan Clara makanan.
"Kakak, apa kabar? apa kakak sudah lebih baik?" tanyanya.
"Kakak sudah lebih baik Kath, makasih ya oleh-olehnya." ujar Clara.
__ADS_1
"Kathryn, kamu temani kakakmu disini, ajak dia bicara agar pikirannya tidak stress." ujar papa.
"Baik paman..."
Saat pak Kusuma dan istrinya hendak masuk ke dalam rumah tiba-tiba ada mobil berhenti dipekarangan rumahnya. Ternyata Angelica dan Wulan datang untuk bertemu Clara.
"Tujuan apa yang membuat kamu datang kemari?" cetus Clara.
"Clara, saya kemari untuk memberikan undangan pernikahan ini padamu, kamu datang ya dipernikahanku dan Bryan." tutur Angelica memberikan undangan tersebut pada Clara.
Clara terkejut hatinya seketika runtuh mendengar Angelica akan menikah dengan suaminya tanpa sepengetahuan dirinya.
"Kalian akan menikah, tapi aku belum berpisah dengannya, aku tidak akan membiarkan kalian menikah." kata Clara.
"Dan kamu Wulan, kenapa kamu bisa akrab dengan Angelica?" tanya Clara.
"Malangnya nasibmu Clara, Angelica ini kakak kandungku, selama ini aku hanya bersandiwara pura pura baik denganmu agar pelan-pelan aku bisa menusukmu dari belakang." jelas Wulan.
"Jahat kamu Wulan, kamu jahat penjahat." Clara menampar wajah Wulan namun Wulan tidak memberinya perlawanan, dia malah menertawakan Clara.
"Ayo tampar aku Clara, sebentar lagi kamu akan hancur, tampar aku sepuasmu..." Wulan mendekatkan wajahnya agar Clara menamparnya lagi, tapi Clara memilih menahan amarahnya.
"Clara, kamu tidak bisa menghalangi pernikahanku dengan suamimu, ingat Clara paman suamimu itu memiliki hutang yang banyak pada ayahku, dan Bryan harus membayar dengan ini." kata Angelica.
"Suamiku sudah membayar semuanya, kamu tidak berhak menuntutnya lagi."
"Iyaa itu benar, tapi dia tetap harus menikahiku demi anak yang ada dikandunganku." sahut Angelica.
Tak lama kemudian Bryan dan Riko datang, mereka terkejut melihat Angelica dan Wulan berada disana tanpa sepengetahuan mereka.
"Jangan sentuh aku..." Clara mendorong tubuh Bryan.
"Ara, aku datang membawa buktinya Ara, kita akan bersama-sama lagi." tutur Bryan pandangan Bryan tertuju pada surat undangan yang ada ditangan Clara dan dia pun mengambilnya.
"Ini apa Angelica, kamu membuat undangan ini tanpa sepengetahuanku?" Bryan meninggikan suaranya bicara pada Angelica.
"Kamu harus segera menikahiku." jawab Angelica.
"Aku tidak sudi menikah denganmu, aku punya buktinya kalau kamu bukan hamil anakku, kita tidak pernah melakukannya." ujar Bryan.
"Di, jika kamu bahagia bersamanya maka sekarang aku siap bercerai denganmu, aku tidak akan lagi menghalangi hubungan kalian." Clara hanya bisa pasrah tak kuasa lagi membendung rasa sakit dihatinya.
"Berhenti Angelica... saya punya buktinya bahwa Bryan tidak bersalah..." Riko yang sedari tadi hanya menjadi pendengar sekarang dia mulai bertindak.
"Heh, kamu itu hanya asisten jangan sok ikut mencampuri urusan kami, apa yang kamu tau mengenaiku." tuturnya menertawakan Riko.
Tak lama Angelica pun mendapat panggilan telpon perusahaannya sekarang disita pihak yang berwajib karna terlilit utang dan perusahaan tersebut terlibat mengedarkan narkoba.
"Dan kalian dengarkan ini..." Riko memutar rekaman hasil pembicaraannya dengan Wulan.
"Kalian bisa dengarkan bahwa anak yang ada diperutnya itu bukan anak tuan saya, melainkan anak dari mantan suaminya, dan 2 kakak beradik ini sengaja memprovokasi kita semua agar dia bisa menghancurkan rumah tangga tuan dan nona, supaya dia bisa mendapatkan tuan Bryan." tutur Riko memberi kejelasan.
"Sial kamu Riko, berani kamu mencampuri urusan saya, saya akan membalas kamu."
Tak lama kemudian polisi pun datang untuk menyeret kedua kakak beradik ini.
__ADS_1
"Nona Angelica, nona Wulan, kalian kami tahan..." tegas polisi.
"Riko, aku tidak bersalah kenapa kamu membiarkan polisi menyeretku." ujar Wulan.
"Pak polisi, saudari Wulan ini juga terlibat narkoba dan penggelapan uang diperusahaan kami, dan semua bukti-bukti ada di dalam amplop ini." ujar Riko.
"Baik pak, kami akan menindak lanjuti kasus ini." kata pak Inspektur.
Angelica dan Wulan mendorong polisi itu hingga polisi terpental, dan mereka kabur namun tak jauh dari situ tiba-tiba terdengar suara teriakan Wulan yang membuat mereka semua berlari menuju sumber suara.
Dan mereka semua dikejutkan melihat tubuh Angelica tergeletak bersimbah darah yang mengalir dari kepalanya dan seluruh tubuhnya mengalami retak tulang.
Clara sangat ketakutan dia tak mampu membuka matanya untuk melihat apa yang baru saja terjadi, tubuhnya gemetar Bryan langsung memeluknya.
"Di, ini sangat tragis, apa ini balasan untuknya?" lirih Clara.
"Tenang sayang, semua Allah yang menentukannya yang penting sekarang kita bisa bersama-sama lagi." tutur Bryan memeluk istrinya sangat erat, Clara hanya bisa mengangguk akhirnya dia bisa kembali merasakan dekapan seorang suami.
Wulan menangis histeris menyaksikan kakaknya sudah tidak bernyawa bahkan belum sempat dibawa kerumah sakit.
"Kakak, bawa kak Clara pulang, biar aku dan Riko yang akan mengurus Wulan dan jenazah kakaknya." kata Kathryn.
"Iya Sir, nona sedang hamil tidak baik melihat kejadian seperti ini karna bisa menekan pikirannya." jelas Riko.
"Makasih ya, kalian sangat peduli pada kami, dan kamu Riko terima kasih banyak selalu membantuku dalam setiap masalah."
Riko tersenyum dia senang bisa membantu bossnya, dan Bryan bersama Clara kembali kerumah.
*****
"Nak Bryan, maafkan papa, papa sempat tidak mempercayai kamu lagi dan bahkan ingin memisahkan kalian, sekali lagi maafkan papa, nak." sesal papa.
"Pa, Bryan tau semua orang tua pasti akan melakukan hal yang sama jika melihat anak mereka disakiti oleh orang lain, papa sudah melakukan yang terbaik demi melindungi Clara." ujar Bryan memeluk papa Clara.
"Maafkan mama juga ya nak, kemarin mama sudah menamparmu, mama sangat menyesal." tutur mama.
"Tidak apa-apa ma, Bryan mengerti situasinya, mulai sekarang Bryan pastikan tidak akan ada lagi yang menganggu kami, Bryan akan membahagiakan Clara pa, ma, Bryan janji." kata Bryan sembari mencium telapak tangan kedua orang tua Clara.
Bryan masih berlutut dihadapan mereka sambil bercengkraman dengan tangan ayah dan ibu mertuanya.
"Pa, ma, Bryan meminta izin kalian, tolong izinkan Bryan membawa Clara dan buah hati kami kembali kerumah kami lagi, Bryan sangat merindukan mereka." ujar Bryan memohon izin.
Sang ayah mengusap pucuk kepala Bryan, dan dia pun mengangguk. Bryan sangat gembira sampai dia mencak-mencak gak jelas setelah mendapat kepercayaan lagi dari kedua orang tua Clara untuk bisa bersama-sama lagi dengan anak dan istrinya.
Clara hanya bisa ikut bahagia dan tertawa melihat tingkah suaminya itu, yang melompat saking senangnya.
Bryan berlutut dihadapan Clara yang sedari tadi duduk diam hanya menatap diri suaminya.
"Ara, maukah kamu tinggal bersamaku lagi, menutup kisah lama, dan membuka lembaran yang baru bersama denganku dan calon anak kita?" ungkap Bryan meraih tangan sang istri.
"Aku mau Di, karna hanya denganmu lah aku merasa hidup, tanpamu aku bagaikan kompor tanpa gas." ujar Clara.
"Terima kasih Ara, terima kasih kamu segalanya untukku." Bryan mencium tangan istrinya di hadapan orangtuanya lalu mereka berpelukkan setelah semua duka yang datang menghampiri mereka terungkap.
Akhirnya Clara dan Bryan pun bisa mengecap kebahagiaan mereka kembali, yang memang seharusnya mereka rasakan.
__ADS_1