
Saat Rendi berusaha melepasnya tiba-tiba saja Clara memegang tangannya yang berusaha melepas tali baju Clara, sontak Rendi benar-benar kaget.
"Kenapa dia sudah sadar?" gumam Rendi heran karna obat yang Rendi masukkan kedalam jus yang Clara minum bekerja tidak sampai satu jam bahkan Rendi belum sempat melakukan aksinya, seharusnya obat itu berpengaruh sampai pagi tapi ternyata obat itu tidak melawan di tubuh Clara.
Betapa kagetnya Clara saat membuka mata ternyata Rendi sedang berusaha menjamah tubuhnya.
"Apa yang kamu lakukan?" Clara langsung mengaiskan tangan Rendi yang berada diatas dadanya kemudian mendorong tubuh Rendi.
Clara melihat bajunya terbuka langsung menutupnya kembali, Clara yakin Rendi benar-benar akan melakukannya.
"Clara, Clara maafkan aku, aku, aku hilaf Clara, maafkan aku, aku tidak bermaksud." Ucap Rendi mengelak bertingkah seolah-olah tidak sengaja.
"Bryan!!!" Ucap Clara hanya mengingat Bryan.
Clara langsung bangkit dan melewati Rendi.
"Mau kemana sayang?" Tiba-tiba Rendi menahan Clara untuk keluar dari kamar.
"Lepaskan saya, saya harus pulang." Clara kembali mendorong Rendi.
"Tidak akan kulepaskan!" Rendi menarik tangan Clara.
"Kamu tidak bisa lari kemana-mana Clara, diluar pengawalku sedang berjaga."
"Malam ini kita akan bersenang-senang sayang, aku tau kamu pasti merindukan belaian dan permainan dariku kan? Sama sepertiku aku juga merindukanmu dan tubuh ini."
Clara memberontak melawan Rendi dengan sekuat tenaganya tapi tubuhnya yang mungil dan tenaganya yang melemah akibat obat itu membuatnya tidak bisa melawan Rendi.
Rendi yang sudah tergoda dengan tubuh mantan istrinya itu mulai mencumbui leher Clara dan memasukkan tangannya ke sela-sela baju Clara membuat Clara kaget dan langsung mendorong Rendi.
"Rendiii... Hentikan!!!" Bentak Clara berusaha menjauh.
Rendi yang malam ini benar-benar sudah tidak bisa menahan hasratnya untuk bercinta tidak kehabisan akal untuk memaksa Clara.
Cara halus sudah dilakukan tapi Clara menolak, terpaksa Rendi melakukan cara kasar yang bisa membuat Clara sakit.
__ADS_1
"Ahh... sakit..." Rengek Clara kesakitan karna Rendi baru saja menyeretnya lalu melempar tubuhnya ke atas kasur dengan kasar sehingga Clara terhenyak.
Clara tidak menyangka Rendi bisa berbuat kasar, sekarang Rendi bukan pria yang dikenalnya dulu, Rendi telah banyak berubah.
Rendi tetap meneruskan aksinya tangannya mulai merababtubuh Clara dengan brutal tanpa peduli Clara merasa kesakitan.
Senyum menggoda dan tatapan Rendi yang mesum membuat Clara takut.
"Jangan Ren, jangan lakukan!" Clara mengibaskan tangan Rendi yang hendak menarik baju Clara dan memohon, air mata terus mengalir di pipinya.
Rendi memegang kedua tangan Clara menariknya keatas secara paksa dan sekarang tubuh Rendi tepat berada di atas Clara sambil mencumbu leher Clara.
Clara benar-benar tidak tau harus melakukan apa, dia tidak ingin membiarkan mantan suaminya ini menjamah tubuhnya, tapi dia juga sudah kehabisan tenaga untuk melawan Rendi yang sekarang juga menggenggam tangannya dengan kuat.
Ketika Rendi ******* bibir Clara, Clara juga mencari kesempatan untuk kabur dengan menggigit bibir Rendi sekuat mungkin lalu menendang punyanya Rendi, sehingga membuat Rendi menjerit kesakitan dan bibirnya mengeluarkan darah.
Clara yang panik langsung keluar dari kamar, beruntungnya pengawal Rendi tidak berjaga dengan benar tapi malah tidur didepan kamar sehingga Clara punya kesempatan untuk kabur.
Dengan berlari sempoyongan karna pengaruh obat dan air mata yang masih berderai akhirnya Clara bebas keluar dari hotel tersebut.
Akan tetapi Clara tidak tau arah menuju jalan pulang, Clara juga tidak mengenal siapa-siapa, tapi Clara berharap Rendi tidak akan mengejarnya sekarang.
*****
"Maaf boss maaf... Kami ketiduran."
"Maaf... Maaf... Clara kabur!"
"Kami akan mengejarnya boss."
"Aku sudah meminta kalian berjaga diluar tapi kalian malah enak-enakan tidur, sekarang juga kalian berdua saya pecat, dasar pengawal tidak becus."
"Boss, tapi kami..." Belum selesai bicara.
"Aargh... Pergi kalian dari sini!"
__ADS_1
*****
Clara menyusuri sepanjang jalan dimalam hari sendirian.
"Aargh... Ponselku mati, aku harus apa sekarang aku tidak bisa menghubungi Bryan."
"Aku tidak tau ini dimana, Bryan pasti mencariku, kenapa aku sangat bodoh hanya bisa menyusahkannya."
Di Sisi Lain
"Dimana kamu, Clara?" Rintih Bryan.
"Boss, apa mungkin Rogert yang menculik Clara?"
"Tidak mungkin! Rogert dipenjara tidak mungkin dia yang menculik Clara."
"Mungkin saja dia sudah bebas, Boss, tidak ada salahnya kita mencurigainya."
"Iya, bisa jadi, cepat nyalakan mobilnya, kita akan menemui Rogert." Ucap Bryan setelah lama berpikir mungkin yang dikatakan Riko ada benarnya juga.
Singkat cerita tentang Rogert. Rogert merupakan anak yang ayahnya mati terbunuh, Rogert masih beranggapan bahwa paman Bryan lah yang telah melenyapkan ayahnya karna paman Bryan sempat menjadi tersangka namun setelah polisi menyelidiki lebih dalam lagi paman Bryan dinyatakan hanya sebagai saksi mata setelah pembunuhnya berhasil ditangkap, begitulah kejadian sebenarnya paman Bryan bukanlah seorang pembunuh.
Akan tetapi Rogert yang salah paham masih beranggapan bahwa paman Bryan terlibat pembunuhan berencana, baginya paman Bryan bisa bebas itu karna pamannya orang kaya sehingga bisa menyuap polisi, karna itulah Rogert dendam akan menghancurkan kehidupan Bryan dan orang-orang terdekatnya, sehingga beberapa tahun lalu Rogert sempat mencelakai bibinya Bryan beruntung Rogert berhasil dijebloskan ke dalam penjara.
Jika Rogert sudah bebas dia akan menyakiti orang-orang yang Bryan sayangi.
Bryan takut apa yang dulu terjadi pada tante Maria akan terjadi pada Clara juga, nyawa Clara bisa terancam dan Bryan tidak akan membiarkan kejadian itu terulang kembali.
*****
Clara melihat pria paruh baya di halte dan menghampirinya
"Excus me, Sir!" Sapa Clara.
"Yes, Can i help you?" Ucapnya melihat Clara seperti sedang kebingungan dan matanya sembab.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Jangan lupa vote, like, dan komentarnya guys😊