DARI HATI

DARI HATI
EPISODE 86


__ADS_3

Pria itu tertegun sambil membelalakkan mata dan mulutnya terngaga karna baru saja menyaksikan adegan ciuman itu, tidak hanya pria itu yang kaget bahkan seluruh orang-orang yang sedang menyantap makanan seketika berhenti menyantap makanan mereka.


"Maafkan saya Tuan, saya pikir nona ini tidak punya suami." ucap pria itu menyesal.


"Meski seorang wanita mempunyai suami atau tidak, Anda tidak berhak melecehkannya perbuatan Anda ini bisa dilaporkan ke pihak berwajib dan Anda bisa masuk penjara jika orang yang Anda lecehkan menuntut Anda." tegas Bryan.


"Sekali lagi saya minta maaf Tuan, saya janji tidak akan melakukan pelecehan kepada siapapun lagi." Ucap pria itu benar-benar menyesal.


"Kamu harus buktikan kata-katamu! sekarang kamu pergilah dari sini." Ujar Bryan pria itu pun menurutinya.


Clara masih tertegun kaku bersusah payah menelan salivanya, matanya masih memandang Bryan seolah tak percaya Bryan baru saja menciumnya dan membebaskannya dari pria itu, setelah pria itu pergi Bryan mengalihkan pandangannya untuk melihat Clara.


"Kamu baik-baik sajakan?" tanya Bryan tapi Clara hanya mengangguk karna matanya masih tertuju pada bibir Bryan yang sensual baru saja mencium bibir Clara yang lembut.


"Clara, ada apa denganmu?" tanya Bryan lagi seolah tidak menyadari perbuatannya sambil melambaikan tangannya ke wajah Clara tapi mata Clara sama sekali tidak berkedip karna terlalu terobsesi melihat bibir Bryan.


Bryan melihat orang-orang di sekelilingnya ternyata sedari tadi memperhatikan mereka.


"Clara, dimana Audira?" Ujar Bryan dan Clara baru sadar setelah mendengar nama Audira.


"A-ada, di ru-ruanganku." jawab Clara terbata-bata merasa canggung karna perbuatan Bryan.


"Ayo aku antar bertemu Dira!" sambung Clara menutupi kegugupannya.


Clara mengantar Bryan menemui Audira. Bryan langsung menghampiri Audira yang sedang bermain dengan mainannya Bryan memeluk dan menciumnya Bryan memperlakukan Audira seperti layaknya seorang ayah dan anak, sedangkan Clara diam seribu bahasa duduk di sofa memperhatikan Bryan bersama Audira sambil mengingat kejadian tadi.


"Dia sudah mempermalukanku di depan pelanggan-pelangganku." Ucap Clara dalam hati wajahnya terlihat kesal menatap Bryan yang masih menimang Audira.


"Apa iya dia belum punya istri? Di-dia menciumku, Clara jangan senang dulu bisa saja dia juga mencium gadis-gadis diluar sana, laki-lakk memang seperti itukan tidak puas hanya dengan satu wanita, sepertinya dia juga melakukan hal yang sama tidak setia pada istrinya." Batin Clara sambil menggosok-gosok bibirnya seakan tidak terima dengan ciuman yang Bryan berikan.


Tiba-tiba karna saking kesalnya kaki Clara tidak sengaja menendang meja sehingga membuat Clara menjerit kesakitan dan Bryan sontak kaget.


"Ahhh... Aduuuh sakit." Rintih Clara kesakitan sambil sesekali melirik Bryan.


"Sayang, papa hampiri mommy dulu ya sepertinya ada yang salah dengan mommymu."Ucap Bryan beranjak dari tempat Audira lalu menghampiri Clara yang duduk sendirian di sofa.


Clara masih kesakitan sambil memegang ibu jari kakinya yang mengeluarkan darah karna tidak sengaja menendang sisi meja yang tajam, Bryan berjongkok dihadapannya dan mengangkat kaki Clara secara perlahan menaruhnya ke atas paha Bryan.


Bryan hanya fokus melihat luka di ibu jari kaki Clara sedangkan Clara hanya memandangnya.


"Dimana kotak p3knya, biar aku obati lukamu?" tanya Bryan.


"Jangan, aku bisa mengobatinya sendiri." Ucap Clara.


"Masih saja keras kepala." Bryan menghempaskan kaki Clara kelantai.

__ADS_1


"Ahhh sakit... Kakiku sedang terluka tapi kamu malah menambah rasa sakitnya." gerutu Clara.


"Kamu bilang kamu bisakan mengobatinya sendiri berarti tidak ada yang sakit." sahut Bryan.


Clara tidak ingin terlihat lemah dihadapan Bryan, Clara langsung bangkit untuk membuktikan bahwa luka dikakinya tidak akan membuatnya susah berjalan, namun yang terjadi saat Clara melangkah kakinya malah kram sehingga Clara kesulitan menyeimbangi tubuhnya dan hampir jatuh beruntungnya Bryan selalu sigap menangkap tubuh Clara masuk ke dalam pelukkannya.


Deg


Deg


Deg


Jantung Clara berdegup saat mereka saling memandang begitupun yang terjadi pada Bryan.


Clara menyadari suara jantungnya yang mungkin terdengar oleh Bryan sehingga dengan cepat Clara mendorong Bryan terlepas dari pelukkannya dan Clara tertunduk malu.


"O-obatnya ada dilaci meja saya." Ujar Clara gugup sambil menunjuk mejanya.


"A-aku ambilkan sekarang juga." Jawab Bryan sambil berjalan menuju meja Clara.


Clara memegang dadanya sambil menatap Bryan.


"Ternyata hati ini tidak bisa bohong, sekeras apapun aku menutupinya hati ini selalu berdebar saat didekatnnya." Batin Clara saat Nryan menoleh kearahnya Clara langsung mengambil posisi memalingkan wajahnya agar terlihat biasa-biasa saja. Bryan sudah mengambil kotak p3knya dan kembali menghampiri Clara.


"Hah! Apa yang mau kamu lakukan?"


"Sini, jangan bodoh! Aku hanya ingin mengobatinya." Bryan mengangkat kaki Clara keatas meja dan perlahan-lahan membersihkan darah yang mengalir.


"Ah... Ahhh..." Clara malah mendesah membuat Bryan geli.


"Jangan keluarkan suara seperti itu, atau aku akan melukai kakimu lagi." ketus Bryan karna dia tidak tahan mendengar desahan Clara.


"Bodoh! Kakiku sakit."


"Aku tau ini sakit, tapi tidak harus bersuara seperti itu juga, aku kan sudah pelan-pelan."


"Aku tidak peduli!" sahut Clara dan Bryan yang geram langsung menekan ibu jari Clara yang terluka.


"A...ahhh bodoh apa yang kamu lakukan..." Rengek Clara menahan sakit tangannya refleks langsung menampar bahu Bryan.


"Menambah luka di kakimu..."


"Tidak waras!"


"Kamu yang tidak waras, kenapa mendesah saat aku mengobatinya."

__ADS_1


"A-aku, aku tidak mendesah, semua orang juga seperti itu saat kesakitan, kenapa kamu malah memarahiku?"


"Sudah lupakan! Jangan mendesah agar aku bisa konsen mengobatinya."


"Enak saja main lupa-lupakan."


"Jangan membantah atau aku akan..." Bryan tidak menuruskan kalimatnya sambil menatap Clara tepatnya melihat bibir Clara yang sedari tadi tidak berhenti bicara.


"A-apa? Ka-kamu akan apa?" tanya Clara gugup melihat Bryan menatapnya.


"Lupakan saja!"


Bryan langsung mengalihkan pandangannya dan kembali mengobati luka Clara kemudian menutupinya dengan perban sedangkan Clara dia terus memikirkan ucap Bryan yang tidak ada kelanjutannya itu, Clara tersenyum kecil menggigit bibirnya sambil berpikir bahwa tadi Bryan akan menciumnya.


"Kenapa tersenyum?" Ujar Bryan melihat Clara melamun sambil menggigit bibirnya membuat Bryan semakin gemes dan rasanya Bryan ingin menciumnya lagi.


Plakkk...


Tapi Bryan malah menampar bahu Clara sontak Clara terperanjat berusaha memalingkan wajahnya untuk membuang rasa malu.


"Huh! Clara apa yang kamu pikirkan tentangnya? Kamu benar-benar tidak waras." Ucap Clara dalam hati tidak berani memalingkan wajahnya untuk melihat Bryan.


"Clara aku sudah selesai mengobati lukamu." Ucap Bryan.


"Iya terima kasih ya." jawab Clara tanpa melihat Bryan.


"Kamu tidak ingin memberiku imbalan?" tanya Bryan sambil tersenyum.


"Imbalan???" Clara kaget dan langsung melihat Bryan, Clara benar-benar tidak tahan melihat senyuman Bryan yang sangat menggoda saat ini.


"A-apa maksudmu imbalan?" sambung Clara.


Bryan menggeser tubuhnya agar semakin dekat dengan Clara sedangkan Clara juga menggeser tubuhnya agar Bryan tidak mendekat namun yang terjadi Clara malah hampir jatuh dari sofa untungnya Bryan langsung refleks menarik tangan Clara akhirnya mereka jatuh diatas sofa dengan posisi Clara berada diatas Bryan.


Clara tidak mau berada dalam dekapan Bryan terlalu lama karna jantungnya selalu berdegup cepat saat berada diposisi sekarang, Clara berusaha bangkit namun Bryan semakin mengencang pelukkannya.


"Aku lapar..." Ujar Bryan tatapannya tertuju kebawah melihat gunung kembar Clara, Clara yang menyadarinya langsung menutup dadanya dengan tangannya.


"Ka-kamu mau makan? Bi-biar aku ambilkan." tanya Clara semakin gugup dan Bryan bisa merasa tubuh Clara gemetar serta bibirnya juga ikut gemetar.


"Jika bisa aku ingin makanan yang lain." Ucap Bryan lagi sedangkan Clara bertambah gemetar.


"Ma-maksud-mu?"


Bryan tersenyum kecil melihat ekspresi Clara benar-benar gugup sehingga Bryan langsung melepaskan Clara dan mereka kembali ke posisi semula. Bryan lalu tertawa melihat wajah Clara yang merona setelah berada dalam dekapannya sedangkan Clara hanya bisa tertunduk sambil memainkan jari-jari tangannya agar rasa gugupnya bisa berkurang.

__ADS_1


__ADS_2